NovelToon NovelToon
Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.

Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.

Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 Di Caci Maki

Zivanna tampak bersedih yang duduk diam di sebuah kursi kayu di bawah rindangnya pohon, tubuhnya sedikit membungkuk seolah beban di pundaknya terlalu berat untuk ditahan. Kedua tangannya terangkat menutupi wajah, jemarinya mengusap pelan wajahnya dengan gerakan lelah, seakan mencoba menenangkan sesak yang memenuhi dada.

Bahunya turun perlahan bersama helaan napas panjang, hijabnya sedikit berantakan diterpa angin sore, sementara pandangannya tersembunyi di balik kedua telapak tangan yang sesekali menekan pelipis, seperti menahan pikiran yang tak kunjung berhenti.

Di sekelilingnya, suasana begitu tenang hanya suara dedaunan yang bergesekan dan angin lembut yang berlalu. Namun ketenangan itu terasa kontras dengan kesedihan yang tergambar jelas dari cara ia duduk, sendiri di kursi itu.

Bohong jika air matanya tidak jatuh. Zivanna masih mengingat apa yang terjadi satu jam yang lalu di dalam ruang perawatan, keadaan baik-baik saja berubah menjadi duka, rasa bersalah menyelimuti wajah cantiknya.

Pikirannya masih terlintas dengan sosok anak kecil yang berbaring di atas tempat tidur, kejang-kejang dengan wajah pucat dan seketika menghembuskan nafas terakhir.

Zivanna tidak bisa berucap, dengan apa yang terjadi membuat dia merasa tidak layak, jahat dan tidak berguna.

Sementara pasien anak kecil yang sudah meninggal itu sekarang diurus oleh suster untuk kepulangannya. Tangis orang tuanya masih terdengar, terasa begitu susah kehilangan putra mereka.

Dikta bersama dengan Suster berada di depan pintu ruangan yang terbuka tersebut.

"Kamu laporkan hasil medis terakhir kepada saya," titah Dikta pada Suster.

"Baik. Dok," jawabnya.

Suster berlalu dari hadapan Dikta. Dikta melihat ke dalam ruangan tersebut, melihat bagaimana anak itu sudah diberi kain kafan saat ini. Dikta menghela nafas dan kemudian langsung pergi.

Dokter Pradikta berjalan di koridor rumah sakit, langkahnya tampak buru-buru ketika mendapat laporan dari salah seorang Suster.

"Pembunuh kamu!"

"Kamu sudah menghilangkan nyawa anak saya!" suara teriakan itu sudah terdengar sekitar beberapa meter membuat langkah Dikta semakin dipercepat.

Suster melaporkan kepadanya bahwa orang tua pasien tidak terima atas kematian putra mereka dan Zivanna, mencaci Zivanna di tempat umum yang disaksikan banyak orang-orang di rumah sakit tersebut.

Zivanna saat ini hanya menunduk dengan tubuh bergetar, tidak dapat membela diri, air matanya terus jatuh.

"Kamu akan menjadi seorang ibu suatu saat nanti, bagaimana mungkin kamu ceroboh dan membuat putra saya mati!" teriaknya mendorong-dorong tubuh Zivanna tanpa ampunan.

Untungnya tubuhnya masih kuat, tidak membuatnya jatuh.

"Kamu benar-benar tegas, seharusnya kamu mati!" sumpah serakah dikeluarkan oleh wanita itu kepada Zivanna yang hanya diam tanpa melakukan pembelaan.

Dikta sudah sangat dekat berada di lokasi tersebut dan melihat bagaimana istrinya didorong-dorong, kemarahan wanita itu semakin menjadi-jadi, memukul tubuh Zivanna tanpa adanya pembelaan, wanita itu mungkin semakin kesal karena Zivanna tidak mengeluarkan suara apapun membuat wanita itu tiba-tiba saja melihat ada kayu panjang di sudut tembok yang membuatnya ingin memukul Zivanna.

Untung hal itu tidak jadi ketika Dikta datang tepat waktu menahan kayu tersebut dengan berdiri di depan Zivanna yang bersembunyi di belakangnya dengan sedikit menunduk.

"Jangan halangi saya, wanita itu harus mati!" dia harus mati!" teriak wanita tersebut masih ingin memberi pelajaran kepada Zivanna.

"Saya mohon tolong hentikan dan jangan membuat keriput kan di rumah sakit!" tegas Dikta.

"Anak saya mati di tangannya dan dia harus mati!" teriak wanita tersebut.

"Hentikan!" Dikta berusaha untuk menjadi penengah dan sementara Zivanna sudah sangat takut dengan kondisi yang seperti itu dan menerima saja apapun yang diberikan kepadanya.

"Dokter itu yang membunuh anak kecil itu?"

"Apa yang dia lakukan?"

"Dia Dokter yang sangat berbahaya!"

Orang-orang di sekitar mulai bergunjing, bisik-bisik dengan menatap sinis Zivanna, mereka juga mengeluarkan caci maki, Zivanna mengangkat kepala dan melihat di sekitarnya, bagaimana tatapan penuh kemarahan kepada dirinya diperlihatkan oleh orang-orang di rumah sakit.

"Dia tidak pantas menjadi Dokter, kenapa rumah sakit seperti ini harus memperkerjakan Dokter gadungan itu!"

Terasa begitu sesak dengan caci maki yang telah dia terima, air matanya tidak berhenti keluar.

"Tolong jangan membuat keributan apapun di rumah sakit dan jangan membuat narasi sendiri! Ini rumah sakit dan bukan ajang pertunjukan!" tegas Dikta mencoba untuk menenangkan orang-orang yang terus mencibir Zivanna.

"Kami Dokter yang berkaitan dengan putra Ibu sudah melakukan yang terbaik, yang memiliki nyawa adalah sang pencipta, bukan Dokter, saya mengerti bagaimana perasaan ibu yang kehilangan seorang anak yang tidak akan bisa tergantikan oleh apapun, tetapi tolong jangan menghakimi seseorang untuk menyalahkan atas apa yang terjadi," ucap Dikta.

"Putra saya baik-baik saja sebelum menyadari ketika wanita itu memberikan sesuatu kepadanya maka putra saya kehilangan nyawanya!" wanita tersebut tetap saja tidak menerima.

"Apa rumah sakit ini akan bertanggung jawab atas kematian anak saya, wanita itu tidak pantas menjadi Dokter, dia harus secepatnya dikeluarkan dari rumah sakit ini dan jika tidak maka akan banyak korban seperti anak saya!"

"Benar!"

"Benar!"

"Orang-orang juga akan takut berobat ke rumah sakit ini!" orang-orang di sekitar mendukung pernyataan wanita itu yang semakin memojokkan Zivanna.

"Saya bilang hentikan dan tolong bubar. Ini bukan pertunjukan!" tegas Dikta.

Tidak lama beberapa Suster dan Dokter datang untuk ikut menenangkan suasana di rumah sakit. Kedua Suster mencoba untuk membawa wanita tersebut untuk menenangkannya dan sementara yang lain membubarkan orang-orang yang terus saja memberi umpatan kepada Zivanna.

Dikta menghela nafas, dia sampai berkeringat hampir tidak bisa mengatasi situasi tersebut dan membalikkan tubuh melihat Zivanna. Zivanna tidak mengatakan apapun, memilih pergi dari hadapan Dikta dan mungkin saja Zivanna lelah akan mendapat semburan berikutnya dari Dikta.

Dikta melihat kepergian istrinya itu dan tampak menghisap air matanya. Dikta tidak bisa berkomentar apapun, hanya bisa membuang nafas.

*******

Zivanna saat ini berada di dalam ruangan komisaris yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Dia masih sedih yang duduk di sofa. Andra terus menatap putrinya yang duduk di hadapannya itu.

"Bagaimana ini bisa terjadi Zivanna?" tanyanya setelah mereka cukup lama diam.

Zivanna mengangkat kepala melihat ke arah sang ayah. "jadi kematian anak itu juga memang salah Zivanna?" tanyanya terdengar lirih.

Zivanna sangat berharap jika ada yang mendukungnya, bukankah sesama orang yang terlibat di rumah sakit pasti sangat mengerti situasi pasien dan seharusnya tidak menyalahkan. Hanya orang awam yang seharusnya menganggap kematian itu adalah kesalahannya.

"Papa tidak menyalahkan kamu dan memang benar kematian itu hanya Allah yang memiliki, tetapi ada kecerobohan yang kamu lakukan membuat pasien...."

"Zivanna tidak melakukannya dan bagaimana mungkin hanya karena antibiotik pasien bisa kehilangan nyawanya," Zivanna mencoba untuk membela diri kepada orang yang sama-sama mengerti masalah tentang medis.

Dia memang tidak bisa membela dirinya di saat kedua orang tua pasien menyalahkannya, bagaimana perasaan seorang ibu yang kehilangan bayinya.

Andra sudah tidak tahu harus berbicara apapun, sebenarnya dia kasihan melihat putrinya yang tertekan dengan situasi pekerjaan.

Padahal menjadi Dokter adalah impian putrinya sejak kecil dan bahkan dia dengan istrinya juga mendukung karya Zivanna, tetapi siapa sangka impian itu membuat putrinya tertekan karena tidak sesuai dengan ekspektasi.

Bersambung....

1
Teh Euis Tea
jgn saling salah salahkan sekarang cepat selamatkan Zifana, dari pd ribut ga jelas, kalian ber2 emang pd egois
Teh Euis Tea
semoga Zifana selamat, kadang aku sebel sm Zifana kadang kasihan jg sm dia
Endang 💖
berantem lagi, salah paham lagi, kapan mereka akurnya
Teh Euis Tea
nah gitu dong Zifana hrs percaya diri klu kamu mampu mengatasinya
Teh Euis Tea
Zifana jgn cengeng, kapan km dewasanya klu ngeluh trs seharusnya km byk belajar jgn cuma mengeluh, jgn manja zi
Sri Darwati
knp bisa lulus jdi dokter y??menghadapi pasien parah dh gemeter.🤦
Sarinah Quinn
Seruu 😍up lagi thor 🙏🙏
Dew666
🍎🍎🍎🍎
falea sezi
kn emang si digta goblok🤣🤣🤣
Dew666: Setuju hehehe
total 1 replies
falea sezi
moga aja ketemu dokter ganteng kaya raya biar mampus si suami serakah🤣
Teh Euis Tea
trs aj zi egois ga bisa di kasih tau, udah di tolong di kasih tau msh aj ga terima
Teh Euis Tea
ga suka bgt sama sikap Zifana, orang mah jalani aj dulu siapa tau dari pengalaman km jd dokter hebat
Jumi Saddah
mari kita lihat kelanjutan ini pasangan,,apa seterus nya begini atau akan ada perubahan atau akhir nya memilih jalan masing2,,
Inarrr Ulfah
kasih satu tentara buat ziva,,dan buat cemburu si dokter dingin itu,,ayo semngat ziva
Teh Euis Tea
semoga pulang tugas Zifana jd dokter hebat
Teh Euis Tea
Dikta berterus terang lah pd nayla klu km diam diam sudah menikah
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Erna Ladi Yanti
thor ubah Savana jd sosok cerdas,dingin dan tak tersentuh.
Asmawati Wati
semoga zifana ketemu dokter ganteng, mapan, spesialis, CEO, suka sama zifana, biar dikta tau rasa 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!