NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELAHIRAN PANGERAN KECIL

Sembilan bulan berlalu seiring alunan waktu yang penuh kebahagiaan, kesabaran, dan kasih sayang yang tak terukur. Perut Alana kini sudah sangat besar dan membulat sempurna, menjadi bukti nyata dari perjalanan panjang cinta mereka yang kini hampir sampai pada garis finis penantian terindah.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik membasahi kota Jakarta, membawa hawa dingin yang sejuk. Di kamar utama rumah besar Arkananta, suasana hangat dan tenang menyelimuti segalanya. Devan tidur dengan posisi setengah duduk, sementara Alana bersandar nyaman di dada bidang suaminya, napasnya teratur meski gerahamnya sesekali mengerut menahan rasa pegal dan berat di tubuhnya yang makin hari makin besar.

Tiba-tiba, Alana menggeliat pelan, wajahnya berubah sedikit tegang. Tangannya mencengkeram lengan Devan erat.

"Devan..." panggilnya pelan namun terdengar berbeda.

Devan seketika terbangun sepenuhnya, instingnya yang tajam langsung waspada. Ia menatap wajah istrinya yang tampak berkeringat dingin.

"Ada apa, Sayang? Sakit di mana?" tanyanya cepat dan cemas, langsung menopang tubuh Alana agar lebih tegak.

"Perutku... kencang sekali. Dan... sepertinya air ketubanku pecah..."

Detik itu juga, darah Devan seolah berdesir kencang, campuran antara panik luar biasa dan rasa gugup yang tak bisa dijelaskan. Tapi ia segera menegakkan diri, menekan rasa gugup itu dan berubah menjadi pelindung yang paling sigap dan kuat.

"Tenang, Sayang. Aku ada di sini. Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kita sekarang langsung ke rumah sakit. Aku siap, aku ada di sini."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Devan dengan hati-hati mengangkat tubuh berat istrinya, menggendongnya dengan penuh kehati-hatian seolah membawa barang paling rapuh dan berharga. Ia tidak membiarkan Alana melangkah sedikit pun. Seluruh staf rumah langsung dibangunkan, mobil disiapkan, dan dalam hitungan menit, mereka melesat menuju rumah sakit terbaik yang sudah lama disiapkan.

Sepanjang perjalanan, Devan menggenggam tangan Alana erat sekali, mengusap keringat di kening istrinya, dan terus membisikkan kata-kata penenang meski hatinya sendiri berdebar tak karuan.

"Tahan sedikit lagi, Sayang. Kita sampai sebentar lagi. Kamu hebat sekali, kamu wanita paling hebat sedunia. Nanti aku yang gantiin rasa sakitmu dengan kebahagiaan seribu kali lipat. Tunggu sebentar lagi ya, kita ketemu si kecil."

Sesampainya di rumah sakit, seluruh tim dokter dan bidan spesialis yang sudah disiapkan langsung menyambut mereka. Alana segera dibawa ke ruang bersalin. Dan Devan? Ia sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangan istrinya. Ia ikut masuk, mengenakan pakaian steril, berdiri tepat di samping tempat tidur, tak berniat mundur selangkah pun.

"Pak Devan, sebaiknya Bapak tunggu di luar saja, proses ini cukup melelahkan dan..." coba menyarankan dokter, tapi langsung dipotong tegas namun sopan oleh Devan.

"Tidak, Dokter. Istriku sedang berjuang, menanggung sakit sendirian demi kami berdua. Tidak mungkin aku berdiri santai di luar. Aku harus di sini, aku harus menemaninya, aku harus menggenggam tangannya. Di mana ada dia, di situ ada aku. Sampai kapan pun."

Dokter tersenyum mengerti, mengangguk hormat. Jarang sekali melihat seorang suami, apalagi orang sebesar Devan Arkananta, yang begitu tunduk dan begitu setia pada istrinya.

Proses persalinan berlangsung berjam-jam. Alana menahan sakit yang luar biasa, mengerang pelan setiap kali rasa kontraksi itu datang. Dan di setiap detiknya, Devan ada di sana. Mengusap wajah istrinya, membasuh keringat, memberi minum, menahan tangannya sampai jari-jarinya memutih karena digenggam Alana, dan terus menyemangati dengan suara yang parau namun penuh keyakinan.

"Bagus, Sayang... hebat sekali... tarik napas... buang... kamu kuat, kamu wanita terkuat yang aku tahu. Sedikit lagi, sedikit lagi kita bertemu anak kita. Kamu luar biasa, Alana. Aku bangga sekali padamu."

Ada kalanya Alana hampir putus asa karena kelelahan, menunduk lemas. Saat itulah Devan mendekatkan wajahnya, menatap mata istrinya dalam-dalam.

"Lihat aku, Sayang. Lihat aku. Jangan menyerah. Aku ada di sini. Kita janji mau melewati segalanya bersama, kan? Sekarang ini pun kita lewati sama-sama. Kamu bisa, aku yakin kamu bisa. Demi aku, demi anak kita, bertahanlah sedikit lagi."

Kata-kata itu menjadi energi ajaib bagi Alana. Ia mengangguk lemah namun penuh tekad, mengumpulkan sisa tenaganya untuk dorongan terakhir.

Dan akhirnya... di tengah malam yang hening, tepat pukul 00.00, teriakan tangis yang keras, nyaring, dan penuh kehidupan bergema memenuhi ruang bersalin. Suara itu, yang terdengar begitu indah, begitu sakral, dan begitu ajaib, seolah menyapu bersih segala rasa sakit, lelah, dan cemas yang ada.

"Selamat, Bu, Pak. Lahir sehat, laki-laki, berat 3,5 kilogram, panjang 50 sentimeter. Anak yang sangat kuat dan sehat!" seru Dokter dengan senyum lebar.

Devan terpaku. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan, matanya menatap sosok merah kecil yang baru saja dilahirkan, yang kini sedang dibersihkan. Air mata bahagia langsung meluncur deras, jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ia menoleh ke arah Alana yang terbaring lemas namun tersenyum samar, wajahnya pucat tapi bersinar luar biasa.

Alana... wanita ini yang telah berjuang mati-matian, menahan sakit yang tak terbayangkan, demi memberinya warisan cinta ini.

Devan langsung mendekat, mencium kening, pipi, dan tangan istrinya berkali-kali dengan penuh rasa syukur yang meledak-ledak.

"Terima kasih... Terima kasih, Alana... Terima kasih sudah memberikannya padaku... Terima kasih sudah bertahan... Kau adalah malaikatku, kau adalah nyawaku..." suaranya terpecah oleh isak tangis yang tak bisa ditahan. "Aku tidak tahu harus bilang apa lagi... aku terlalu bahagia, aku terlalu penuh..."

Saat bayi kecil itu sudah dibersihkan, dibungkus kain putih halus, dan diletakkan di atas dada Alana, tepat di antara mereka berdua, saat itulah detik paling sakral terjadi.

Devan melihat wajah mungil itu. Mata yang masih terpejam, hidung mungil, bibir yang kecil, dan rambut tipis hitam legam. Ia tertegun, hatinya seolah meleleh total. Ada dirinya di sana, ada Alana di sana. Ada bukti bahwa cinta mereka nyata, abadi, dan melahirkan kehidupan baru.

Devan perlahan menyentuh tangan kecil itu yang seukuran jari kelingkingnya, dan jari mungil itu langsung melingkar menggenggam jari besarnya dengan kuat, seolah tak mau melepaskan. Rasa itu... rasa genggaman kecil yang begitu kuat itu, membuat hati Devan hancur lebur karena bahagia. Ia langsung berlutut di samping ranjang, menundukkan kepalanya di sisi tempat tidur itu, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.

"Ayah di sini, Nak... Ayah ada di sini... Selamat datang ke dunia, selamat datang ke hidup kami, Pangeran kecilku..."

Setelah semua beres dan mereka dipindahkan ke kamar rawat yang luas dan nyaman, Devan sama sekali tidak mau beranjak. Ia duduk di sisi ranjang, menatap dua makhluk paling berharga di dunia ini bergantian. Alana yang mulai terlelap karena kelelahan, dan bayinya yang tidur pulas di dekatnya.

Devan mengusap rambut istrinya perlahan, tatapannya penuh kekaguman dan penghormatan setinggi langit.

"Kau tahu, Alana? Dulu aku mengira hal paling hebat yang pernah kulakukan adalah membangun Arkananta Group, menguasai pasar, dan menjadi orang terkaya. Ternyata salah besar. Hal paling hebat, paling mulia, dan paling membanggakan dalam hidupku adalah menikahimu, dan sekarang menjadi Ayah dari anakmu. Dan semua itu, semuanya karena kamu. Tanpamu, aku tidak akan pernah tahu rasa bahagia sebesar ini."

Ia menatap nama yang sudah dipikirkan matang-matang sejak lama: Gala Arkananta. Gala, yang berarti kemegahan, kebesaran, dan anugerah terindah.

"Gala... nama yang pas sekali. Karena kehadiranmu adalah gala, adalah kemegahan terbesar yang dimiliki Ayah dan Ibu," bisik Devan lembut, mencium dahi anaknya.

Ia kembali menatap Alana, menyisir rambut yang sedikit berantakan itu dengan penuh kasih sayang.

"Kau berjuang mati-matian tadi malam demi dia, demi aku. Kau menanggung sakit yang tidak akan pernah bisa aku bayangkan atau ganti dengan apa pun. Aku berjanji, Alana. Seumur hidupku, aku akan membayarmu kembali dengan cinta seribu kali lipat. Aku akan memanjakanmu, melindungimu, dan menaatimu sampai napas terakhirku. Kau sudah memberiku segalanya, kau sudah menyempurnakan hidupku seutuhnya."

Di ruangan yang hening itu, diiringi napas teratur dua orang yang dicintainya, Devan merasa duduk di atas takhta yang paling tinggi dan paling nyaman di semesta ini. Segala ambisi, segala kekuasaan, segala harta... rasanya semuanya debu jika dibandingkan dengan pemandangan di depannya ini.

Dan sekali lagi, janji yang makin dalam, makin nyata, dan makin mutlak itu terucap lirih namun tegas, menjadi sumpah hidupnya yang tak tergoyahkan:

"Di hadapan kelahiran buah hati kita, di hadapan bukti cinta yang nyata dan bernyawa ini... aku sumpahkan: Segala kekuasaan, harta, tenaga, pikiran, jiwa, raga, masa lalu, kini, dan selamanya... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana. Ibu dari anakku, Ratu segalaku, dan satu-satunya pemilik hatiku."

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!