NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 3 : Kontrak?

Siraman mentari pagi yang hangat menyinari muka Theo, membangunkan Theo dari mimpinya yang indah.

"Hoaahm" Theo meregangkan badannya sambil sedikit menguap.

Dia kemudian mengambil tas didekatnya.

"Huh"

Muka Theo mengernyit mengisyaratkan sesuatu yang aneh terjadi. Dia mulai mengobrak-abrik isi tasnya, memandangi gua, dan mulai meneteskan keringat.

'Hilang...

Dimana? Dimana telur itu?'

Terus menerus matanya menelusuri setiap sudut gua, tapi naas tidak ditemukan sedikitpun jejak dari telurnya.

"Sialan, siapa yang mencuri telurku?"

Theo kemudian mulai keluar, berniat melihat ular besar yang sebelumnya belum dikubur olehnya.

"Hah!"

Begitu terkejutnya Theo, melihat bangkai ular itu sudah hilang. Menyisakan tulang belulang ular yang kelihatan sudah kering.

Di situ, dia bisa melihat dua ekor ular sedang tertidur di dekat rangka tulang ular besar.

'Mereka sudah menetas?'

Theo dilanda beribu-ribu pertanyaan yang tidak dapat ia lontarkan.

Bagaimana sebuah telur ular menetas?

Bagaimana bisa secepat itu?

Sampai bagaimana bisa hanya tersisa rangka ular di tempat ia menaruh bangkai ular sebelumnya.

Di sela-sela kebingungannya, Theo mulai melihat bahwa kedua ular terbangun dan segera menghampiri Theo.

Mereka memberikan dua barang yang kelihatan indah.

Sebuah mata berwarna hijau muda dengan pola sisik ular di sekitarnya, dan sebuah batu hitam berbentuk air mata.

"Apa?"

Ngik

Ngik

Kedua ular itu terlihat mendorong tangan Theo ke arah mulutnya. Namun, Theo segera melawan kekuatan kedua ular itu.

"Apa?"

Ngik

Ngik

Masing-masing ular itu memuntahkan batu hitam mirip seperti yang dipegang Theo

Namun, ukurannya masih sangat kecil. Kemudian, mereka segera menelannya. Kemudian mata mereka menatap ke arah Theo.

"Aku?"

Kedua ular itu terlihat mengangguk, setuju dengan perkataan Theo.

"Menelan? Dua benda ini?"

Lagi-lagi, ular itu hanya mengangguk tanda setuju.

Theo dilanda dengan perasaan jijik, bagaimana tidak, dia diminta untuk menelan 2 barang yang ia tidak ketahui asal usulnya.

Di sela-sela kebingungannya, salah satu ular itu segera mengambil batu hitam dan segera menaruhnya di mulut Theo. Sedangkan, ular lainnya mulai melilit mulut dan tenggorokan Theo memaksanya untuk menelan batu yang baru saja di taruh dimulut.

Glek

Muka Theo langsung berubah putih, mulutnya mengeluarkan busa dan dia..

Bruk

Theo jatuh seketika setelah dipaksa menelan batu itu.

Setelah beberapa jam berlalu, Theo mulai membuka matanya perlahan.

"Ah, dia sudah membuka matanya."

"Ahh, apa kubilang, harusnya jangan memaksanya tadi. Tapi, tak apalah"

Dua suara kecil seolah bergema di pikiran Theo menyebabkan Theo yang kebingungan mencari asal suaranya.

"Dimana kalian? Siapa kalian?" Teriak Theo sambil menengok kanan kiri mencari asal suaranya.

"Hei tuan, disini. Disini"

"Kalian..

Ular kecil itu?"

"Ya.. ya"

Theo mulai memegang kepalanya yang sakit.

"Ugh, terlalu banyak hal aneh di sini. Kalian, kenapa kalian memaksaku menelan batu itu?"

"Hmm.... Hehehehe, itu inti sihir dari ibu kami tuan. Kami ingin kau, jadi pengganti ibu kami."

"Huuh... Lagian kenapa harus aku?" Theo bertanya kepada kedua anak ular di depannya.

"Hei hei, kau sudah membunuh ibu kami kan? Makanya kau harus menggantinya."

"Ya ya ya... Lagian, apa untungnya aku?"

"Hei, harusnya kau bersyukur. Lihat ini."

Salah satu ular itu menyerang kaki Theo.

"Agh, hei beraninya kalian." Teriak Theo hendak membalas kedua ular itu.

Namun, perhatiannya teralihkan kepada kakinya yang mulai sembuh dengan cepat.

"Ini...." Theo terdiam tidak bisa berkata-kata.

Kemudian, kedua ular itu meminta Theo untuk menelan mata dari ibu mereka.

"Menelan ini?" Tanya Theo sambil menunjuk mata hijau di tangan kirinya.

"Iya tuan, coba saja telan. Kamu bakal dapet kekuatan yang hebat loh."

"Nggak, nggak, nggak, tadi aja aku nelen batu sihir atau apalah punya ibu kalian aku langsung pingsan lama. Kalo ini?" Muka Theo dipenuhi keraguan atas kedua ular dihadapannya.

"Hahh... Baiklah kalau begitu."

Salah satu ular mendekati Theo, hendak melakukan hal yang sama. Namun, Theo segera menghindar.

"Baik, baik, baiklah jangan melakukannya lagi. Akan aku telan, te... Tenang saja."

Dengan berat hati, Theo memasukkan mata hijau itu ke mulutnya.

Mukanya menghitam, nafasnya memendek, dan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

Lima hari berlalu, Theo mulai membuka matanya dalam keadaan linglung.

Dia mulai merasakan gatal di sekujur tubuhnya, tentu saja disertai dengan rasa lengket di bagian tubuh tertentu.

"Selamat tuan. Kamu telah resmi mendapat kekuatan dari ular putih."

"Hah? Kalian lagi?"

"Ingat satu hal tuan, kau harus menggantikan ibu kami. Maka, mulai sekarang kau harus berburu sekali sehari.

Oiya, kau diperbolehkan menggunakan taring ibu kami tentu untuk dipakai berburu." Kedua ular itu mulai mendekati rangka ular besar dan melilit taring atas ular itu.

Kratak

Hebat...

Sungguh hebat kedua ular itu mampu mencabut taring ular besar, menciptakan barang dengan bentuk mirip pisau.

"Woah, kalian sangat hebat."

"Huhu, tentu saja. Kau pikir kami apa?"

"Jadi, ini adalah pisau lempar untuk kau berburu tuan." Ucap ular itu sambil memberikan kedua buah pisau dari taring ular.

"Hm, sebelumnya. Kalian belum punya nama kan?

Kalau begitu, kau ku panggil Snow dan kau ku panggil White."

"Hihihi, nama yang cantik. Baiklah karena kamu sudah memberi kami nama yang cantik, akan kami ajari caranya berburu."

Snow langsung pergi, sedangkan White tetap di sana menemani Theo.

"Hei White kemana Snow pergi?"

"Ahem, Snow sedang pergi mencari mangsa tuan. Sebelum berburu, ayo tuan, White ajari caranya mengeluarkan bisa."

"Bisa? Bukannya kalian berburu dengan membelit mangsa?" Tanya Theo dengan wajah penuh kerutan.

"Yah, seringnya memang begitu. Tapi, kami ini ras ular dengan bisa yang tidak kuat. Makanya, kami harus membelit mangsa kami baru menyuntikkan racun."

"Benarkah? Baiklah."

"Pertama-tama, tuan bisa merasakan sesuatu di leher tuan kan?"

"Hmmm, ya. Aku merasakan sensasi aneh di sekitar leherku. Hmm mungkin lebih tepatnya bagian belakang mulut?"

"Nah itu tuan, White biasanya merasakan suatu sensasi aneh di area mulut. Nah, sekarang tuan coba tekan sensasi itu. Atau, bisa coba tuan pindahkan sensasi itu. Mungkin paling bagus ke mulut tuan."

Meski terasa aneh, Theo tetap menuruti setiap perkataan dari White.

"Setelah itu, seharusnya air liur tuan sudah mengandung bisa. Memang, hanya bisa pelumpuh. Tapi seharusnya tuan sudah bisa berburu mahluk kecil seperti ayam, kelinci, ataupun mahluk yang besarnya mirip."

"Woah, pas sekali."

Theo merasakan sesuatu di belakangnya dan segera menghadap belakangnya.

***

End ch. 3 : Kontrak?

Jangan lupa like dan comment

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!