Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pembuka
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Sejak pagi, seluruh ibu kota dipenuhi suasana perayaan.
Jalan-jalan utama dihiasi rangkaian bunga musim semi yang berwarna-warni. Bendera kekaisaran dan lambang keluarga bangsawan berkibar berdampingan di sepanjang jalan. Para pedagang menjajakan berbagai makanan, pernak-pernik, dan suvenir festival.
Tawa dan musik terdengar hampir di setiap sudut kota. Namun pusat perhatian malam ini hanya satu.
Istana Kekaisaran Astrael.
Tempat berlangsungnya jamuan pembukaan Festival Musim Semi. Sejak sore hari, kediaman keluarga Vareinne sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan berlalu-lalang membawa pakaian, perhiasan, dan perlengkapan lainnya.
Di kamar Arcelia, Lilian sedang menyelesaikan sentuhan terakhir. Gaun yang mereka pesan beberapa waktu lalu akhirnya diperlihatkan sepenuhnya. Kain berwarna biru perak berkilauan lembut di bawah cahaya lampu. Tidak terlalu mencolok namun elegan. Sulaman bunga musim semi menghiasi bagian bawah rok panjangnya. Setiap detail terlihat mewah tanpa berlebihan.
Lilian mundur beberapa langkah matanya berbinar. "Nona terlihat sangat cantik."
Arcelia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia harus mengakui bahwa hasilnya jauh lebih baik daripada yang dibayangkannya. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu Auriel yang duduk di atas tempat tidur langsung berdiri.
"Wah."
Arcelia meliriknya. "Wah apa?"
"Kau benar-benar akan membuat masalah malam ini."
"Kenapa semua pujian darimu terdengar seperti ancaman?"
"Karena aku jujur."
Lilian menahan tawa. Sementara Auriel melompat turun dan berjalan mengelilingi Arcelia seperti seorang kritikus seni. "Kalau aku manusia, mungkin aku juga akan jatuh cinta."
Arcelia mengambil bantal terdekat Auriel langsung melompat menjauh. "Aku hanya mengatakan fakta!"
"Kau terlalu banyak bicara."
"Itu bakat."
"Itu kutukan."
Tak lama kemudian, rombongan keluarga Vareinne berangkat menuju istana. Kereta melaju melewati jalan-jalan yang dipenuhi cahaya lampu kristal. Semakin dekat mereka ke pusat kota, semakin ramai suasana. Puluhan kereta bangsawan terlihat bergerak menuju tujuan yang sama.
Dari balik jendela, Arcelia memperhatikan pemandangan tersebut. Di kehidupan sebelumnya, ia hanya pernah melihat acara seperti ini melalui layar televisi. Kini ia berada di tengah-tengahnya dan anehnya, ia tidak merasa gugup justru terlalu tenang.
Dan pengalaman hidupnya mengajarkan satu hal. Ketika semuanya terasa terlalu tenang biasanya sesuatu akan terjadi.
Istana Kekaisaran Astrael tampak jauh lebih megah pada malam hari. Ribuan lampu kristal menerangi bangunan putih raksasa itu. Tangga marmer yang lebar membentang menuju pintu utama. Para ksatria kekaisaran berjaga di setiap sudut. Sementara para pelayan menyambut tamu yang terus berdatangan.
Kereta keluarga Vareinne akhirnya berhenti. Seorang pelayan membuka pintu. Duke Cedric turun terlebih dahulu disusul Marquise Elena dan Lunaria kemudian Arcelia.
Begitu kedua kakinya menginjak lantai marmer ia langsung merasakan puluhan tatapan tertuju kepadanya. Bukan karena ia satu-satunya tamu yang hadir. Melainkan karena rumor tentang dirinya telah lebih dulu tiba.
Bisikan mulai terdengar.
"Itu Arcelia Vareinne."
"Dia benar-benar berbeda dari rumor lama."
"Aku hampir tidak mengenalinya."
"Dia terlihat seperti orang yang berbeda."
Arcelia tetap berjalan tenang seolah tidak mendengar apa pun padahal ia mendengar semuanya.
Auriel yang bersembunyi di balik aksesorinya terkikik. "Mereka menatapmu seperti melihat hantu."
"Mungkin memang begitu." Bagaimanapun juga Arcelia yang sekarang memang bukan Arcelia yang dulu.
Aula utama istana jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya. Langit-langit tinggi dihiasi lukisan sejarah kekaisaran. Lampu kristal raksasa menggantung di atas kepala para tamu. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan. Ratusan bangsawan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Beberapa sedang berbincang, beberapa membangun relasi dan sebagian lainnya sibuk mengamati orang lain. Dunia bangsawan dalam bentuk paling murni.
Begitu memasuki aula, Serena langsung menemukan Arcelia.bSeolah memiliki kemampuan khusus.
"Arcelia!"nSerena muncul dari antara kerumunan dengan gaun berwarna kuning keemasan yang mencolok.
"Kau terlihat luar biasa."
"Kau juga."
"Aku tahu." jawab Serena tanpa malu-malu.
Arcelia hampir tertawa, Noah yang berdiri di samping Serena menggeleng pasrah. "Jangan memberinya kesempatan."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." kata Arcelia.
"Itulah masalahnya."
Mereka bertiga berbincang ringan selama beberapa menit. Namun tiba-tiba suasana aula berubah.
Percakapan mulai mereda, musik berhenti. Para bangsawan perlahan memalingkan pandangan ke arah pintu utama.
Arcelia ikut menoleh dan melihat alasannya. Keluarga kekaisaran telah tiba.
Para ksatria istana membuka jalan.
Kaisar Astrael berjalan memasuki aula terlebih dahulu. Di sampingnya berdiri Permaisuri. Di belakang mereka dua pangeran kekaisaran. Pangeran Kedua Kael Astrael dan Putra Mahkota Elias Astrael.
Suasana menjadi jauh lebih formal. Semua bangsawan membungkuk memberi hormat. Arcelia ikut melakukan hal yang sama. Namun sesaat sebelum menundukkan kepala matanya sempat menangkap sosok Putra Mahkota Elias.
Rambut hitam, mata tajam, postur tegap dan ekspresi tenang yang sulit dibaca. Sekilas saja, lalu ia kembali menunduk sesuai etika.
Tak ada yang aneh atau setidaknya begitulah yang dipikirkannya. Karena di saat yang hampir bersamaan Putra Mahkota Elias yang sedang menyapu ruangan dengan pandangan tenang juga sempat melihat seseorang.
Seorang gadis berambut perak, gaun biru perak yang berdiri di antara kerumunan bangsawan.
Dan untuk sesaat entah kenapa pandangannya berhenti. Hanya sesaat, namun cukup lama untuk membuat Marcus yang berdiri di belakangnya memperhatikan.
"Yang Mulia?" bisik Marcus pelan.
Putra Mahkota Elias mengalihkan pandangan. "Tidak ada apa-apa."
Marcus tidak terlihat percaya. Setelah sambutan singkat dari Kaisar, suasana kembali mencair. Musik mulai dimainkan, percakapan berlanjut. Para pelayan menyajikan makanan dan minuman.
Festival resmi dimulai.
Namun sesuatu telah berubah. Di berbagai sudut aula, para bangsawan diam-diam memperhatikan Arcelia. Karena beberapa dari mereka menyadari satu hal. Saat keluarga kekaisaran masuk pandangan Putra Mahkota sempat berhenti pada Lady Vareinne. Mungkin hanya kebetulan atau mungkin juga tidak.
Dan dalam dunia bangsawan, hal kecil seperti itu cukup untuk melahirkan seratus rumor baru sebelum matahari terbit. Sementara itu, Arcelia yang sama sekali tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan orang-orang hanya mengambil segelas jus buah dari nampan pelayan.
Lalu menghela napas pelan."Huuufftt..."
Festival baru saja dimulai. Dan entah mengapa ia merasa malam ini masih menyimpan sesuatu. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.