Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NETHERVEIL AGAIN
Aileen menatap Harvey beberapa detik lagi, tatapan merah itu tidak berubah, tidak goyah sedikit pun.
Dan itu cukup membuat Aileen akhirnya mundur perlahan. Bayangan hitam di bawah kakinya mulai bergerak lagi, membungkus tubuhnya seperti kabut.
“Ternyata rumor itu benar….” bisiknya lirih.
Tatapannya bergeser ke arah Hyeana yang masih lemah di lantai.
“Kau benar-benar hidup kembali Ileana.”
Deg.
Aura di sekitar Harvey langsung turun drastis. Bukan meledak, justru menjadi sangat sunyi. Sangat dingin.
“pergi.”
Cukup satu kata dan Aileen langsung menghilang menjadi bayangan hitam.
WHOOSH—
Lorong mendadak hening. Bayangan-bayangan hitam mulai lenyap perlahan dari dinding. Retakan di lantai berhenti menyebar. Udara yang tadi sesak akhirnya bisa dihirup lagi. Seana langsung jatuh terduduk lemas.
“hufftttt untung aku masih hidup.”
Haras mengusap wajahnya kasar.
“gue pengen cepet pulang.”
Olla menghela nafas panjang karena Hyeana sudah sadarkan diri.
“akhirnya sadar.” ucap Olla
Namun Harvey sama sekali tidak memperhatikan mereka, tatapannya masih tertuju pada Hyeana. Hyeana perlahan mencoba duduk tapi pelan, tangan Harvey langsung menahan bahunya, sentuhan itu dingin tapi anehnya nyaman. Hyeana menatap Harvey beberapa detik.
“kamu....berdarah.” ucap Hyeana masih setengah sadar
Harvey hanya diam.
Darah hitam tipis masih ada di sudut bibirnya, Hyeana langsung panik kecil.
“EH?!” tangannya refleks nyentuh wajah Harvey.
“Kamu luka?!" ucap Hyeana yang sepenuhnya sadar
Seana yang masih duduk di lantai langsung melirik Haras.
“gue merasa kita harus pergi.”
“setuju.”
Tapi mereka tetap tidak bergerak, Karena jujur aja….
penasaran. Harvey memegang pergelangan tangan Hyeana pelan sebelum gadis itu makin panik.
“itu bukan luka serius.” ucap Harvey
“tapi darahnya keluar?!” jawab Hyeana panik
“aku tidak akan mati.” lanjut Harvey
“jangan ngomong gitu!” ucap Hyeana
Deg.
Harvey sedikit terdiam. Tatapan merahnya turun ke wajah Hyeana yang benar-benar kelihatan khawatir.
Dan ekspresinya…melembut sedikit, Hyeana melihatnya.
“kamu senyum?” gumamnya pelan.
Harvey langsung mengalihkan pandangan.
“tidak.”
“bohong.”
“tidak.”
“aku lihat.”
“matamu salah.”
Seana langsung nutup mulut sendiri nahan ketawa.
“buset….”
Haras nyender ke dinding sambil nyengir kecil.
“akhirnya tuh makhluk bisa kalah debat.”
Olla cuma geleng-geleng kepala. Hyeana masih menatap Harvey beberapa detik sebelum akhirnya sadar posisi mereka dekat banget. Sangat dekat.
Tangan Harvey masih di bahunya dan satu tangan lagi masih menggenggam pergelangan tangannya yang bertanda hitam.
Deg.
Wajah Hyeana langsung merah sedikit.
“Harvey.”
“hmm?”
“semua orang lagi ngeliatin kita berdua.”
Harvey pelan-pelan menoleh, dia baru sadar ada tiga manusia lain yang literally lagi nontonin mereka, Seana langsung pura-pura buang muka.
“wah lampunya rusak ya.”
Haras ngakak kecil.
“lanjut aja kali.”
Olla reflek nyikut Haras.
“diam.”
Untuk pertama kalinya sejak muncul….Harvey terlihat sedikit kesal karena malu. Dia langsung berdiri pelan sambil menarik Hyeana ikut bangun.
“kita pergi.”
Hyeana masih agak sempoyongan, sebelum dia jatuh lagi, Harvey otomatis menarik pinggangnya.
Deg.
Hyeana langsung membeku, Seana pelan-pelan nepuk bahu Haras.
“gue senyum sendiri anjir.”
Haras mengangguk khidmat.
“absolute cinema.” katanya
“DIEM KALIAN!!” Hyeana langsung merah total.
Harvey menatap Hyeana sebentar lalu tanpa bilang apa-apa….dia malah tetap mempertahankan tangannya di pinggang Hyeana.
“Harvey.”
“kau masih lemah.”
“Itu bukan alasan buat—”
“kalau kau jatuh lagi,”
Tatapan merah Harvey turun pelan ke matanya.
“aku akan menghancurkan satu sekolah ini.”
Deg.
Kalimat itu harusnya mengerikan tapi entah kenapa….wajah Hyeana malah makin merah.
Seana langsung muter badan sambil teriak kecil.
“AAAAA GUE IRI.”
“tolong ada yang muntahin gue keluar dari scene ini.” tambah Haras.
Olla menutup wajah pelan.
“aku jadi capek deh.”
Harvey menatap Hyeana beberapa detik lagi. Tatapan merah itu perlahan kembali normal.
Aura hitam di sekitar lorong mulai mereda sedikit demi sedikit. Lalu….Harvey mengangkat tangannya pelan. Seluruh lorong langsung bergetar kecil. Retakan hitam di lantai mulai menyatu kembali seperti waktu diputar mundur. Pecahan kaca bergerak sendiri kembali ke jendela. Lampu-lampu yang pecah menyala lagi satu per satu.
KREEEK….
Dinding yang tadi hancur perlahan kembali utuh.
Seana langsung melongo.
“hah?”
Haras juga bengong.
“bro bisa gitu?!”
“itu bukan poin yang harus lo fokusin sekarang.” gumam Olla pelan.
Dalam kurang dari beberapa detik….koridor sekolah kembali normal. Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa pun. Hanya hawa dingin tipis yang masih tersisa. Harvey menurunkan tangannya lagi.
Seana langsung nepuk pundak Haras.
“gue rasa kita barusan ngalamin sesuatu yang gak bisa dijelasin pake logika manusia.”
“gue udah nyerah dari tadi.”
Hyeana masih menatap Harvey dengan wajah kagum kecil.
“kamu baik-baik aja setelah ngelakuin itu semua?”
“hal sederhana.” jawab Harvey datar.
“ITU GAK SEDERHANA.”
Namun Harvey cuma menatap Hyeana sebentar, anehnya….tatapannya jadi lebih tenang setelah memastikan Hyeana benar-benar sadar.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Mereka akhirnya kembali ke kelas. Begitu pintu kelas dibuka....
BRAK.
Lidia langsung berdiri.
“ASTAGA KALIAN DARI MANA AJA?!”
Anne yang duduk di kursinya juga langsung nengok cepat.
“lama banget ci?!”
Seana reflek jawab duluan.
“toiletnya kerasukan jin tomang .”
Lidia berkedip.
“hah?”
Haras langsung nyengir capek.
“jangan ditanya.”
Hyeana buru-buru narik Seana pelan.
“jangan ngomong aneh-aneh!”
“TAPI EMANG IYA.”
Anne mengernyit curiga, tatapannya pindah ke seragam mereka yang agak berantakan. Terutama Hyeana yang masih keliatan pucat.
“serius ih ada apa ci?”
Deg.
Hyeana langsung gugup, untungnya Harvey tidak terlihat oleh manusia biasa di kelas itu. Kalau iya….
mungkin satu kelas pingsan.
“uhhh….”
Hyeana nyari alasan panik.
“Seana hampir jatuh di toilet terus kita bantuin.”
“selama satu jam?” tanya Lidia curiga.
“jatuhnya lama.” jawab Haras santai.
“WOI.”
Anne masih keliatan gak percaya. Namun akhirnya guru masuk kelas dan obrolan itu berhenti. Hyeana langsung duduk di kursinya sambil menghela nafas lega. Namun….
Deg.
Tanda hitam di tangannya masih terasa hangat, Hyeana refleks melirik samping kelas dan di dekat jendela….Harvey berdiri diam, tatapan merahnya masih tertuju padanya. Selama pelajaran berlangsung pun….Harvey tidak pergi. Dia hanya diam di dekat jendela kelas. Kadang menatap keluar, kadang menatap Hyeana dan setiap kali mata mereka bertemu....Jantung Hyeana langsung gak aman. Seana yang duduk gak jauh dari situ sampai senyum-senyum sendiri lihat Hyeana salah tingkah tiap beberapa menit.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Jam pulang akhirnya tiba, langit sudah berubah jingga gelap, siswa-siswa mulai keluar dari sekolah.
Namun saat Hyeana baru berdiri dari kursinya....
WHOOSH.
Bayangan hitam tipis muncul di bawah kaki Harvey.
“Tunggu.” ucap Harvey.
Hyeana menoleh.
“Hm, ada apa?”
Tatapan Harvey turun ke tanda hitam di tangannya.
“Itu belum stabil.”
Ekspresinya langsung serius lagi.
“kau ikut denganku malam ini.”
Deg.
Seana langsung nyenggol meja.
“ANJAY.”
Hyeana langsung panik.
“Hah?gimana?!”
Harvey mendekat pelan.
“Netherveil lebih aman.”
“T-tapi aku harus pulang....”
“Aku akan mengantarmu kembali.”
“tetep aja—”
“Hyeana.” Suara Harvey rendah.
“Aku tidak mau sesuatu terjadi lagi padamu.”
Deg.
Wajah Hyeana langsung merah lagi. Seana udah hampir jungkir balik nahan teriak.
WHOOSH.
Kabut hitam menyelimuti mereka dan beberapa detik kemudian....mereka tiba di Netherveil. Langit hitam luas menyambut mereka lagi. Kali ini Hyeana tidak terlalu takut. Karena Harvey ada di sampingnya. Malam itu….Harvey benar-benar menjaga Hyeana. Dia membawa Hyeana ke bangunan batu hitam besar di tengah Netherveil.
Tempat itu sunyi tapi hangat anehnya. Api merah kecil menyala di beberapa sudut ruangan. Hyeana duduk di sofa hitam besar sambil memegang cangkir hangat yang entah sejak kapan ada.
“aku masih gak percaya dunia kayak gini beneran ada.”
Harvey berdiri di dekat jendela besar Netherveil, tatapan merahnya tertuju ke luar.
“kau akan terbiasa.”
“aku gak yakin itu hal bagus.”
Harvey tersenyum lagi dan kali ini Hyeana lihat jelas.
“NAH KAN KAMU SENYUM.”
Harvey langsung memalingkan wajah.
“tidak.”
“AKU LIHAT.”
“kau berhalusinasi.”
Hyeana langsung ngakak kecil.
Dan itu….mungkin pertama kalinya suara tawa manusia terdengar senormal itu di Netherveil.
Harvey diam mendengarkannya, tatapannya sedikit melembut lagi. Seolah suara itu….sesuatu yang sangat dia suka.
Larut malam, Sangat malam, Hyeana akhirnya mulai mengantuk dan Harvey benar-benar menepati janjinya. Dia membawa Hyeana kembali ke rumahnya, Kamar Hyeana gelap dan sunyi, Jam sudah lewat tengah malam. Begitu Hyeana duduk di kasurnya, tubuhnya langsung terasa berat.
“cape banget.”
Harvey berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
“tidurlah.”
Hyeana menatap Harvey beberapa detik.
“kamu mau pergi ke Netherveil?”
Hening sebentar, lalu Harvey menjawab pelan.
“tidak malam ini.”
Deg.
Hyeana langsung salah tingkah lagi.
“O-ohh.”
Harvey duduk di kursi dekat meja belajar Hyeana. Masih memakai jubah hitamnya, masih dengan tatapan merah tenang itu.
“Aku akan tetap di sini sampai kau bangun.”
“buat jagain aku?”
“iya.”
Jantung Hyeana langsung gak aman lagi. Dia buru-buru rebahan sambil nutup setengah wajah pake selimut.
“jangan liatin aku terus.”
“Aku harus memastikan kau baik-baik saja.”
“Itu malah bikin aku gak bisa tidur.”
Harvey terdiam sebentar, Lalu….dia berdiri dan lanjut berjalan mendekat ke tempat tidur Hyeana.
Deg.
Hyeana langsung menegang, Harvey duduk di tepi kasur pelan, tangannya menyentuh rambut Hyeana sangat hati-hati.
“Tidurlah Hyeana.”
Suara rendah itu jauh lebih lembut dari biasanya.
Anehnya….rasa sakit di kepala Hyeana langsung mereda, rasa hangat perlahan memenuhi dadanya, kelopak matanya mulai berat. Pandangan terakhir yang dia lihat sebelum tertidur adalah mata merah Harvey yang menatapnya diam-diam.
Sepanjang malam itu….Harvey benar-benar tetap di sana, memastikan Hyeana tidur tenang dimalam itu dan menunggu Hyeana bangun dipagi hari nanti.