NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 TRAGEDI BOLA VOLI

Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi, matahari ibu kota mulai memancarkan sinar hangatnya yang agak menyengat. Seperti biasa, Gretta melangkah memasuki gerbang sekolah dengan semangat yang pas-pasan. Di dalam kelas, riuh rendah suara murid-murid yang bergosip langsung menyambutnya. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi nyaring.

Hari ini ada jadwal pelajaran olahraga dikelas 2-C. Pak Dodo, guru olahraga bertubuh kekar dengan kumis tebal, masuk ke dalam kelas. Beliau duduk di bangkunya, lalu mengetukkan pulpen ke meja.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Dodo tegas.

"Selamat pagi, Pak!" jawab seisi murid serentak,

 beberapa anak cowok di pojokan menjawab dengan suara serak yang dipaksakan.

"Silakan kalian langsung berganti baju olahraga. Bapak tunggu di lapangan lima menit dari sekarang. Jangan ada yang telat," ujar Pak Dodo sambil berdiri, lalu melangkah keluar kelas dengan buku absen tebal di tangannya.

"Baik, Pak!" sahut mereka lagi.

Suasana kelas langsung berubah riuh. Murid-murid mengambil baju olahraga dari dalam tas mereka.

"Gretta, ayo cepat!" seru Ruby sambil menarik ujung seragam Gretta.

"Iya, Ruby, sebentar... ini tali sepatuku nyangkut," sahut Gretta panik.

Setelah berhasil membebaskan tali sepatunya, mereka bertiga—bersama Nana—segera berlari menuju toilet cewek untuk berganti pakaian.

Namun, rencana "lima menit sampai lapangan" itu hancur berantakan akibat panggilan alam yang tidak bisa ditoleransi.

Di lapangan, Pak Dodo sudah berdiri tegak di bawah terik matahari sambil memegang peluit. Beliau mulai mengabsen satu per satu. Peraturannya mutlak: siapa pun yang telat atau sengaja membolos jam olahraga, akan dihukum lari memutari lapangan sepak bola sebanyak 20 kali.

Saat Pak Dodo hampir menutup buku absen, tiga sosok perempuan berlari terengah-engah dari arah koridor. Gretta, Ruby, dan Nana tiba dengan napas yang sudah di tenggorokan.

"Kenapa kalian bertiga bisa telat 8 menit?" tanya Pak Dodo, melirik jam tangannya dengan dahi berkerut seram.

Ruby, dengan kepolosan yang berada di ambang batas bahaya, menjawab dengan santai tanpa beban, "Aduh maaf, Pak. Tadi si Nana mulesnya mendadak, jadi kami berdua terpaksa nungguin Nana yang lagi buang air besar di toilet ujung."

Mendengar kejujuran Ruby yang terlalu transparan, wajah Nana langsung memerah seperti kepiting rebus. Anak-anak lain yang mendengar itu langsung menahan tawa.

PLAK!

Nana yang teramat sangat malu langsung menginjak kaki Ruby dengan kekuatan penuh.

"AWWW! Sakit, Na! Kan emang bener lu berak lama banget tadi!" pekik Ruby sambil melompat-lompat memegangi kakinya yang malang.

Gretta yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa diam membisu, menunduk dalam-dalam sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. 'Tuhan, tolong telan aku ke dalam bumi sekarang juga,' batin Gretta merenung.

"Sudah, sudah! Jangan ribut soal urusan toilet!" potong Pak Dodo menggeleng-gelengkan kepala heran. Beliau pun melanjutkan proses mengabsen mereka bertiga tanpa memperpanjang drama tersebut.

Sesudah mengabsen, Pak Dodo meniup peluitnya. "Arkana! Maju ke depan, pimpin pemanasan!"

Arkana, si ketua kelas yang atletis, langsung maju dengan tegap dan mulai memimpin gerakan pemanasan statis. Mulai dari memutar kepala, memutar bahu, hingga meregangkan kaki.

Di barisan tengah, Zordan yang sudah kegerahan mulai merasa bosan. Ia memajukan kepalanya dan berbisik ke arah depan, "Arkan, woy! Jangan lama-lama pemanasannya! Keburu mateng nih kulit gua!"

"Hee, Zordan!" Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinga Zordan. Tanpa aba-aba, tangan kekar Pak Dodo sudah mendarat dan menarik telinga Zordan ke atas.

"Aw! Iya, Pak! Iya, Pak, maaf! Janji nggak ngomong lagi!" saut Zordan meringis kesakitan, tubuhnya sampai berjinjit demi menyelamatkan daun telinganya.

 Melihat pemandangan itu, anak-anak yang lain langsung menahan tawa sekuat tenaga hingga bahu mereka bergetar.

"Jangan tertawa! Atau kalian semua mau Bapak hukum lari 20 putaran?!" lirik Pak Dodo dengan tatapan mautnya yang langsung menyapu lapangan.

"Tidak, Pak!" jawab murid-murid serentak, seketika lapangan menjadi hening seketika.

"Ihh, panas banget tahu hari ini. Bisa-bisa kulit gua turun satu tingkat nih kecerahannya," bisik Ruby mengeluh pada Nana di barisan cewek.

"Mana Arkana ini gerakannya lambat banget lagi, sengaja banget kayaknya biar kita makin gosong," bisik Nana balik.

"Kalian berdua yang di pojok! Jangan bicara saja! Lihat Arkana dan ikuti gerakannya!" ujar Pak Dodo tegas, matanya yang tajam seperti elang berhasil menangkap pergerakan bibir kedua siswi itu.

"Iya, Pak..." sahut keduanya kompak sambil langsung pura-pura serius menekuk kaki.

Begitu Pak Dodo berbalik badan, Nana menyikut lengan Ruby. "Kamu sih, Ruby, ngajak ngomong mulu!" bisik Nana pelan, namun sialnya frekuensi suaranya masih saja menembus radar pendengaran Pak Dodo.

"Kalian berdua mau benar-benar Bapak hukum?!" tegas Pak Dodo.

"Tidak, Pak, tidak! Ampun!" ujar Nana cepat-cepat mengunci mulutnya rapat-rapat dan langsung terdiam seribu bahasa.

Tiga puluh menit yang penuh dengan keringat dan omelan akhirnya berlalu. Pemanasan selesai. Pak Dodo membagi kelas menjadi dua kubu. Anak-anak cowok langsung mengambil bola voli dan mulai bermain di lapangan sebelah barat, begitu pula dengan anak-anak cewek yang mulai bermain lempar tangkap bola voli di lapangan sebelah timur.

Suasana permainan awalnya berjalan seru dan penuh tawa. Namun, petaka terjadi di pertengahan babak. Di lapangan cowok, Gian yang terkenal memiliki tenaga cukup kuat sedang bersiap melakukan smash keras. Dengan lompatan tinggi dan wajah datar tanpa ekspresi, Gian membanting tangannya sekuat tenaga menghantam bola voli.

BOOM!

Bola itu melesat cepat, melenceng dari area lapangan cowok, terbang membelah udara, dan...

PRAKK!

Bola voli yang keras itu mendarat tepat di sisi kanan kepala Gretta yang sedang lengah. Benturan yang begitu keras membuat tubuh Gretta limbung dan langsung terjatuh ke atas tanah lapangan yang keras. Yang lebih mengerikan, benturan itu merobek sedikit kulit di dekat pelipisnya, membuat cairan merah kental mulai mengalir membasahi dahinya.

"Gretta!" teriak Ruby dan Nana histeris.

Teman-teman ceweknya langsung berkerumun, mengelilingi Gretta yang terduduk lemas sambil memegangi dahinya yang berdarah. Kepala Gretta terasa berputar hebat, pandangannya mengabur. Namun, rasa pusing itu bukan hanya karena hantaman bola. Begitu jemarinya menyentuh cairan merah di dahinya dan melihat warna pekat itu di telapak tangannya, dada Gretta mendadak sesak. Bayangan masa lalu yang kelam tiba-tiba berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

Gian yang menyadari tendangan bolanya salah sasaran langsung mematung. Rasa panik yang jarang sekali mampir di wajah dinginnya kini terlihat jelas. Tanpa memedulikan permainan, Gian langsung berlari kencang menerobos kerumunan cewek, menghampiri Gretta.

"Gretta... Maaf," ujar Gian. Suaranya terdengar datar seperti biasa, namun ada nada kekhawatiran dan kepanikan. Ia berlutut di samping gadis itu, mencoba memeriksa lukanya.

"Kau sih! Mainnya kasar banget kayak lagi ngajak perang!" ujar Reo yang ikut berlari menyusul, memberikan lirikan tajam dan menyalahkan Gian.

"Ada apa ini?! Kenapa ramai-ramai?!" teriar Pak Dodo cemas sambil menerobos kerumunan murid yang panik.

"Ini, Pak! Anak cowok nggak sengaja melempar bolanya kencang banget, tepat kena kepala Gretta!" ujar salah satu siswi dengan nada mengadu.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!