Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Udara di dalam aula ujian St. Jude’s Academy terasa berat oleh konsentrasi yang memuncak. Bunyi goresan pena di atas kertas menjadi satu-satunya melodi yang menemani detik-detik terakhir masa SMA mereka.
Di barisan paling depan, Luciano Russo meletakkan penanya dengan gerakan yang presisi. Tanpa memeriksa kembali untuk ketiga kalinya karena ia tahu kalkulasinya tidak pernah meleset—ia berdiri dan berjalan menuju meja pengawas.
Paris menatap punggung kekasihnya dengan binar bangga yang tertahan. Ia tidak heran. Luciano adalah definisi dari efisiensi intelektual; dia selalu menjadi yang pertama, selalu menjadi matahari yang terbit paling awal di cakrawala akademik mereka.
Beberapa menit kemudian, Kay menyusul. Ia mengumpulkan kertasnya dengan wajah datar, meski guratan lelah terlihat jelas di bawah matanya. Tak lama berselang, Paris pun berdiri. Ia menarik napas lega, menyerahkan lembar jawabannya, dan melangkah keluar ruangan menyusul dua pria yang mendominasi hidupnya selama tiga tahun terakhir.
"Akhirnya bebas," desah Delaney saat mereka semua berkumpul di lobi, termasuk Max yang keluar dengan rambut berantakan.
"Kafetaria dekat taman?" usul Max sambil merangkul bahu Luciano. "Aku butuh kafein dosis tinggi sebelum otakku benar-benar menguap."
Mereka berlima berjalan menuju area parkir dengan langkah yang jauh lebih ringan. Namun, pemandangan di parkiran sekolah seketika menghentikan langkah mereka.
Seorang wanita berdiri di atas kap mobil sport kuning neon yang sangat mencolok. Itu adalah Rebecca Smith. Namun, dia tidak tampak seperti atlet Olimpiade yang anggun hari ini. Ia mengenakan kacamata hitam besar, celana pendek denim, dan memegang sebuah papan karton raksasa yang bertuliskan: "SELAMAT, MR. BROWN! SEKARANG KAU BISA JADI SOPIRKU FULL TIME!"
"Astaga, dia benar-benar gila," gerutu Kay, wajahnya memerah padam karena malu. Teman-teman seangkatannya mulai berbisik dan mengambil foto.
"Hey, Brown! Jangan lari!" teriak Rebecca dari kejauhan, melambaikan papan itu seperti orang kesurupan.
Kay melangkah cepat menghampiri Rebecca. "Turun dari sana, Rebecca! Kau mempermalukanku di depan seluruh sekolah!"
"Mempermalukanmu? Aku sedang merayakan kelulusanmu, Supir!" balas Rebecca sambil melompat turun dengan kelincahan seorang atlet. "Kau harusnya berterima kasih aku menyempatkan diri datang dari kampus hanya untuk memberimu selamat."
"Selamat atau ejekan?" desis Kay tajam. "Kita tidak ada urusan lagi hari ini."
"Oh, urusan kita baru dimulai, Sayang," Rebecca tertawa kasar, menepuk pipi Kay dengan papan kartonnya.
Di antara mereka memang tidak ada perasaan selain rasa saling benci dan adu mulut yang tiada habisnya. Rebecca hanya menikmati cara ia bisa mengendalikan pewaris keluarga Brown itu.
Namun, di tengah hiruk-pikuk cekcok antara Kay dan Rebecca, suasana di sisi lain mendadak menjadi sangat canggung. Luciano, yang biasanya tetap tenang dalam situasi apa pun, mendadak mematung. Matanya menatap Rebecca, namun ada kilatan aneh di sana—sesuatu yang menyerupai rasa tidak nyaman yang sangat dalam.
Paris menyadari perubahan itu. Ia melihat Luciano yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini tampak sedikit mengalihkan pandangannya setiap kali Rebecca menoleh ke arah mereka.
Bagi segelintir orang di St. Jude's, ini bukan sekadar pertemuan antara adik kelas dan kakak kelas. Saat Rebecca masih berada di tingkat akhir SMA, ia pernah melakukan sesuatu yang sangat berani: mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan kepada Luciano Russo di tengah perpustakaan. Dan Luciano, dengan cara yang paling klinis dan dingin, menolaknya di depan umum.
Itu bukan rahasia umum, namun bagi mereka yang berada di lingkaran utama, memori itu tetap tersimpan.
"Lama tidak melihatmu, Luciano," ucap Rebecca tiba-tiba. Ia berhenti mengejek Kay dan menatap sang jenius itu dengan senyum miring yang provokatif. "Masih tetap menjadi yang nomor satu, ya?"
Luciano berdehem pelan, suaranya terdengar sedikit kaku. "Halo, Rebecca. Selamat atas medali perakmu kemarin."
"Terima kasih. Ternyata kau masih mengikuti beritaku," Rebecca mengedipkan sebelah matanya, membuat suasana semakin terasa janggal.
Paris, yang berdiri di samping Luciano, mengamati interaksi itu dengan tenang. Ia tahu tentang cerita masa lalu itu; Luciano pernah menceritakannya secara singkat sebagai bagian dari "gangguan" yang pernah ia hadapi di sekolah. Bagi Paris, ini hanyalah sebuah reuni kecil-kecilan. Ia tidak merasa terancam; ia tahu hati Luciano kini miliknya sepenuhnya.
"Senang melihatmu lagi, Kak Rebecca," ucap Paris ramah, mencoba mencairkan suasana yang membeku.
Rebecca menatap Paris, matanya menyapu penampilan gadis itu dari atas ke bawah. "Ah, jadi ini gadis yang membuat sang pilar es akhirnya mencair? Pilihan yang manis, Luciano. Jauh lebih... penurut daripada aku, kurasa."
Luciano mempererat genggamannya pada tasnya, tidak membalas sindiran itu. "Kami harus pergi. Ada janji makan siang."
"Tentu, silakan," Rebecca kembali menatap Kay, seolah kehilangan minat pada Luciano dalam sekejap. "Ayo, Brown! Kau yang menyetir mobilku. Aku tidak mau menyentuh kemudi setelah melihat papan raksasa ini."
Kay hanya bisa mendesah pasrah, mengikuti Rebecca menuju Lamborghini kuning itu sambil menggerutu. Sementara itu, Max dan Delaney sudah lebih dulu berjalan menuju mobil mereka, membiarkan Luciano dan Paris tertinggal sejenak di belakang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Paris lembut saat mereka mulai berjalan. "Kau tampak... canggung."
Luciano menoleh, menatap Paris dengan tatapan yang kembali lembut. "Hanya sedikit terkejut melihatnya kembali dengan tingkah seperti itu. Dia tidak pernah berubah."
Paris tersenyum, menganggap kejujuran Luciano sebagai bukti bahwa masa lalu hanyalah masa lalu. Namun, di balik sikap tenang Rebecca dan kecanggungan Luciano, ada sebuah benang merah yang belum benar-benar putus.
Di New York, reuni jarang sekali terjadi tanpa ada agenda tersembunyi, dan kehadiran Rebecca di hari terakhir ujian mereka mungkin bukan sekadar kebetulan gila.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍