NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7.KECEWANYA HATI SEORANG AYAH

Udara musim panas di Paris malam itu terasa hangat dan penuh dengan kehidupan, seolah-olah kota cahaya itu sendiri sedang bernapas dengan irama yang riang dan bebas. Di sebuah klub malam bergaya baru yang baru saja dibuka di distrik Pigalle, suasana terasa begitu hidup. Suara musik jazz mengalun lembut namun memikat dari panggung kecil di sudut ruangan, bercampur dengan tawa renyah dan suara percakapan orang-orang yang sedang menikmati malam hari mereka. Lampu-lampu kristal yang bergantung di langit-langit memancarkan cahaya redup berwarna keemasan, menciptakan suasana yang mewah namun tetap intim dan nyaman.

Di sudut paling jauh dari keramaian, tepat di samping jendela besar yang menghadap ke jalanan yang sibuk, terdapat meja VIP yang dikelilingi oleh sofa kulit berwarna merah marun. Di sana, duduklah Aslan Noah Lenoir, seorang pemuda tampan dengan mata biru yang tajam dan senyuman yang mampu memikat siapa saja yang melihatnya. Malam itu, Aslan tampak berbeda dari biasanya. Ia sedang menari lambat dengan seorang wanita berambut pirang yang mengenakan gaun malam berwarna merah anggur yang pas di tubuhnya. Wanita itu tersenyum manis ke arah Aslan, matanya berbinar-binar penuh ketertarikan.

Rambut Aslan yang biasanya selalu rapi dan tersisir sempurna kini sedikit kusut, efek dari gerakan menari dan angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Jas hitam yang ia kenakan terbuka lebar, menampakkan kaos dalam berwarna putih dengan desain yang sederhana namun bergaya di bawahnya. Penampilannya yang sedikit berantakan itu justru memberikan kesan yang lebih santai dan memikat, jauh dari citra pemuda dari keluarga terpandang yang biasanya ia tunjukkan di depan ayahnya.

Ini adalah salah satu malam yang jarang ia dapat nikmati sejak kesepakatan satu tahun yang ia buat dengan ayahnya, Marcell de Lenoir. Beberapa bulan yang lalu, setelah perdebatan yang panjang dan penuh emosi, Aslan akhirnya mendapatkan izin untuk mengejar impian terbesarnya: menjadi seorang arsitek. Bagi Marcell, yang selama ini berharap putranya akan meneruskan bisnis keluarga yang besar dan mapan, keputusan ini bukanlah hal yang mudah. Namun, melihat keteguhan dan semangat yang ada di mata Aslan, Marcell akhirnya luluh, namun dengan syarat bahwa Aslan akan menggunakan waktu satu tahun itu dengan bijak, fokus pada karirnya, dan juga bersedia untuk mulai mempertimbangkan perjodohan yang telah direncanakan sejak lama dengan Alana, putri sahabat Marcell.

Sejak saat itu, Aslan menyewa sebuah studio kecil di distrik Montmartre yang terkenal dengan suasana seninya yang kental dan pemandangan senja yang indah. Setiap hari, ia menghabiskan waktunya di sana, menggambar desain-desain gedung yang kreatif, bertemu dengan rekan-rekan arsitek muda yang memiliki semangat yang sama, dan merasakan kebebasan yang selama ini ia rindukan. Namun, di balik kesibukannya, tekanan dari ekspektasi ayahnya dan bayangan tentang perjodohan dengan Alana yang belum pernah ia temui itu selalu menghantuinya. Malam-malam seperti ini, di mana ia bisa melupakan sejenak semua aturan dan tanggung jawab, menjadi cara bagi Aslan untuk melepaskan stres dan merasa benar-benar hidup, benar-benar menjadi dirinya sendiri.

“Kamu benar-benar tahu cara menikmati malam, bukan?” ujar wanita yang sedang menari bersamanya itu dengan suara lembut, sambil menatap mata biru Aslan yang sedang bersinar karena pengaruh alkohol dan kegembiraan yang ia rasakan.

Aslan hanya tersenyum, sebuah senyuman yang tulus dan bebas. Ia mengangkat gelas anggur merah yang ada di tangannya, menatap cairan berwarna merah tua itu sejenak sebelum menjawab, “Hidup harus dinikmati, bukan? Terutama ketika kita akhirnya bisa memilih jalannya sendiri.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Aslan menawarkan tangannya kepada wanita itu untuk menari lagi. Mereka berjalan kembali ke lantai dansa yang sudah sedikit licin akibat minuman yang tumpah dari gelas para pengunjung yang terlalu bersemangat. Musik jazz yang mengalun semakin cepat, dan mereka berputar bersama dengan irama itu, terlupakan akan waktu dan dunia luar klub yang semakin larut malam. Di saat itu, Aslan merasa seolah-olah ia memiliki dunia ini sendiri, bebas dari segala batasan dan ekspektasi yang selama ini membebaninya.

Namun, beberapa meter jauhnya, di balik kerumunan orang yang sedang bersenang-senang, ada sepasang mata yang sedang mengamati setiap gerakan Aslan dengan tajam. Seorang pria yang mengenakan jubah hitam tebal berdiri di sudut yang gelap, wajahnya sebagian tertutup oleh topi yang ia kenakan. Pria itu tidak tertawa, tidak ikut menikmati suasana malam itu. Sebaliknya, ia hanya berdiri diam, memperhatikan Aslan dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Perlahan-lahan, pria itu mengambil ponselnya dari saku jubahnya. Ia menyalakan layar, membuka aplikasi kamera, dan mulai mengambil foto-foto dari jarak yang cukup jauh namun cukup jelas. Klik. Klik. Klik. Suara penutupan kamera yang pelan tertutup oleh suara musik dan tawa orang-orang di sekitarnya. Pria itu mengambil beberapa foto Aslan yang sedang tertawa, foto Aslan yang sedang menari dengan wanita pirang itu, dan yang paling parah, foto ketika mereka berdua sedang berciuman mesra di sudut yang agak gelap di dekat bar. Setelah merasa cukup, pria itu segera mematikan ponselnya, menyimpannya kembali ke saku, dan meninggalkan klub dengan langkah yang cepat dan hati-hati, seolah-olah ia tidak ingin ada yang menyadari keberadaannya di sana.

Tak lama setelah pria itu meninggalkan klub, gambar-gambar yang baru saja ia ambil itu dikirimkan ke sebuah nomor ponsel tertentu. Di rumah utama keluarga Lenoir yang megah dan mewah di distrik Neuilly-sur-Seine, Marcell de Lenoir sedang duduk di meja kerjanya yang besar. Ruang kerjanya yang luas itu dipenuhi dengan buku-buku bisnis, dokumen-dokumen penting, dan piala-piala penghargaan yang menunjukkan kesuksesan bisnisnya yang luar biasa. Malam itu, Marcell masih bekerja, memeriksa beberapa laporan keuangan dan rancangan proyek bisnis terbarunya. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa itu tampak serius, fokus pada pekerjaan yang ada di hadapannya.

Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang ada di atas meja memecah keheningan ruangan itu. Marcell mengernyitkan dahi, sedikit terganggu. Ia jarang menerima pesan pada jam yang sudah sedemikian larut ini, kecuali jika ada hal yang sangat penting dan mendesak. Dengan perlahan, Marcell mengangkat ponselnya dan melihat layar yang menyala. Ketika ia melihat siapa pengirimnya dan apa isi pesan itu, wajahnya yang tenang itu seketika berubah menjadi merah padam karena kemarahan yang meluap-luap.

Jari-jarinya yang kekar menggenggam ponsel itu dengan erat, seolah-olah ia ingin menghancurkan benda itu. Matanya yang tajam menatap satu per satu foto yang ada di layar ponselnya dengan tatapan yang tidak percaya namun penuh dengan amarah. Ia melihat putranya, Aslan, yang ia percayai sedang berada di apartemennya di Montmartre, fokus pada pekerjaannya dan mempersiapkan diri untuk masa depannya, justru sedang bersenang-senang dengan seorang wanita yang tidak ia kenal di sebuah klub malam.

“Bagaimana bisa dia melakukan ini?” gumam Marcell dengan suara rendah namun penuh dengan amarah yang tertahan. Nada suaranya bergetar, menunjukkan betapa kecewa dan marahnya ia saat itu.

Dengan kasar, Marcell menutup laptop yang sedang menampilkan rancangan proyek bisnis terbarunya. Suara tutupan laptop yang keras bergema di seluruh ruangan. Ia segera berdiri dari kursinya, mengambil jasnya yang tergantung di belakang kursi, dan mengenakannya dengan gerakan yang cepat dan kasar. “Saya harus berbicara dengannya sekarang juga,” ucapnya dengan tegas, seolah-olah ia sedang berjanji pada dirinya sendiri untuk menegur putranya dengan keras.

Marcell berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah yang tegas dan cepat. Supir pribadinya yang sudah menunggu di garasi melihat kedatangan majikannya dengan wajah yang bingung, melihat ekspresi marah yang terlihat jelas di wajah Marcell. Namun, supir itu tidak berani bertanya apa-apa. Ia hanya membukakan pintu mobil mewah itu untuk Marcell.

“Ke Montmartre, cepat!” perintah Marcell begitu ia masuk ke dalam mobil. Suaranya yang dingin dan tegas membuat supir itu hanya mengangguk patuh dan segera menyalakan mesin mobil.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Aslan di Montmartre, Marcell duduk diam di kursi belakang. Wajahnya masih merah padam karena amarah. Tangannya yang menggenggam pegangan pintu mobil terlihat putih karena tekanan yang ia berikan. Matanya menatap lurus ke depan melalui kaca depan mobil, namun pikirannya sedang berputar kencang. Ia tidak bisa berhenti memikirkan foto-foto yang baru saja ia lihat itu, dan ia juga tidak bisa berhenti memikirkan percakapan mereka beberapa bulan yang lalu.

Saat itu, Aslan berjanji padanya dengan mata yang penuh dengan air mata dan keteguhan bahwa ia akan menggunakan waktu satu tahun itu dengan bijak. Ia berjanji akan fokus pada karir arsitekturnya, dan ia juga berjanji akan bersedia untuk mengenal Alana dengan hati yang terbuka. Marcell merasa telah memberikan kepercayaan yang besar kepada putranya, memberinya kebebasan yang selama ini ia tuntut, membiarkannya hidup terpisah dari keluarga agar ia bisa belajar mandiri. Namun, melihat apa yang Aslan lakukan malam ini, Marcell merasa seolah-olah kepercayaan itu telah diinjak-injak, seolah-olah putranya hanya menyalahgunakan kebebasan yang ia berikan.

Setelah beberapa menit berkendara dengan kecepatan yang cukup tinggi, mobil akhirnya berhenti di depan gedung apartemen kecil yang menjadi tempat tinggal Aslan. Gedung itu tidak terlalu besar, namun memiliki suasana yang nyaman dan artistik, sesuai dengan karakter Aslan. Marcell membuka pintu mobil dan turun dengan langkah yang tegas. Ia menolak bantuan supirnya untuk menemaninya naik ke atas, meminta supirnya untuk menunggu di dalam mobil saja.

Dengan langkah yang berat namun penuh dengan tekad, Marcell memasuki lorong gedung apartemen yang agak gelap. Ia menaiki tangga kayu yang sedikit berderit setiap kali ia menginjaknya, menuju ke lantai tiga di mana apartemen Aslan berada. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, karena ia tahu bahwa pertemuan antara ia dan Aslan malam ini tidak akan berjalan dengan baik. Akan ada pertengkaran, akan ada amarah, dan mungkin akan ada kata-kata yang menyakitkan yang terucap. Namun, Marcell merasa ia harus melakukannya, demi mendidik putranya agar mengerti arti tanggung jawab dan kepercayaan.

Sesampainya di depan pintu apartemen Aslan, Marcell tidak berpikir dua kali. Ia mengetuk pintu itu dengan keras berkali-kali. Suara ketukan itu terdengar nyaring di lorong yang sepi itu.

"Aslan! Aslan, open the door!" teriak Marcell dengan suara yang keras dan penuh dengan amarah. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan putranya dan menuntut penjelasan.

Dalam beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam bagi Marcell, pintu apartemen itu akhirnya terbuka. Di ambang pintu, munculah Aslan dengan rambut yang masih kusut dan jasnya yang baru saja ia lepaskan, yang kini ia genggam di tangannya. Wajahnya yang tadinya riang dan penuh dengan kegembiraan seketika berubah menjadi kaget dan bingung ketika melihat ayahnya berdiri di depan pintu dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. Aslan bisa melihat api amarah yang menyala di mata ayahnya, dan ia langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

“Pa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di sini pada jam seperti ini?” tanya Aslan dengan suara yang sedikit terkejut, mencoba untuk menenangkan dirinya meskipun jantungnya mulai berdegup kencang karena rasa takut dan cemas yang tiba-tiba muncul. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, namun ia tahu bahwa ia tidak bisa membohongi ayahnya yang tajam.

Marcell tidak menjawab pertanyaan Aslan. Sebaliknya, ia mendorong pintu itu sedikit dan masuk ke dalam apartemen tanpa izin. Ia berjalan melewati Aslan dengan langkah yang tegas, membiarkan pintu itu terbuka lebar. Ia melihat sekeliling ruangan apartemen itu yang penuh dengan gambar-gambar arsitektur yang digambar di atas kertas, cat minyak yang berjejer di rak, dan tumpukan buku-buku tentang seni dan juga beberapa buku bisnis yang ia tahu Aslan pelajari atas sarannya. Melihat semua itu, seharusnya Marcell merasa bangga melihat putranya yang sedang berusaha mengejar impiannya. Namun, kemarahan di hatinya tidak surut sedikit pun karena ingatan tentang foto-foto di ponselnya kembali muncul.

“Kamu berpikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan di malam hari yang sudah larut ini?” ujar Marcell dengan suara keras yang menggema di ruangan kecil itu. Ia berbalik menghadap Aslan, matanya menatap tajam ke arah putranya. “Seseorang mengirimkan gambar-gambar padaku—kamu sedang bersenang-senang dengan wanita di klub malam, terlupakan akan kesepakatan kita dan juga akan Alana yang sedang bersiap untuk mengenalmu!”

Mendengar tuduhan ayahnya itu, Aslan merasa darahnya mendidih. Rasa takut dan cemas yang ia rasakan tadi seketika berubah menjadi amarah. Ia merasa tidak adil diperlakukan seperti ini, merasa seolah-olah ia tidak memiliki hak untuk bersenang-senang sedikit saja.

“Saya punya hak untuk menikmati hidup saya, Pa! Kamu sendiri yang memberi saya kebebasan selama satu tahun ini. Saya tidak melakukan apa-apa yang salah!” seru Aslan dengan suara yang tinggi, menatap balik mata ayahnya dengan berani.

“Kebebasan bukan berarti kamu bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan!” balas Marcell dengan lebih keras. Dengan emosi yang meluap-luap, ia menampar telapak tangannya di atas meja yang penuh dengan sketsa-sketsa arsitektur buatan Aslan. Suara tamparan itu membuat Aslan terkejut sejenak. “Saya memberi kamu kepercayaan untuk fokus pada impianmu dan juga untuk mempersiapkan diri dengan baik. Bukan untuk menghabiskan malam-malammu dengan wanita tidak dikenal di tempat-tempat yang tidak pantas!”

“Tempat-tempat yang tidak pantas?” balik Aslan dengan nada yang tidak kalah tinggi, amarahnya semakin memuncak. Ia merasa terhina dengan kata-kata ayahnya. “Ini adalah dunia saya sekarang, Pa! Dunia di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain. Anda tidak punya hak untuk menilai saya seperti ini!”

Marcell menatap putranya dengan mata yang penuh dengan kemarahan, namun di kedalaman matanya itu, terselip juga sedikit rasa kesedihan yang mendalam. Ia melihat betapa jauhnya Aslan dari apa yang ia harapkan, betapa berbeda pandangan hidup mereka berdua. Ia merasa sedih karena merasa putranya belum mengerti arti tanggung jawab dan kehormatan keluarga.

“Kesepakatan kita masih berlaku, Aslan. Namun jika kamu terus seperti ini, saya tidak akan segan untuk membatalkan semua yang telah saya berikan—termasuk kesempatanmu untuk menjadi arsitek dan juga kesempatan untuk membatalkan perjodohan jika kamu merasa tidak cocok dengan Alana,” ucap Marcell dengan suara yang dingin dan tegas. Kata-kata itu adalah ancaman yang nyata, dan ia tahu bahwa kata-kata itu akan sangat menyakitkan bagi Aslan.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Marcell tidak menunggu respon dari putranya. Ia berbalik dan berjalan keluar dari apartemen itu, meninggalkan Aslan yang berdiri terpaku di ambang pintu dengan wajah yang terkejut dan terluka. Marcell menuruni tangga kayu itu dengan langkah yang cepat, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di ruangan apartemen itu.

Di luar jendela apartemen, langit Paris mulai menunjukkan warna jingga menjelang fajar. Matahari mulai perlahan muncul dari ufuk timur, menyinari kota Paris dengan cahaya yang hangat. Namun, cahaya itu tidak mampu menghangatkan hati Aslan yang sedang dingin dan gelap karena pertengkaran dengan ayahnya. Langit yang indah itu seolah menyaksikan awal dari konflik baru yang akan menghadang jalan kedua orang itu.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!