"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN DI BALIK NODA DARAH
Ketegangan di ruang kerja itu bisa dirasakan hingga ke sumsum tulang. Cengkeraman tangan Arkan pada pergelangan tangan Aletta tidak menyakitkan, namun terasa seperti borgol baja yang mengunci pergerakannya. Napas Arkan yang menderu rendah di dekat telinga Aletta mengirimkan sinyal bahaya sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kau melanggar privasiku, Aletta," desis Arkan. Matanya yang merah karena kurang tidur tampak berkilat di bawah lampu meja yang temaram.
Aletta tidak mundur. Ia justru mengangkat surat yang sudah menguning itu tepat di depan wajah Arkan. "Privasi? Kau menyebut dokumen yang menyangkut nyawa ayahku dan masa kecilku sebagai privasi? Surat ini... Ayahmu menulis ini. Dia bilang dia tidak bersalah. Dia bilang dia ingin kau menjagaku!"
Arkan merenggut surat itu dari tangan Aletta dengan gerakan kasar, lalu melemparnya ke atas meja. Ia berdiri, menjulang tinggi di depan Aletta, menciptakan bayangan yang menelan tubuh mungil istrinya. "Itu surat dari seorang pria yang sedang sekarat dan dikhianati. Ayahku dijebak, Aletta! Dan semua bukti yang kupunya selama sepuluh tahun terakhir mengarah pada satu nama: Surya Maheswari."
"Lalu kenapa ayahmu memintamu menjagaku?" teriak Aletta, suaranya pecah di antara kesunyian malam. "Jika ayahku adalah iblis yang menghancurkannya, kenapa dia ingin putranya melindungi putri dari musuhnya? Ada yang tidak beres, Arkan! Kau terlalu buta oleh dendam hingga kau tidak bisa melihat lubang dalam ceritamu sendiri!"
Arkan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Itulah sisi maskulin Arkan yang paling mengintimidasi—diamnya yang sarat akan badai. Ia melangkah maju, memaksa Aletta mundur hingga punggung gadis itu membentur rak buku jati yang dingin.
"Mungkin dia hanya ingin aku memilikimu agar ayahmu tahu rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga," bisik Arkan, suaranya mendadak serak. "Dan sekarang, kau di sini. Di rumahku. Di bawah kendaliku. Tidakkah kau pikir itu adalah balas dendam yang puitis?"
Aletta menatap mata hitam itu. Di sana, ia tidak melihat kebencian murni. Ia melihat luka yang menganga, luka seorang anak laki-laki yang kehilangan dunianya dalam satu malam. Secara random, tangan Aletta terangkat. Bukannya menampar atau mendorong, ia justru menyentuh ujung hidung Arkan dengan telunjuknya.
Ting.
Arkan membeku. "Apa yang kau lakukan?"
"Hidungmu bergerak-gerak kalau kau sedang berbohong pada dirimu sendiri," ucap Aletta dengan nada datar, meski jantungnya berdegup kencang. "Kau tidak ingin membalas dendam padaku. Kau hanya bingung kenapa kau masih ingin memegang tanganku seperti di gudang itu, padahal otakmu menyuruhmu untuk mencekikku."
Arkan memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang terasa panas di dahi Aletta. "Keluar, Aletta. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali berdua."
Aletta tidak membantah kali ini. Ia tahu kapan harus menarik diri. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia menoleh. "Aku akan membuktikan bahwa ayahku bukan orang di balik semua ini. Dan saat itu terjadi, kau harus bersiap untuk berlutut dan meminta maaf padaku, Tuan Dirgantara."
Pagi harinya, Aletta tidak menunggu jemputan sopir. Ia bangun pukul lima pagi, mengenakan hoodie kebesaran dan celana jins, lalu menyelinap keluar lewat pintu belakang dapur setelah sebelumnya sempat "berdiskusi" dengan robot penyedot debu di lorong tentang arah mata angin.
Ia memiliki misi: mengunjungi kembali gudang tua di pinggiran Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat mereka disekap delapan belas tahun lalu. Ia yakin, memori fisiknya akan memicu sesuatu yang terlewatkan oleh logika.
Namun, menjadi CEO terkenal membuat penyamarannya sulit. Aletta berhenti di sebuah warung pinggir jalan, membeli sebuah kacamata hitam murahan dan topi bisbol bertuliskan "I Love Jakarta".
"Sempurna," gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di spion motor orang yang sedang parkir. "Aku terlihat seperti mata-mata profesional, atau mungkin turis yang tersesat."
Setelah menempuh perjalanan dengan taksi online, Aletta sampai di kawasan industri tua yang terbengkalai. Bau garam laut dan karat menyengat indra penciumannya. Ia berjalan menyusuri barisan gudang yang dindingnya sudah dipenuhi lumut dan grafiti.
Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan dengan pintu besi yang miring. Di sini.
Ingatannya mulai berputar seperti rol film rusak. Suara tangisan, gelap yang pekat, dan rasa sakit di tangannya. Aletta masuk ke dalam. Ruangan itu kosong, hanya ada tumpukan kayu lapuk dan debu yang menari di bawah sela cahaya matahari.
Ia berjalan ke sudut ruangan, tempat ia ingat mereka bersembunyi di balik peti-peti kayu. Ia berjongkok, jemarinya meraba lantai semen yang retak. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di celah antara dinding dan lantai. Sebuah benda kecil yang berkilau tertutup debu tebal.
Aletta menggunakan kunci mobilnya untuk mencungkil benda itu. Sebuah kancing manset perak dengan inisial "R.V.".
"R.V.?" Aletta mengerutkan kening. "Ayahku inisialnya S.M. Ayah Arkan adalah D.D. Siapa R.V.?"
"Itu adalah inisial dari orang yang seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu."
Aletta tersentak hingga terduduk di lantai. Arkan berdiri di ambang pintu gudang, bayangannya memanjang di atas lantai yang kotor. Pria itu tampak murka. Ia masih mengenakan setelan kantor lengkap, namun dasinya sudah ditarik lepas dan kemejanya sedikit berantakan.
"Kau gila, Aletta! Kau pikir tempat ini aman?" Arkan berjalan cepat menghampirinya, mencengkeram bahu Aletta dan menariknya berdiri. "Anak buahku melaporkan kau menghilang dari radar. Kau tahu betapa bahayanya jika musuh-musuhku tahu kau berkeliaran sendirian?"
Aletta mengabaikan kemarahan Arkan dan menunjukkan kancing manset itu. "Lihat ini! Aku menemukannya di tempat kita disekap. R.V., Arkan! Ini bukan milik ayahku!"
Arkan merebut kancing itu, matanya menyipit tajam. Tubuhnya menegang seketika. "Radit Verhoeven," bisiknya dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan. "Tangan kanan ayahku... yang mengkhianati perusahaan sebelum kecelakaan itu terjadi."
"Jika dia pengkhianatnya, berarti dia yang merencanakan penculikan kita untuk memeras kedua keluarga!" Aletta berseru penuh kemenangan. "Ayahku tidak bersalah, Arkan! Dia juga korban!"
Arkan menatap kancing itu, lalu menatap Aletta. Ekspresinya melunak, namun ada ketakutan yang tersirat di sana. "Jika Radit masih hidup, dan jika dia tahu kau menemukan ini... kau dalam bahaya besar, Aletta."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari luar gudang. Bukan satu, tapi tiga mobil hitam berhenti tepat di depan pintu.
Arkan langsung menarik Aletta ke belakang tubuhnya. Tangannya meraba pinggangnya, memastikan sesuatu ada di sana—sebuah tindakan yang sangat maskulin dan penuh perlindungan. "Tetap di belakangku, Aletta. Jangan bicara, jangan bergerak."
Beberapa pria berbadan besar dengan pakaian safari gelap turun dari mobil. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dengan bekas luka bakar di lehernya, melangkah maju.
"Tuan Muda Arkan," suara pria itu serak. "Anda menemukan sesuatu yang menjadi milik majikan saya. Kami di sini untuk mengambilnya kembali. Dan mungkin... membawa Nona Maheswari untuk 'teh sore' bersama kami."
Aletta merasakan tangan Arkan yang menggenggam tangannya di belakang punggung menjadi sangat dingin. Namun, suara Arkan tetap stabil dan berat. "Katakan pada majikanmu, jika dia ingin menyentuh istriku, dia harus melewati mayat seluruh keluarga Dirgantara lebih dulu."
Di tengah suasana yang sangat genting itu, Aletta mendadak berbisik pada Arkan, "Arkan, aku punya ide. Tapi kau mungkin akan membenciku setelah ini."
"Apa?" tanya Arkan tanpa menoleh.
Aletta merogoh tas kura-kuranya, mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil. "Ini semprotan merica dosis tinggi yang kucampur dengan ekstrak cabai rawit terpedas di dunia. Aku menamainya 'Napas Naga'. Saat aku bilang 'Kura-kura', kau merunduk, ya?"
Arkan tertegun sejenak. Di ambang pertempuran hidup dan mati, istrinya masih sempat memberikan nama pada semprotan cabai. "Lakukan saja, Kelinci Kecil."
"Satu... dua... KURA-KURA!"
Aletta melompat keluar dari balik punggung Arkan dan menyemprotkan cairan itu secara membabi buta ke arah para pria bersafari itu. Suara teriakan kesakitan langsung memenuhi gudang tua itu saat mata mereka terbakar oleh "Napas Naga" milik Aletta.
"Sekarang, lari!" teriak Aletta sambil menarik tangan Arkan.
Arkan, yang biasanya sangat berwibawa, terpaksa berlari mengikuti langkah kecil namun cepat Aletta menuju mobil sport miliknya yang terparkir agak jauh. Mereka masuk ke mobil, dan Arkan langsung menginjak gas, meninggalkan kepulan debu dan para pria yang masih sibuk mengucek mata.
Setelah merasa cukup jauh, Arkan menepikan mobil di pinggir dermaga yang sepi. Ia menyandarkan kepalanya di setir, napasnya memburu. Kemudian, ia mulai tertawa. Tawa yang awalnya pelan, makin lama makin keras dan lepas.
Aletta merapikan topinya yang miring. "Kenapa kau tertawa? Itu tadi sangat menegangkan!"
Arkan menoleh, menatap Aletta dengan pandangan yang penuh binar—sesuatu yang belum pernah Aletta lihat sebelumnya. "Kau... kau menyemprot mereka dengan cabai rawit? Aletta, kau benar-benar wanita paling ajaib yang pernah kutemui."
Aletta mengerucutkan bibirnya, sikap keras kepalanya muncul kembali. "Habisnya mereka mengganggu waktu investigasiku. Dan jangan panggil aku ajaib. Aku ini cerdas dan taktis."
Arkan mengulurkan tangannya, mengacak rambut Aletta dengan lembut. "Ya, kau cerdas. Dan kau baru saja membuktikan bahwa dugaanku selama sepuluh tahun ini mungkin salah besar."
Ia terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, menjadi sangat dewasa dan tulus. "Maafkan aku, Aletta. Maaf karena sudah meragukan keluargamu... dan maaf karena sudah menjadikanmu alat balas dendam."
Aletta tertegun. Permintaan maaf itu terasa sangat berat dan nyata. Ia menatap Arkan, dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria itu bukan sebagai musuh bisnis, bukan sebagai robot dingin, melainkan sebagai anak laki-laki yang selama ini ia rindukan.
"Mas Arkan," panggil Aletta pelan, mencoba panggilan yang diminta Arkan kemarin.
Arkan menoleh, jantungnya berdegup kencang mendengar panggilan itu dari bibir Aletta.
"Jangan minta maaf sekarang," ucap Aletta dengan senyum tipis yang nakal. "Simpan itu untuk nanti saat kau harus membelikanku sepuluh mesin capit boneka lagi karena rumahmu akan penuh dengan boneka kemenangan dariku."
Arkan tersenyum, lalu ia meraih tangan Aletta, mencium bekas luka kecil di jari gadis itu yang terkena semen gudang tadi. "Apapun untukmu, Kelinci Kecil."
Namun, di tengah momen manis itu, ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan video masuk dari nomor tidak dikenal. Begitu Arkan membukanya, wajahnya kembali pucat.
Video itu memperlihatkan Surya Maheswari—ayah Aletta—sedang duduk di sebuah kursi di ruangan gelap, dengan moncong senjata api menempel di pelipisnya.
“Satu kancing manset ditukar dengan satu nyawa. Kalian punya waktu dua jam sebelum Maheswari benar-benar runtuh—secara harfiah.”
Aletta menjerit kecil, menutup mulutnya dengan tangan. Arkan langsung memeluknya erat, memberikan kekuatan yang sangat ia butuhkan.
"Kita akan menyelamatkannya, Al. Aku berjanji," bisik Arkan dengan nada yang sangat maskulin dan penuh tekad. "Sekarang, kita tidak lagi bermain kontrak. Kita bermain dengan maut."
Siapa sebenarnya Radit Verhoeven dan mengapa ia kembali setelah sekian lama? Bisakah Arkan dan Aletta bekerja sama dengan kekuatan penuh mereka untuk menyelamatkan Surya Maheswari? Dan rahasia besar apa lagi yang tersimpan di balik penculikan delapan belas tahun lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka?
Jangan lewatkan bab selanjutnya: "Operasi Penyelamatan di Atas Laut", di mana Aletta akan menunjukkan bahwa di balik sikap random-nya, ia memiliki otak strategis yang bisa melumpuhkan lawan paling tangguh sekalipun.
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx