Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
“Kalau kalian terus melangkah secepat itu, kalian tidak akan sempat melihat siapa yang mengawasi dari atas,” suara Lysara terdengar ringan tapi jelas, tanpa menoleh sedikit pun meski langkahnya tetap tenang menembus barisan pohon berkilau di depan.
Leonard mendengus pelan, tapi tidak memperlambat langkahnya, hanya matanya yang bergerak cepat menyapu sekitar, membaca setiap bayangan yang bergerak tidak wajar.
“Kalau mereka mengawasi, biarkan mereka melihat,” balasnya tenang, nadanya datar tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak lagi bersembunyi.
Alexandria yang berjalan di sampingnya melirik sekilas, lalu tersenyum tipis tanpa sadar.
“Kamu sengaja menantang mereka?” tanyanya pelan, suaranya cukup rendah tapi masih terdengar jelas di antara suara hutan yang hidup.
Leonard menoleh sebentar, sorot matanya melembut sedikit saat bertemu dengan mata Alexandria.
“Aku hanya tidak berniat bersembunyi lagi,” jawabnya singkat.
Lysara akhirnya berhenti, berbalik setengah badan, menatap mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak, antara heran dan… sedikit tertarik.
“Kalian berdua ini menarik,” katanya pelan, matanya bergantian menatap mereka, “biasanya yang baru datang ke Eldoria akan memilih diam, atau setidaknya berhati-hati dengan cara yang lebih… realistis.”
Alexandria mengangkat alis sedikit, tidak tersinggung, justru terdengar santai saat menjawab, “Kami sudah terlalu jauh untuk pura-pura tidak terlihat.”
Lysara tersenyum tipis.
“Kalimat yang berani untuk seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di dunia ini.”
“Dan mungkin itu yang kalian butuhkan,” sahut Leonard tanpa ragu.
Keheningan sebentar menyelinap di antara mereka, tapi bukan keheningan canggung, melainkan seperti tarikan napas sebelum sesuatu terjadi.
Lysara akhirnya berbalik lagi, melanjutkan langkahnya, kali ini sedikit lebih lambat, seolah memberi ruang bagi mereka untuk berjalan sejajar.
“Kalian ingin tahu seperti apa keadaan Eldoria sekarang?” tanyanya tanpa melihat.
Alexandria langsung menjawab lebih dulu, “Kami memang butuh tahu, tapi bukan versi yang diperhalus.”
Lysara mengangguk pelan.
“Bagus, karena tidak ada yang indah untuk diceritakan,” katanya datar, “sejak Valerius mengambil alih, wilayah dibagi tanpa garis yang jelas, yang kuat bertahan, yang lemah menghilang, dan yang ragu… biasanya mati lebih dulu.”
Leonard tidak bereaksi kaget, tapi rahangnya mengeras sedikit.
“Masih ada yang melawan?” tanyanya.
“Ada,” jawab Lysara singkat, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, “tapi tidak banyak, dan tidak semua bisa dipercaya.”
Alexandria mengerutkan kening.
“Artinya kita tidak bisa sembarang percaya pada siapa pun?”
“Artinya,” Lysara menoleh sedikit, “kalian harus siap dikhianati bahkan oleh yang terlihat berada di pihak kalian.”
Leonard mengangguk pelan, seperti menerima fakta itu tanpa banyak emosi.
“Tidak jauh berbeda dari yang aku ingat,” gumamnya.
Alexandria menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Tapi kali ini kamu tidak sendirian.”
Leonard menoleh, dan untuk sesaat, ketegangan di wajahnya melepas, digantikan oleh sesuatu yang lebih hangat.
“Ya,” jawabnya pelan.
Lysara memperhatikan pertukaran itu tanpa komentar, tapi ada perubahan kecil di matanya, sesuatu yang mulai mencatat.
Langkah mereka berlanjut, hutan semakin rapat, cahaya yang tadi lembut kini mulai terpecah oleh bayangan yang lebih tebal, dan suara-suara halus di sekitar mereka berubah, tidak lagi sekadar alami, tapi seperti ada sesuatu yang sengaja diam.
Lysara tiba-tiba mengangkat tangan.
“Berhenti.”
Leonard langsung berhenti tanpa bertanya, Alexandria ikut menghentikan langkahnya, napasnya tertahan sedikit.
“Ada apa?” bisiknya pelan.
Lysara tidak langsung menjawab, tapi matanya menatap ke satu arah, lalu perlahan menyipit.
“Mereka sudah mencium kalian,” katanya datar.
Leonard menggeser sedikit posisinya, refleks kembali berada di depan Alexandria.
“Berapa?” tanyanya singkat.
Lysara tersenyum tipis, tapi kali ini bukan senyum santai.
“Cukup untuk menguji kalian.” Suara itu datang tiba-tiba.
Desiran cepat, seperti sesuatu yang membelah udara.
Leonard langsung menarik Alexandria ke samping, dan dalam detik yang sama, sesuatu melintas tepat di tempat mereka berdiri tadi, meninggalkan jejak hitam seperti bayangan yang terbakar.
Alexandria terkejut, tapi tidak membeku.
“Itu apa?” tanyanya cepat.
“Pemburu bayangan,” jawab Lysara tanpa ragu, tubuhnya sudah berubah posisi, lebih rendah, lebih siap, “utusan Valerius yang paling sering dikirim untuk menguji wilayah luar.”
Leonard menyeringai tipis. “Bagus,” gumamnya, bukan karena senang, tapi karena siap.
Satu sosok muncul dari balik bayangan pohon, lalu satu lagi, dan satu lagi, tubuh mereka tidak sepenuhnya solid, seperti kabut hitam yang dipadatkan menjadi bentuk manusia dengan mata yang menyala redup.
“Mereka cepat,” bisik Alexandria, napasnya mulai naik.
Leonard menoleh sedikit.
“Tetap di belakangku, tapi jangan diam saja kalau ada celah,” katanya, nadanya tegas tapi tidak mengekang.
Alexandria mengangguk.
“Jangan meremehkan aku.” Leonard hampir tersenyum.
Sosok pertama bergerak. Terlalu cepat untuk mata biasa. Tapi tidak untuk Leonard.
Ia melangkah maju, menangkap arah gerakan itu sebelum benar-benar terlihat, tangannya bergerak cepat, menahan serangan yang datang dari samping, lalu memutar tubuhnya dengan tenaga yang cukup untuk melempar sosok itu ke batang pohon terdekat.
Suara benturan terdengar, tapi tidak seperti tubuh biasa, lebih seperti sesuatu yang pecah dan menyatu kembali.
“Tidak bisa dihancurkan dengan cara biasa,” ujar Lysara dari sisi lain, tubuhnya bergerak lincah menghindari serangan kedua, “hancurkan inti bayangannya!”
“Kalau kelihatan,” sahut Leonard singkat.
Sosok lain muncul di belakang Alexandria.
Terlalu dekat.
Tapi sebelum Leonard sempat bergerak, Alexandria sudah berbalik, tangannya refleks terangkat, dan entah bagaimana, cahaya samar muncul dari telapak tangannya saat ia mendorong ke depan.
Sosok itu terpental. Bukan jauh, tapi cukup untuk membuatnya terhenti.
Alexandria sendiri terkejut, matanya melebar.
“Aku… tidak sengaja—”
“Lakukan lagi,” potong Leonard cepat, tanpa menoleh.
Ia bergerak lagi, kali ini lebih cepat, lebih tajam, setiap gerakannya terasa lebih sinkron dengan dunia di sekitarnya, seolah Eldoria sendiri memperkuatnya.
Lysara memperhatikan itu, matanya menyipit, jelas menilai.
“Dia berubah lebih cepat dari yang aku kira…” gumamnya.
Pertarungan berlangsung singkat tapi intens.
Leonard mulai menemukan pola gerakan mereka, menghantam, menghindar, memanfaatkan celah sekecil apa pun, sementara Alexandria, meskipun masih kaget dengan kekuatannya sendiri, mulai mengikuti instingnya, mendorong, menghalau, memberi ruang bagi Leonard.
Dan akhirnya—Leonard melihatnya. Kilasan kecil di dalam salah satu sosok, seperti inti yang berdenyut. Ia tidak ragu.
Langkahnya berubah arah, tangannya menembus langsung ke pusat bayangan itu— dan kali ini, sosok itu benar-benar pecah. Menghilang.
Yang lain berhenti sejenak. Lalu mundur. Bukan karena takut. Tapi karena… cukup. Dalam hitungan detik, mereka menghilang kembali ke dalam bayangan hutan.
Keheningan kembali.
Napas Alexandria masih cepat, tangannya sedikit gemetar, tapi matanya hidup, bukan takut.
Leonard menoleh cepat.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aku… baik,” jawabnya, masih sedikit terengah, tapi tersenyum tipis, “tapi kita perlu bicara soal itu nanti.”
Leonard mengangguk.
Lysara mendekat, matanya menatap mereka berdua, kali ini tanpa menyembunyikan penilaiannya.
“Menarik,” katanya pelan.
Leonard menatap balik. “Itu saja?”
Lysara tersenyum sedikit lebih jelas.
“Untuk seseorang yang baru masuk Eldoria… kalian tidak mati dalam lima menit pertama,” jawabnya ringan, lalu menambahkan dengan nada lebih serius, “itu sudah lebih dari cukup.”
Alexandria menghela napas pelan, lalu berkata, “Standar yang rendah.”
“Standar yang realistis,” balas Lysara.
Keheningan sebentar, tapi kali ini lebih ringan.
Lysara berbalik lagi.
“Kita tidak bisa berhenti di sini,” katanya, “serangan tadi berarti satu hal.”
Leonard langsung mengerti.
“Mereka tahu kita di sini.”
Lysara mengangguk.
“Dan itu baru permulaan.”
Alexandria menatap ke arah hutan yang lebih dalam, lalu tanpa ragu menggenggam tangan Leonard lagi.
“Kalau begitu jangan lama-lama,” katanya pelan, tapi tegas.
Leonard menoleh, melihatnya, lalu tersenyum tipis.
“Memang tidak ada pilihan lain.”
Mereka kembali berjalan, kali ini lebih cepat, lebih waspada, tapi juga… lebih siap. Dan jauh di dalam bayangan hutan, sesuatu mengamati lebih dalam dari sebelumnya.
Bukan lagi sekadar pemburu. Tapi sesuatu yang mulai tertarik. Karena kehadiran mereka… sudah mulai mengganggu keseimbangan yang selama ini dijaga dengan rapuh.