NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Gunung Api Bidadari dan Ujian Terakhir

Setelah satu minggu penuh mempersiapkan pasukan, persediaan, dan rencana pertempuran, Leonard dan seluruh pasukan mereka akhirnya berangkat menuju Gunung Api Bidadari. Gunung itu terletak di ujung timur Eldoria, jauh dari pemukiman manusia, dan dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kekuatan magis serta makhluk-makhluk buas yang menjaga setiap sudutnya.

Perjalanan memakan waktu tiga hari penuh. Saat mereka semakin dekat dengan gunung, udara menjadi semakin panas, dan langit di atas mereka tampak sedikit kemerahan karena asap yang keluar dari kawah di puncak gunung. Di kejauhan, mereka bisa melihat percikan api yang terkadang melesat ke udara, menyinari langit ungu Eldoria.

"Itu dia, Gunung Api Bidadari," bisik Leonard sambil menunjuk ke arah gunung yang menjulang tinggi.

"Pedang Kejayaan berada di dalam gua tersembunyi di tengah kawah aktif itu. Hanya orang yang memiliki hati yang murni dan darah kerajaan yang bisa menyentuhnya."

Alexandria berdiri di sisinya, mengenakan baju pertempuran yang telah diberi lapisan sihir pelindung oleh ahli sihir desa Silverleaf. Ia mengangguk, matanya penuh tekad. "Kita akan berhasil mendapatkan itu, Leo. Aku akan selalu ada di sisimu untuk melindungimu."

Leonard menatapnya dengan senyum hangat. "Aku tahu, Alex. Tanpamu, aku tidak akan pernah sampai sejauh ini."

Mereka berhenti sekitar satu kilometer dari kaki gunung untuk membuat kemah sementara. Leonard memutuskan untuk hanya membawa beberapa orang terpilih—termasuk Alexandria, Marcus, dan Lyra—untuk naik ke puncak gunung. Pasukan utama akan tetap bertahan di kemah untuk menjaga agar pasukan Valerius tidak mengganggu mereka dalam perjalanan mencari senjata pusaka.

"Sekarang kita naik," perintah Leonard saat matahari Eldoria mulai muncul di ufuk timur. "Kita harus cepat sebelum panas gunung menjadi terlalu tidak tertahankan."

Perjalanan naik ke puncak gunung tidaklah mudah. Jalurnya terjal dan penuh dengan batu yang panas, bahkan terkadang masih menyala sedikit. Udara menjadi semakin panas dan penuh dengan asap yang menyengat. Namun, mereka terus maju dengan tekad yang kuat.

Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka tiba di sebuah lereng yang sangat curam yang menghadap langsung ke kawah aktif di puncak gunung. Di sisi kanan lereng itu, terdapat sebuah gua kecil yang mulutnya dikelilingi oleh batu-batu yang berwarna merah keemasan dan memancarkan cahaya hangat.

"Ini dia—gua tempat Pedang Kejayaan disimpan," ucap Leonard dengan suara yang penuh rasa hormat. "Tetapi hati-hati—penjaga terakhir ada di dalamnya."

Saat mereka memasuki gua, panas yang menyengat tiba-tiba hilang, digantikan oleh suasana yang sejuk dan penuh dengan cahaya keemasan yang berasal dari kristal-kristal magis di dinding gua. Di ujung gua yang paling dalam, terdapat sebuah panggung batu yang di atasnya diletakkan sebuah bingkai kristal besar—di dalamnya terletak sebuah pedang dengan bilah berwarna keemasan dan gagang yang dihiasi permata berharga. Itulah Pedang Kejayaan.

Namun, sebelum mereka bisa mendekati panggung batu, sebuah sosok besar muncul dari balik tirai kabut panas di dalam gua. Sosok itu setinggi tiga meter, tubuhnya terdiri dari batu lava dan api yang menyala, dengan mata yang seperti bola api merah menyala. Itu adalah penjaga terakhir gunung—Elemental Api.

"HANYA YANG BERHAK YANG BOLEH MENDAPATKAN PEDANG KEJAYAAN!" suara penjaga itu bergema seperti suara letusan gunung.

"Kamu HARUS MELAWAN AKU UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA KAMU BERHAK!"

Tanpa berlama-lama, Elemental Api menyerang dengan cepat, mengeluarkan lontaran api besar ke arah mereka. Marcus dan Lyra segera bergerak untuk menghalangi serangan itu dengan sihir pelindung mereka, sementara Alexandria mengambil beberapa botol ramuan dari tasnya.

"Leo, kamu fokus pada pedang!" teriak Alexandria sambil melempar botol ramuan khusus yang bisa mendinginkan suhu tinggi ke arah Elemental Api.

"Kita akan menangani penjaga ini!"

Leonard mengangguk, lalu berlari menuju panggung batu. Namun, Elemental Api tidak mudah dikalahkan. Ia mengirimkan gelombang panas yang kuat, membuat lantai gua mulai meleleh sedikit. Marcus terlempar mundur karena serangan itu, dan Lyra harus menggunakan seluruh kekuatan sihirnya untuk membangun tembok es yang bisa menghalangi panasnya.

Alexandria melihat Leonard sudah hampir mencapai panggung batu, tapi Elemental Api mulai bergerak untuk menghalanginya. Tanpa berpikir dua kali, ia berlari ke arah penjaga itu dan melemparkan semua ramuan pendingin yang ia miliki sekaligus.

BOOM!

Suara ledakan kecil terdengar saat ramuan bertemu dengan tubuh Elemental Api. Panas yang luar biasa dari penjaga itu sedikit mereda, membuatnya sedikit terpana. Saat itu saja, Leonard berhasil melompat ke atas panggung batu dan merentangkan tangannya ke arah bingkai kristal yang menyimpan pedang.

"CINTA DAN KEADILAN ADALAH KEKUATAN KITA!" teriak Leonard dengan penuh tekad.

Pada saat yang sama, Alexandria berteriak dengan suara yang kuat: "KITA BERSAMA UNTUK MENGEMBALIKAN KEDAMAIAN!"

Seperti merespons suara mereka berdua, bingkai kristal perlahan terbuka. Cahaya keemasan yang sangat terang memancar dari dalamnya, menyinari seluruh gua. Saat cahaya itu menyentuh Elemental Api, tubuhnya yang dulu mengerikan mulai berubah—api di tubuhnya mereda dan berubah menjadi cahaya hangat yang lembut.

"Kamu telah membuktikan bahwa kamu berhak," suara penjaga itu kini terdengar lebih lembut dan penuh hormat.

"Kamu datang bukan hanya untuk kekuasaan, tapi untuk kebaikan dan cinta. Pedang Kejayaan adalah milikmu sekarang, Yang Mulia Leonard."

Leonard meraih gagang pedang dengan hati-hati. Saat tangannya menyentuh gagang itu, rasa hangat yang menyenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya. Cahaya keemasan dari pedang itu menyebar ke seluruh gua, memberikan kekuatan tambahan kepada Alexandria, Marcus, dan Lyra yang sedang lelah.

"Itu benar-benar indah," bisik Alexandria saat mendekati Leonard yang kini sedang memegang pedang yang bersinar terang.

Leonard tersenyum, lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan kekasihnya. "Ini tidak mungkin terjadi tanpa kamu, Alex. Pedang ini tidak hanya milikku—ini milik kita berdua."

Mereka keluar dari gua dengan hati yang penuh sukacita. Pasukan mereka yang menunggu di kaki gunung bersorak kegembiraan saat melihat Leonard membawa Pedang Kejayaan yang bersinar terang. Kekuatan dan kepercayaan diri mengalir ke setiap orang di sana—mereka tahu bahwa sekarang mereka memiliki senjata yang cukup kuat untuk menghadapi Valerius.

Saat mereka kembali ke kemah, matahari Eldoria sudah mulai terbenam. Leonard dan Alexandria berdiri di tepi kemah, menatap arah istana kerajaan yang terletak jauh di kejauhan. Pedang Kejayaan terbentang di pangkuan Leonard, memancarkan cahaya yang hangat dan menenangkan.

"Kita akan pergi ke istana besok pagi sekali, Leo?" tanya Alexandria dengan lembut.

Leonard mengangguk, lalu menariknya lebih dekat.

"Ya, Alex. Waktunya sudah tiba untuk mengakhiri kediktatoran Valerius dan mengembalikan kedamaian ke Eldoria. Aku tahu itu akan menjadi pertempuran yang sulit, tapi aku tidak takut karena kamu ada di sisiku."

Alexandria memeluknya erat-erat, merasakan kehangatan tubuhnya dan cahaya pedang yang menyinari mereka berdua.

"Aku akan selalu ada untukmu, Leo. Sampai akhir dari dunia ini dan dunia lain."

Malam itu, seluruh pasukan merayakan kemenangan mereka dalam mendapatkan Pedang Kejayaan. Suara nyanyian dan tawa menggema ke seluruh kemah. Namun, di tengah kegembiraan itu, Leonard dan Alexandria tahu bahwa hari esok akan membawa pertempuran terbesar dalam hidup mereka.

Tapi mereka merasa siap—karena mereka memiliki satu sama lain, pasukan yang setia, dan senjata yang penuh dengan kekuatan cinta dan keadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!