Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi, Hadiah, dan Sebuah Danau
Setelah pulang dari rumah Cila, aku langsung mencari Ibu untuk meminta izin.
Kulihat Ibu sedang berada di ruang kerjanya. Ia duduk di depan laptop, tampak fokus mengerjakan sesuatu. Aku menghampirinya pelan.
“Ada apa, Rendra?” tanya Ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
“Bu, tadi Cila mengajak pergi ke suatu tempat di luar kota. Katanya mau memancing. Boleh nggak kalau aku ikut?”
Ibu berhenti sejenak dari pekerjaannya. Tangannya berhenti mengetik. Ia menoleh kepadaku, seolah memastikan apa yang baru saja didengarnya.
“Boleh saja. Perlu Ibu siapkan bekalnya?”
“Enggak usah, Bu. Aku bisa siapin sendiri,” jawabku.
“Ya sudah, aku ke kamar dulu.”
“Iya, sayang,” kata Ibu sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di kamar, aku langsung mengambil handphone dan mengirim pesan ke Cila.
Aku: “Besok aku ikut. Aku harus bawa apa saja?”
Tak lama kemudian Cila membalas.
Cila: “Bawa pakaian ganti sama jaket aja.”
Aku sedikit bingung.
Aku: “Lho, memangnya buat apa pakaian ganti?”
Cila: “Kita di sana kurang lebih dua hari satu malam biar santai. Kita berencana tidur di tenda.”
Aku terdiam sejenak membaca pesan itu.
Aku: “Berarti aku harus bawa bekal dong?”
Cila: “Enggak usah. Semua Papa yang tanggung.”
“Mmm... ya sudah,” balasku.
Cila: “Besok pagi-pagi ke rumahku ya.”
Setelah selesai mengobrol, tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku keluar kamar dan menuju dapur. Di meja makan sudah tersedia beberapa makanan.
“Bu, aku makan duluan ya,” kataku agak keras dari dapur.
“Iya, sayang,” jawab Ibu dari ruang kerjanya.
Setelah makan, aku kembali ke kamar lalu menyikat gigi. Entah kenapa saat itu aku merasa cukup senang dan tenang.
Aku kemudian memainkan handphone baruku. Aku membuka berbagai fiturnya, mencoba kamera, dan sesekali menggeser layar yang terasa sangat halus.
Tanpa terasa, aku pun tertidur.
Keesokan paginya aku bangun sangat pagi. Aku merasa bersemangat karena mengingat rencana hari ini. Selain itu, aku juga ingin mencoba memotret banyak hal dengan handphone baruku.
Aku segera mandi dan bersiap-siap. Setelah semuanya selesai, aku keluar kamar untuk pamit kepada Ibu.
Saat itu Kak Marisa baru keluar kamar dan kebetulan melihatku.
“Lho, mau ke mana kamu, Rendra?” tanyanya.
“Mau jalan-jalan,” jawabku sambil menjulurkan lidah sedikit.
“Dih... mulai nyebelin kamu ya,” kata Kak Marisa sambil menggeleng.
“Hehe,” jawabku.
Kemudian kulihat Ibu keluar dari kamarnya yang terlihat sudah rapi untuk berangkat kerja.
“Ini masih pagi sekali. Kamu sudah sarapan belum?”
Aku melihat jam di handphone. Baru pukul enam pagi.
“Kata Cila harus pagi-pagi ke rumahnya,” kataku.
“Ya sudah, sarapan dulu,” kata Ibu.
Akupun sarapan dengan sedikit terburu-buru.
"Tenang saja, jangan buru buru," Ibu mengingatkan
"Iya, Bu" jawabku sambil tetap makan
Setelah selesai, aku langsung pergi ke rumah Cila
Setelah melewati pintu pagar belakang rumah, aku melihat Pak Bejo sedang membersihkan kolam ikan. Halaman belakang rumah Cila memang cukup luas. Di sana ada taman kecil, kolam renang, dan juga kolam ikan.
“Pagi, Pak Bejo,” sapaku.
“Pagi, Den. Mau ke mana pagi-pagi sudah bawa tas begitu?” tanyanya sambil tetap membersihkan kolam.
“Ada rencana pergi sama Cila. Sudah siap belum ya Cilanya?”
“Wah, nggak tahu kalau itu. Masuk saja, Den.”
“Iya, Pak.”
Aku pun masuk ke dalam rumah. Di ruang belakang aku bertemu dengan Bude Wati.
“Oh, Den Rendra. Mau ketemu Cila ya? Tunggu sebentar, nanti Bude panggilkan,” katanya.
Bude Wati lalu pergi ke dalam.
Beberapa saat kemudian ia kembali.
“Den, Cila baru mau mandi,” katanya.
Aku langsung menghela napas kecil.
“Ya Allah... katanya harus pagi-pagi,” gumamku pelan.
“Masuk saja dulu, Den,” kata Bude Wati.
“Di sini saja, Bude. Aku tunggu di bangku halaman belakang.”
“Sudah sarapan belum?”
“Sudah, Bude. Tadi di rumah.”
Aku duduk di bangku taman sambil memainkan handphone.
Tidak lama kemudian, Ayah Cila mendatangiku dari dalam rumah.
“Eh, Rendra. Sudah datang?” katanya.
“Iya, Om. Sudah siap berangkat Om?”
“Sudah. Tapi Cilanya belum,” jawabnya sambil tersenyum.
“Mmm...” aku mengangguk pelan. “Memang kalau perempuan gitu ya Om.”
Ayah Cila langsung tertawa.
“Haha... tapi mamanya lebih parah.”
“Oo gitu ya?” kataku sambil ikut tertawa.
Kami pun tertawa bersama.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berdehem dari dalam rumah.
“Ehem.”
Sepertinya itu suara Mama Cila.
Ayah Cila langsung berbisik pelan kepadaku.
“Ssst... ada yang dengar.”
Wajahnya terlihat serius, tapi aku tahu ia hanya bercanda.
Aku menahan tawa.
Entah kenapa, aku mulai merasa nyaman berada di rumah ini. Aku mulai suka dengan keluarga Cila.
Setelah itu Ayah Cila mengajakku menunggu di depan rumah supaya nanti bisa langsung berangkat.
Aku pun pindah ke halaman depan. Ayah Cila kembali masuk ke dalam rumah, entah untuk apa.
Aku memperhatikan garasi mereka.
Di sana ada tiga mobil. Salah satunya terlihat lebih kecil dari yang lain, bentuknya unik dan keren, seperti mobil hatchback Eropa.
“Wah…” gumamku pelan.
Tidak lama kemudian Cila keluar dari rumah.
“Lama ya?” katanya.
“Banget,” jawabku sambil membuat wajah kesal. “Katanya pagi-pagi. Aku dari pagi sudah siap, lho.”
“Emangnya sekarang jam berapa?”
“Setengah delapan.”
“Masih pagi itu,” kata Cila santai. “Lagian kemarin waktu aku ke rumah kamu jam segini, kamu juga belum bangun.”
Aku hanya tertawa kecil.
Tak lama kemudian Ayah Cila keluar dari rumah.
“Sudah siap semua?”
“Iya, Pa,” jawab Cila.
“Kalau begitu, ayo masuk mobil.”
Kami berjalan ke arah mobil. Ayah Cila duduk di depan bersama sopir pribadinya, sementara aku dan Cila duduk di kursi belakang.
Beberapa saat kemudian mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.
Saat mobil mulai keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Cila menunjukan sesuatu.
“Taraa~!”
Aku menoleh. Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” tanyaku heran.
Cila membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah jam tangan.
“Hadiah ulang tahun buat kamu,” katanya sambil tersenyum.
Aku benar-benar tidak menyangka.
“Semalam aku sama Papa pergi cari hadiah buat kamu. Aku sempat bingung mau kasih apa. Akhirnya pilih ini saja. Semoga kamu suka.”
Aku menatap jam tangan itu beberapa detik. Entah kenapa dadaku terasa hangat.
“Serius ini buat aku?”
“Serius ini buat aku?”
“Iya lah. Masa buat Pak Sopir.”
Pak sopir yang mendengar dari depan tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum.
“Terima kasih, Cila.”
“Coba pakai.”
Aku mengambil jam tangan itu lalu memakainya di pergelangan tangan.
“Gimana?” tanya Cila.
“Bagus,” jawabku jujur.
Cila terlihat senang.
Ayah Cila menoleh sedikit ke arah kami.
“Cocok, kan?”
Aku mengangguk.
“Cocok, Om. Terima kasih juga.”
“Anggap saja tambahan hadiah ulang tahun,” katanya.
Mobil terus melaju meninggalkan kota.
Sepanjang perjalanan aku menyesuaikan jam tangan itu dengan waktu di handphone.
Di sampingku, Cila memandang keluar jendela.
“Cil, sebenarnya kita mau ke mana sih?” tanyaku.
“Kita mau ke sebuah danau di daerah pegunungan,” jawabnya. “Papa bilang pemandangannya bagus.”
“Jauh?”
“Mungkin empat sampai lima jam.”
Aku berpikir sejenak. Nama daerah itu terasa tidak asing.
Ternyata danau itu tidak terlalu jauh dari kampung halamanku.
“Kamu pernah ke sana?”
“Belum. Papa yang pernah,” jawabnya sambil menahan menguap.
Aku bersandar di kursi dan memejamkan mata agar dia bisa tidur dengan nyaman.
Mobil terus melaju.
Gedung-gedung perlahan berganti menjadi pepohonan dan hamparan sawah di sepanjang jalan tol.
Di sampingku, Cila akhirnya benar-benar tertidur.
Aku menatap keluar jendela sambil melamun. Langit terlihat cerah, matahari semakin naik.
Entah kenapa, aku merasa ini akan menyenangkan.
Aku menarik napas pelan.
Lalu tanpa terasa… aku pun ikut tertidur.