NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi, Hadiah, dan Sebuah Danau

Setelah pulang dari rumah Cila, aku langsung mencari Ibu untuk meminta izin. Ada sedikit rasa ragu, tapi juga semacam dorongan kecil dalam diri yang ingin mencoba sesuatu yang baru.

Kulihat Ibu sedang berada di ruang kerjanya. Ia duduk di depan laptop, tampak fokus mengerjakan sesuatu. Aku menghampirinya pelan, seperti tidak ingin mengganggu ritme pikirannya.

“Ada apa, Rendra?” tanya Ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

“Bu, tadi Cila mengajak pergi ke suatu tempat di luar kota. Katanya mau memancing. Boleh nggak kalau aku ikut?”

Ibu berhenti sejenak dari pekerjaannya. Tangannya yang tadi bergerak di atas keyboard kini diam. Ia menoleh kepadaku, memastikan maksud ucapanku.

“Boleh saja. Perlu Ibu siapkan bekalnya?”

“Enggak usah, Bu. Aku bisa siapin sendiri,” jawabku.

“Ya sudah, aku ke kamar dulu.”

“Iya, sayang,” kata Ibu sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.

Ada sesuatu yang terasa ringan setelah itu—izin yang begitu mudah diberikan, seolah tanpa beban. Entah karena kepercayaan, atau karena Ibu mulai memberi ruang untukku memilih.

Aku kembali ke kamar.

Di kamar, aku langsung mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Cila. Ada sedikit rasa antusias yang sulit dijelaskan—mungkin karena ini pertama kalinya aku benar-benar ikut rencana bersama teman di tempat baru ini.

Aku: “Besok aku ikut. Aku harus bawa apa saja?”

Tak lama kemudian Cila membalas.

Cila: “Bawa pakaian ganti sama jaket aja.”

Aku sedikit bingung.

Aku: “Lho, memangnya buat apa pakaian ganti?”

Cila: “Kita di sana kurang lebih dua hari satu malam biar santai. Kita berencana tidur di tenda.”

Aku terdiam sejenak membaca pesan itu. Dua hari satu malam… terasa seperti sesuatu yang besar.

Aku: “Berarti aku harus bawa bekal dong?”

Cila: “Enggak usah. Semua Papa yang tanggung.”

“Mmm... ya sudah,” balasku.

Cila: “Besok pagi-pagi ke rumahku ya.”

Setelah percakapan itu selesai, aku menatap layar ponselku beberapa saat. Ada perasaan hangat yang perlahan muncul—perasaan dilibatkan, diajak, dianggap ada.

Tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku keluar kamar dan menuju dapur. Di meja makan sudah tersedia beberapa makanan.

“Bu, aku makan duluan ya,” kataku agak keras dari dapur.

“Iya, sayang,” jawab Ibu dari ruang kerjanya.

Aku makan dengan tenang. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu menikmati—pikiranku masih tertinggal pada rencana besok.

Setelah makan, aku kembali ke kamar lalu menyikat gigi. Ada rasa bersih yang sederhana, tapi cukup menenangkan.

Aku kemudian memainkan ponsel baruku. Aku membuka berbagai fiturnya, mencoba kamera, dan sesekali menggeser layar yang terasa sangat halus. Hal kecil seperti ini… entah kenapa terasa menyenangkan.

Mungkin bukan karena ponselnya.

Tapi karena ini pemberian dari seseorang yang peduli.

Tanpa terasa, aku pun tertidur.

Keesokan paginya aku bangun sangat pagi. Lebih cepat dari biasanya. Tubuhku terasa ringan, seolah sudah siap menyambut sesuatu.

Aku merasa bersemangat karena mengingat rencana hari ini. Selain itu, ada keinginan kecil untuk mengabadikan banyak hal dengan ponsel baruku—seolah aku ingin menyimpan setiap momen.

Aku segera mandi dan bersiap-siap.

Setelah semuanya selesai, aku keluar kamar untuk pamit kepada Ibu.

Saat itu Kak Marisa baru keluar kamar dan kebetulan melihatku.

“Lho, mau ke mana kamu, Rendra?” tanyanya.

“Mau jalan-jalan,” jawabku sambil menjulurkan lidah sedikit.

“Dih... mulai nyebelin kamu ya,” kata Kak Marisa sambil menggeleng.

“Hehe,” jawabku.

Tak lama kemudian kulihat Ibu keluar dari kamarnya. Ia sudah rapi, siap berangkat kerja.

“Ini masih pagi sekali. Kamu sudah sarapan belum?”

Aku melihat jam di ponsel. Baru pukul enam pagi.

“Kata Cila harus pagi-pagi ke rumahnya,” kataku.

“Ya sudah, sarapan dulu,” kata Ibu.

Akupun sarapan dengan sedikit terburu-buru. Ada rasa ingin segera berangkat, seolah ada sesuatu yang menunggu di depan.

"Tenang saja, jangan buru-buru," Ibu mengingatkan.

"Iya, Bu," jawabku, meskipun tanganku tetap bergerak cepat.

Setelah selesai, aku langsung pergi ke rumah Cila.

Langkah kakiku terasa lebih ringan dari biasanya.

Seperti… untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, aku benar-benar punya tujuan untuk pergi.

Setelah melewati pintu pagar belakang rumah, aku melihat Pak Bejo sedang membersihkan kolam ikan. Pagi itu terasa tenang, dan luasnya halaman belakang rumah Cila memberi kesan lapang yang berbeda dari rumahku. Ada taman kecil, kolam renang, dan kolam ikan yang airnya berkilau terkena cahaya pagi.

“Pagi, Pak Bejo,” sapaku.

“Pagi, Den. Mau ke mana pagi-pagi sudah bawa tas begitu?” tanyanya sambil tetap membersihkan kolam.

“Ada rencana pergi sama Cila. Sudah siap belum ya Cilanya?”

“Wah, nggak tahu kalau itu. Masuk saja, Den.”

“Iya, Pak.”

Aku pun masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam terasa hidup, tapi tetap santai. Di ruang belakang aku bertemu dengan Bude Wati.

“Oh, Den Rendra. Mau ketemu Cila ya? Tunggu sebentar, nanti Bude panggilkan,” katanya.

Bude Wati lalu pergi ke dalam.

Beberapa saat kemudian ia kembali.

“Den, Cila baru mau mandi,” katanya.

Aku langsung menghela napas kecil.

“Ya Allah... katanya harus pagi-pagi,” gumamku pelan.

“Masuk saja dulu, Den,” kata Bude Wati.

“Di sini saja, Bude. Aku tunggu di bangku halaman belakang.”

“Sudah sarapan belum?”

“Sudah, Bude. Tadi di rumah.”

Aku duduk di bangku taman sambil memainkan ponsel. Layar yang terasa halus itu menjadi hiburan kecil di sela menunggu yang terasa lebih lama dari biasanya.

Tidak lama kemudian, Ayah Cila mendatangiku dari dalam rumah.

“Eh, Rendra. Sudah datang?” katanya.

“Iya, Om. Sudah siap berangkat Om?”

“Sudah. Tapi Cilanya belum,” jawabnya sambil tersenyum.

“Mmm...” aku mengangguk pelan. “Memang kalau perempuan gitu ya Om.”

Ayah Cila langsung tertawa.

“Haha... tapi mamanya lebih parah.”

“Oo gitu ya?” kataku sambil ikut tertawa.

Kami pun tertawa bersama. Suasana itu terasa ringan—hangat dengan cara yang sederhana.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang berdehem dari dalam rumah.

“Ehem.”

Sepertinya itu suara Mama Cila.

Ayah Cila langsung berbisik pelan kepadaku.

“Ssst... ada yang dengar.”

Aku menahan tawa.

Entah kenapa, semakin lama aku berada di sini, rasa asing itu perlahan memudar. Rumah ini mulai terasa seperti tempat yang bisa aku datangi tanpa canggung.

Setelah itu Ayah Cila mengajakku menunggu di depan rumah supaya nanti bisa langsung berangkat.

Aku pun pindah ke halaman depan. Ayah Cila kembali masuk ke dalam rumah.

Aku memperhatikan garasi mereka.

Di sana ada tiga mobil. Salah satunya terlihat lebih kecil dari yang lain, bentuknya unik dan keren, seperti mobil hatchback Eropa.

“Wah…” gumamku pelan.

Tidak lama kemudian Cila keluar dari rumah.

“Lama ya?” katanya.

“Banget,” jawabku sambil membuat wajah kesal. “Katanya pagi-pagi. Aku dari pagi sudah siap, lho.”

“Emangnya sekarang jam berapa?”

“Setengah delapan.”

“Masih pagi itu,” kata Cila santai. “Lagian kemarin waktu aku ke rumah kamu jam segini, kamu juga belum bangun.”

Aku hanya tertawa kecil.

Tak lama kemudian Ayah Cila keluar dari rumah.

“Sudah siap semua?”

“Iya, Pa,” jawab Cila.

“Kalau begitu, ayo masuk mobil.”

Kami berjalan ke arah mobil. Ayah Cila duduk di depan bersama sopir pribadinya, sementara aku dan Cila duduk di kursi belakang.

Beberapa saat kemudian mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.

Saat mobil mulai keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Cila menunjukkan sesuatu.

“Taraa~!”

Aku menoleh. Di tangannya ada sebuah kotak kecil.

“Apa ini?” tanyaku heran.

Cila membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah jam tangan.

“Hadiah ulang tahun buat kamu,” katanya sambil tersenyum.

Aku sempat terdiam.

“Serius… ini buat aku?”

“Iya lah. Masa buat Pak Sopir.”

Pak sopir yang mendengar dari depan tertawa kecil.

Aku ikut tersenyum.

“Terima kasih, Cila.”

“Coba pakai.”

Aku mengambil jam tangan itu, lalu memakainya di pergelangan tangan.

“Gimana?” tanya Cila.

“Bagus,” jawabku jujur.

Wajahnya langsung terlihat puas.

Ayah Cila menoleh sedikit ke arah kami.

“Cocok, kan?”

Aku mengangguk.

“Cocok, Om. Terima kasih juga.”

“Anggap saja tambahan hadiah ulang tahun,” katanya santai.

Mobil terus melaju meninggalkan kota.

Sepanjang perjalanan, sesekali aku menyesuaikan jam tangan itu dengan waktu di ponsel. Hal kecil, tapi entah kenapa terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.

Di sampingku, Cila memandang keluar jendela.

“Cil, sebenarnya kita mau ke mana sih?” tanyaku.

“Kita mau ke sebuah danau di daerah pegunungan,” jawabnya. “Papa bilang pemandangannya bagus.”

“Jauh?”

“Mungkin empat sampai lima jam.”

Aku berpikir sejenak. Daerah itu terasa tidak asing.

Sepertinya danau itu tidak terlalu jauh dari kampung halamanku.

“Kamu pernah ke sana?”

“Belum. Papa yang pernah,” jawabnya sambil menahan menguap.

Aku bersandar di kursi, membiarkannya lebih nyaman.

Mobil terus melaju.

Gedung-gedung perlahan berganti menjadi pepohonan dan hamparan sawah di sepanjang jalan tol. Pemandangan itu seperti jembatan antara dua dunia yang sedang aku jalani—kota dan kampung.

Di sampingku, Cila akhirnya tertidur.

Aku menatap keluar jendela. Langit cerah, matahari semakin naik.

Entah kenapa, di tengah semua yang belum pasti… perjalanan ini terasa akan berarti.

Aku menarik napas pelan.

Lalu tanpa terasa… aku pun ikut tertidur.

1
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!