Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Duluan
"Foto apa yang kamu unggah?" tanya Rama, suaranya agak serak khas bangun tidur. Kepalanya berpindah di pangkuan Nara.
Nara memperlihatkan foto yang diunggah. Tersenyum kikuk karena Rama melihat foto yang berpegangan tangan cukup lama.
"Kita foto berdua." Rama berguling turun dari pembaringan.
"Foto di kursi balkon...."
Nara mengikuti suaminya. Karena tidak membawa tripod, Rama meletakkan ponsel di meja. Disandarkan di vas bunga. Kursi ditarik ke pojok balkon. Rama mengatur timer lima belas detik.
"Sini, Sayang."
"Ambil kursi lagi?" Karena Rama duduk di kursi.
"Duduk di pangkuanku. Buruan...." ujar Rama.
"Mas Rama nggak pake kaos?" tanya Nara karena sang suami hanya memaksa celana kulot panjang.
Rama menarik telapak tangan Nara. "Nggak perlu."
"Ada tanda merah di dada," protes Nara. Tanda merah yang dibuat dirinya. Sebagai amatiran Nara penasaran bagaimana caranya membuat cupang.
"Ketutup badanmu, Nara," sahut Rama.
"Ulang lagi."
Nara yang gantian mengatur timer. Lalu duduk di pangkuan Rama, merangkul leher suaminya.
Sekitar lima kali mereka foto. Nara masih dipangkuan suaminya, memilih foto mana yang akan diposting.
"Mas Rama punya akun medsos?" tanya Nara, kepalanya rebah di bahu sang suami. Tangan kanannya mengusap-usap rahang yang mulai kasar. Tidak menyangka bisa menjadi suami istri yang sebenarnya.
"Ada. Lama nggak aktif. Lebih tepatnya memang jarang unggah sesuatu. Apalagi hal pribadi," terang Rama.
"Pilih yang mana?"
Nara memilih foto pertama yang terkesan alami karena tadi sempat berdebat tentang kaos.
"Aku unggah ya?"
"Di akun Mas Rama?" Nara memastikan.
"Iya." Rama hanya menulis, istriku. Lalu klik posting. Mungkin teman dan keluarganya akan melihat unggahannya. Rama tidak menge-tag akun istrinya.
Nara senyum-senyum melihatnya. Merasa mulai diakui kepada seluruh penghuni dunia.
Ponsel ditaruh di bawah. Rama mendekap erat istrinya. Tatapannya lurus ke depan, ke langit yang makin membiru.
"Oiya, aku lupa." Nara menegakkan tubuhnya, menghalangi pandangan Rama yang melihat langit.
"Mas Rama pernah kepikiran jadi penyanyi?"
"Pernah. Mama papa juga nggak melarang. Tapi hanya mimpi biasa yang akhirnya hilang. Nggak suka jadi orang tenar." Rama menatap wajah istrinya, tangannya membelai wajah, turun ke leher. Ada satu tanda merah keunguan di sana. Seingat Rama bukan hanya di leher, di dada, payu dara, perut, punggung, dan paha.
Rama benar-benar seperti orang yang kecanduan. Percintaan pertama kali dia cepat keluar, sempat khawatir kalau-kalau ada kelainan. Ternyata hal wajar untuk lelaki yang pertama kali berhubungan intim. Hubungan seks yang kedua, ketiga, Rama bisa bertahan lama.
"Kita check out siang, kan?" tanya Nara.
"Iya, sekalian jalan-jalan mampir beli oleh-oleh," kata Rama mendekatkan wajahnya, memapas jarak. Dikecupnya bibir merah itu.
"Sarapannya udah dingin, Mas," ucap Nara.
"Biarkan saja...." Rama merengkuh pinggang Nara, mencium lagi penuh hasrat. Hingga bunyi decapan dari bibir mereka samar terdengar di antara embusan angin laut. Rama menyelipkan lidah, kadang menarik bibir Nara. Sedangkan tangannya menyusup di balik kaos. Meremat salah satu favoritnya.
"Mas, jangan di sini," ucap Nara agak tersengal dan mendesah tertahan saat suaminya merangsang leher. Serta tangan nakal suaminya menyentuh bagian dada.
Rama berdiri, mengangkat tubuh Nara masuk ke kamar. Membiarkan pintu balkon terbuka sehingga tirai tipis tertiup angin. Pagi yang sangat membara.
...****************...
Bianca duduk di kursi dekat ranjang. Mengamati wajah Radit sebentar, lalu beralih ke ponsel. Berseluncur di dunia maya yang penuh informasi, inspirasi, gosip, dan kadang berita hoax.
Kedua kaki Bianca lurus ke depan. Jempolnya menggilir layar ponsel. Hingga akhirnya, dia mencari akun seseorang. @RmNich alias Rama.
Akun Rama tidak di private sehingga bisa melihat postingan-postingan Rama. Postingan terakhir hampir setahun yang lalu, foto Rama di kafe bersama seorang teman.
Bianca agak terkejut melihat unggahan baru, yang diposting empat jam lalu. Foto Rama duduk di kursi, yang telanjang dada. Memangku perempuan yang duduk miring.
Perempuan itu merangkul leher Rama dan tersenyum lebar. Memakai kaus dan celana pendek. Telapak tangan Rama memegang paha itu. Mereka saling menatap.
"Hmm, kamu bilang trauma. Kenapa lihat postingan Rama?"
Bianca gelagapan. Tidak mendengar suara pintu maupun langkah kaki. Bianca juga tidak mengira kalau Sekar datang lebih cepat, karena tadi pagi mertuanya mengatakan akan ke rumah sakit setelah jam makan siang.
"Aku penasaran saja. Ternyata dia tidak merasa bersalah. Apa wanita yang dinikahinya tahu kalau dia pelaku pelecehan?" Bianca mendengus jengkel.
"Mau-maunya menikah dengan Rama."
Sekar menaruh tas berisi wadah bekal di meja. Setiap ke rumah sakit, Sekar membawa makanan sendiri.
"Seberapa besar trauma mu?" tanya Sekar.
"Trauma terus menerus. Kalau trauma seharusnya kamu tidak tinggal di rumah kami."
"Untuk melawan trauma aku harus berada di rumah kalian." Bianca menghela napas.
"Aku akan kembali ke kamar."
Bianca memutuskan melahirkan di rumah sakit yang sama di mana Radit dirawat. Bianca memilih operasi sesar. Seharusnya lusa baru masuk ke rumah sakit.
"Istirahatlah." Sekar memandangi Bianca yang berjalan pelan. Kedua matanya memejam, karena Bianca akan melahirkan cucunya
Sekar mengeluarkan ponsel. Dia belum tahu kalau Rama update status. Senang melihat kemesraan putranya dan menantu. Aura cinta dan hasrat yang menggebu terlihat dari tatapan mata Rama.
Kemudian Sekar menerima telepon dari Abra, yang memberitahu juga menyelidiki kedua orang tua Bianca.
"Apa yang kamu temukan?"
'Belum ada, Nyonya. Saya hanya melihat kejanggalan dari wajah. Menurut saya, Bianca tidak ada kemiripan dengan kedua orang tuanya.'
"Bukankah itu wajar? Seperti Rama yang mirip papaku. Abra, kamu ini penyelidik kelas kakap...."
'Bianca berambut lurus. Kedua orang tuanya, kakek nenek berambut ikal, Nyonya. Bianca tidak mirip dengan anggota keluarga yang lain.'
"Selidiki saja. Laporkan yang penting."
Sekar menaruh ponsel. Memang yang dikatakan Abra ada benarnya. Tetapi Sekar menginginkan informasi yang bisa membuktikan Rama tidak bersalah.
...****************...
"Aku ingin bulan madu," kata Gita seraya menutup tubuhnya secara asal menggunakan selimut. Tubuhnya bersimbah peluh sehabis bercinta dengan Dewa di hotel yang terletak di pinggiran kota.
Sedangkan Dewa turun dari pembaringan. Memakai celananya. Pulang kerja, dia mengajak Gita chek in untuk melepas gairah. Dewa membuka jendela balkon sempit, merokok elektrik. Memandangi lampu dari rumah-rumah di kejauhan.
"Aku nggak bisa, Gita. Akhir pekan aku kadang ada kerjaan. Kalau mau harus nunggu cuti," kata Dewa.
Gita mendengus. Mencoba memahami pekerjaan Dewa. Lalu, membandingkan dengan Rama yang tidak punya pekerjaan tetap, yang pasti lebih banyak waktu.
Dua mingguan lagi mereka akan resmi menjadi suami istri. Gita sangat menunggu momen tersebut.
Dewa tahu, Nara tengah berbulan madu. Seperti halnya dengan Gita, dia stalking media sosial si mantan pacar. Unggahan tiga foto sangat menggelitik rasa. Tidak percaya Nara cepat move on.
Gita memandangi langit-langit. Ingin sekali menghancurkan kebahagian Nara.
"Ayo, ngewe lagi...." Dewa menarik selimut. Membuka paksa kedua paha Gita.
"Aku lelah, Mas. Tadi kamu sudah menggempur lama. Antar aku pulang," tolak Gita.
Dewa memaksa Gita melayani. Mengabaikan penolakan calon istrinya.
Gita merasa tidak dihargai. Merasa seperti perempuan murahan yang dipaksa melayani. Kecewa dengan sikap Dewa yang memaksa.
Di dalam pikiran Dewa saat menyetubuhi Gita, ada wajah Nara. Seperti orang kesurupan, Dewa main agak kasar.
Gita meringkuk begitu Dewa mencabut pusakanya. Lelaki itu tengkurap di sebelah Gita.
"Jangan menangis," kata Dewa.
"Kamu kasar banget dan memaksa. Aku bilang, aku lelah." Gita mengusap cepat air mata di pipi.
"Aku bukan pelacur."
"Maafkan aku, tapi kamu sangat seksi. Terutama dadamu. Idaman banget." Dewa berusaha menenangkan. Tadi dia sangat marah mengingat foto genggaman tangan Nara dan Rama.
"Maaf, sayangku."
"Jangan diulangi lagi," sahut Gita, terperangkap bujuk rayu Dewa.
Gita sampai di rumah hampir jam sebelas malam. Untung saja dia selalu membawa perlengkapan mandi sehingga tidak terendus aroma keringat dan cairan Dewa.
"Kami nonton bioskop, Bu Yuni," terang Dewa pada Yuni yang membukakan pintu,
"Lain kali jangan sampai jam segini. Malu sama tetangga," tukas Yuni marah.
"Iya, Bu Yuni." Dewa segera undur diri pulang.
Gita melangkah masuk rumah seraya merenggangkan otot-otot lehernya.
"Jangan dikira mamamu ini bodoh, Gita. Mama tahu, kamu dan Dewa darimana. Apa nggak bisa nunggu sampai sah?"
"Nggak bisa, Ma. Udah terlanjur." Gita membalikkan badan.
"Ngapain nunggu sah?"
"Gita ...." Yuni mengusap dadanya sendiri. Mendadak merasa salah asuh.
...****************...
Nara di dalam kamarnya, mengecek lehernya apakah foundation luntur. Karena Rama meninggalkan dua jejak romantis di sana. Ternyata masih aman. Nara juga menggerai rambutnya walaupun siang itu cukup panas.
Pagi tadi, Rama mengantar ke rumah orang tuanya. Sekalian memberikan oleh-oleh. Nara keluar kamar, berjalan ke arah dapur membantu ibunya melipat kardus snacks ukuran kecil.
"Siapa yang pesan, Bu?" tanya Nara.
"Itu tetangga baru. Untuk acara selamatan katanya. Pesan risoles dan kue bolu," jelas Risna.
"Ditambah air mineral dan kacang bawang."
Nara melihat kacang bawang yang dibungkus plastik kecil ditaruh di baskom hitam.
"Ini berapa kotak, Bu?"
"Empat puluh," sahut Risna yang sedang memarut keju untuk toping bolu.
Nara menghitung kotak di sebelah kanannya. Ada dua puluh enam. Risna minta ditambah dua, katanya untuk bonus.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Rahmat pernah membuka toko roti kecil di dekat pasar. Tetapi tidak berjalan sesuai rencana. Lebih sering merugi hingga memutuskan bekerja saja.
Nara menyelesaikan melipat kotak snacks, berlanjut memasukkan air mineral, risoles, dan kacang bawang. Roti bolu belum, karena menunggu diberikan topping.
Trisna melirik Nara yang menguap panjang.
"Sana tidur...." suruhnya.
Bagaimana tidak mengantuk karena masih edisi bulan madu. Sebelum subuh suaminya minta jatah lagi. Suaminya itu sedang ganas-ganasnya. Tetapi Nara suka-suka saja.
Perlahan Nara berdiri. Kembali masuk ke kamarnya. Nara rebah di tempat tidur, kedua matanya langsung memejam.
Di tempat lain, Rama yang memakai kemeja lengan panjang abu tua dan celana panjang hitam, keluar dari gedung kantor berlantai tiga. Dia melamar pekerjaan di kantor konsultan pajak.
Tanpa memakai jaket, Rama yang menyandang tas ransel segera mengendarai motornya. Dia berjanji akan menjemput istrinya. Sejak bulan madu, Rama ingin segera pulang saja. Bersama istrinya yang cantik dan wangi.
Rama tiba di rumah Risna jam tiga. Ibu mertuanya itu sedang memasukkan kotak-kotak snack di kantong plastik besar.
"Nara tidur," kata risna.
Rama melepas sepatu pantofel hitam.
"Iya, Bu. Sudah lama tidurnya?"
"Lebih dari sejam."
Nara tampak tidur miring saat Rama masuk ke kamar. Rama menutup pintu, pelan-pelan mendekati tempat tidur.
"Nara ...." Rama mengusap kaki istrinya.
"Udah pulang...?" gumam Nara pelan sekali.
"Belum, masih di jalan."
"Mas Rama ih..." Nara telentang, kedua matanya mulai terbuka. Agak menyipit melihat penampilan suaminya. Karena tadi pagi memakai celana jeans dan jaket ojol. Suaminya sangat menawan dalam balutan baju formal.
"Aku tunggu di luar." Rama keluar kamar,
"Mau teh atau kopi?" tanya Risna.
"Nggak perlu, Bu. Ini mau pulang," sahut Rama duduk di kursi tamu.
Nara keluar kamar sepuluh menit kemudian. Sudah berpakaian lengkap dengan celana panjang dan jaket.
"Ibuk, kami pulang dulu ya?" pamit Nara.
"Iya." sahut Risna menoleh sebentar.
"Mas, lengang kemejanya jangan digulung," ucap Nara, seraya menurunkan gulungan lengan kemeja. Karena lengan suaminya terlihat otot yang agak menonjol. Terkesan seksi
"Kenapa?"
"Nggak boleh aja," sahut Nara.
Rama menurut saja, daripada nanti dikasih punggung.
Motor melaju cukup cepat menuju rumah kontrakan. Lalu melambat, memberi akses untuk ambulans yang lewat.
"Ada tempat makan baru, Mas," kata Nara dagunya di pundak Rama. Restoran yang menyajikan menu spaghetti, pizza, dan pasta.
"Iya, baru," sahut Rama. Kembali menggeber motor hingga akhirnya sampai di rumah.
Rama melihat istrinya yang langsung masuk rumah. Wajah Nara agak dingin saat Rama minta tolong dibuatkan es teh.
"Ada apa, kok merengut gitu?"
"Nggak ada apa-apa, Mas."
Rama menghela napas.
"Aku istirahat dulu. Nggak perlu masak. Nanti kita makan di restoran."
"Males keluar, Mas," sahut Nara.
"Tapi kalau dipaksa, aku mau."
"Nara.... Tolong, kalau ingin sesuatu bilang aja. Mas mau makan itu, mau beli itu, mau pergi," kata Rama sangat serius.
"Iya, iya."
"Termasuk minta duluan."
"Minta uang?" Nara mengernyitkan dahinya.
"Minta se k s, Nara." Rama mengeja.
"Mas Rama aja pake kode. Apa itu minta duluan??" ledek Nara.
"Aku juga nggak paham."
Rama yang gemas menarik tubuh Nara.
Mengungkung di antara dinding. "Kita belum coba gaya berdiri ...."
"Mas Rama!" Nara memukul dada suaminya.
Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗