NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Khusus Dewasa 📌

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Malam itu, suasana di ruang kerja pribadi Denis terasa mencekam. Cahaya lampu meja yang kekuningan menyinari tumpukan berkas yang belum tersentuh. Denis duduk di kursi kebesarannya, menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian tak berujung. Pikirannya tidak sedang pada pergerakan saham atau ekspansi bisnis ke luar negeri, melainkan pada ketenangan aneh yang dibawa Calista ke dalam hidupnya sebuah ketenangan yang justru memicu badai di dalam rumahnya sendiri.

Pintu jati besar itu diketuk dua kali dengan ketukan yang tegas dan penuh tuntutan, disusul dengan kemunculan Susi. Wanita itu masuk dengan langkah anggun namun wajahnya menyiratkan keresahan yang dalam, matanya berkilat menunjukkan amarah yang telah ia bendung sepanjang hari. Ia tidak lagi bisa menahan diri setelah melihat putrinya, Puput, diperlakukan seperti pelayan rendahan hanya demi sepasang sepatu bermerek. Bagi Susi, itu adalah penghinaan langsung terhadap darah Satrya yang mengalir di tubuh mereka.

"Denis, Mama perlu bicara empat mata denganmu. Sekarang," ucap Susi sembari duduk di kursi seberang meja kerja Denis tanpa menunggu persetujuan. Ia meletakkan tas tangannya dengan sentakan kecil, seolah sedang meletakkan senjata di medan perang.

Denis tidak segera menoleh. Ia memutar kursinya perlahan, menatap ibu tirinya dengan pandangan yang sulit dibaca datar, namun mengintimidasi. "Ada apa, Ma? Sepertinya ini hal yang sangat mendesak sampai Mama harus mengganggu waktu kerja saya malam-malam begini."

Susi menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya agar tidak terlihat terlalu emosional, meski dadanya naik-turun karena menahan dongkol. "Ini soal Calista. Denis, sejujurnya Mama sangat tidak menyukai istrimu itu. Mama merasa kau harus lebih teliti lagi jika ingin mencari pendamping hidup. Kita ini keluarga terpandang, bukan tempat penampungan bagi wanita yang tidak tahu cara membawa diri."

Denis hanya mengangkat sebelah alisnya, memberikan isyarat tanpa suara agar Susi melanjutkan segala keluh kesahnya.

"Dia itu wanita yang sangat pelit, angkuh, dan sama sekali tidak sopan," desis Susi dengan nada yang mulai meninggi, membuang topeng kesabarannya. "Kau lihat sendiri bagaimana dia mengontrol uang di rumah ini seolah itu adalah warisan dari orang tuanya sendiri. Dia mempermalukan Puput, adik kandungmu sendiri, dengan menyuruhnya membuat minuman hanya untuk uang belanja yang sebenarnya adalah hak Puput sebagai anggota keluarga Satrya. Di mana sopan santunnya? Dia bersikap seolah dia adalah ratu di istana ini, sementara kita hanyalah tamu yang harus tunduk padanya."

Susi mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap Denis dengan penuh harap agar sang putra menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau setidaknya kemarahan yang sama. "Mama khawatir dia hanya memanfaatkan kekayaanmu untuk kepentingan pribadinya atau keluarganya yang tidak jelas itu. Wanita dengan latar belakang yang serba misterius seperti dia biasanya hanya punya satu tujuan: menguras hartamu dan menginjak-injak martabat keluarga kita yang sudah dibangun susah payah oleh almarhum papamu."

Denis tetap terdiam selama beberapa saat. Ia hanya mengetukkan jari telunjuknya di atas meja marmer, menciptakan irama monoton yang membuat Susi semakin gugup dan tidak sabar. Denis sama sekali tidak menunjukkan pembelaan yang meledak-ledak, namun ia juga tidak memberikan tanda bahwa ia setuju dengan setiap butir keluhan ibunya. Keheningan itu justru menjadi siksaan tersendiri bagi Susi.

"Sudah selesai bicaranya, Ma?" tanya Denis pendek, suaranya sedingin es.

Susi tertegun, matanya membelalak. "Denis, apakah kau tidak mendengarku? Aku sedang membicarakan masa depan martabatmu! Wanita itu tidak cocok untukmu, dia hanya akan menjadi benalu yang memalukan!"

Denis bangkit dari kursinya, berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan untuk menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. "Aku mendengar setiap kata yang Mama ucapkan. Dan Mama perlu tahu satu hal yang sangat penting," ucapnya sembari berbalik, menatap Susi dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang menguliti setiap niat tersembunyi ibu tirinya. "Calista berada di sini karena aku sendiri yang membawanya masuk. Aku tahu persis siapa dia, dari mana asalnya, dan apa yang mampu dia lakukan."

Susi terdiam, wajahnya sedikit memucat melihat kedinginan dan ketegasan di mata Denis yang belum pernah ia lihat sedalam ini sebelumnya.

"Mengenai masalah keuangan, akulah yang memberikan hak penuh dan otoritas mutlak padanya untuk mengatur itu semua. Jika Puput merasa keberatan atau merasa dipermalukan, katakan padanya untuk belajar hidup mandiri atau setidaknya belajar menghargai otoritas di rumah ini. Uang keluarga Satrya bukan untuk dihamburkan tanpa pertanggungjawaban," tambah Denis dengan nada datar yang mengakhiri segala celah perdebatan.

Denis sebenarnya memiliki alasan yang sangat kuat mengapa ia memilih Calista di antara ribuan wanita lain yang mengantre untuk menjadi istrinya. Ia membutuhkan seseorang yang bermental baja, seseorang yang memiliki integritas namun tidak bisa disetir oleh siapapun, terutama oleh drama-drama manipulatif Susi dan Puput. Ia butuh seseorang yang bisa menjaga rahasia di balik kontrak mereka dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Kehadiran Calista adalah tameng yang kokoh sekaligus pedang yang tajam yang sengaja ia tempatkan di tengah rumah besar yang penuh intrik ini.

"Denis, tapi martabat keluarga kita...." Susi mencoba sekali lagi, suaranya bergetar karena frustrasi.

"Martabat keluarga Satrya ada di tanganku dan ditentukan oleh keputusanku, Ma. Bukan di tangan Puput, bukan pula di tangan Mama," potong Denis tegas, menatap lurus ke arah mata Susi. "Jika Calista bersikap tegas, itu karena memang aku yang memintanya untuk mendisiplinkan pengeluaran rumah ini. Aku tidak butuh istri yang hanya bisa menjadi pajangan cantik, menghamburkan uang di butik mewah, dan tersenyum manis di depan kamera sosialita. Aku butuh seseorang yang bisa menjalankan rumah ini dengan tangan besi jika perlu."

Susi menyadari bahwa pembicaraan ini adalah kekalahan telak baginya. Denis sama sekali tidak terpengaruh oleh fitnah, keluhan, atau air mata buaya yang mungkin ia siapkan. Justru, Denis seolah memvalidasi setiap tindakan Calista, menjadikannya seolah-olah Calista adalah perpanjangan tangan dari kehendak Denis sendiri.

"Sekarang, sudah larut malam. Sebaiknya Mama istirahat. Aku masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting daripada membahas masalah jatah belanja Puput," tutup Denis, memberikan tanda bahwa pembicaraan ini telah mencapai titik akhir.

Susi bangkit dengan hati yang mendidih dan harga diri yang hancur berkeping-keping. Ia keluar dari ruangan itu dengan tangan mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Alih-alih menjauhkan Denis dari Calista, pembicaraan ini justru memperjelas satu fakta yang sangat menyakitkan bagi Susi: posisi Calista sangatlah kokoh dan tidak bisa digoyahkan karena ia memegang dukungan mutlak dari sang penguasa Satrya Group.

Sementara itu, di dalam ruang kerjanya, Denis kembali duduk dan menatap kegelapan malam. Ia tahu bahwa membawa Calista masuk adalah keputusan paling berisiko namun sekaligus paling tepat yang pernah ia buat dalam hidupnya. Calista adalah kepingan puzzle yang ia butuhkan untuk menjaga keseimbangan dan membersihkan parasit di istana Satrya, terlepas dari seberapa besar kebencian yang harus ia tanggung dari ibu tirinya.

Denis tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia dan kepuasan. Ia sengaja mengumpan "badai" bernama Calista ke dalam rumah ini untuk menyapu bersih benalu-benalu yang selama ini mengisap kekayaan dan otoritasnya secara perlahan. Dan sejauh ini, Calista melakukan tugasnya dengan sangat luar biasa, jauh melampaui apa yang ia harapkan dalam kontrak mereka. Ia menyadari bahwa rasa sayangnya mulai tumbuh, bukan lagi sekadar karena kontrak, tapi karena ia mengagumi kekuatan wanita yang ia pilih tersebut.

❤🥰🙏

1
Blu Lovfres
cinta sudah hadir cuman belum menyadari nya aja,baik denis maupun callista
Blu Lovfres
apa alasannya denis begitu lemah dn tetap diam, dgn kelakuan ibu tirinya dn adik tirinya
Blu Lovfres
semua novel mu sangat sangat bagus thor👍👍
Blu Lovfres
pemeran denis sangat col
Blu Lovfres
best banget denis
Blu Lovfres
tetaplah seperti itu callista
Blu Lovfres
tetap semangat thor 💪💪💪
Blu Lovfres
orang seperti callista jg berbahaya jg ,dgn kecerbohannya yg merasa, pede ,ga enakan,sok kuat sok baik dgn perasaan nya sendiri,
Blu Lovfres
siapa yg menabur orang itu sendiri yg menuainya😁
Blu Lovfres
ceyeeeee😁 kuncup putik bunga sudah mulai tumbuh di taman hati sang ceo😁😁😁
Blu Lovfres
👍👍👍💪
Blu Lovfres
so sweet 😘😘😘
Ainun Mahya
novel sebagus ini baru aku baca😍😍😍, tetap semangat menulis thor
Ainun Mahya
good
Blu Lovfres
👍👍💪
Blu Lovfres
good job callista 👍
Blu Lovfres
👍👍👍😘😘😘
Blu Lovfres
seharusnya callista tu bertemu denis suatu rejeki dn keberkahan
Blu Lovfres
sekalian aja tu susinya😁😁
Blu Lovfres
salah besar lo ,mengangap denis tidak tau apa-apa 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!