Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Dalam Istana
Atmosfer di mansion Thorne tidak pernah terasa sesunyi dan semencekam ini. Jika biasanya kemewahan bangunan itu memancarkan otoritas, malam ini ia hanya memancarkan kegagalan. Deru mobil sport Adrian yang berhenti mendadak di pelataran parkir terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka.
Adrian turun dari mobil dengan gerakan kasar, membanting pintu hingga suaranya menggema di keheningan malam. Rahangnya mengeras, matanya merah karena amarah dan kelelahan setelah pengejaran sia-sia di dermaga.
Stella turun dari pintu sebelah dengan wajah yang ditekuk. Gaun pengantin dua ratus juta dolar yang ia kenakan kini tampak kusut dan tidak berarti. Alih-alih merasa bersalah atas kekacauan yang terjadi, Stella justru tampak tersinggung. Sepanjang perjalanan pulang, ia harus menanggung kemarahan Adrian yang membabi buta, dan egonya yang setinggi langit tidak bisa menerima hal itu.
"Bisa tidak kau berhenti bersikap seperti orang gila, Adrian?" Stella mulai mengomel saat mereka melangkah masuk ke dalam lobi mansion. Suara tumit sepatunya menghentak lantai marmer dengan nada kesal. "Kau mengejar mobil itu seolah-olah hidupmu bergantung padanya! Kita sudah sah, Adrian! Akulah yang berdiri di sampingmu, akulah yang memakai gaun ini! Kenapa kau harus peduli pada wanita yang sudah jelas-jelas meninggalkanmu?"
Adrian tidak berhenti melangkah. Ia terus berjalan menuju ruang tengah, langkahnya lebar dan mengancam. "Diam, Stella."
"Aku tidak mau diam!" teriak Stella, mempercepat langkahnya agar bisa menyejajari Adrian. "Kau mempermalukanku di depan para pengawal! Kau mengabaikanku di hari pernikahan kita hanya untuk mengejar kakakku yang tidak tahu diuntung itu! Kau seharusnya bahagia karena pada akhirnya kau mendapatkan aku, bukan tameng yang membosankan itu!"
Adrian tiba-tiba berhenti dan berbalik dengan sangat cepat. Tatapannya begitu tajam dan penuh kebencian hingga Stella tersentak mundur satu langkah.
"Aku bilang, diam," desis Adrian. Suaranya rendah, hampir seperti geraman, yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan. "Kau tidak tahu apa yang sudah terjadi. Kau tidak tahu apa yang telah hilang."
"Harusnya Nora yang berdiri di sana," gumam Adrian pada dirinya sendiri, suaranya parau oleh penyesalan yang terlambat. "Harusnya dia yang menjadi pengantinku. Semua ini... semua ini salah."
Stella tertawa, sebuah tawa kering yang sarat dengan kebencian. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap Adrian dengan pandangan merendahkan. "Harusnya Nora? Kau benar-benar sudah kehilangan akal, ya? Kau masih memuja wanita yang baru saja menjualmu?"
Adrian menoleh, matanya menyipit. "Apa maksudmu?"
"Oh, ayolah, Adrian. Jangan naif," Stella melangkah mendekat, suaranya kini berubah menjadi bisikan berbisa yang manis namun mematikan. "Kau pikir kenapa Nora begitu tenang saat bertukar posisi denganku? Kau pikir kenapa dia dengan sukarela pergi ke New York untuk menikahi pria koma itu?"
Stella mengelilingi Adrian, jemarinya yang lentik menyentuh lengan jas Adrian dengan gerakan manipulatif. "Nora tidak peduli padamu. Dia tidak pernah benar-benar mencintaimu. Dia hanya bertahan selama lima tahun ini karena dia menunggu bayaran yang pas. Dan papa memberikan apa yang dia inginkan."
Adrian merasakan jantungnya berdegup kencang karena amarah yang bercampur dengan keraguan. "Apa yang kau bicarakan, Stella?"
"Seratus juta dolar, Adrian," ujar Stella mantap, matanya menatap langsung ke dalam mata Adrian. "Nora setuju untuk memberikan posisinya padaku, menyerahkanmu kepadaku, dan pergi ke keluarga Sullivan demi uang seratus juta dolar. Dia menukar 'cinta' yang selalu kau banggakan itu dengan angka di rekening bank."
"Kau bohong," geram Adrian, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
"Aku bohong?" Stella tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Lihatlah dirimu. Kau baru saja dikhianati oleh wanita yang kau anggap suci. Dia mengambil uang itu, dia mengambil lukisan ibunya, dan dia pergi tanpa menoleh sedikit pun. Baginya, kau hanyalah batu loncatan menuju kekayaan yang lebih besar. Dia tidak pantas bersamamu, Adrian. Dia wanita murahan yang menghargai dirinya sendiri dengan uang seratus juta dolar."
Adrian menggelengkan kepalanya. "Nora tidak mungkin melakukan itu. Dia... dia mencintaiku."
"Mencintaimu?" Stella mendengus. "Wanita yang mencintaimu tidak akan menukar pernikahan dengan uang. Jika kau tidak percaya padaku, tanya saja pada Papa. Tanya pada Antonio Leone. Dia yang mentransfer uang itu atas permintaan Nora sebagai syarat dia mau pergi ke New York tanpa keributan."
Stella mengusap pipi Adrian yang kaku dengan ujung jarinya. "Dia sudah merencanakan ini sejak lama, Adrian. Saat kau sibuk merasa bersalah padanya, dia sibuk menghitung uangnya. Kau mengejar bayangan seorang wanita yang sebenarnya adalah pengkhianat terbesar dalam hidupmu."
Kata-kata Stella meresap ke dalam pikiran Adrian seperti racun yang menyebar cepat. Ia teringat kembali pada sikap dingin Nora beberapa hari terakhir. Ia teringat bagaimana Nora begitu gigih memenangkan lukisan itu dengan harga seratus juta dolar. Logika Adrian yang gelap mulai menghubungkan titik-titik yang disediakan Stella.
Uang seratus juta dolar.
Semuanya mulai terasa masuk akal dalam kegelapan pikirannya. Rasa bersalah yang tadi menghimpitnya kini mulai bercampur dengan rasa marah yang meluap-luap karena merasa dipermainkan.
"Dia mengambil uang itu?" bisik Adrian, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Tentu saja," sahut Stella, senyum kemenangannya kini merekah sempurna. "Dia lebih memilih menjadi istri pria koma yang kaya raya di New York daripada menjadi istrimu. Baginya, Sullivan adalah mangsa yang lebih empuk. Dia sudah selesai denganmu, Adrian. Jadi, berhenti mengejarnya. Berhenti mempermalukan dirimu sendiri untuk wanita yang sudah menjualmu."
Adrian terdiam, namun napasnya memburu. Ia menatap ke arah jendela, ke arah langit malam yang kosong. Di tangannya, kotak kayu itu terasa semakin berat. Jika benar Nora menjual posisi ini demi uang, maka segala pengorbanannya selama lima tahun terakhir terasa seperti lelucon besar.
"Aku akan mencari tahu kebenarannya sendiri," ujar Adrian dingin. Ia melepaskan tangan Stella dari lengannya dan berjalan menuju ruang kerjanya. "Dan jika benar dia melakukan itu... jika benar dia menukarku dengan uang..."
"Maka kau akan sadar bahwa akulah satu-satunya yang setia padamu," potong Stella dengan nada penuh percaya diri.
Adrian menutup pintu ruang kerjanya dengan debuman keras, meninggalkan Stella di tengah lobi yang sunyi. Di dalam ruangan yang gelap, Adrian duduk di kursi kebesarannya. Pikirannya berperang antara penyesalan yang mendalam atas kematian anak-anaknya dan rasa dikhianati yang membakar karena ucapan Stella.
Ia mengambil ponselnya, menekan nomor Antonio Leone dengan tangan yang bergetar. Ia harus tahu. Ia harus memastikan apakah wanita yang baru saja pergi membawa jiwanya itu memang benar-benar seorang pengkhianat yang menjual cinta demi angka seratus juta dolar.
Di luar ruangan, Stella berdiri di depan cermin besar di lobi, merapikan rambutnya dan tersenyum pada pantulannya sendiri. Ia telah berhasil masuk ke mansion ini sebagai nyonya rumah yang sah. Dan ia akan memastikan bahwa nama Nora Leone akan terhapus selamanya dari hati dan pikiran Adrian Thorne, digantikan oleh kebencian yang akan mengunci Adrian di sampingnya selamanya.
Malam itu, di dua sisi benua yang berbeda, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di New York, Nora memulai hidup barunya di atas puing-puing kesedihan. Di California, Adrian Thorne mulai tenggelam dalam lautan kebencian yang diciptakan oleh kebohongannya sendiri dan hasutan sang iblis berwajah malaikat.