Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sosok Gunung Es yang Sedang Bekerja
"Aku ingin menghapus peluhmu, tapi aku tahu tanganku tak punya hak untuk itu. Aku ingin membeli seluruh lelahmu, namun aku sadar harga dirimu terlalu mahal untuk kutawar. Maka biarkan aku menjadi penipu ulung malam ini; menukar lembaran uangku dengan sisa daganganmu melalui tangan kecil yang tak kau curigai, agar kau bisa pulang lebih cepat dan memeluk adikmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 73)
Satu minggu setelah malam menyesakkan di mana Indra membawaku pergi dari pasar malam itu, hatiku tidak kunjung membaik. Logikaku terus merapalkan mantra keselamatan yang diajarkan Siska: Jauhi dia, Keyla. Dia hanya akan menghancurkanmu. Namun, hatiku adalah seorang pemberontak yang kebal terhadap segala bentuk logika.
Hari ini adalah Sabtu malam. Malam yang selalu menjadi puncak kelelahan bagi mereka yang mencari nafkah di jalanan.
Di ruang keluarga rumahku yang mewah dan hangat, Papa sedang membaca berita bisnis di tablet-nya, sementara Mama sedang menonton acara gaya hidup di televisi raksasa kami. Suasana begitu damai, begitu sempurna. Namun bagiku, kenyamanan ini terasa seperti sebuah dosa. Di luar sana, angin malam berembus cukup kencang. Bagaimana jika Rendi kedinginan? Bagaimana jika bosnya kembali memarahinya?
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Siska masuk: "Key, lagi ngapain? Indra nanyain kamu terus tuh. Jalan yuk? Kita ke cafe baru di pusat kota, Indra yang traktir."
Aku menatap layar ponselku cukup lama, lalu mengetikkan balasan singkat: "Maaf Sis, aku lagi ngerjain tugas biologi yang numpuk. Kapan-kapan aja ya. Salam buat Indra."
Aku mematikan layar ponselku dan bangkit berdiri. Aku tidak bisa terus-terusan mengunci diriku di rumah sementara pikiranku tertinggal di tanah becek pasar malam. Aku harus melihatnya. Aku harus memastikan bahwa malam ini ia baik-baik saja, bahwa ia tidak pingsan di dalam kostum badut yang mengerikan itu.
"Ma, Pa, Keyla mau keluar sebentar ya. Mau ke toko buku di depan, ada alat tulis yang habis buat nugas," pamitku berbohong, menyambar hoodie kebesaran berwarna hitam dan sebuah topi baseball dari kamarku.
"Minta antar Pak Anton, Sayang. Udah malam," tegur Mama tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Nggak usah, Ma. Keyla pesen ojek online aja biar cepet. Cuma sebentar kok," tolakku halus, lalu segera berlari keluar rumah sebelum mereka banyak bertanya.
Aku tidak memesan ojek menuju toko buku. Titik tujuanku adalah lapangan kecamatan tempat pasar malam itu digelar. Aku sengaja memakai hoodie hitam dan menarik kupluk-nya menutupi kepalaku, serta memakai masker hitam. Aku tidak ingin Rendi, atau siapa pun yang mungkin mengenalku, melihat kehadiranku di sini.
Tiga puluh menit kemudian, aku berdiri di pintu masuk pasar malam. Suasananya jauh lebih padat dari minggu lalu. Hawa panas dari ribuan tubuh manusia yang berdesakan, kepulan asap sate ayam, dan suara musik dangdut yang memekakkan telinga langsung menyergap indraku.
Aku menyusuri lorong-lorong sempit di antara tenda terpal dengan jantung yang berdebar kencang. Mataku menyapu setiap sudut, mencari rumah balon tempatnya bekerja. Saat aku tiba di depan wahana itu, napasku tertahan.
Ada badut beruang di sana. Sedang membagikan balon.
Aku berjalan mengendap-endap mendekat, bersembunyi di balik gerobak penjual es teh. Aku mengamati badut itu dengan saksama. Namun, ada yang berbeda. Postur tubuh badut itu lebih pendek dan sedikit lebih gempal dari Rendi. Cara berjalannya pun berbeda. Saat badut itu melepaskan kepalanya sejenak untuk minum air, aku melihat wajah seorang pria paruh baya yang tak kukenal.
Itu bukan Rendi.
Rasa panik seketika mencekik leherku. Ke mana dia? Apakah dia dipecat gara-gara kejadian minggu lalu? Ataukah dia jatuh sakit karena kelelahan? Pikiranku langsung melanglang buana memikirkan skenario terburuk. Rendi yang kehilangan pekerjaannya berarti Nanda yang tidak bisa makan.
Aku terus berjalan menyusuri seluruh penjuru pasar malam dengan langkah setengah berlari. Kucari sosoknya di stan tembak sasaran, di komidi putar, hingga ke warung-warung tenda di bagian belakang. Nihil. Ia tidak ada di mana pun.
Lututku mulai terasa lemas. Air mata keputusasaan menggenang di pelupuk mataku. Di mana kamu, Ren?
Tepat saat aku hendak menyerah dan berbalik pulang, mataku menangkap sebuah pemandangan di sudut paling luar pasar malam, jauh dari keramaian wahana utama, tepat di dekat tempat pembuangan sampah sementara yang bau menyengat.
Di sana, di atas sebuah terpal biru tipis yang digelar langsung di atas tanah berpasir, duduklah sesosok tubuh kurus tinggi yang sangat kukenal.
Rendi.
Ia tidak lagi memakai kostum badut. Ia mengenakan kaus oblong hitam lusuh yang lengannya digulung, dan celana jeans usang. Di atas terpal di depannya, tergelar puluhan mainan anak-anak murahan: pedang plastik yang bisa menyala, baling-baling bambu berlampu, dan mainan tiup peniup gelembung sabun.
Ia kini menjadi pedagang kaki lima asongan. Mungkin ia telah dipecat oleh bos rumah balon itu, dan kini terpaksa menyambung hidup dengan menggelar lapak mainan di dekat tempat pembuangan sampah karena ia tak mampu menyewa tempat yang strategis di dalam area pasar malam.
Dada kiriku serasa ditusuk tombak. Jarak lapaknya dari lampu jalan sangat jauh, membuatnya harus menggunakan sebuah lampu emergency kecil bertenaga baterai untuk menerangi dagangannya. Ia duduk bersila, bahunya sedikit membungkuk. Wajahnya yang diterangi cahaya redup lampu itu terlihat sangat pucat dan kelelahan. Urat di pelipisnya terlihat menonjol menahan hawa dingin angin malam.
Aku bersembunyi di balik sebuah pohon rindang yang berjarak sekitar lima meter dari lapaknya. Di tempat gelap ini, aku bisa mengawasinya tanpa takut ketahuan.
Seorang ibu dan anak balitanya lewat. Sang anak merengek menunjuk pedang plastik yang menyala di lapak Rendi. Rendi langsung menegakkan punggungnya, memasang wajah sedikit lebih ramah meski terlihat sangat dipaksakan.
"Berapa pedangnya, Mas?" tanya ibu itu dengan nada angkuh.
"Dua puluh ribu, Bu," jawab Rendi dengan suaranya yang serak dan rendah.
"Halah, mainan plastik gampang patah gini dua puluh ribu! Di toko mainan depan juga paling ceban! Sepuluh ribu ya? Kalau nggak boleh, saya beli di dalam aja," tawar ibu itu dengan kejam.
Aku mengepalkan tanganku di balik saku hoodie-ku. Dua puluh ribu adalah harga yang sangat wajar untuk mainan itu di pasar malam. Ibu itu sedang menekan seorang pemuda yang sedang mati-matian mencari makan.
Rendi terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia menatap deretan mainannya yang masih menumpuk banyak. Jika ia tidak menjualnya, ia tidak akan membawa pulang uang sepeser pun malam ini.
"Maaf, Bu, modalnya aja nggak sampai segitu," ucap Rendi pelan, berusaha bernegosiasi. "Delapan belas ribu, Bu. Biar saya ada untung sedikit."
"Sepuluh ribu! Kalau nggak mau ya udah!" Ibu itu menarik tangan anaknya dengan kasar dan bersiap pergi.
Melihat calon pembelinya akan pergi, keputusasaan tergambar kilat di mata Rendi. Ia memejamkan matanya sesaat, menelan harga dirinya bulat-bulat, lalu mengangguk lemah. "Iya, Bu. Boleh. Sepuluh ribu."
Ia mengambil satu pedang plastik, menyerahkannya pada ibu itu, dan menerima selembar uang sepuluh ribu yang sudah lecek. Ibu itu berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.
Rendi menatap uang sepuluh ribu di tangannya dengan pandangan kosong. Ia tidak mendapat untung apa pun dari penjualan itu. Ia mungkin malah rugi. Ia menyimpan uang itu dengan hati-hati ke dalam tas pinggang bututnya.
Air mataku menetes di balik masker hitam yang kukenakan. Ia adalah gunung es yang angkuh dan tak tersentuh di sekolah, yang bahkan menolak sisa makanan mewah dari Siska. Namun di sini, di kerasnya aspal jalanan, ia harus mengemis dan menelan penghinaan dari pembeli yang kejam demi selembar uang sepuluh ribu.
Aku ingin menghapus peluhmu... jerit batinku merana. Aku ingin merengkuh tubuhmu yang menggigil itu, membawamu ke tempat yang hangat, dan memberimu makanan yang layak. Tapi aku tahu, aku tak punya hak untuk itu.
Mengingat insiden amplop biru yang berakhir di tempat sampah kelas, aku tahu dengan pasti: aku tidak bisa sekadar datang dan membeli dagangannya. Jika ia melihatku—seorang gadis dari sekolahnya yang mengetahui kemiskinannya—membeli barang dagangannya dengan uang seratus ribuan dan berkata 'kembaliannya ambil saja', Rendi akan sangat murka. Ia akan merasa aku sedang melakukan aksi 'bedah rumah' dadakan untuk memuaskan egoku. Ia akan langsung mengemasi barangnya dan pergi.
Aku mengusap air mataku dengan kasar. Aku harus mencari cara agar semua barang dagangannya habis terjual malam ini, agar ia bisa segera pulang dan beristirahat, tanpa melukai harga dirinya sedikit pun.
Pandanganku menyapu area sekitar. Tak jauh dari pohon tempatku bersembunyi, ada seorang anak laki-laki berpakaian lusuh, usianya sekitar delapan tahun, sedang memulung botol plastik bekas di sekitar tempat sampah. Anak itu terlihat kurus, kulitnya legam terbakar matahari.
Sebuah ide nekat terlintas di kepalaku.
Aku berjalan menghampiri anak itu dengan langkah pelan agar tidak mengagetkannya.
"Halo, Dek," sapaku dengan suara sangat pelan sambil membuka maskerku sedikit.
Anak itu menoleh, menatapku dengan curiga sambil memeluk karung goni berisi botol bekas. "Iya, Kak?"
Aku merogoh saku jeans-ku, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dan selembar uang lima puluh ribu. Mata anak itu langsung membelalak melihat nominal uang yang mungkin belum pernah ia genggam seumur hidupnya.
"Kakak mau minta tolong, boleh?" tanyaku dengan senyum lembut, berjongkok di hadapannya agar sejajar.
Anak itu mengangguk kaku. "Minta tolong apa, Kak?"
Aku menunjuk ke arah lapak mainan Rendi di kejauhan. "Kamu lihat Kakak cowok yang jualan mainan di atas terpal biru itu?"
Anak itu menyipitkan matanya. "Iya, kelihatan. Yang jual pedang-pedangan nyala kan?"
"Iya, betul," aku menyodorkan uang dua ratus lima puluh ribu itu ke tangan anak tersebut, lalu menambahkan satu lembar pecahan lima puluh ribu lagi ke genggamannya. "Ini uang buat kamu. Yang lima puluh ribu ini, buat jajan kamu sendiri malam ini sebagai upah karena udah nolong Kakak. Tapi yang dua ratus lima puluh ribu ini... Kakak minta tolong, kamu beliin semua mainan yang ada di lapak Kakak cowok itu."
Anak kecil itu terperangah. "Beli semuanya, Kak? Terus mainannya buat siapa?"
"Buat kamu aja, atau kamu bagi-bagiin ke teman-temanmu di jalanan," jawabku cepat. Hatiku bergemuruh. "Tapi ada syaratnya."
"Syaratnya apa, Kak?" tanyanya lugu.
"Kamu ke sana, kasih uang ini, dan bilang kalau kamu mau borong semua mainannya. Kalau Kakak cowok itu nanya dari mana kamu punya uang sebanyak ini, kamu harus bohong," pesanku dengan suara bergetar, menahan tangis yang mendesak. "Kamu bilang, uang ini hasil kamu nabung mulung selama setahun, dan kamu mau beli mainan itu buat hadiah ulang tahun adik-adik kamu di panti atau di jalanan. Jangan sampai kamu sebut ada Kakak perempuan yang nyuruh kamu. Ngerti?"
Anak itu menatap uang di tangannya, lalu menatapku. Insting anak jalanannya mungkin menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita ber-hoodie hitam ini, namun imbalan lima puluh ribu rupiah terlalu besar untuk dilewatkan.
"Ngerti, Kak! Bilang uang tabungan buat adik-adik, kan? Siap!" balasnya dengan semangat.
"Ingat ya, Dek. Kalau dia nanya kembalian, kamu bilang aja: 'Ambil aja kembaliannya, Bang, buat nambah rezeki abang'. Ya?"
Anak itu mengangguk mantap, memasukkan uang lima puluh ribu miliknya ke dalam saku celana bututnya, lalu berlari kecil menuju lapak Rendi.
Aku kembali menarik maskerku, menempelkan tubuhku ke batang pohon besar, dan mengamati interaksi mereka dari kejauhan dengan jantung yang berdetak seolah ingin melompat keluar dari rongga dadaku.
Dari jarak lima meter, aku bisa mendengar samar-samar percakapan mereka, dibantu oleh sepinya area pinggiran tersebut.
Anak pemulung itu berdiri di depan lapak Rendi. Rendi yang sedang menundukkan kepala langsung mendongak. Melihat anak pemulung itu, wajah Rendi seketika melembut. Tidak ada raut dingin atau datar seperti yang biasa ia tunjukkan pada pembeli dewasa yang mengesalkan. Ia melihat refleksi dari penderitaan yang sama di mata anak itu.
"Kenapa, Dek? Mau mainan?" tanya Rendi dengan suara yang sangat, sangat lembut. Suara yang tak pernah ia gunakan padaku. "Abang nggak bisa kasih gratis, tapi kalau kamu mau yang ini, Abang kasih diskon." Rendi menunjuk sebuah baling-baling bambu.
Anak pemulung itu menggeleng kuat-kuat. Sesuai instruksiku, ia meletakkan uang dua ratus lima puluh ribu itu di atas terpal di depan Rendi.
"Aku mau borong semua mainan Abang!" seru anak itu lantang.
Rendi tersentak. Matanya melebar sempurna menatap tiga lembar uang dengan nominal besar di atas terpalnya. Ia menatap anak itu dengan kening berkerut dalam, curiga sekaligus terkejut. "Uang dari mana ini, Dek? Kamu nggak nyuri kan?"
"Enggak, Bang! Sumpah!" anak itu memainkan perannya dengan sangat baik, meski ia sempat melirik gugup ke arah pepohonan tempatku bersembunyi. "Ini uang hasil aku mulung setahun penuh. Aku... aku mau beli semua mainan ini buat bagi-bagiin ke adik-adikku... eh, adik-adik jalanan yang lain. Buat hadiah."
Mendengar kata 'adik', bahu Rendi seketika menegang. Pertahanannya runtuh dengan cara yang paling halus. Mata kelamnya yang kelelahan menatap anak kecil berkulit legam di depannya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Ada haru, ada kepedihan, dan ada sebuah rasa hormat yang luar biasa besar pada sosok kecil yang rela menghabiskan tabungan setahunnya demi kebahagiaan adik-adiknya—sebuah perjuangan yang sangat ia pahami.
"Kamu yakin, Dek?" tanya Rendi dengan suara yang mendadak parau. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Uang ini besar banget. Kamu bisa pakai buat makan enak berminggu-minggu."
"Yakin, Bang! Adik-adikku pengen banget punya pedang nyala," jawab anak itu gigih. "Mainannya aku masukin karung goniku ya, Bang."
Rendi tidak menjawab. Tangan kasarnya yang gemetar perlahan memunguti mainan-mainan itu, lalu memasukkannya dengan sangat hati-hati ke dalam karung goni kotor milik sang anak. Ada sekitar lima belas mainan tersisa, dan total harganya sebenarnya tidak sampai seratus lima puluh ribu.
Setelah semua mainan masuk ke dalam karung, Rendi mengambil uang dua ratus lima puluh ribu itu. Ia merogoh tas pinggangnya, bermaksud mencari uang kembalian.
"Totalnya cuma seratus tiga puluh ribu, Dek. Ini kembaliannya," Rendi mengulurkan beberapa lembar uang puluh ribuan.
Anak itu menggeleng mundur. "Ambil aja kembaliannya, Bang, buat nambah rezeki Abang. Kata adikku, orang baik harus dibales baik. Makasih ya, Bang!"
Setelah mengucapkan kalimat pamungkas itu, sang anak langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkannya, membawa karung goni berisi mainan itu menghilang ke dalam keramaian pasar malam.
Rendi mematung. Tangannya yang masih memegang uang kembalian itu terhenti di udara. Ia menatap kepergian anak pemulung itu dengan pandangan kosong.
Dari balik pohon, aku membekap mulutku menahan isak tangis yang kembali mendesak. Aku berhasil. Aku berhasil memberinya uang tanpa melukai harga dirinya.
Aku melihat bagaimana Rendi perlahan menarik tangannya. Ia menunduk menatap lembaran uang seratus ribu di tangannya. Tiba-tiba, bahu tegapnya yang selalu kokoh memikul dunia itu berguncang hebat.
Rendi menundukkan wajahnya dalam-dalam hingga menyentuh lututnya. Ia tidak mengeluarkan suara apa pun, namun aku tahu ia sedang menangis. Ia menangis karena merasa terharu, karena merasa semestanya baru saja memberinya keajaiban melalui tangan seorang anak pemulung. Ia menangis karena ia sadar, besok pagi ia bisa membelikan sekotak susu cokelat yang lezat dan nasi ayam hangat untuk Nanda, tanpa harus bekerja hingga tulang punggungnya patah malam ini.
Melihatnya menangis dalam kelegaan, dadaku terasa begitu penuh. Rasanya jauh lebih melegakan daripada saat aku mendapat nilai sempurna di sekolah. Inilah bentuk cinta yang paling murni yang bisa kuberikan padanya. Cinta yang bekerja dalam senyap, yang tak menuntut pelukan atau ucapan terima kasih.
"Kau menangis lega di atas aspal kotor malam ini, Rendi. Kau mengira Tuhan mengirimkan anak pemulung itu sebagai malaikat penolongmu. Padahal, ada seorang gadis bodoh di balik pohon yang rela menukar seluruh hartanya hanya untuk melihat bahumu berhenti bergetar karena lelah. Menangislah, Ksatria. Malam ini, biar aku yang membeli air matamu." (Buku Harian Keyla, Halaman 78)
Sekitar sepuluh menit kemudian, Rendi akhirnya mengangkat wajahnya. Ia mengusap matanya dengan kasar menggunakan lengan kausnya. Ia melipat terpal biru tipisnya dengan cepat, membereskan lapaknya yang kini telah kosong melompong.
Ia memasukkan terpal itu ke dalam ransel bututnya, menyelempangkannya di bahu, dan berjalan menuju tempat parkir motor yang terletak di bagian belakang lapangan. Langkah kakinya tak lagi terseret. Ada sedikit semangat yang kembali mengaliri nadinya.
Aku mengikutinya diam-diam dari jarak aman.
Rendi menuju sebuah motor bebek tua yang knalpotnya berkarat. Namun sebelum ia menyalakan mesinnya, ia mampir ke sebuah warung nasi Padang tenda di dekat parkiran. Ia membeli dua bungkus nasi dengan lauk ayam bakar—makanan mewah yang mungkin jarang sekali ia cicipi—dan menyimpannya dengan sangat hati-hati di dalam plastik putih.
Aku tahu, bungkus nasi itu adalah untuk dirinya dan untuk Nanda yang pasti sedang menunggunya di panti asuhan, atau yang akan ia kunjungi besok pagi.
Saat mesin motor tuanya meraung menembus malam, aku berhenti melangkah. Aku menatap lampu merah dari knalpot motornya yang perlahan menghilang ditelan kegelapan jalan raya.
Angin malam kembali berembus dingin, namun hatiku terasa sangat hangat. Malam ini, aku telah menjadi sosok penipu yang paling bahagia di dunia.
Ponselku kembali bergetar di saku jeans-ku. Indra menelepon lagi. Kali ini, aku membiarkan panggilannya tak terjawab.
Maafkan aku, Indra. Duniamu terlalu terang untukku yang telah jatuh cinta pada kegelapan ini. Siska bisa terus mencercaku, Deandra bisa terus menghinanya, namun tak ada satu pun dari mereka yang tahu betapa indahnya rasanya melihat senyum lega terukir di wajah seorang gunung es yang kelelahan.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik