Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Yang Chen mulai makan.
Dia mengambil nasi putih, mencelupkannya ke dalam kuah kental itu sampai nasinya basah kuyup, lalu memakannya. Karbohidrat bertemu lemak. Kombinasi sempurna untuk memulihkan energi dengan cepat.
Lalu dagingnya. Dia mengambil sepotong tulang iga. Dia menggigit daging yang sudah lunak itu. Serat daging sapi itu hancur dengan mudah di antara giginya.
Yang Chen mengunyahnya tiga puluh kali.
Satu... dua... tiga...
Dia menghitung setiap kunyahan. Dia harus menghancurkan makanan ini menjadi bubur halus sebelum menelannya. Ususnya terlalu lemah untuk mencerna potongan daging besar. Jika dia makan terlalu cepat, dia akan muntah atau diare, dan semua uang ini akan sia-sia.
Orang-orang di meja sebelah makan dengan rakus, menelan daging besar-besar. Tapi Yang Chen makan dengan keanggunan yang aneh. Punggungnya tegak, gerakannya efisien, kunyahannya ritmis. Meskipun wajahnya kotor dan bajunya bau, cara dia memegang sendok dan tulang itu memancarkan aura bangsawan yang tak bisa ditutupi.
Mangkuk pertama nasi habis. Keringat mulai bercucuran di dahi Yang Chen.
Ini bukan keringat sakit, ini keringat metabolisme. Tubuhnya mulai memproduksi panas. Pori-porinya terbuka, membuang racun dingin yang menumpuk selama dia tidur di gubuk basah.
Mangkuk kedua nasi habis. Dia mulai merasa kenyang, tapi dia memaksa dirinya menghabiskan mangkuk ketiga.
Dia menyesap kuah terakhir sampai mangkuknya kering dan bersih, seolah baru dicuci.
Yang Chen meletakkan sendoknya. Dia duduk diam selama lima belas menit, membiarkan proses pencernaan awal berlangsung. Dia memusatkan pikirannya ke perut, membayangkan energi dari makanan itu menyebar ke seluruh tubuh, memperbaiki sel-sel otot yang rusak, menambal tulang rusuk yang retak.
"Energi telah pulih 10%," estimasinya.
Dia masih lemah, tapi tidak lagi sekarat.
Pelayan datang membawa segenggam koin tembaga kembalian. "Ini, Tuan. 50 keping."
Yang Chen menyapu koin-koin itu ke dalam sakunya. Bunyi gemerincing tembaga bergabung dengan emas dan perak.
Dia berdiri. Kali ini, kakinya terasa lebih mantap. Pusing di kepalanya sudah hilang 80%.
"Terima kasih," katanya singkat, lalu berjalan keluar.
Kembali ke jalanan pasar. Matahari sudah mulai condong ke barat. Dia punya waktu sekitar dua jam sebelum toko-toko tutup.
Target kedua: Kamuflase.
Jubah pelayan istana yang dia pakai ini adalah masalah. Pertama, warnanya abu-abu kusam khas budak. Kedua, bahannya tipis dan tidak melindungi dari angin malam. Ketiga, ada lambang kecil "Istana Besi" yang dibordir di kerahnya. Jika patroli kota melihatnya, dia bisa ditangkap karena dikira budak pelarian.
Dia harus menggantinya.
Yang Chen tidak pergi ke toko pakaian di jalan utama. Dia mencari di gang-gang sempit di belakang pasar. Dia mencari toko pakaian bekas atau pegadaian.
Dia menemukan sebuah toko kecil yang suram di ujung gang buntu. Di depannya tergantung berbagai macam pakaian bekas: jubah kulit yang sudah retak, baju zirah berkarat, dan jubah-jubah kain yang warnanya sudah pudar.
Pemilik toko adalah seorang nenek tua bermata satu yang sedang merokok pipa panjang.
Yang Chen mendekat. Dia menunjuk sebuah jubah panjang berwarna hitam pekat yang tergantung di pojok. Bahannya dari kain linen kasar yang tebal—jenis yang biasa dipakai oleh pengelana atau tentara bayaran rendahan untuk menahan angin dan hujan. Ada tudung kepala (hoodie) yang besar.
"Berapa harga jubah hitam itu?" tanya Yang Chen.
Nenek itu menyipitkan mata satunya, menatap penampilan Yang Chen dari atas ke bawah.
"Lima puluh keping tembaga," jawabnya dengan suara parau. "Tidak boleh kurang."
Itu harga yang mahal untuk barang bekas. Mungkin harga aslinya cuma dua puluh. Nenek itu jelas menaikkan harga karena melihat Yang Chen tampak butuh.
Yang Chen tidak menawar. Menawar butuh waktu dan energi bicara. Dia merogoh sakunya, mengambil semua kembalian dari kedai makan tadi. Pas 50 keping.
Dia meletakkan tumpukan koin tembaga itu di meja kayu yang berdebu.
"Aku ambil," katanya.
Nenek itu tampak sedikit kecewa karena tidak ada tawar-menawar yang bisa dia menangkan, tapi dia segera menyapu uang itu. "Ambil sendiri."
Yang Chen mengambil jubah itu. Kainnya kasar di tangan, berat, dan berbau kapur barus tua. Tapi tidak ada lubang. Jahitannya masih kuat.
"Apakah ada tempat untuk berganti?" tanya Yang Chen.
Nenek itu menunjuk ke balik tirai kain lusuh di belakang toko. "Jangan lama-lama. Dan jangan mencuri apapun di belakang sana."
Yang Chen masuk ke balik tirai. Itu adalah gudang kecil yang gelap.
Dia dengan cepat melepas jubah pelayan istananya yang menjijikkan. Saat kain kotor itu lepas dari kulitnya, dia merasa seolah melepaskan lapisan kulit mati. Udara dingin menyentuh kulitnya yang penuh luka dan memar.
Dia melihat tubuhnya sendiri dalam keremangan. Tulang rusuknya menonjol jelas. Ada bekas luka cambuk lama di punggungnya—hadiah dari masa lalu Zhao Wei.
"Jelek sekali," komentarnya dingin.
Dia tidak membuang jubah pelayan itu. Dia merobek bagian yang ada lambang istananya, lalu menggunakan sisa kainnya untuk mengelap tubuhnya, membersihkan sisa lumpur kering dan darah di kulitnya. Itu mandi kering darurat. Tidak sempurna, tapi cukup untuk menghilangkan lapisan kotoran terluar.
Setelah agak bersih, dia mengenakan jubah hitam barunya.
Jubah itu kebesaran untuk tubuh kurusnya. Panjangnya sampai ke mata kaki, dan lengan bajunya menutupi setengah telapak tangannya.
Tapi itu sempurna.
Dia menaikkan tudung kepalanya. Bayangan tudung itu menutupi wajah bagian atasnya, menyembunyikan matanya yang tajam dan wajahnya yang kotor.
Sekarang, dia tidak lagi terlihat seperti budak pelarian yang menyedihkan. Dia terlihat seperti seorang kultivator pengelana misterius yang miskin, atau seorang pembunuh bayaran pemula. Sosok yang umum di dunia persilatan, sosok yang orang-orang cenderung hindari karena tidak ingin cari masalah.
Yang Chen keluar dari balik tirai.
Nenek itu mendongak, sedikit terkejut dengan transformasi itu. Bocah gembel tadi sudah hilang, digantikan oleh sosok berjubah hitam yang memancarkan aura suram dan berbahaya.
"Jubah lamamu?" tanya nenek itu, melirik kain kotor di tangan Yang Chen.
"Bakar saja," kata Yang Chen. Dia melemparkan kain kotor itu ke tumpukan sampah di sudut.
Dia melangkah keluar dari toko, kembali ke gang sempit.
Langkah kakinya tidak lagi berbunyi srek-srek seretan. Dengan perut terisi dan tubuh terlindung kain tebal, langkahnya menjadi lebih ringan. Jubah hitam itu berkibar pelan di belakangnya saat dia berjalan melawan angin sore.
Dua kebutuhan dasar terpenuhi: Pangan dan Sandang.
Sekarang tinggal satu. Yang paling krusial dan paling mahal.
Kesehatan.
Dia butuh memperbaiki Dantian-nya. Atau jika itu mustahil sekarang, setidaknya dia harus membuka sumbatan meridiannya agar bisa mulai menyerap Qi alam walau sedikit. Tanpa Qi, dia hanya akan selamanya menjadi manusia biasa yang rentan mati ditusuk pisau dapur.
Yang Chen meraba sepuluh keping emas di dadanya.
"Mari kita lihat apakah apotek di kota pinggiran ini punya bahan yang kubutuhkan," bisiknya dari balik tudung hitam.
Dia berjalan menuju distrik selatan, tempat aroma jamu pahit mulai tercium di udara.