Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Ambisi dan Hati
Seoul tidak pernah tidur bagi mereka yang mengejar mimpi, dan bagi Matteo Adrian Reins Smith, mimpi itu telah mewujud menjadi sebuah ekosistem digital bernama M-Nexus. Perusahaan ini sebuah raksasa teknologi yang produknya kini menjadi standar gaya hidup masyarakat Seoul. Dari ponsel pintar dengan desain minimalis yang elegan hingga sistem keamanan rumah yang terintegrasi, M-Nexus adalah raja baru di pasar domestik.
Awalnya, kemunculan Matteo enam tahun lalu ditentang keras oleh para tetua Chaebol tradisional. Mereka mencibir Matteo sebagai orang luar yang mencoba mengusik tanah kelahiran mereka.
Namun, mulut mereka seketika bungkam saat mengetahui Matteo adalah lulusan terbaik dari fakultas teknik paling bergengsi di Korea, ditambah pengaruh kakeknya—ayah dari Lee Young-ae—seorang taipan properti lama yang sangat disegani.
Kakeknya adalah perisai yang membuat para pesaing tidak berani menyentuh M-Nexus saat perusahaan itu masih merintis. Kini, setelah enam tahun berdiri kokoh dengan grafik saham yang terus meroket, tidak ada lagi yang berani mempertanyakan dominasi Matteo.
Berbeda dengan Mark yang memilih jalur klasik di Oxford, Matteo memilih Seoul untuk mengasah otaknya. Ia tidak hanya fasih berbahasa Korea, tapi ia memahami budaya dan ritme kerja kota ini dengan sempurna. Baginya, M-Nexus adalah anak pertamanya, sebuah pembuktian yang ia bangun dengan presisi yang gila.
Di sisi lain kota, di sebuah kafe privat yang tenang di daerah Hannam-dong, Park Chae-young sedang menghadapi tantangan terbesar dalam karier profesionalnya. Di depannya duduk seorang wanita paruh baya berkebangsaan Prancis dengan aura otoritas yang sangat kuat. Wanita itu adalah perwakilan dari Chan-elle, rumah mode legendaris dari Paris.
"Nona Park, koleksi Forever-Young Anda adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat dalam satu dekade terakhir. Unik, berani, namun tetap memiliki sentuhan keanggunan klasik," ucap wanita itu dalam bahasa Inggris yang kental dengan aksen Paris. "Kami sudah bersusah payah mencari kontak pribadi Anda. Kami ingin Anda menjadi desainer tamu untuk koleksi Global Cruise musim depan."
Chae-young menyesap tehnya dengan tenang, matanya yang cerdas menatap dokumen kontrak yang tergeletak di meja. Sebagai lulusan terbaik jurusan seni dengan gelar S2, bahasa Inggris bukan lagi kendala baginya. Ia membalas tatapan wanita itu dengan tatapan yang setara—bukan sebagai pemohon, tapi sebagai rekan bisnis.
"Tawaran ini sangat luar biasa, Madam. Chan-elle adalah impian setiap desainer," sahut Chae-young dalam bahasa Inggris yang fasih dan jernih, membuat perwakilan Paris itu terkesan.
"Maka dari itu, kami ingin Anda menandatanganinya segera. Kami ingin membawa Anda ke Paris untuk memulai proses kreatif bulan depan," desak wanita itu dengan nada memohon yang halus.
Chae-young terdiam. Pikirannya seketika melayang ke apartemennya, tempat Chan-yeol dan Chae-rin mungkin sedang berebut mainan. Jika ia menerima ini, ia harus tinggal di Paris selama berbulan-bulan. Atau jika ia menetap di Seoul, jadwalnya akan meledak, membuatnya kehilangan momen-momen berharga saat kedua anaknya tumbuh. Kenangan pahit lima tahun lalu yang merenggut ayahnya membuatnya trauma akan kehilangan waktu bersama orang tersayang.
"Madame, tolong berikan saya waktu untuk berpikir dulu. Ini adalah keputusan besar yang melibatkan banyak pihak di hidup saya," ucap Chae-young dengan suara yang tetap tenang meski hatinya sedang berkecamuk.
"Kami akan menunggu, tapi jangan terlalu lama, Nona Park. Dunia mode tidak pernah berhenti berputar," balas wanita itu sebelum akhirnya berpamitan.
Sore harinya, Matteo sedang meninjau unit toko konsep M-Nexus di sebuah mall elit. Ia berjalan dengan langkah tegap, didampingi oleh Soo-hyun yang mencatat setiap instruksinya. Tanpa ia sengaja, langkahnya membawanya melewati sebuah butik dengan kaca transparan yang memperlihatkan koleksi gaun yang sangat artistik.
Matteo berhenti. Matanya menangkap papan nama kecil di sudut toko: Forever-Young.
Ia teringat instruksinya pada Soo-hyun tadi pagi untuk mencari tahu tentang butik ini. Namun, sebelum ia sempat bertanya, matanya menangkap sosok wanita yang sedang berbicara serius dengan salah satu staf di dalam butik. Wanita itu adalah wanita yang sama yang ia temui kemarin di trotoar—wanita yang ia anggap memiliki mata terasa sangat familiar.
Chae-young yang sedang sibuk mendadak merasa seolah ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh ke arah kaca butiknya dan jantungnya seketika mencelos. Di luar sana, berdiri pria bernama Matteo itu. Pria yang wajahnya menghantuinya sepanjang malam karena kemiripannya dengan putranya.
Matteo tidak pergi. Ia justru melangkah masuk ke dalam butik, membuat lonceng pintu berdenting kecil. Kehadirannya yang dominan seketika mengubah atmosfer butik yang tadinya tenang menjadi penuh ketegangan.
"Selamat datang di Forever-Young, Tuan," sapa seorang staf dengan gugup.
Matteo tetap melangkah dengan aura yang sanggup membekukan ruangan. Ia tidak menjawab sapaan ramah dari staf butik, kakinya terus melangkah tegap dengan tangan yang sesekali menyentuh material kain di gantungan, diikuti oleh Soo-hyun yang menjaga jarak tepat dua langkah di belakangnya.
Chae-young yang baru saja selesai dengan urusan klien Paris-nya, mendadak membeku. Mimpi gila semalam—di mana pria ini muncul dalam kegelapan—kini mewujud menjadi sosok nyata yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Dunianya seolah jungkir balik.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya Chae-young. Suaranya terdengar stabil, sebuah hasil latihan profesional selama bertahun-tahun, meski sebenarnya ia sedang menutupi rasa gugup yang luar biasa hingga jemarinya terasa dingin.
Matteo berhenti melangkah. Menatap Chae-young dengan tatapan yang datar—benar-benar sedatar papan triplek tanpa ekspresi sedikit pun. Mata biru lautnya yang jernih seolah sedang memindai setiap inci wajah Chae-young, mencari sesuatu di dalam ingatannya yang masih terkunci.
"Tidak ada," ucap Matteo datar. Suaranya berat dan teratur, bergema di antara deretan manekin. "Hanya saja aku merasa pernah bertemu denganmu. Tapi entahlah, itu di mana."
Jantung Chae-young mencelos. Bertemu? Bertemu di mana? Pikirannya berteriak histeris, namun wajahnya tetap tenang seperti permukaan air di musim dingin. Ia tetap menatap pria di hadapannya dengan tatapan profesional, menyembunyikan fakta bahwa ia merasa baru saja melihat versi dewasa dari putra sulungnya sendiri.
Matteo terus memperhatikan. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata CHae-young. Tiba-tiba, memori tentang trotoar di depan galeri tempo hari melintas. Sosok dua anak kecil yang wajahnya sempat membuatnya tertegun karena kemiripan yang aneh.
"Di mana anak kecil yang bersama dengan Anda, Nona?" tanya Matteo tiba-tiba. Pertanyaan itu lugas, tanpa basa-basi, dan sangat mengintimidasi.
Chae-young tersentak. Insting seorang ibu langsung menyala di dalam dirinya—insting untuk melindungi. Apa-apaan pria ini? Baru bertemu secara resmi sudah langsung menanyakan keberadaan anak-anaknya. Ia merasa rahasia terbesarnya sedang dikuliti hidup-hidup.
"Anak? Anak yang mana yang Tuan maksud?" tanya Chae-young, mencoba berpura-pura bingung sambil merapikan tumpukan katalog di meja.
"Anak di depan galeri tempo hari itu. Itu Anda, kan?" Matteo melangkah satu tindak lebih dekat, membuat bayangan tubuhnya yang tinggi menelan sosok Chae-young.
Chae-young menarik napas pendek. "Ah, mungkin Anda salah lihat, Tuan."
Matteo terdiam sejenak, menatap Chae-young lebih dalam seolah sedang mendeteksi kebohongan melalui denyut nadi di leher wanita itu.
"Oh ya? Baiklah," ucap Matteo pendek. Tanpa kata pamit, ia berbalik dan melangkah keluar dari butik sesingkat ia masuk tadi. Soo-hyun membungkuk sekilas pada Chae-young sebelum menyusul tuannya.
Begitu lonceng pintu berdenting menandakan kepergian mereka, Chae-young lemas. Ia harus berpegangan pada pinggiran meja jati agar tidak jatuh terduduk. Napasnya tersengal-sengal.
"Warna mata itu..." bisiknya dengan suara bergetar.
Mata biru itu. Warna biru yang unik, dalam, dan tajam. Warna yang sama persis dengan warna mata Chan-yeol dan Chae-rin. Selama ini Chae-young selalu bertanya-tanya, dari mana anak-anaknya mendapatkan warna mata itu padahal dia adalah orang Korea asli. Kini, jawaban itu berdiri tepat di depannya dalam wujud seorang pria bernama Matteo.
Pria itu benar-benar wujud Chan-yeol versi dewasa, pikirnya ngeri.
Chae-young menepis kasar pikiran itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, tidak mungkin. Ini hanya kebetulan. Banyak orang asing di dunia ini yang bermata biru. Park Chae-young, jangan gila! Jangan biarkan mimpi itu merusak logikamu!"
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu. Ada sebuah tarikan tak kasat mata yang mulai menghubungkan titik-titik kelam dari malam lima tahun lalu. Sementara itu, di dalam mobil mewahnya, Matteo duduk terdiam sambil menatap keluar jendela.
"Soo-hyun," panggil Matteo tanpa menoleh.
"Ya, Tuan?"
"Cari tahu profil lengkap wanita tadi. Pendidikan, keluarga, dan status pernikahannya. Aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi."
Matteo merasa ada sesuatu yang tidak beres. Wanita itu jelas-jelas berbohong. Dan jika ada satu hal yang paling dibenci Matteo di dunia ini, itu adalah kebohongan—terutama kebohongan yang melibatkan fragmen ingatannya yang hilang.
Di bawah langit Seoul yang mulai menggelap, dua orang yang melarikan diri dari masa lalu kini sadar bahwa pelarian mereka baru saja berakhir di sebuah persimpangan yang sama.