NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: SINGA BETINA DAN BUAIAN BAYI

Suasana di rumah besar Menteng kini telah berubah drastis. Suara ketukan palu renovasi telah digantikan oleh celoteh lembut dan tangisan kecil Arya di tengah malam. Bagi Larasati, setiap jam tidur yang hilang adalah lencana kehormatan baru yang ia kenakan dengan bangga. Namun, di balik dinding rumah yang tenang itu, dunia bisnis Jakarta sedang bergejolak. Absennya Larasati selama tiga bulan masa pemulihan dianggap oleh sebagian pesaingnya sebagai celah kelemahan.

Pagi itu, Larasati duduk di ruang makan dengan menggendong Arya di tangan kiri, sementara tangan kanannya menggeser layar tablet yang menampilkan grafik saham Hardianto Group yang sedikit fluktuatif. Ia hanya mengenakan daster sutra yang nyaman, rambutnya diikat asal, jauh dari citra CEO dingin yang selama ini dikenal publik.

"Laras, biarkan aku yang memegang Arya. Kamu makanlah dulu," ucap Baskara yang baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kantor yayasan.

Larasati tersenyum tipis, menyerahkan bayi mungil itu ke pelukan Baskara. "Dia baru saja tenang, Baskara. Jangan sampai kamu membuatnya menangis lagi dengan aroma kopimu itu."

"Aroma kopi ini adalah aroma kerja keras, Nak," canda Baskara sambil mencium pipi Arya. Namun, wajahnya kemudian berubah serius saat menatap tablet Larasati. "Aditama meneleponku tadi subuh. Dia bilang ada gerakan dari faksi lama Tuan Kusuma. Mereka mencoba melakukan hostile takeover (pengambilalihan paksa) terhadap salah satu anak perusahaan kita di bidang logistik."

Larasati menyesap teh jahenya, matanya berkilat tajam—sebuah tatapan yang menunjukkan bahwa singa betina dalam dirinya belum tidur. "Mereka pikir karena aku baru saja melahirkan, otakku telah berubah menjadi susu bayi? Mereka salah besar, Baskara."

Siang harinya, Larasati memutuskan untuk kembali ke kantor pusat untuk pertama kalinya sejak kelahiran Arya. Ia tidak datang sendirian. Dengan kereta bayi yang elegan dan didampingi oleh dua perawat serta tim keamanan ketat, Larasati melangkah masuk ke lobi gedung Hardianto Group.

Kehadirannya mengejutkan semua orang. Para karyawan yang tadinya berbisik-bisik tentang masa depan perusahaan langsung terdiam saat melihat Sang Ratu kembali, tidak dengan senjata, melainkan dengan buah hatinya.

Di ruang rapat utama, para dewan direksi sudah menunggu. Di ujung meja, duduk Tuan Hendrawan, mantan tangan kanan Tuan Kusuma yang entah bagaimana berhasil meloloskan diri dari jeratan hukum tahun lalu. Ia tampak sangat percaya diri, seolah-olah kursi kepemimpinan sudah berada dalam genggamannya.

"Selamat atas kelahiran putra Anda, Nona Larasati," ucap Hendrawan dengan senyum kepalsuan yang sangat kental. "Tapi kami pikir, di masa-masa seperti ini, Anda pasti lebih ingin menghabiskan waktu di kamar bayi daripada di ruang rapat yang penuh asap ini. Kami di sini siap membantu 'meringankan' beban Anda."

Larasati meletakkan tas bayinya di atas meja rapat yang mahal itu—sebuah tindakan simbolis yang menunjukkan bahwa hidup pribadinya dan tanggung jawabnya kini tak terpisahkan. Ia duduk di kursi utama, memberikan isyarat kepada Aditama untuk memulai presentasi.

"Tuan Hendrawan, terima kasih atas perhatian Anda yang begitu 'tulus'," balas Larasati dengan nada bicara yang sangat tenang namun sanggup membekukan suasana. "Tapi saya harus mengingatkan Anda satu hal. Memiliki anak justru membuat saya lebih peduli pada masa depan perusahaan ini. Karena sekarang, saya tidak hanya memimpin untuk hari ini, tapi untuk warisan putra saya dua puluh tahun ke depan."

Larasati kemudian membuka sebuah map hitam. "Saya sudah meninjau pergerakan saham yang Anda lakukan di belakang layar selama saya di rumah sakit. Pembelian saham melalui perusahaan cangkang di Panama? Itu trik lama Tuan Kusuma, Hendrawan. Sangat membosankan."

Wajah Hendrawan sedikit memucat. "Itu... itu hanya investasi strategis, Nona."

"Strategis atau ilegal?" Larasati mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya sudah menyerahkan bukti-bukti transaksi tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan pagi ini. Jika Anda pikir kehamilan membuat intuisi saya tumpul, Anda baru saja melakukan kesalahan fatal dalam karier Anda. Saya memberikan Anda dua pilihan: mengundurkan diri secara terhormat sekarang juga dan menjual kembali saham tersebut ke yayasan dengan harga pasar, atau menghadapi audit investigasi yang akan menyeret Anda ke sel yang sama dengan Adrian Wijaya."

Ruangan itu hening seketika. Para direktur lainnya saling berpandangan. Mereka melihat kekuatan yang lebih besar di diri Larasati sekarang. Ia bukan lagi wanita yang bergerak karena dendam, tapi wanita yang bergerak untuk melindungi dunianya.

Hendrawan mencoba mencari pembelaan, namun saat ia melihat tatapan dingin Aditama dan tumpukan dokumen yang sudah disiapkan, ia menyadari bahwa ia telah kalah sebelum sempat bertarung. Ia berdiri, merapikan jasnya dengan tangan gemetar, dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.

Setelah rapat berakhir, Larasati kembali ke ruang kerjanya. Arya sedang tertidur pulas di dalam stroller di sudut ruangan yang sudah disulap menjadi area bayi yang higienis. Baskara masuk membawa makan siang untuk istrinya.

"Aditama baru saja memberitahuku. Kamu baru saja menghancurkan faksi Hendrawan hanya dalam waktu tiga puluh menit?" Baskara menggelengkan kepala, kagum.

Larasati bersandar di kursinya, merasa sedikit lelah namun puas. "Mereka meremehkan seorang ibu, Baskara. Mereka pikir kasih sayang itu membuat kita lemah, padahal itu adalah bahan bakar yang paling kuat. Aku tidak akan membiarkan ular-ular itu menyentuh apa yang akan menjadi milik Arya kelak."

Baskara duduk di sampingnya, memegang tangan Larasati. "Kamu hebat, Laras. Tapi ingat pesan dokter, jangan terlalu memaksakan diri. Perusahaan bisa menunggu, tapi masa-masa awal Arya ini tidak akan terulang."

"Aku tahu, Sayang. Besok aku akan kembali bekerja dari rumah. Aku hanya perlu menunjukkan pada mereka hari ini siapa yang memegang kendali," jawab Larasati sambil menatap Arya.

Sore itu, sebelum pulang, Larasati menerima tamu yang tidak terduga di kantornya. Ibu Rahayu datang bersama sopirnya. Wanita tua itu tampak sangat bahagia bisa melihat cucunya di lingkungan kantor.

"Nak Laras," ucap Ibu Rahayu sambil menggendong Arya dengan penuh kasih sayang. "Ibu bangga padamu. Ibu dengar kamu tadi sangat tegas di rapat. Tapi Ibu juga melihat kamu tetap menjadi ibu yang lembut. Itulah keseimbangan yang tidak pernah dimiliki oleh keluarga Pratama dulu."

"Terima kasih, Ibu. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik," jawab Larasati.

"Ibu datang juga ingin menyampaikan pesan dari penjara," suara Ibu Rahayu merendah. "Ibu baru saja menjenguk Adrian. Dia titip pesan untukmu. Dia bilang... dia sudah mendengar tentang manuver Hendrawan, dan dia memberikan akses ke kunci digital brankas rahasia Kusuma yang masih dia pegang. Dia bilang, gunakan itu untuk mematikan sisa-sisa pengikut Kusuma agar mereka tidak mengganggumu lagi."

Larasati tertegun. "Adrian memberikan itu? Tanpa syarat?"

"Syaratnya hanya satu, Laras," lanjut Ibu Rahayu. "Dia ingin suatu hari nanti, jika Arya sudah besar, jangan ceritakan tentang paman yang jahat. Ceritakan tentang paman yang tersesat namun berusaha membantu keluarganya dari balik jeruji."

Larasati meneteskan air mata. Perjalanan pengampunan ini ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Adrian, pria yang dulu ingin menghancurkannya, kini menjadi informan rahasia yang melindunginya dari balik tembok penjara.

Malam harinya, di rumah Menteng, Larasati dan Baskara duduk di kamar bayi. Arya sudah tidur nyenyak setelah disusui. Larasati memegang kunci digital yang diberikan Adrian melalui Ibu Rahayu.

"Dunia ini penuh dengan kejutan, ya Baskara?" gumam Larasati. "Dulu kita bersiasat untuk menjatuhkan mereka. Sekarang, kita bersatu untuk menjaga apa yang benar."

Baskara memeluk Larasati. "Karena kita sudah tidak lagi hidup dalam siasat, Laras. Kita hidup dalam kebenaran. Dan kebenaran itu memiliki gravitasinya sendiri untuk menarik orang-orang yang tersesat kembali ke jalan yang benar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!