Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah Menuju Sarang Iblis
Episode 32
Perjalanan di dalam kegelapan Hutan Binatang Buas Azure berlanjut dengan ritme yang mencekam. Setiap langkah yang diambil oleh Gu Sheng kini tidak lagi sekadar perpindahan posisi, melainkan pernyataan dominasi atas alam liar. Di belakangnya, Qing Er mengikuti dengan langkah yang lebih ringan, namun tetap waspada. Udara malam yang dingin terasa bergetar setiap kali aura ungu Gu Sheng bersentuhan dengan kabut hutan, menciptakan fenomena aneh di mana lumut dan tanaman kecil di jalur yang mereka lalui tumbuh dengan sangat cepat sebelum akhirnya layu dan mengering karena energi kehidupan yang disedot kembali.
Malam semakin larut, dan sinar rembulan perak kini tertutup oleh awan tebal, meninggalkan hutan dalam kegelapan yang nyaris absolut. Namun, bagi Gu Sheng, kegelapan ini bukanlah penghalang. Melalui Gerbang Pertama (Kai Men) yang telah terbuka sempurna di kepalanya, dunia di sekitarnya tampak transparan. Ia bisa melihat aliran energi panas dari hewan-hewan kecil yang bersembunyi di lubang pohon, dan ia bisa merasakan getaran tanah dari langkah kaki monster besar yang berjarak beberapa mil jauhnya.
Di dalam tubuhnya, Gerbang Ketiga: Gerbang Kehidupan (Sheng Men) yang baru saja terbuka di ulu hati memancarkan kehangatan yang luar biasa. Jika sebelumnya energi Gu Sheng terasa seperti es yang tajam dan mematikan, kini energinya memiliki lapisan Vitalitas yang tebal. Namun vitalitas ini bukanlah untuk menyembuhkan orang lain, bagi Gu Sheng, ini adalah cadangan bahan bakar yang tak terbatas untuk melakukan pembantaian yang lebih lama dan lebih brutal.
"Tuan Muda," suara Qing Er memecah keheningan, terdengar sangat halus di tengah desiran angin malam. "Aroma busuk itu... semakin kuat. Rasanya seperti kita sedang berjalan menuju kolam bangkai yang sangat besar."
Gu Sheng berhenti sejenak, hidungnya sedikit berkerut. "Itu adalah aroma Formasi Pemurnian Darah. Mereka mengumpulkan darah dari ribuan binatang buas dan manusia ke dalam satu wadah besar untuk memurnikan Esensi Darah. Bau yang kau cium adalah bau dari jiwa-jiwa yang membusuk karena tidak bisa beristirahat dengan tenang."
“Heh, sekte kecil ini benar-benar tidak tahu malu,” suara Kaisar Iblis mendengus jijik di dalam batin Gu Sheng. “Mereka menggunakan teknik yang paling kasar untuk mengekstraksi energi. Darah yang mereka hasilkan penuh dengan kotoran emosional. Jika kau menelannya secara langsung tanpa memurnikannya dengan Dantian mu, kau bisa menjadi gila. Tapi tenanglah, bocah... bagimu, kotoran mereka hanyalah bumbu tambahan.”
Gu Sheng terus berjalan. Mereka melewati sebuah sungai kecil yang airnya berwarna hitam kemerahan. Di pinggiran sungai, bangkai-bangkai binatang buas tanpa kulit berserakan, menunjukkan kekejaman para praktisi dari Sekte Pemurni Darah.
"Qing Er," ucap Gu Sheng tanpa menoleh. "Apa yang kau rasakan saat kau membunuh macan taring bayangan tadi?"
Qing Er terdiam sejenak, matanya yang berwarna abu-abu menatap punggung tegap Gu Sheng. "Awalnya... saya sangat takut, Tuan Muda. Saya merasa seolah-olah tangan saya kotor. Tapi setelah itu... saat panas Phoenix mengalir di tubuh saya... saya merasa seolah-olah saya memang ditakdirkan untuk melakukan itu. Apakah itu berarti saya juga menjadi iblis seperti yang mereka katakan tentang Anda?"
Gu Sheng berhenti dan berbalik perlahan. Ia menatap Qing Er dengan mata ungunya yang dalam. "Dunia tidak peduli apakah kau dewa atau iblis, Qing Er. Mereka hanya peduli apakah kau memiliki kekuatan untuk membuat mereka berlutut. Jika kau memiliki kekuatan, kau bisa menyebut dirimu cahaya, dan mereka akan mempercayainya. Jika kau lemah, meskipun kau suci seperti embun pagi, mereka akan menginjak-mu dan menyebutmu sampah."
Ia meletakkan tangannya di kepala Qing Er, memberikan sedikit tekanan yang menenangkan. "Jangan takut pada kegelapan di dalam dirimu. Peluklah ia, dan jadikan ia senjatamu untuk melindungi apa yang kau sayangi. Malam ini, di sarang sekte itu, kau akan melihat apa yang terjadi pada mereka yang memiliki kekuatan namun tidak memiliki jiwa untuk mengendalikannya."
Qing Er mengangguk mantap. Rasa ragu di matanya perlahan menghilang, digantikan oleh kilatan api emas yang tipis. "Qing Er mengerti. Qing Er akan menjadi pedang yang membantu Tuan Muda membelah kegelapan ini."
Mereka melanjutkan perjalanan selama setengah jam lagi hingga akhirnya mencapai sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding tebing yang curam. Di tengah lembah itu, berdirilah sebuah bangunan kuno yang menyerupai kuil yang sudah runtuh, namun dikelilingi oleh pagar kayu berduri yang dialiri oleh energi Qi berwarna merah darah.
Beberapa menara pengawas berdiri di sekeliling pagar, dengan praktisi berjubah merah darah yang berjaga sambil memegang tombak. Di tengah lembah, sebuah kolam besar berisi cairan merah kental terus bergejolak, mengeluarkan uap kemerahan yang sangat amis.
Ini adalah Pos Terdepan Sekte Pemurni Darah.
“Bocah, lihatlah di menara pusat,” kaisar iblis memperingatkan. “Ada seorang penatua di sana. Kultivasinya berada di tahap Spirit Sea Tingkat Kedelapan. Dia sedikit lebih kuat dari Elder Xue yang kau makan tadi. Dan di bawah tanah... aku bisa merasakan ribuan kristal energi yang dikumpulkan dari hasil penjarahan mereka.”
Gu Sheng menyipitkan matanya. Spirit Sea tingkat kedelapan? Baginya yang sekarang berada di tingkat keenam dan memiliki kekuatan tempur yang melampaui levelnya, itu bukanlah lawan yang mustahil. Apalagi dengan adanya Penebas Dosa yang sudah haus akan darah praktisi tingkat tinggi.
"Qing Er, dengarkan," bisik Gu Sheng. "Aku akan masuk melalui gerbang depan dan menarik perhatian utama mereka. Tugasmu adalah menyelinap melalui sisi tebing barat. Gunakan api Phoenix mu untuk membakar gudang persediaan mereka. Begitu api berkobar, mereka akan panik. Di saat itulah, bantai siapa saja yang mencoba melarikan diri."
"Tapi Tuan Muda... menghadapi mereka sendirian di depan..."
"Jangan khawatirkan aku," potong Gu Sheng dengan senyum iblis yang sangat puas. "Aku justru khawatir jika mereka tidak cukup banyak untuk memuaskan rasa laparku malam ini."
Gu Sheng melangkah keluar dari bayang-bayang pohon. Ia tidak lagi menyembunyikan auranya. Sebaliknya, ia membiarkan Qi ungu-nya meledak keluar secara tiba-tiba, menciptakan pilar energi tipis yang menjulang ke langit malam.
BUM!
Tekanan gravitasi di sekitar gerbang depan pos terdepan itu seketika meningkat drastis. Dua penjaga yang berdiri di menara pengawas langsung merasa pundak mereka seperti dihantam oleh gada raksasa. Mereka terhuyung dan jatuh dari menara setinggi sepuluh meter.
"SIAPA ITU?!" teriak salah satu penjaga yang masih selamat, suaranya gemetar saat melihat sosok berjubah hitam berjalan perlahan menuju gerbang mereka dengan pedang raksasa yang tersampir di punggung.
Gu Sheng tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan. Setiap langkah kakinya membuat tanah bergetar dan pagar kayu berduri itu mulai retak.
"PENYUSUP! ADA PENYUSUP DARI SEKTÉ LUAR! BUNYIKAN LONCENG!"
Suara lonceng peringatan yang nyaring memecah kesunyian lembah. Puluhan praktisi berjubah merah segera keluar dari kuil tua, memegang berbagai senjata yang memancarkan aura darah.
Di atas menara pusat, seorang pria tua dengan rambut merah panjang dan janggut yang berantakan muncul. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Gu Sheng. Inilah Elder Crimson, penguasa pos terdepan ini.
"Bocah sombong! Beraninya kau datang ke wilayah Sekte Pemurni Darah dan membunuh penjagaku!" suara Elder Crimson menggelegar ke seluruh lembah. "Apakah kau sudah bosan hidup?!"
Gu Sheng berhenti tepat sepuluh meter di depan gerbang kayu raksasa. Ia meraih gagang Penebas Dosa, menariknya keluar dengan satu sentakan yang menghasilkan suara dentuman logam yang membuat banyak praktisi tingkat rendah langsung memuntahkan darah karena tekanan suara.
"Aku datang bukan untuk bicara, pak tua," ucap Gu Sheng, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mematikan. "Aku datang untuk mengambil semua yang kau miliki energi kalian, darah kalian, dan harta kalian. Jika kau menyerah sekarang... aku mungkin akan membiarkan mayatmu tetap utuh."
Elder Crimson tertawa terbahak-bahak, suara tawanya dipenuhi oleh energi Qi yang membuat udara di sekitarnya bergetar. "Hahaha! Spirit Sea tingkat keenam? Hanya karena kau memiliki pedang besar, kau pikir kau bisa menantang ku? MURID MURIDKU! CINC*NG DIA!"
Puluhan murid Sekte Pemurni Darah menerjang maju seperti gelombang merah yang haus darah. Mereka berteriak liar, melepaskan teknik-teknik berbasis darah yang membuat udara di lembah itu menjadi semakin beracun.
Gu Sheng menyeringai, pupil matanya yang ungu berkilat gembira.
"Makan malam... sudah siap," bisik Gu Sheng.
Ia mengangkat Penebas Dosa tinggi-tinggi ke langit, dan seketika, awan di atas lembah mulai berputar membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Pacing yang lambat ini baru saja mencapai titik ledaknya, dan malam ini, Sekte Pemurni Darah akan menyadari bahwa mereka tidak sedang menghadapi manusia... mereka sedang menghadapi sebuah bencana berjalan.