NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Berbeda

Kringg… kringg…

Suara alarm yang kupasang menggema di kamar. Perlahan, aku membuka mata. Pandanganku masih buram saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima subuh. Aku harus segera bangun untuk menunaikan salat.

Namun—

Kenapa perutku terasa berat? Seperti ada sesuatu yang menekan.

Aku mengernyit, lalu menyadari ada dengkuran halus tepat di dekat telinga kananku.

Perlahan aku menoleh.

Kak Satya.

Dia berada sangat dekat, bahkan terlalu dekat. Lengan kokohnya melingkar di perutku, memelukku dengan erat seolah tak ingin melepas. Di mana guling yang biasanya menjadi pembatas di antara kami?

Aku terdiam, menatap wajahnya.

Laki-laki itu kini telah memasuki usia kepala tiga, namun pesonanya justru semakin kuat. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan jambang tipis yang tumbuh rapi di wajahnya membuatnya terlihat begitu dewasa dan menawan.

Laki-laki yang sejak dulu sudah mengikat hatiku.

Napasnya teratur, wajahnya tampak damai. Tidak ada lagi sorot dingin atau kecanggungan seperti dulu. Yang ada hanyalah ketenangan.

Tanpa sadar, tanganku terulur. Jemariku menyentuh pipinya, lalu merapikan sedikit rambutnya yang berantakan.

“Kamu beruntung sekali, Sa… dicintai oleh laki-laki yang nyaris sempurna,” batinku, aku jadi teringat Raisya sahabatku.

Dengan hati-hati, aku melepaskan pelukannya dan bangkit dari tempat tidur.

Setelah berwudhu dan mengenakan mukena, aku kembali ke kamar.

“Kak, sudah subuh. Salat dulu, nanti keburu habis waktunya,” ucapku pelan sambil menepuk bahunya.

“Hm… jam berapa, Ndra?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Lima tiga puluh. Nanti keburu terbit matahari.”

Aku meninggalkannya dan mulai melaksanakan salat.

Selesai salat, aku menoleh ke arah tempat tidur.

Kak Satya masih memejamkan mata.

Aku menghela napas kecil.

“Kak, sudah pagi…”

Perlahan ia membuka mata, duduk, dan mengernyit seolah menyadari posisi tidurnya yang terlalu dekat denganku. Tanpa banyak bicara, ia langsung berjalan menuju kamar mandi.

Aku pun mulai merapikan tempat tidur—melipat selimut, menumpuk bantal, dan menemukan guling yang ternyata jatuh ke lantai.

Pantas saja…

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

Aku refleks menoleh—dan langsung terpaku.

Kak Satya keluar hanya dengan balutan handuk di pinggang.

Air masih menetes dari rambutnya, aroma sabun segar memenuhi ruangan. Tubuhnya yang tegap dan berotot terlihat jelas, membuatku seketika salah tingkah.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Astaga, Ndra… fokus!

Daripada semakin canggung, aku buru-buru keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.

“Ndra, nanti sore kita jemput Sandrina.”

Suara Kak Satya memecah keheningan meja makan. Ia sudah rapi dengan kemeja burgundy dan dasi hitam, rambutnya tersisir rapi meski masih sedikit lembap.

“Iya, Kak,” jawabku singkat sambil mengangguk.

Kami kembali makan dalam diam.

“Kak, nasi gorengnya mau tambah?” tanyaku.

“Boleh, sedikit.”

Aku sempat terkejut. Tidak biasanya dia makan banyak di pagi hari.

Apa dia lapar? Apa semalam belum makan?

Aku mengerutkan kening.

Aduh, Ndra… kamu jadi istri yang teledor sekali.

Siang harinya, karena bosan sendirian di apartemen, aku memutuskan pergi ke toko roti milikku.

Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit.

Sesampainya di sana, suasana terasa lebih hidup. Beberapa pelanggan terlihat memilih roti, dan Pipit langsung menyambutku dengan ceria.

“Mbak Sandraaa!”

Aku tersenyum.

“Pit, mulai ramai lagi ya?”

“Alhamdulillah, Mbak. Sejak akun yang nyebarin berita itu hilang lima hari lalu, pelanggan mulai balik lagi.”

Aku mengangguk lega.

“Alhamdulillah…”

Mataku tertuju pada salah satu etalase.

“Itu roti pakai resep baru ya?”

“Iya, Mbak. Sekarang jadi best seller.”

“Bungkusin ya, aku mau bawa pulang.”

Pipit tersenyum jahil. “Buat Pak Satya ya, Mbak?”

Aku hanya tersenyum tipis.

“Moga aja dia suka…”

***

Sore harinya

Aku baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi luar dengan rambut masih basah. Tubuhku hanya terbalut handuk yang kuikat di atas dada. Aku mandi di kamar mandi luar, karena entah mengapa air di kamar mandi kamar tidak keluar, sepertinya macet.

Langkahku terhenti.

Pintu apartemen terbuka.

Kak Satya masuk. Ah aku tidak menduga kak Satya akan pulang secepat ini.

Jantungku langsung berdegup cepat.

Kami saling menatap.

Untuk beberapa detik, suasana terasa membeku.

Tatapan Kak Satya turun perlahan, lalu kembali ke wajahku. Rahangnya mengeras, napasnya sedikit tertahan.

Aku refleks memegang erat ujung handukku.

“Kak sudah pulang...” suaraku nyaris berbisik.

Ia berdeham pelan, berusaha mengalihkan pandangan.

“Iya.”

Aku cepat-cepat masuk kembali ke kamar, menutup pintu dengan jantung yang masih berdetak tidak karuan.

Ya Allah… kenapa jadi begini…

Setelah berganti pakaian, aku keluar dengan membawa kotak roti.

“Kak, ini… aku bawa dari toko tadi,” ucapku sambil meletakkannya di meja.

Kak Satya yang sedang memainkan ponselnya melirik sekilas, lalu mengambil satu roti.

Ia menggigitnya perlahan.

Aku menunggu, entah kenapa jadi ikut tegang.

Beberapa detik hening.

“Enak.”

Hanya satu kata.

Namun cukup membuatku tersenyum.

“Serius?”

Ia mengangguk kecil.

“Teksturnya pas. Nggak terlalu manis juga.”

Aku menahan senyum yang mulai melebar.

“Kalau gitu aku sering bawa ya…”

Kak Satya menatapku sejenak, lalu berkata santai,

“Kamu pernah kepikiran buka coffee shop di toko itu?”

Aku terdiam.

“Coffee shop?”

“Iya. Roti kamu udah punya pasar. Tinggal ditambah minuman yang proper, tempat duduk yang nyaman… bisa jadi lebih besar.”

Aku memandangnya, sedikit terkejut.

“Aku pernah kepikiran gitu sih kak, tapi untuk sekarang aku masih ngumpulin modalnya dulu"

“It's oke good.” katanya singkat sambil kembali fokus ke layar ponsel.

Namun entah kenapa, kata-katanya terus terngiang di kepalaku.

Mungkin…

Ini bisa jadi awal sesuatu yang lebih besar.

"Jemput drina sekarang kak?."

"Ayok" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mungkin ponsel itu lebih menarik dari ku.

"Tunggu sebentar aku siap-siap dulu kak."

Dukung novel pertamaku, dengan like, komen dan vote. Biar aku tetap semangat up nya. Terimakasih banyak yang sudah membaca novelku🙏🏻.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!