NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Pemilihan Ratu Drackveil

Duel telah berakhir.

Namun suasana di markas Drackveil belum benar-benar tenang.

Lingkaran tanah yang rusak di tengah lapangan masih menjadi saksi pertarungan antara Arkan dan Vasko. Debu tipis masih terlihat di beberapa bagian tanah, sementara bendera merah gelap Drackveil berkibar perlahan di atas tiang kayu tinggi di belakang mereka.

Lambang gagak hitam dengan sayap terbentang tampak jelas di tengah bendera.

Simbol kekuasaan Drackveil.

Dan sekarang—

Arkan berdiri tepat di depannya sebagai raja baru mereka.

Para murid Drackveil masih berkumpul di sekitar lapangan. Beberapa duduk di atas peti kayu, beberapa bersandar di dinding batu markas, dan sebagian lainnya berdiri sambil memperhatikan Arkan dengan tatapan penasaran.

Mereka masih menilai pemimpin baru mereka.

Vasko berdiri tidak jauh dari Arkan, menyilangkan tangan dengan santai. Goresan tipis di pipinya masih terlihat jelas, namun ia sama sekali tidak terlihat terganggu oleh luka itu.

Justru ia tersenyum.

Kael melangkah ke tengah lapangan sekali lagi.

“Baiklah,” katanya dengan suara yang cukup keras.

Kerumunan murid langsung memperhatikannya.

“Raja sudah dipilih.”

Ia menunjuk Arkan.

“Dan kita semua sudah melihat sendiri bagaimana duel itu berakhir.”

Beberapa murid mengangguk.

Yang lain masih terlihat kagum mengingat bagaimana Arkan menghancurkan puluhan mayat panggilan Vasko hanya dalam waktu singkat.

Namun Kael belum selesai.

Ia mengangkat satu jari.

“Sekarang kita perlu memilih satu posisi lagi.”

Beberapa murid langsung saling melirik.

Mereka tahu apa yang akan dibicarakan.

Kael berkata dengan jelas.

“Ratu.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa murid tersenyum.

Yang lain terlihat serius.

Di dalam permainan Tiga Bendera, posisi ratu bukan sekadar gelar.

Ratu adalah orang pertama yang bergerak ketika permainan dimulai.

Ia adalah pengintai.

Penyusup.

Dan terkadang pembuka serangan.

Ratu memiliki kebebasan bergerak lebih luas dibanding anggota tim lainnya.

Ia bisa bergerak sendiri di luar formasi utama.

Namun—

Ia tetap berada di bawah perintah raja.

Karena itu, posisi ini sangat penting.

Jika ratu salah bergerak, seluruh strategi bisa hancur.

Vasko mengangkat tangannya sedikit.

“Biasanya kita memilih dengan cara lama.”

Kael menoleh.

“Pemilihan?”

Vasko mengangguk.

“Ya. Siapa pun boleh mencalonkan diri.”

Kael tidak keberatan.

Ia menatap kerumunan murid.

“Kalau begitu, siapa yang ingin mencoba?”

Beberapa murid saling melirik.

Namun tidak ada yang langsung maju.

Menjadi ratu Drackveil bukan pekerjaan ringan.

Itu berarti menjadi orang pertama yang masuk wilayah musuh.

Orang pertama yang menghadapi bahaya.

Dan orang pertama yang mungkin diserang.

Keheningan berlangsung beberapa detik.

Lalu—

Seorang gadis melangkah maju.

Rambutnya merah pendek, matanya tajam, dan senyum percaya diri terlihat jelas di wajahnya.

Namanya Lyria.

Ia dikenal sebagai pengguna sihir api yang cepat dan agresif.

“Aku mencalonkan diri,” katanya.

Beberapa murid langsung bersorak kecil.

“Tidak buruk.”

“Dia cepat.”

“Api cocok untuk serangan awal.”

Namun belum sempat pembicaraan berkembang—

Seseorang lagi melangkah maju.

Seorang murid tinggi dengan rambut hitam panjang yang diikat ke belakang.

Namanya Reth.

Pengguna sihir angin.

“Aku juga ikut.”

Beberapa murid langsung mulai berdebat kecil.

“Reth lebih cepat.”

“Tidak, Lyria lebih berbahaya.”

“Kalau soal menyusup, Reth lebih cocok.”

Suasana mulai ramai.

Namun Kael tiba-tiba melirik ke arah lain.

Ke arah seseorang yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali.

Nyra.

Nyra itu seorang gadis.

Rambutnya hitam panjang jatuh lurus sampai punggung.

Matanya juga hitam—gelap dan dalam seperti malam tanpa bulan.

Kulitnya pucat.

Ekspresinya hampir tidak menunjukkan emosi.

Seragam Drackveil yang ia kenakan tampak sangat rapi, seolah ia tidak pernah benar-benar ikut dalam kekacauan yang biasa terjadi di markas ini.

Ia berdiri bersandar di tiang bendera Drackveil, mengamati semuanya dengan tenang.

Seperti bayangan yang tidak ikut campur.

Kael menghela napas pelan.

“Nyra.”

Beberapa murid langsung menoleh.

Kael menyilangkan tangan.

“Kau tidak ikut?”

Nyra menatapnya beberapa detik.

Lalu menjawab dengan suara datar.

“Aku tidak tertarik.”

Beberapa murid tertawa kecil.

“Itu Nyra sekali.”

“Dia selalu begitu.”

Namun Kael justru tersenyum tipis.

“Sayang sekali.”

Ia menoleh ke arah kerumunan.

“Padahal menurutku dia kandidat terbaik.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa murid berhenti tertawa.

Mata mereka kembali ke arah Nyra.

Vasko bahkan ikut memperhatikan dengan serius.

Nyra menghela napas kecil.

Seolah ia tidak benar-benar ingin terlibat.

Namun akhirnya ia berdiri tegak.

Langkahnya pelan ketika ia berjalan menuju tengah lapangan.

Para murid otomatis memberi jalan.

Nyra berhenti di samping Lyria dan Reth.

“Aku ikut.”

Kalimatnya pendek.

Namun cukup membuat suasana semakin menarik.

Vasko tersenyum lebar.

“Sekarang ini baru kompetisi.”

Kael mengangguk puas.

Ia menunjuk ketiga kandidat di depannya.

“Lyria.”

“Reth.”

“Nyra.”

Ia lalu menoleh ke arah Arkan.

“Sebagai raja, kau yang menentukan ujian mereka.”

Semua mata langsung tertuju pada Arkan.

Arkan terdiam beberapa saat.

Matanya mengamati ketiga kandidat itu dengan tenang.

Lyria terlihat penuh semangat.

Api kecil berputar di sekitar tangannya.

Reth berdiri santai, namun angin tipis berputar di sekitar kakinya.

Nyra—

Berbeda.

Ia hanya berdiri diam.

Tidak ada aura sihir yang terlihat.

Namun entah kenapa—

Justru itu membuatnya terasa lebih berbahaya.

Arkan akhirnya berbicara.

“Ujiannya sederhana.”

Kael tersenyum.

“Aku suka kata sederhana.”

Arkan menunjuk ke arah hutan kecil di belakang markas.

“Di sana ada tiga batu tanda.”

Beberapa murid langsung mengerti.

Arkan melanjutkan.

“Setiap orang mengambil satu batu.”

Ia berhenti sebentar.

“Yang kembali paling cepat… menang.”

Lyria tersenyum lebar.

“Perlombaan.”

Reth mengangguk kecil.

Namun Arkan menambahkan satu aturan lagi.

“Tidak boleh menyerang satu sama lain.”

Lyria mengangkat alis.

“Kenapa?”

Arkan menjawab dengan tenang.

“Ratu bukan musuh sekutu.”

Kerumunan murid langsung mengangguk.

Masuk akal.

Kael mengangkat tangannya tinggi.

“Baik!”

Ia menunjuk ke arah hutan.

“Tiga arah berbeda.”

Ia menatap ketiga kandidat.

“Siap?”

Lyria menyeringai.

“Siap.”

Reth menarik napas panjang.

“Tentu.”

Nyra hanya berkata singkat.

“Ya.”

Kael menurunkan tangannya.

“Mulai!”

Dalam sekejap—

Ketiganya bergerak.

Lyria melesat seperti nyala api yang melompat di tanah.

Reth melompat ke cabang pohon dan bergerak dari satu pohon ke pohon lain dengan bantuan angin.

Nyra—

Berjalan.

Beberapa murid langsung tertawa.

“Dia serius?”

“Dia berjalan?”

Namun Vasko menyipitkan mata.

“Tidak…”

Ia bergumam pelan.

“Ada sesuatu.”

Waktu berlalu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Para murid terus memperhatikan arah hutan.

Lalu—

Seseorang muncul pertama kali.

Lyria.

Ia berlari keluar dari hutan dengan batu tanda di tangannya.

“Ha!”

Ia tersenyum puas.

“Sepertinya aku menang—”

Namun kalimatnya berhenti.

Karena seseorang sudah berdiri di dekat Arkan.

Nyra.

Tangannya memegang batu tanda.

Ekspresinya tetap datar seperti biasa.

Kerumunan langsung gempar.

“Apa?!”

“Kapan dia kembali?!”

Reth keluar beberapa saat kemudian dengan napas sedikit berat.

Ia melihat Nyra.

Lalu tertawa kecil.

“Seperti yang kuduga.”

Kael menepuk tangannya keras.

“Baik!”

Ia menunjuk Nyra.

“Pemenangnya jelas.”

Namun ia tetap menoleh ke arah Arkan.

“Keputusan akhir tetap milik raja.”

Semua mata kembali tertuju pada Arkan.

Arkan menatap Nyra beberapa detik.

“Bagaimana kau bisa kembali lebih dulu?”

Nyra menjawab dengan tenang.

“Ada jalur pendek di sisi barat hutan.”

Ia menunjuk ke arah pepohonan.

“Aku tidak mengambil rute yang sama dengan mereka.”

Strategi.

Bukan hanya kecepatan.

Arkan mengangguk pelan.

Ia lalu berkata dengan suara yang cukup jelas untuk didengar semua orang.

“Nyra.”

Nyra menatapnya.

Arkan melanjutkan.

“Mulai hari ini…”

“…kau adalah Ratu Drackveil.”

Kerumunan murid langsung bersorak.

Vasko tertawa puas.

Kael menepuk bahu Nyra.

“Selamat.”

Nyra menatap Arkan beberapa detik.

Lalu sedikit menundukkan kepala.

“Baik, Raja.”

Angin kembali mengibarkan bendera merah gelap Drackveil di belakang mereka.

Sekarang posisi penting dalam tim telah lengkap.

Raja.

Dan Ratu.

Permainan Tiga Bendera semakin dekat.

Dan Drackveil akhirnya memiliki pemimpin yang siap memimpin mereka menuju pertempuran permainan yang sebenarnya.

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!