"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Nyonya yang Tertukar (Otaknya)
Suasana di meja makan kediaman Mally sedingin kutub utara. Adriano Indian Mally duduk tegap dengan rahang mengeras, sementara di sampingnya, Mirabella Zevarra Kells sibuk memainkan ujung rambutnya dengan tatapan sendu yang dibuat-buat.
"Adriano, sepertinya Aveline benar-benar marah padaku," cicit Mirabella, suaranya sengaja dibuat bergetar. "Apa kehadiranku di sini mengganggu rumah tangga kalian? Aku... aku lebih baik pergi saja kalau Aveline sampai pingsan karena stres melihatku."
Adriano meletakkan sendok peraknya dengan denting nyaring. "Jangan bicara begitu, Mira. Kau baru saja kembali dari luar negeri. Aveline hanya sedang mencari perhatian seperti biasanya."
Tepat saat itu, langkah kaki yang santai terdengar dari arah tangga. Bukannya datang dengan wajah sembab atau pakaian hitam tanda berkabung, Velin muncul dengan piyama sutra motif stroberi dan handuk kecil yang melilit rambutnya. Ia bahkan bersiul kecil.
"Pagi, penghuni rumah mewah! Eh, sudah malam ya? Jam kerjaku emang kacau," sapa Velin tanpa beban. Ia langsung menarik kursi di depan Adriano, sama sekali tidak melirik Mirabella.
Adriano terpaku. "Aveline? Kenapa kau berpakaian seperti itu ke meja makan?"
"Kenapa? Ini kan rumahku juga. Masa mau makan mi instan—eh, maksudku makanan mewah—harus pakai gaun pesta?" Velin menoleh ke arah Bi Minah yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Bi! Sini sebentar."
Bi Minah mendekat dengan gemetar, kepalanya menunduk dalam. Biasanya, jika Aveline memanggilnya dalam kondisi seperti ini, sebuah tamparan atau makian tentang "pelayan tidak berguna" akan melayang.
"I-iya, Nyonya? Maafkan saya kalau ada yang salah..."
Velin justru menarik tangan Bi Minah, membuat semua orang di ruangan itu melongo. "Bi, Bibi sudah makan belum? Tadi aku lihat di dapur ada lobster gede banget. Itu buat aku kan? Sini, Bibi duduk samping aku, kita makan bareng. Capek kan berdiri terus dari tadi?"
"Nyonya?!" Bi Minah hampir pingsan karena terkejut.
"Aveline! Apa-apaan kau ini?!" Adriano menggebrak meja. "Dia itu pelayan! Jaga martabatmu!"
Velin menatap Adriano dengan tatapan datar. "Halah, martabat nggak bisa dimakan, Mas CEO. Bibi ini sudah kerja dari pagi, kakinya pasti pegel. Sesama kuli—maksudku sesama pekerja—harus saling pengertian. Bibi, tenang saja, kalau si Kulkas ini marah, bilang saya. Nanti saya mogok jadi istrinya."
Mirabella, yang merasa panggungnya dicuri, langsung beraksi. Ia sengaja menyenggol gelas airnya hingga tumpah ke arah gaun mahalnya sendiri.
"Aaah! Aveline! Kenapa kau menyiramku?!" jerit Mirabella, padahal tangan Velin bahkan tidak menyentuh meja.
Velin terdiam, melihat air yang mengalir di baju Mirabella. Ia kemudian menatap Adriano yang sudah berdiri dengan wajah merah padam.
"Aveline! Keterlaluan! Kau sudah tidak waras ya?! Minta maaf pada Mira sekarang!" bentak Adriano.
Velin bukannya panik, ia justru mengambil sepotong roti dan mengunyahnya dengan santai. "Wah... aktingnya keren banget. Kelas Oscar nih. Bi, lihat nggak tadi tanganku di mana? Jauh kan?"
Bi Minah hanya bisa menelan ludah, bingung harus membela siapa.
"Adriano, sakit sekali... perih..." Mirabella mulai menangis tanpa air mata, memegangi lengannya seolah-olah baru saja disiram air keras, bukan air putih.
Velin berdiri, melangkah perlahan menuju Mirabella. Adriano sudah bersiap menahan tangan istrinya jika Velin berniat menyerang. Namun, Velin justru mengambil serbet dan memberikannya pada Mirabella dengan wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Nih, lap sendiri ya. Lain kali kalau mau main sulap tumpahin air, latihan dulu biar nggak kelihatan bohongnya. Kasihan Mas Adriano, dia kan sibuk kerja, jangan dikasih tontonan drama picisan begini, nanti sahamnya turun," bisik Velin tepat di telinga Mirabella.
"Kau!" Mirabella melotot, kehilangan kata-kata.
Velin kembali menatap Adriano yang masih mematung. "Mas CEO, silakan lanjut makan malam romantisnya. Aku mau ke dapur sama Bi Minah. Mau bikin kopi yang nggak pake revisi. Ayo Bi!"
Velin merangkul pundak Bi Minah yang masih syok dan membawanya menjauh dari ruang makan.
Di dapur, Velin langsung mendudukkan Bi Minah di kursi kayu. "Bibi jangan takut. Nyonya yang dulu itu mungkin galak karena dia kurang piknik dan kebanyakan mikirin laki-laki nggak peka itu. Nyonya yang sekarang... cuma mau hidup tenang dan makan enak. Bibi punya stok kerupuk nggak?"
Para pelayan lain yang tadinya bersembunyi di balik pintu dapur mulai keluar satu per satu. Mereka menatap Velin seolah-olah melihat alien. Nyonya mereka yang biasanya dingin dan kejam, sekarang justru menanyakan stok kerupuk?
"Ada, Nyonya... tapi... Tuan Adriano sangat marah tadi," bisik seorang pelayan muda.
"Biarin aja. Dia itu cuma CEO di kantor, di rumah ini... aku bosnya dapur!" seru Velin sambil tertawa konyol. "Mampus kau Adriano, rasakan sensasi diabaikan budak korporat yang sudah resign dari rasa cinta!" batinnya puas.
terimakasih 🙏🙏🙏