NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK EMAS DI KOTA ASING

Riezky berjalan dengan langkah mantap, tangan kanannya memegang erat peta pemberian Valerius yang sudah mulai lecek. Masalahnya satu: Riezky bisa menjinakkan petir, tapi ia tidak bisa menjinakkan garis-garis koordinat. Baginya, peta itu lebih mirip tumpukan benang kusut daripada penunjuk jalan. Kalkulasi jarak? Skala? Baginya itu hanya angka-angka tak berguna.

"Perasaan kemarin waktu berangkat bareng Paman Valerius nggak lewat jalan yang banyak batu gini deh..." gumam Riezky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berhenti di puncak bukit kecil, menatap sebuah kota besar di bawah sana yang berkilauan tertimpa cahaya matahari. "Yaudah sih, mampir sebentar nggak dosa. Siapa tahu ada kedai kopi yang enak."

Riezky pun melangkah masuk ke gerbang kerajaan Aurelion. Matanya membelalak. Penduduk di sini terlihat jauh lebih bersih, mengenakan pakaian sutra halus, dan berjalan dengan dagu terangkat—sangat bertolak belakang dengan para nelayan di kampung halamannya yang bau amis dan berbaju kasar.

"Wajah mereka tampak seperti punya sekolam koin emas di rumah masing-masing," bisik Riezky kagum sekaligus minder melihat sepatu bot penjelajahnya yang penuh lumpur hutan.

Langkah kaki Riezky terhenti di depan sebuah kios besar di pasar pusat. Matanya berbinar saat melihat sosok yang sangat familiar: seekor ikan raksasa dengan moncong panjang dan sisik perak yang indah.

"Wah, ikan Marlin!" serunya refleks. Ia rindu laut, ia rindu aroma dermaga.

"Hey Bocah, seratus koin emas kalau mau bawa pulang!" gertak si penjual ikan, seorang pria bertubuh kekar dengan celemek kulit.

"Woishh, oke, oke! Santai, Paman!" Riezky mundur perlahan sambil mengangkat kedua tangannya, gestur tanda ia tidak ingin cari masalah (dan memang tidak punya uang sebanyak itu). "Paman, ini kerajaan apa ya? Orang-orang di sini terlihat... sangat mewah."

Si penjual ikan itu menatap Riezky dari atas ke bawah, memperhatikan jubah penjelajahnya yang unik. "Ini adalah Kerajaan Aurelion, Kota Cahaya Abadi. Kau sepertinya bukan dari sekitar sini ya?"

"Ya, aku berasal dari Aethelgard," jawab Riezky jujur.

Mendengar nama itu, si penjual ikan membulatkan matanya. Ia menghentikan kegiatannya, lalu dengan gerakan dramatis menancapkan pisau potongnya yang besar ke atas talenan kayu hingga bergetar.

"Aethelgard?!" Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya ikut berguncang. "Hahahaha! Ternyata kau dari sana?!"

Ia melompat dari balik meja dan memukul bahu Riezky dengan keras sebagai tanda persahabatan. Riezky yang kebingungan hanya bisa mengusap bahunya yang terasa agak panas. "Paman tahu Aethelgard?"

"Tentu saja! Aku dulu tinggal di sana. Hufff... sudah lama sekali, mungkin dua puluh tahun yang lalu. Bagaimana kabar orang-orang di sana? Apa air lautnya masih sedingin es di pagi hari?"

Kebingungan Riezky seketika berubah menjadi kegirangan. Bertemu orang sedaerah di tempat asing adalah keajaiban. "Semuanya baik-baik saja, Paman! Hanya saja masih ada bandit-bandit menyebalkan yang suka bikin rusuh di dermaga."

Pria itu mengangguk-angguk, matanya menatap Riezky dengan pandangan kebapakan. "Aku Opher. Sepertinya kau lelah dan... yah, melihat kau sampai di sini, sepertinya kau tersesat parah. Aku bisa memberimu tempat untuk tidur malam ini."

Wajah Riezky semakin girang. "Benarkah? Paman baik sekali! Boleh saja, Paman. Oh iya, namaku Riezky... senang bertemu dengarmu!"

Malam itu, di sebuah rumah kecil yang hangat di sudut Aurelion, suasana nostalgia mengalir deras. Opher terus bercerita tentang masa mudanya di Aethelgard, tentang betapa ia rindu makan kerang bakar di tepi pantai. Bagi Riezky, Opher bukan lagi sekadar penjual ikan; ia merasa seperti menemukan keluarga baru di tengah kemewahan Aurelion yang dingin.

Namun, di sela-sela obrolan, Riezky tidak menyadari bahwa di luar sana, beberapa orang berpakaian zirah emas sedang sibuk mencari "seorang pemuda dengan mata yang berbeda" yang baru saja masuk ke gerbang kota.

Tok! Tok! Tok!

Opher, yang mulutnya masih penuh dengan daging ikan, merutuk pelan sambil bergegas ke depan. Begitu pintu terbuka, cahaya lampu jalan memantul pada permukaan zirah yang berkilau menyilaukan.

Di depan sana berdiri dua orang ksatria berpakaian zirah emas penuh. Mereka berdiri tegap, menggenggam tongkat penjaga dengan tangan bersarung besi yang kokoh.

"Permisi Tuan, apakah Anda melihat anak muda dengan mata biru dan merah di sekitar sini?" ucap salah satu ksatria dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.

Riezky, yang memang tidak bisa diam, berjalan menghampiri pintu sambil memegang piring berisi lauk ikan. "Siapa Paman? Ada tamu y—Whoaa..." Riezky ternganga. Matanya berbinar melihat baju zirah yang begitu mengilap, sangat berbeda dengan baju zirah karatan yang biasa ia lihat di tangan para pengelana.

Tepat saat wajah Riezky muncul di celah pintu, Opher langsung bertindak cepat. Dengan gerakan panik, ia mendorong wajah Riezky kembali ke dalam sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

"Hsssss! Ahh... ya, Tuan-tuan!" ucap Opher dengan suara yang dibuat-buat mantap meski sedikit terbata. "Dia itu saudaraku. Dia baru datang dari Aethelgard, sama sepertiku. Dia... dia datang jauh-jauh hanya untuk membantuku mengirimkan ikan kerapu pesanan besok."

Kedua prajurit itu saling pandang sejenak, lalu menghela napas panjang. "Baiklah. Lain kali, pastikan tamu Anda melapor ke pos penjagaan sebelum memasuki area kerajaan. Permisi."

Keduanya berbalik pergi dengan denting zirah yang beradu. Begitu bayangan mereka menghilang, Opher langsung membanting pintu dan berbalik menatap Riezky dengan wajah pucat.

"Kau langsung masuk begitu saja tanpa melapor?!" tanya Opher dengan nada panik yang tertahan.

Riezky hanya mengangkat bahunya santai, tangan kanannya tetap asyik menyuap sisa ikan ke mulutnya. "Mereka terlihat sedang tidur nyenyak di posnya saat aku masuk tadi, Paman. Jadi ya, aku lewat saja."

Opher memijat pelipisnya, menarik napas dalam-dalam. "Dasar... benar-benar anak Aethelgard," gerutunya sambil berjalan kembali ke kursi makannya.

Suasana kembali tenang, namun Opher menunjuk Riezky dengan garpunya, memasang wajah sedikit tegas. "Ohiya, tidur dan makan di sini tidak gratis ya. Besok pagi kau harus ikut denganku ke dermaga. Kita akan menangkap ikan. Menurut ramalan cuaca, besok ikan-ikan akan banyak bermunculan."

"Oke!" jawab Riezky dengan semangat yang sepele. Ia menyeringai lebar. Menangkap ikan adalah keahliannya sejak kecil, meski Opher belum tahu bahwa cara "menangkap ikan" Riezky sekarang sudah jauh lebih canggih daripada sekadar melempar jaring.

Pagi di pesisir kerajaan Aurelion terasa begitu segar. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan air yang tenang, menciptakan pantulan cahaya keemasan dari dinding kerajaan yang megah. Sama seperti Lyra di Aethelgard, Opher adalah satu-satunya penyedia ikan di kerajaan ini. Maka tidak heran jika hanya perahu kecil mereka yang memecah kesunyian laut sepagi itu.

Sambil merapikan jaring dan menyiapkan alat-alat, Opher memecah keheningan. "Aku terlalu asyik bercerita tentang diriku malam tadi, jadi... dengan siapa kau tinggal di sana, Riez?"

Riezky yang sedang sibuk mengikat bot penjelajahnya menjawab santai, "Hmm, dengan ibuku. Dia nelayan, sama sepertimu, Paman."

"Oh ya? Sepertinya kau sudah paham luar dalam tentang perikanan kalau begitu," ucap Opher dengan nada menantang, sembari melemparkan pandangan sekilas ke arah laut lepas.

Riezky terdiam sejenak, menatap air laut yang jernih. "Bisa dibilang begitu. Dan kau baru saja membuatku rindu pada ibuku, Paman," jawabnya dengan nada yang sedikit memberat karena sedih.

Opher tertawa kecil, suara tawanya terasa hangat di tengah udara pagi yang dingin. Ia memberikan satu bundel jaring ke tangan Riezky. "Aku tahu perasaan itu, Nak. Maka dari itu, cepatlah bantu aku agar urusanmu cepat selesai dan kau bisa segera bertemu ibumu lagi," ucap Opher penuh semangat.

"Baiklah!" jawab Riezky, matanya kembali berbinar.

Keduanya pun mendayung ke tengah lautan, tepat di titik di mana kawanan ikan biasanya berkumpul saat fajar. Riezky hanya bisa melongo saat melihat Opher beraksi. Teknik pria tua itu luar biasa; dengan satu gerakan tangan yang sangat presisi, tebaran jaringnya menyebar sempurna dan menangkap kerumunan ikan dalam jumlah besar.

"Woisssh, yang bener aja!" teriak Riezky refleks. Ia menempatkan kedua tangan di atas kepala, benar-benar terkesan melihat tumpukan ikan yang menggeliat di dalam jaring. "Sekali tebar langsung penuh?!"

"Jangan cuma bengong! Bantu angkat ke perahu!" sahut Opher sambil menarik napas kuat-kuat.

Riezky segera bergerak, membantu mengangkat jaring yang berat itu hingga ikan-ikan perak bergelepak memenuhi lantai perahu mereka. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengisi penuh wadah yang ada.

"Ayo kita pulang. Stok hari ini sudah lebih dari cukup," ucap Opher puas.

Riezky hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memberikan tepukan tangan kecil. "Salut... benar-benar salut, Paman."

Sesampainya di toko milik Opher, mereka segera memindahkan hasil tangkapan ke etalase kaca yang bersih. Sambil Riezky merapikan posisi ikan-ikan agar terlihat menarik, Opher meraih beberapa koin emas dan memisahkannya ke dalam sebuah kantung anyam.

Klang!

Opher menaruh kantung tas berisi koin itu di atas meja hingga suara kepingan logam yang beradu terdengar nyaring. "Hey, ini untukmu. Terima kasih bantuannya ya."

Riezky melotot, senyumnya melebar hingga ke telinga. "Paman? Enggak kebanyakan ini? Serius?" tanyanya kaget melihat isi kantung yang tampak tebal.

"Aku biasanya harus menarik jaring tiga sampai empat kali selama dua jam untuk dapat sebanyak ini. Tapi kali ini sekali tarikan sudah cukup. Kurasa kau menjadi jimat keberuntunganku hari ini, jadi kau pantas mendapatkan bagian dari keberuntungan itu. Ambillah," jawab Opher tenang.

Riezky menyambar tas koin itu dan menjabat tangan Opher dengan penuh semangat. "Terima kasih, Paman! Paman baik sekali. Sudah dikasih tumpangan tidur, dikasih makan, sekarang dikasih upah... dan ini kayaknya... seribu koin?" ucap Riezky bingung menghitung jumlahnya.

Opher segera memotong pembicaraan dengan lambaian tangan. "Sudah, sudah. Gunakan itu untuk perjalanan pulang, ya. Buat ibumu bangga."

"Baik, Paman! Aku akan berangkat sekarang saja kalau begitu. Aku sudah sangat rindu rumah, hehe. Dadah, Paman!" seru Riezky sambil melambaikan tangan dengan riang.

Opher hanya tersenyum tipis melihat punggung pemuda itu menjauh di antara keramaian pasar Aurelion. Ia kembali ke aktivitasnya, merasa haru sekaligus senang karena telah bertemu dengan anak muda yang mengingatkannya pada kampung halaman.

Riezky melangkah keluar dari gerbang Aurelion dengan perasaan ringan dan kantung koin yang bergemerincing di pinggangnya. Sambil bersiul santai, ia melewati pos penjagaan yang semalam membuatnya tegang. Benar saja, para prajurit zirah emas itu tampak lunglai; salah satunya bahkan duduk bersandar pada tombaknya dengan helm yang sedikit miring.

Riezky tidak tahan untuk tidak jahil. Ia mendekat, lalu dengan ujung jarinya, ia menoel pelan bahu prajurit yang sedang tertidur pulas itu.

"Pak..." bisik Riezky sambil memberikan gestur jempol menunjuk ke arah luar gerbang.

Prajurit itu hanya bergumam tidak jelas, mengangguk sekali tanpa membuka mata, lalu kembali mengeluarkan suara dengkuran halus. Riezky menyeringai lebar dan melenggang pergi. "Keamanan kerajaan ini sepertinya butuh lebih banyak kopi," gumamnya.

Beruntung, di luar gerbang ia bertemu dengan serombongan pedagang keliling. Dengan sedikit keramahan dan ocehan khasnya, Riezky mendapatkan arahan yang jelas. "Terus lurus melewati jembatan batu, lalu ikuti aliran sungai ke arah selatan," kata salah satu pedagang. Riezky mengangguk mantap, berjanji pada diri sendiri bahwa kali ini ia tidak akan membiarkan peta Valerius memperdayanya lagi.

Ia pun memasuki perbatasan hutan yang mulai rimbun. Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun, menciptakan suasana yang tenang. Riezky sudah membayangkan wajah ibunya saat melihat sekantong koin emas ini, dan mungkin ia akan membelikan Lyra sesuatu yang bagus nanti.

Syuuuuut—TAK!

Langkah Riezky terhenti seketika. Sebuah anak panah berbulu hitam menancap kuat di tanah, hanya beberapa senti di depan ujung sepatunya. Getaran pada batang anak panah itu menunjukkan betapa kuatnya tarikan sang pemanah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!