NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Wanita Murahan

"Turunkan aku di sini saja! Aku sudah berubah pikiran! Turunkan aku!" ucap Deana sedikit keras.

Reno mendengarnya dengan sangat jelas, tapi ia menghiraukannya, dan justru menambah kecepatan motornya.

"Hei pria tua!" seru Deana karena ia hampir terjatuh.

Reno mengernyit, baru kali ini ada yang berani mengata-ngatai seperti itu padanya. Cukup tertegun dibuatnya.

Reno tidak merespon apapun, motornya melesat dan melaju dengan kecepatan sedang, membawanya menuju ke rumahnya.

Hampir memakan waktu satu jam setengah, akhirnya mereka pun sampai di depan halaman rumah keluarga Mahesa.

Deana menatapnya dengan ragu, rumah sebesar dan semewah ini... Yang berarti Reno sangat kaya raya. Sangat jauh dengan ekonomi dirinya. Bahkan halaman rumah depannya pun semuanya terpasang marmer besar. Luas halamannya saja setara dengan luas rumahnya. Deana sangat tidak menyangka.

Reno mematikan mesin motornya, tapi tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam kemudi, rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.

"Tuan muda, biar saya saja." ucap seorang satpam menghampiri Reno agar motornya ia parkirkan ke dalam garasinya.

Reno melepas helmnya, "Sekalian cuci Pak Dadang. Sudah kotor."

"Siap Tuan." balas Pak Dadang mengangguk.

Reno berdiri di samping Deana. Perempuan itu masih mengamati rumah Reno yang berada di kawasan komplek mewah itu.

Reno tersenyum miring, "Kenapa melihatnya sampai seperti itu? cepat masuk. Saya tidak suka banyak membuang waktu denganmu." Reno melangkahkan kakinya lebih dulu.

Deana melirik sekilas, “Ada apa harus ke sini?” tanyanya pelan, tapi jelas ada nada curiga di sana.

Reno tidak langsung menjawab. Ia berhenti sesaat, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, “Masuk saja,” ucapnya singkat, “Nanti kamu juga tahu.” lanjutnya.

Jawaban yang menggantung. Jawaban yang membuat perasaan Deana semakin tidak nyaman.

Namun ia tidak bertanya lagi. Tanpa banyak bicara, Deana mengikuti kemana langkah Reno pergi.

Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah, suasana pagi itu terasa sangat sepi.

Tidak ada suara pelayan, tidak ada suara televisi, bahkan tidak terdengar langkah kaki siapa pun.

“Aneh.” gumam Deana lirih.

Reno berjalan lebih dulu, langkahnya tegas, tanpa menoleh, “Ke ruang kerja Daddy.”

Deana mengambil napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kedua tangannya saling meremat satu sama lain.

Langkah mereka berhenti di depan pintu besar berwarna cokelat tua.

Tok... Tok... Tok....

“Masuk.” suara berat itu terdengar dari dalam.

Ceklek~

Reno membuka pintunya lebar dan melangkah masuk, diikuti oleh Deana di belakangnya yang tubuhnya sudah terasa panas dingin dan tidak nyaman itu.

Ruang kerja itu sangat luas, rapi, dan dingin. Harum wangi teh terasa segar di indra penciuman.

Di tengah ruangan, Tuan Samuel duduk di kursinya dengan posisi tegap. Wajahnya datar, tapi justru itu yang membuatnya terlihat mengintimidasi.

Di atas meja terdapat beberapa lembar foto yang tersusun rapi.

Mata Tuan Samuel langsung tertuju pada Deana. Menelusuri dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan yang merendahkan.

“Jadi... ini perempuan itu.” suara rendahnya menggema di ruangan.

Deana mengernyit, "Maaf Tuan." balas Deana sopan. Sungguh ia tidak tahu dia siapa, bahkan sekedar nama pun ia tidak mengetahuinya. Tatapan Tuan Samuel mematikan, membuat Deana sedikit menundukkan kepalanya.

Reno berdiri di sampingnya, diam. Ia tidak membela dan tidak juga menyangkal. Ia menghela napasnya berat, "Dad, ini... Deana." ucapnya memperkenalkan, "Reno harap, Daddy bisa menerima Deana sebagai menantu Daddy." sambungnya berucap.

Tuan Samuel terkekeh, "Menantu?" tanyanya masih tertawa kecil.

Tuan Samuel mengambil salah satu foto, lalu melemparkannya ke meja di depan Deana dan Reno.

“Lihat itu.” nada suara Tuan Samuel tajam.

Deana ragu sejenak, tapi tetap mengambilnya. Dan detik berikutnya napasnya terasa begitu tercekat.

Itu foto dari CCTV hotel. Dirinya... dan Reno, sedang melakukan hal yang tak seon*oh.

"Dad.... Dari mana Daddy dapat foto ini?" Reno tergelak, ia menelan ludahnya kasar.

"Cukup!” bentak Tuan Samuel. Suasana langsung menegang.

“Perempuan seperti kamu,” lanjut Tuan Samuel dingin, “Masuk ke hidup anakku dengan cara kotor.”

Kalimat itu seperti tamparan bagi Deana yang merasa korban tapi serasa dia yang disalahkan.

Deana mengepalkan tangannya, “Jangan sembarangan bicara, Tuan.” balasnya, suaranya mulai bergetar menahan tangis, tapi masih berusaha tegas.

Tatapan Tuan Samuel berubah tajam, “Kamu berani melawan saya?”

“Karena sa... saya tidak melakukan apa yang Anda pikirkan.” jawaban itu keluar begitu saja dari mulut kecil Deana tanpa ragu.

“Tidak?” Tuan Samuel tertawa sinis, ia mengambil beberapa foto lain, lalu melemparkannya tepat ke wajah Deana.

Foto-foto itu berhamburan di lantai karena Deana sama sekali tidak menangkapnya.

“Lalu ini apa?!” seru Tuan Samuel menatap tajam Deana.

Deana menunduk ketakutan, ia melihat semuanya. Tangannya mulai gemetar bukan karena takut, tapi karena harga dirinya merasa diinjak.

Langkah Daddy Samuel mendekat ke arah Deana, “Wanita murahan!” hardiknya

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Deana. Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Tubuh Deana sedikit terhuyung ke samping. Jilbab yang sedang dikenakannya sedikit berantakan, pipinya langsung memerah.

Reno menegang. Reno mengacak rambutnya kasar, "Dad...." ia berusaha untuk menjelaskan. Ia begitu ceroboh karena lupa membungkam bagian CCTV hotel di hari itu.

“Diam!” bentak Tuan Samuel tanpa menoleh.

Tatapannya tetap menusuk ke arah Deana,.“Jangan kira kamu bisa masuk ke keluarga ini dengan menjebak putraku.”

Deana perlahan menegakkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. Namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia menatap langsung ke arah Tuan Samuel.

“Sudah selesai?” tanya Deana pelan, ia hampir menangis. Dadanya sesak. Apalagi saat melihat Reno bungkam dan tidak membelanya sedikit pun.

“Saya datang ke sini bukan untuk dihina,” lanjut Deana, suaranya rendah tapi tegas.

Deana menoleh pada Reno, "Saya... Saya bukan wanita murahan, saya tidak tahu apa-apa. Dan saya di sini adalah korban." jelas Deana.

Reno terdiam, ia menarik napasnya panjang lalu menatap Tuan Samuel, "Dad, maafkan Reno." ucapnya lirih, "Dea benar, dia tidak salah... Reno... Reno yang salah."

Tuan Samuel mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa sesak itu, "Kau...." tunjuknya pada Reno.

Reno mengangguk, "Deana tidak salah."

PLAK!

PLAK!

Tuan Samuel kembali melangkan tamparannya, bahkan lebih keras untuk Reno.

Reno memejamkan matanya, "Maafkan Reno, Dad."

Tuan Samuel berdecak, "Tetap saja Daddy tidak ingin kau menikah dengan perempuan gembel dan murahan seperti ini. Lihatlah, dia pasti dari keluarga miskin." ucapnya sedikit merendahkan.

Deana mengangguk, "Saya tidak keberatan jika tidak menikah dengan Tuan Reno."

"Baguslah. Kau masih memiliki harga diri." jawab Tuan Samuel.

Deana mengangguk. Untuk berkata sepatah pun ia tidak kuat. Ia ingin menangis tapi tertahan dan berusaha tegar.

Tatapan Tuan Samuel beralih ke Reno, “Ren, sekarang kamu pilih.”

Suara Tuan Samuel terdengar dingin, “Perempuan ini... atau keluargamu.” lanjutnya.

Dan saat Reno hendak membuka suaranya....

Tok... Tok... Tok....

Pintu diketuk, “Dad, kamu di dalam?” suara Nyonya Ellen terdengar dari luar.

Pintu terbuka....

Mommy Ellen masuk dengan langkah cepat, wajahnya terlihat bingung.

“Dari tadi Mommy cari kalian dan menunggu Deana datang....” kalimatnya terhenti.

Matanya langsung menangkap suasana di dalam ruangan itu, Nyonya Ellen melihat seorang perempuan yang beberapa hari yang lalu bertemu di Mall.

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!