Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Sarah menampakan wajah tidak percaya, Kenapa laki-laki di depannya ini mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Apaan sih lo? Gue cuma tidur doang kok, Gue nggak enak badan makanya gue tidur di sini,"ucap Sarah sambil tertawa kecil.
Tapi raut wajah Marvin masih terlihat datar, seakan memperlihatkan bahwa ia sedang tidak bercanda.
Tawa Sarah berhenti, ia menelan salivanya." Gue baik-baik aja kok, lo lihat sendiri kan kalau gue masih hidup,"ucap Sarah memperlihatkan dirinya yang sudah sehat, bahkan perutnya juga sudah tidak terasa sakit lagi.
Marvin mendengus." Tapi tadi itu lo bener-bener nggak bernapas,"ucap Marvin dengan serius. Laki-laki itu berjalan mendekati salah kemudian duduk di ranjang sebelah Sarah. Marvin menetap tangannya yang terkepal kuat, bahkan sampai sekarang tangannya masih bergetar.
Takut?
Entahlah kenapa perasaan itu sangat tidak asing baginya. Marvin seperti pernah merasakan ketakutan yang hebat seperti tadi, ketakutan yang membuat jantungnya seakan berhenti dan ia bisa merasakan tubuhnya dingin seolah aliran darahnya terhenti saat itu juga.
Cara menatap Marvin dengan khawatir, wajah laki-laki itu terlihat sangat pucat. Apakah benar iya tadi sempat tidak bernafas sehingga membuat laki-laki itu terkejut seperti ini?
"Vin, gue beneran nggak apa-apa kok,"Sarah kemudian turun dari ranjang UKS dan berdiri tepat dihadapan Marvin. Tapi laki-laki itu tidak merespon, ia pun menepuk pundak Marvin supaya laki-laki itu mau menoleh ke arahnya tapi hal itu malah membuat Marvin mengadu kesakitan.
"Duh," Marvin marinir sambil menggenggam pergelangan tangan Sarah.
"Maaf, Lo kenapa?"
"Luka."
Sarah mangernyir." Lo habis dihajar siapa?"tanya nya. Gadis itu tidak habis pikir, Siapa yang berani menghajar Marvin? Sepertinya orang itu tidak sayang nyawa.
Marvin tidak menjawab. Sarah hanya bisa menghela napas, ia gema sendiri dengan sikap Marvin yang tidak jelas, terkadang dia dingin, terkadang perhatian, terkadang juga tiba-tiba menjadi sosok yang bijak.
Dalam sekejap, Marvin secara tak terduga melepas kemeja seragamnya. Sarah terpaku, matanya membulat penuh kejutan, tangan lekas menutupi wajahnya demi menjaga sopan santun. "Lo ngapain buka baju sih?" suara Sarah menggema dengan nada kesal memecah kesunyian.
Di ruang UKS yang mendadak hening, suasana canggung membungkus ruangan. Marvin, dengan gerakan lambat yang dipenuhi ketegangan, mulai mendekati Sarah. Sementara Sarah, dengan nafas yang tercekat, berusaha menghindari tatapan Marvin yang terasa menyusup dalam. Namun, dalam upaya menyelamatkan diri terhuyung menabrak meja di sebelahnya.
"Marvin Lo mau ngapain sih?"Sarah berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya, meskipun jantungnya sekarang berdetak tidak karuan. Ia perlahan mendorong makin tetapi matanya tetap tertutup rapat.
Sarah bisa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat karena keberadaan Marvin yang sangat dekat dengannya.
Namun tiba-tiba Marvin meniup dahi Sarah, membuat garis itu merinding karena terkejut atas perlakuan laki-laki itu yang tiba-tiba.
"Lo lagi mikir apa sih?"
Saraf perlahan membuka matanya dan melihat Marvin menatapnya bingung sambil memegang cold pack di tangannya. Ternyata laki-laki itu hanya ingin mengambil benda itu dari meja tempat di mana ia meletakkannya ketika pergi untuk memeriksa Sarah. Sarah yang tidak menyadari ini merasa canggung sekaligus merasa malu karena telah bertindak berlebihan.
"Lagian lu ngapain buka baju tiba-tiba? Gue kan jadi kaget sendiri."Sarah memalingkan wajahnya karena malu. Wajah gadis itu memerah kemudian dengan sengaja tangan itu mendorong wajah Marvin agar tidak melihat ke arahnya.
Terdengar kekehan kecil dari Marvin yang membuat Sarah semakin malu." Gue kan cuma mau ngompres luka gue pakai ini. Kalau gue pakai baju nanti baju gue malah basah. Lu nggak mikir yang aneh-aneh kan?"goda laki-laki itu.
"O-oh, Ya udah gue balik ke kelas duluan."ucap Sarah kemudian bergegas pergi keluar UKS tanpa melihat wajah laki-laki itu lagi.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Marvin terangkat begitu melihat reaksi Sarah yang salah tingkah. Namun, sedikit kemudian ia kembali tenang seperti biasa saat pintu uks tiba-tiba terbuka.
"Tas gue ketinggalan."
...
Dengan wajah yang sedikit merah karena kejadian di UKS tadi, Sarah memasuki kelas. Rasa jengkelnya semakin bertambah karena bayangan Marvin yang menertawakannya. Mengapa dirinya selalu tampak seperti wanita yang bodoh di depan laki-laki itu? Seharusnya Sarah berusaha untuk tetap tenang ketika bersama Marvin, seolah-olah sudah tidak memiliki perasaan khusus pada laki-laki itu.
Bodoh banget sih gue.
"Sarah, Ya ampun lo dari mana aja sih?!"suara lantang Tamara menggelegar di dalam ruang kelas ketika ia baru saja masuk. Akibatnya semua mata penghuni kelas termasuk Fabian langsung tertuju pada Sarah.
Secepat kilat Tamara menghampiri Sarah yang sudah duduk di bangkunya." Tahu dari mana aja? Dari tadi gue teleponin nggak lo angkat."
"Gue tadi ke- loh, guru yang ngajar hari ini nggak masuk?"tanya Sarah ketika sadar kondisi kelasnya yang cukup ramai karena tidak ada guru.
Tamara memutar bola matanya malas. " Dari tadi emang nggak ada guru. Lu ngelamunin apa sih baru nyadar sekarang? Jawab pertanyaan gue yang tadi,lo dari mana aja?"
"Iya, Lo dari mana Sar?" Geni Fabian menimpali dengan wajah penasaran.
Sarah menatap wajah Tamara dan Fabian bergantian." Gue nggak enak badan tadi, makanya gue pergi ke UKS untuk istirahat sebentar."
"Kenapa lo nggak bilang? Kalau gue tahu pasti gue bakal nemenin lo di UKS tadi,"ujar Tamara.
"Gue nggak sempat ngasih tau lo tadi, kepala gue kerasa pusing banget jadi gue langsung menuju UKS aja dan istirahat di sana."
"Sekarang gimana kondisi lo?"Kini Fabian yang bertanya.
Sarah menampilkan senyum simpul." Sekarang gue udah baik-baik aja."
"Lo habis dari UKS ya? Berarti Lo ketemu Marvin dong di sana?"
Tamara menoleh ke arah Daffa yang tiba-tiba muncul dan ikut dalam pembahasan mereka." Emangnya Marvin sakit? Dia sakit apa?"
Mendengar nama Marvin kembali disebut, warna merah menyala pada pipi Sarah, sebuah petunjuk bahwa hatinya masih labil mengingat nama tersebut.
"Hei, ini gue tanya lo, kok malah diem aja!" sergah Tamara dengan suara meninggi, senggolan bahunya membuyarkan lamunan Sarah.
"Gue nggak tahu, gue tadi nggak ketemu dia kok," jawab Sarah, suaranya bergetar, mengingkari detak jantungnya yang berpacu.
"Masa sih? Alvian bilang ke gue katanya dia habis nganterin Marvin kemarin ke UKS. Ya udah, gue pergi cek Marvin." Daffa pun pergi meninggalkan kelas dengan langkah gontai.
"Emangnya dia emaknya Marvin apa, segalanya harus nyamperin."
Sementara itu, dari sisi lain, Fabian hanya diam, matanya tak lepas memperhatikan Sarah yang tiba-tiba berubah rona dan tampak gelisah setiap kali Marvin disebutkan. Dia bisa merasakan bagaimana setiap sebutan nama itu menohok hati Sarah. Fabian menyimpan perasaan cemburu yang membuncah. 'Kapan Sarah akan membuka hatinya untukku?' pikirnya, sambil harapannya mulai layu menghadapi kenyataan pahit bahwa hati Sarah masih terikat dengan Marvin.
---
Kayla menunggu Sarah San Tamara di depan pintu gerbang. Rencananya mereka akan pergi makan bersama setelah pulang sekolah. Sudah sepuluh menit sejak bel berbunyi tapi Sarah dan juga Tamara masih belum muncul.
"Kayla!!" Teriak Tamara sambil berlari ke arah Kayla.
Kayla tersenyum hangat melihat kedua temannya.
"Kalau udah lama nunggu?" Tanya Sarah yang dibalas gelengan oleh Kayla.
"Yaudah, kita berangkat sekarang aja."
Hari ini Mereka ingin mencoba gue di kedai yang baru saja buka beberapa hari yang lalu. Letak kedai itu tidak jauh dari sekolah. Sarah sangat bersemangat untuk pergi ke sana karena pemilik toko itulah yang telah banyak membantu Sarah di kehidupan sebelumnya.
"Wah, liat deh. Banyak orang yang posting tentang kedai ini di sosmed," ucap Tamara seraya melihat-lihat sosial medianya.
"Kalau rame begini gak di ragukan lagi, pasti kue nya enak," seru Sarah.
"Emang Lo pernah ke sini, Sar?"
Pernah, sering malah.
"Gak pernah, tapi kemungkinan kuenya enak karena banyak yang sudah berkunjung ke toko itu. Gak mungkin kan kedainya ramai kalau kuenya kurang enak." Ucap Sarah menanggapi ucapan Kayla.
"Kalau gak enak, Lo traktir ya."
"Halah, bilang aja kalau Lo pengen ditraktir," cibir Sarah.
Tamara menunjukkan deretan giginya." Nah itu, ternyata Lo peka juga."
Sesampainya mereka di kedai kue itu, pernyataan antrian di sana cukup panjang. Selama menunggu, Tamara tidak berhenti mengomel. Kalau saja Sarah tidak pernah merasakan yang namanya hidup susah, mungkin dari tadi iya sudah mau ngomong seperti Tamara, bahkan mungkin dia akan memotong antrian supaya bisa mendapatkan kue lebih awal.
Selagi menunggu, tiba-tiba ponsel milik Kayla berbunyi. Setelah menerima telepon tersebut, Bella terlihat manis dan langsung berpamitan untuk pergi.
"Gue anter ya, Kay." Tawar Sarah begitu melihat sehingga berusaha memesan ojek online.
Kayla terdiam sesaat, terlihat dari wajahnya sepertinya gadis itu sedang ragu.
"Iya, Tan. Lo ikut sama Sarah aja. Gue juga mau ikut." Ucap Tamara.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Kayla menyetujui. Sebelum pergi sana sempat menoleh ke arah kedai dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan pemilik kedai. Sang pemilik kedai tersebut tersenyum sehingga membuat Sarah terkejut. Cara berpikir bahwa pemilik kedai mungkin mengenalnya, tapi bisa jadi juga iklan senyuman ramah dari pemilik gadai pada pelanggannya.
"Sar, ayo cepetan!" Sahut Tamara saat melihat Sarah yang masih diam.
Mereka segera menuju mobil Sarah, setelah berada di dalam Sarah segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang akan Kayla tuju. Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang ternyata merupakan rumah sakit. Sarah menatap gedung tinggi di depannya, ini adalah rumah sakit yang pernah IA kunjungi bersama Marvin. Apakah Kayla ke sini untuk bertemu wanita itu?
Kayla dengan sejarah memasuki rumah sakit dan menghampiri meja resepsionis, kemudian ia melangkah cepat menuju sebuah ruangan yang Sarah ya kini sebagai ruangan dokter. Dari luar ruangan sama-sama Sarah dan Tamara bisa mendengar percakapan mereka.
"....harus segera melakukan operasi lanjutan?" Ucap dokter itu.
Terdengar Kayla menghelan napas lelah." Operasi tersebut memakan biaya berapa banyak, dok?"
"Siapa yang mau dioperasi?" Bisik Tamara pada Sarah.
"Gak tau, udah diem dulu," Sarah memperingati Tamara agar diam.
"Kamu bisa tanyakan langsung ke bagian administrasi, tapi diperkirakan jumlah biayanya tidak sedikit."
Kayla meremas tangannya." Baik, Saya akan membicarakan lagi hal ini dengan kakak saya. Terima kasih dok."
Setelah berpamitan dengan sang dokter, Kayla buka pintu. Sarah dan Tamara segera mengubah posisi mereka.
"Ada yang mau gue tunjukin ke kalian," ucapkanlah kemudian berjalan mendahului kedua temannya. Tamara dan Sarah sempat bertatapan kemudian berjalan mengikuti Kayla.
Mereka pun berhenti di salah satu ruangan. Kayla mau buka pintu itu dan terlihat seorang wanita berbaring dengan berbagai peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.
Sarah menatap wanita itu. Benar dugaannya, wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang pernah dia dan Marvin temui.
"Kenalin, ini ibu gue."
Tamara tampak sangat terkejut, sedangkan Sarah yang sudah tahu perihal ini hanya diam saja.
"Karena kalian sudah terlanjur tahu, Aku mau cerita sesuatu ke kalian."
Kayla tidak ingin menyembunyikan masalah ini terlalu lama dari kedua temannya. "Kalian mau kan dengerin cerita gue?"