Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Ponselku berbunyi, di saat aku masih terduduk di atas kursi belajarku.
Dering ponsel yang bergetar itu datang dari mantan rekan setim-ku di SMA Hangzhou no. 9 Highschool.
Ye Chen.
Pemain yang sering menerima umpan panjangku, dia si striker haus gol dalam kesebelasan tim kami.
Orang yang selalu mengerti posisinya, tahu kapan harus berlari untuk menerima umpan radikal dari kaki yang pernah tak cacat ini, setidaknya itu dulu, sebelum cedera menerpaku.
Klik.
“Halo.” Aku mengangkat panggilan WhatsApp itu. “Ada apa Ye Chen?”
“Ahh ... maaf menelpon mu Xiao Han,” suaranya berat, sosok yang dulu sering kudengar dari teriakan meminta passing. “Kau tahu, Guangzhou akan bertandang ke Huanglong Sport Center Stadium nanti sore.”
“Hmm ... aku sudah tahu Ye Chen, kenapa? Aku takkan menonton laga itu,” kataku sinis.
“Bukan masalah laganya, Han. Tapi, Lu Gacheng akan debut bersama mereka ...”
Nama itu, membuat dadaku sedikit merasa sesak.
“Ahh dia ...” kataku tertawa getir. “Pastinya dia akan dilirik raksasa klub Chinese Super League, pastinya sih begitu ...”
“Apa kau ingin ikut? Aku penasaran dengannya, Han. Beberapa media menyebutkan dia adalah striker masa depan Tim Nasional China. Dia sainganku.”
“Hahh ...” Helaan napas itu sedikit lebih panjang dari yang kurencanakan. “Ibuku libur ... kau tahu ibuku bagaimana, kan? Aku akan mati jika pergi bersamamu, dia tahu kita akan menonton sepak bola.”
Dari ponsel yang kutempelkan di telingaku, suara napas Ye Chen terdengar lama.
“Berarti tidak bisa, ya? Sayang sekali. Kau tahu, aku masih berharap, menjadi pemain di tingkat profesional. Jika tidak, aku akan melanjutkan studi ku saja ...”
“Hahahaha, terima saja kenyataannya.” Aku berdiri dari kursi di meja belajarku. “Mungkin ... inilah tangga menuju kedewasaan, kalau kata orang-orang sih begitu ...”
“Hahahaha, baiklah. Jika kau ada celah untuk ikut, telepon saja aku.”
“Ya.”
Klik.
Ruangan kembali sunyi ...
Aku meletakan ponselku di atas meja.
Tak ada aroma rumput yang biasa ku hirup, hanya kehampaan dari pewangi ruangan khas mawar yang menyeruak masuk ke hidungku.
Untuk apa punya sistem jika aku tak bisa bertindak bebas?
“Sistem,” kataku redup suara.
[ SISTEM KEPELATIHAN ]
“Buka statistik diriku.”
...\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Host : Xiao Han....
...Pelatih tingkat Trainee berambut hitam pendek dengan mata tajam yang visioner....
...Trainee : 50 - 1.000 EXP (menuju tingkat Junior)....
...Vision Tactical....
...Visi Taktis : 12/100....
...Manajemen pelatih : 8/100....
...Analisis Lawan : 5/100....
...Komunikasi : 7/100....
...Motivasi : 50/100....
...\=~\=~\=~\=~\=~\=...
“Hanya naik 50 EXP dan 30 Motivasi.” Aku mendongak, menatap pijar lampu kamarku, bersandar lemas di punggung kursi. “Lu Gacheng ...”
Andai kata aku masih diizinkan takdir untuk bermain bola, apa Lu Gacheng yang akan menerima umpanku di lapangan? Apa aku akan mencapai Tim Nasional?
Hanya kata entahlah yang menyibak kepalaku sekarang, ketidakpastian.
Bahkan, setelah memiliki sistem yang datang ketika harap itu hampir hancur.
Ketidakpastian masih terus tinggal di dalam benak jiwaku.
Aku hanya perlu membuktikan, mungkin ibu akan memberiku kesempatan untuk yang terakhir kalinya.
Buku Dasar-Dasar Formasi 4-3-3 kugenggam, aku melirik corak lapangan hijau dengan garis emas di tepi sampul.
Dua bulan aku membacanya, buku ini lebih dari yang kukira.
Zhejiang Profesional FC. Sang tuan rumah dari Huanglong Sport Center Stadium. Memakai formasi itu.
Aku ingin menyaksikan pertandingan klub provinsi-ku kontra Guangzhou FC. Menonton langsung debut pemain yang harusnya kulawan di laga final Turnamen Nasional Tingkat SMA saat itu.
Banyak penyesalan yang tak bisa di utarakan ...
“Pak Guan Tian, dia sudah memiliki sertifikat kepelatihan tingkat B dari CFA, seharusnya dia bisa melatih lebih dari tingkat SMA.”
Kepalaku berputar, lisensi kepelatihan. Jika aku menapaki dunia ini ... Aku harus berjuang untuk mendapatkan lisensi di tingkat D terlebih dahulu.
“Mungkin ... menurut Pak Guan Tian, aku hanya ingin mengambil jalan pintas, karena menjadi asisten pelatihnya, jenjang karirku akan bagus di CV,” kataku sembari terpejam.
Denting!
Ponselku berbunyi lagi.
Akhir-akhir ini, ponsel hasil dari tabungan jajanku semasa sekolah, bekerja lebih keras dari yang seharusnya. Aku tahu nada notifikasi yang mencuat itu berbeda dari kontak teman-temanku yang lain.
Nada itu ...
“Shen Yuexi, kah?” Irisku menatap layar ponsel yang menyala, lalu merabitnya. “Apa dia akan mengirim foto-foto dirinya lagi?”
Aku mengusap tanganku di atas layar ponsel dekat kamera depan, bukan untuk membuka pesan masuk, tapi membacanya dari notifikasi.
Mataku membelalak, ketika barisan huruf dari pesan Shen Yuexi membuat dadaku bergetar.
| Han |
| Aku tahu kau takkan diterima sebagai asisten pelatih Pak Botak itu |
| Jadi aku mengecek internet |
| Aku melihat ... |
“Melihat apa?”
Pesan itu terpotong layar karena tak mencakup lebih banyak kata. Tanganku refleks membukanya.
| Aku melihat SMP Hangzhou Xuejun Middle School sedang mencari asisten pelatih untuk ekskul sepak bolanya. Aku sudah datang ke sana, dan mengajukan namamu sebagai orang yang pernah menyandang aset gelandang Tim Nasional China masa depan, mereka bilang kenalkan dirimu |
“Y-Yue ...”
Mataku mengabur, ingin menangis ... di tengah kegundahanku di dalam kamar kecilku yang menyebalkan. Shen Yuexi datang lagi membawakan kabar yang baik untuk kudengar.
Jariku mengetik keyboard ponsel.
^^^| Kau serius? |^^^
Kemudian, stiker WhatsApp kuselipkan setelah pesan terkirim.
Stiker wajah tersenyum berbunga-bunga yang sering kuberi pada Shen Yuexi.
Tanda ceklis dua di pesan WhatsApp-ku dan Shen Yuexi itu langsung membiru. Di sana, munculah titik tiga bergelombang, pertanda dirinya sedang mengetik balasan.
| Kapan aku pernah berbohong padamu? |
Bersamaan dengan pesannya, dia melontarkan stiker kelinci beraut wajah kesal sedang membalikkan meja.
“Hahahaha, Yue tetap Yue ...” Bibirku tersenyum simpul.
Tunggu. Tunggu. Tunggu.
Jika aku pergi ke laga Zhejiang kontra Guangzhou bersama Ye Chen.
Ibu pasti curiga, dia tahu siapa Ye Chen.
Tapi jika ... bersama Shen Yuexi, semua akan baik-baik saja, karena ibu juga tahu siapa gadis itu.
“Ahh.” Aku memukul telapak tanganku sendiri. “Aku punya ide.” Kembali jari-jari tanganku mengetik di pesan WhatsApp.
^^^| Kau di mana? |^^^
Pesan terkirim, aku sedang menyiapkan kalimat selanjutnya, namun terhenti di tengah kata.
| Aku di ruang makan, menunggumu turun |
“Ehh?” Pesan itu membuatku mematung. “EEEHHH?!” Aku berteriak, sangat lantang.
“Han ... cepat turun, ada Yue'er di sini.” Dari luar kamar, suara ibu datang masuk.
Irisku masih terkunci pada layar ponsel, belum beralih pandang, walau ibu memanggil, tubuhku seakan enggan meresponnya.
| Aku sudah izin ke ibumu untuk mengantarku ke perpustakaan kota Hangzhou |
| Tenang saja, kita akan menonton pertandingan Zhejiang di Huanglong Sport Center Stadium |
| Aku tahu, kau ingin ke sana, kan? |
“Dia benar-benar mengerti segala hal tentangku.” Senyum kecut timbul di pipiku tak sampai ke mata. “Hahahaha.”
“XIAO HAN! APA KAU DENGAR IBU?!” suara ibu kembali memanggil, kali ini lebih menggelegar, nada bicara galak yang kudengar selama aku hidup di rumah ini.
“Baik ibu, aku akan turun,” balasku suara kuat.
Dengan napas yang tersengal karena terkejut, aku bangkit dari kursi. Menuju pintu dengan derap kaki yang pincang.
“Dasar Yue ... kau memang sesuatu dalam hidupku.”
Bagiku, Yue adalah cahaya ketika gelap datang. Dia seakan bayangan di belakang tubuhku yang setia mengikuti.
Setiap aku berjalan tanpa kompas di tangan, dia menjadi arah penentu di mana matahari terbit menyingsing.
Aku memang menyukainya, hanya sebatas teman.