Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Awan dan Rahasia Mertua
Mesin pesawat Airbus A330-900neo itu menderu halus. Menciptakan vibrasi rendah yang biasanya menenangkan bagi para pelancong bisnis. Pada kabin kelas eksekutif yang eksklusif.
Udara terasa dingin dan steril, beraroma campuran kulit jok premium dan pengharum ruangan maskapai yang mahal. Adnan duduk bersandar, namun tubuhnya tidak menunjukkan relaksasi sedikit pun. Matanya yang tajam menatap kosong ke hamparan awan putih yang menggumpal. Seperti kapas di luar jendela kecil di sampingnya.
Di jari manis tangan kirinya. Sebuah lingkaran platina polos berkilat tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus lapisan stratosfer. Tanpa sadar, ibu jari kanannya terus mengusap permukaan cincin itu.
Berulang-ulang, sebuah gerak refleks yang biasanya melambangkan ketenangan atau kebiasaan berpikir. Namun kali ini adalah manifestasi dari badai yang tertahan di balik rongga dadanya.
Setiap usapan adalah sebuah memori yang menyakitkan. Ingatan tentang janji suci di depan penghulu tiga tahun lalu. Tentang bagaimana ia berjanji di hadapan Tuhan dan keluarga untuk menjaga Arini. Ia teringat binar mata Arini yang tampak begitu tulus saat itu atau setidaknya, begitulah cara Adnan menginterpretasikannya selama ini.
Kini, setiap usapan pada cincin itu terasa seperti menyentuh luka bakar yang masih basah. Laporan dari Jo Bima Arianto tentang "bekas merah" di leher istrinya terus berputar seperti film horor yang diputar berulang kali di benaknya.
"Mengusap cincin itu tidak akan mengubah kenyataan yang sedang kamu lawan di kepala, Nan."
Sebuah suara lembut namun tegas, dengan nada bariton yang feminin, memecah lamunannya. Adnan sedikit tersentak, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan di depan umum. Ia menoleh ke kursi di sebelahnya yang seharusnya kosong berdasarkan informasi manifes yang ia terima tadi pagi.
Di sana, duduk Clarissa Mahendra. Wanita itu tampak sangat kontras dengan suasana kabin yang kaku. Ia mengenakan setelan blazer linen berwarna krem yang jatuh sempurna di bahunya yang tegak.
Kacamata hitamnya ia sangkutkan di kerah baju, memperlihatkan mata yang cerdas dan penuh selidik. Aura otoritasnya terpancar kuat, seolah ia adalah pemilik dari seluruh maskapai ini.
"Clarissa? Kamu di penerbangan ini juga?" Adnan bertanya, suaranya tetap terkontrol meski ada sedikit kerutan di dahinya.
Clarissa menyesuaikan posisi duduknya, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun, "Mahendra Group punya akses prioritas untuk kursi kosong di menit terakhir dan sepertinya, alam semesta sedang ingin kita melanjutkan obrolan semalam yang sempat tertunda karena protokol bisnis."
Clarissa memperhatikan jemari Adnan yang kini berhenti mengusap cincin. Tatapannya turun ke lingkaran platina itu, "Wanita itu... Arini, ya? Namanya seindah orangnya, aku yakin. Dia pasti sangat beruntung di dunia di mana loyalitas adalah barang langka. Melihat pria sepertimu menatap cincin pernikahannya dengan intensitas seperti itu, itu hampir puitis. Kamu sangat mencintainya, kan?"
Adnan terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa seperti sembilu yang menyayat ego laki-lakinya. Mencintai Arini? Dulu, ia akan menjawab ya tanpa ragu. Sekarang? Cinta itu sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang gelap. Sesuatu yang menyerupai amarah yang membeku.
"Dia istri saya, Clarissa. Mencintainya adalah bagian dari tanggung jawab dan janji yang saya ambil," jawab Adnan datar, berlindung di balik kata tanggung jawab untuk menutupi keretakan hatinya.
"Tanggung jawab adalah tugas, Adnan. Tapi cinta adalah kerentanan," Clarissa membalas dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Tapi aku tahu kamu. Sejak kita masih di studio arsitektur kampus dulu, kamu adalah pria dengan presisi tinggi. Jika kamu sudah memilih satu titik koordinat, kamu akan tetap di sana. Kamu setia pada pilihanmu, bahkan jika pilihan itu mulai mengkhianatimu."
Adnan tidak membantah, namun ia juga tidak memberikan celah bagi Clarissa untuk masuk lebih dalam. Meskipun hatinya hancur berkeping-keping karena ulah Arini dan Bagaskara. Adnan adalah pria yang menjunjung tinggi martabat.
Ia tidak akan menjadikan aib istrinya sebagai bahan konsumsi wanita lain. Meskipun wanita itu adalah Clarissa yang jelas-jelas mengaguminya.
Ia tetap menjaga rapat rahasia tentang perselingkuhan itu. Baginya, kehormatan Arini adalah kehormatannya juga. Setidaknya sampai ia memutuskan untuk benar-benar menghancurkannya sendiri.
"Dia wanita yang sangat lembut," Adnan mengucapkan kalimat itu sebagai tameng, "Seseorang yang butuh dijaga."
"Tentu," sahut Clarissa, nada suaranya mengandung sarkasme halus.
"Wanita lembut sering kali menjadi alasan pria hebat tetap waras. Atau mungkin, alasan pria hebat akhirnya kehilangan akal sehatnya."
Pesawat terus menanjak, membelah langit biru menuju Surabaya. Clarissa, yang tampaknya kurang tidur setelah maraton rapat dan mengurus proyek raksasa di Jakarta, mulai tampak kelelahan. Surabaya adalah kotanya tempat ia tumbuh besar dan menempuh pendidikan, meskipun gurita bisnis keluarganya berakar di ibu kota Jakarta.
"Maaf, Adnan. Aku harus memejamkan mata sebentar. Tubuhku tidak sekuat ambisiku," gumam Clarissa. Tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk terlelap.
Dalam tidurnya, topeng keangkuhannya sedikit luruh. Memperlihatkan raut wajah yang lebih tenang namun tetap menyimpan misteri. Adnan kembali sendirian di kabin eksekutif ini, sistem komunikasi satelit memungkinkan penggunaan ponsel secara leluasa bagi penumpang VIP. Ponsel Adnan bergetar di saku jasnya.
Sebuah pesan masuk. Bukan dari Jo, bukan pula laporan tambahan tentang pengkhianatan Arini. Bukan juga laporan dari Bima yang sudah berangkat lebih dahulu. Melalui pesawat ekonomi satu jam yang lalu.
Ternyata pesan itu dari Sang Ayah mertua yang berada di kota dingin Malang. Ayah Arini itu memang sangat mengagumi akan menantunya yakni Adnan sendiri. Adnan membuka pesan itu dengan dahi berkerut.
"Adnan, Ayah ingin bicara penting sekali. Kalau kamu sudah mendarat dan kembali ke Surabaya, tolong sempatkan datang ke Malang. Temui Ayah di paviliun belakang rumah jam tujuh malam ini. Datanglah sendiri, jangan ajak Arini. Ada hal yang hanya bisa Ayah bicarakan denganmu, laki-laki ke laki-laki. Ayah tunggu."
Adnan menatap layar ponselnya lama sekali, pesan itu tidak biasa. Mertuanya, seorang pria yang sangat menjaga etika dan tata krama. Jarang sekali memintanya bertemu secara rahasia tanpa melibatkan Arini. Ada sesuatu yang sangat mendesak dalam nada tulisan itu.
Datanglah sendiri, kalimat itu memicu kecurigaan di benak Adnan. Apakah Ayah mertuanya sudah tahu tentang Bagaskara? Ataukah Arini telah melakukan sesuatu yang lebih buruk yang selama ini disembunyikan oleh keluarganya? Adnan melirik Clarissa yang masih terlelap di sampingnya.
Lalu beralih menatap pantulan dirinya di jendela pesawat yang mulai merendah. Karena proses pendaratan akan segera dimulai. Surabaya sudah terlihat di bawah sana, namun pikiran Adnan sudah melesat jauh ke arah selatan, menuju Malang.
"Satu per satu rahasia mulai menampakkan diri," bisik Adnan pada dirinya sendiri.
Ia memasukkan ponselnya kembali, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Cincin pernikahan itu terasa semakin menjepit jarinya. Seolah-olah ia sedang memakai belenggu yang sebentar lagi harus ia lepaskan atau justru ia gunakan untuk menjerat siapa pun yang telah merusak hidupnya.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...