NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Perjamuan Tikus di Istana Debu

Gudang Nomor 12 di pesisir utara berbau garam dan oli tua. Di dalamnya, Maya sedang menatap layar hologram yang berpendar biru, sementara Sari duduk di atas peti kayu, jemarinya yang masih gemetar mencoba meraut tangkai kayu dengan belati pemberian Arga. Saat pintu besi berderit terbuka, aroma belerang dan hawa dingin yang asing menyeruak masuk.

Arga melangkah masuk. Tubuhnya penuh luka, kemejanya nyaris hancir, namun di genggamannya, seikat Akar Langit bercahaya dengan denyut biru yang tenang.

"Arga!" Sari menjatuhkan kayunya, berlari kecil dan menahan diri tepat di depan Arga. Ia ingin memeluk, namun takut menyentuh luka-luka itu. "Kau... kau kembali."

Arga menatap mata Sari. Kelembutan muncul di sela-sela wajahnya yang keras, seperti bunga yang tumbuh di retakan aspal. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Sari dengan ibu jari yang kasar. "Aku membawa penawarnya, Sari. Kabut di kepalamu... aku akan membantunya menyingkir."

"Duduklah, Kuli. Kau terlihat seperti baru saja dikunyah mesin giling," seloroh Maya, meski matanya memancarkan kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Arga menyerahkan Akar Langit itu kepada Abah. Pria tua itu segera menumbuknya dengan campuran minyak zaitun dan kristal garam mentah di atas piring porselen retak. Aroma herbal yang segar segera memenuhi gudang, menetralkan bau amis laut.

"Minum ini, Nduk," Abah menyerahkan cawan berisi cairan biru pekat kepada Sari. "Ini bukan sihir. Ini adalah resonansi alam untuk memperbaiki apa yang dipaksa pecah oleh mesin-mesin itu."

Sari meminumnya. Seketika, tubuhnya menegang. Matanya membesar, dan untuk sesaat, warna emas redup muncul di irisnya. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan, bahunya yang kaku mulai melemas. Pandangan matanya yang semula kosong kini mulai memiliki "berat" dan kedalaman. Trauma itu belum hilang, tapi fondasinya sudah kembali.

"Simpan momen romantis kalian untuk nanti," interupsi Maya sembari memutar monitor ke arah Arga. "Ada badai yang lebih besar dari Devada Adiraja. Lihat ini."

Layar itu menampilkan sebuah undangan digital berwarna hitam legam dengan lambang Garuda Emas yang Terbelah.

"The Black Auction. Pelelangan Pasar Gelap di bawah Hotel Majapahit malam ini," Maya menjelaskan dengan nada serius. "Salah satu lot yang dilelang adalah 'Pedang Patah Mahendra'. Itu adalah pusaka milik kakek buyutmu, Arga. Konon, pedang itu menyimpan kode enkripsi untuk membuka brankas rahasia keluarga Mahendra yang berisi bukti pengkhianatan Indra Mahendra dua puluh tahun lalu."

Arga menatap gambar pedang berkarat yang tampak tak berharga itu. Namun, Mustika di dadanya berdenyut kencang, sebuah sinyal pengenalan antara dua benda sakti yang berasal dari garis darah yang sama.

"Siapa yang melelangnya?" tanya Arga.

"Seorang makelar informasi bernama Si Tangan Besi," jawab Abah. "Tapi pesertanya bukan sembarang orang. Keluarga Rajendra, Adiraja, dan bahkan perwakilan dari luar negeri akan ada di sana. Mereka tidak hanya membawa uang, Arga. Mereka membawa 'algojo' masing-masing."

"Berapa harga pembukaannya?"

"Lima ratus miliar," ucap Maya pahit. "Uang yang tidak akan pernah kita miliki meski kita menjual seluruh ginjal di pemukiman ini."

Arga terdiam. Ia melihat tangannya sendiri yang kini dialiri energi stabil dari Akar Langit. Ia bukan lagi Arga yang lemah. Ia adalah Master Muda.

"Kita tidak akan membeli pedang itu dengan uang," Arga berdiri, suaranya kini tajam dan lugas, memotong udara. "Kita akan membelinya dengan keberanian. Maya, siapkan akses identitas palsu. Abah, aku butuh bahan peledak skala kecil yang tidak terdeteksi sensor logam."

Sari berdiri, menggenggam belatinya erat. "Aku ikut, Arga. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi 'anomali' sendirian lagi."

Arga menatap Sari. Ada keraguan di matanya, namun ia melihat api yang sama di mata gadis itu—api yang lahir dari penderitaan yang telah melampaui batas. "Baik. Tapi kau berada di bawah pengawasan Maya. Tugasmu adalah mengalihkan perhatian jika keadaan memburuk."

MALAM ITU, HOTEL MAJAPAHIT.

Kemewahan hotel ini adalah tamparan bagi kemiskinan di luar sana. Lantai marmer mengkilap, lampu kristal yang menggantung seperti air mata dewa, dan aroma parfum mahal yang memabukkan. Arga masuk mengenakan jas hitam curian yang dipaskan secara paksa pada tubuh atletisnya. Maya di sampingnya tampak anggun dengan gaun merah tua, menyembunyikan pistol kecil di paha dalamnya.

Di aula pelelangan yang remang, para elit duduk dengan keangkuhan yang nyata. Mereka adalah tikus-tikus berdasi yang berpesta di atas penderitaan orang lain.

"Hadirin sekalian," suara juru lelang yang dingin menggema. "Lot terakhir malam ini. Sesuatu yang dicari oleh banyak orang, namun hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki darah dan emas yang cukup. Pedang Patah Mahendra!"

Saat kain penutup dibuka, seluruh ruangan seolah bergetar. Arga merasakan Mustikanya mengerang. Di sudut ruangan, ia melihat Vikri Mahendra duduk dengan senyum sinis. Sepupunya itu mengangkat papan tawaran tanpa ragu.

"Enam ratus miliar!" teriak Vikri.

"Tujuh ratus miliar!" suara lain menyambar dari arah perwakilan keluarga Rajendra.

Arga melangkah maju ke tengah aula, mengabaikan tatapan sinis para penjaga keamanan. Ia tidak membawa papan tawaran. Ia hanya membawa kehadirannya yang dominan, sebuah aura dewa perang yang membuat suhu ruangan mendadak turun beberapa derajat.

"Aku menawar dengan harga yang tidak bisa kalian tandingi," suara Arga membelah hiruk-pikuk pelelangan.

Seluruh ruangan menoleh. Vikri Mahendra berdiri, matanya membelalak tak percaya. "Arga?! Bagaimana tikus kuli sepertimu bisa masuk ke sini?!"

Arga menatap tepat ke arah juru lelang. "Aku menawarkan Kepala dari Pengkhianat Mahendra sebagai gantinya. Dan jika itu tidak cukup..."

Arga menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Energi emas meledak secara terkendali, menciptakan retakan menjalar yang menghancurkan meja-meja mewah di depannya.

"Aku akan mengambilnya dengan paksa."

Kekacauan pecah. Lampu-lampu kristal mulai bergoyang hebat. Pasukan keamanan Mahesa bermunculan dari balik tirai. Di saat yang sama, Maya menekan tombol di ponselnya, memicu ledakan kecil di sistem kelistrikan hotel.

Bzzzzzt! Gelap.

Di tengah kegelapan, hanya ada satu warna yang terlihat: pendar emas dari dada Arga dan biru elektrik dari Pedang Patah yang mulai beresonansi. Perjamuan tikus telah usai. Sekarang, saatnya sang predator mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!