Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Kedatangan Murid Nara
Tiga hari telah berlalu sejak insiden di tempat bimbingan belajar itu, namun bagi Nara, waktu seolah berhenti di detik saat foto-foto hinaan itu dilemparkan ke wajahnya. Mansion
Setiawan yang megah kini tak lebih dari sebuah makam bagi jiwanya.
Nara mengurung diri di kamar utama. Gorden beludru tebal tidak pernah dibuka, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam remang yang menyesakkan. Ia duduk di pojok lantai, memeluk lututnya, menatap nanar ke arah tumpukan buku modul yang kini tampak seperti sampah tak berguna.
"Aku bukan lagi seorang guru," bisiknya dengan suara serak, hampir tak terdengar. "Aku hanya noda bagi mereka."
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat tatapan kecewa Dimas dan murid-muridnya. Ia mendengar gema teriakan "pelakor" dan "wanita murahan" yang menghantam martabatnya hingga berkeping-keping. Depresi itu datang seperti kabut hitam yang pekat, mencekik setiap keinginan untuk kembali berdiri.
Di luar pintu kamar, Danu Setiawan berdiri mematung. Pria yang biasanya mampu menggerakkan roda ekonomi ribuan orang itu kini merasa sangat kerdil. Ia membawa nampan berisi bubur ayam kesukaan Nara dan segelas susu hangat, namun tangannya ragu untuk mengetuk.
"Nara... makanlah sedikit," ucap Danu lembut dari balik pintu. "Papa menanyakan mu. Beliau ingin bermain catur lagi." Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang dingin.
Danu menarik napas panjang, kepalanya bersandar pada daun pintu yang kokoh. Rasa bersalahnya sudah mencapai titik didih. Vanya sudah ia hancurkan secara ekonomi semua kontrak bisnis keluarga Vanya diputus dalam semalam, membuat mereka berada di ambang kebangkrutan namun itu tidak membawa kembali sinar di mata Nara.
"Andra," panggil Danu pada asistennya yang berdiri tak jauh dari sana. "Kosongkan jadwal kantorku seminggu ke depan. Aku tidak akan pergi ke mana pun sampai dia keluar dari kamar itu."
"Tapi Tuan, ada rapat pemegang saham—"
"AKU TIDAK PEDULI!" bentak Danu, suaranya menggema di lorong mansion. "Saham bisa dibeli lagi, tapi jika aku kehilangan dia... aku kehilangan satu-satunya alasan kenapa aku ingin menjadi manusia yang lebih baik."
Sore itu, Nara akhirnya membuka pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab dengan lingkaran hitam yang dalam. Ia berjalan menuju ruang kerja Danu dengan langkah gontai, membawa selembar kertas yang diremasnya kuat-kuat.
Danu yang sedang menatap jendela langsung berbalik. "Nara! Kamu keluar? Syukurlah—"
TAK.
Nara meletakkan kertas itu di atas meja kerja Danu.
"Ini apa?" tanya Danu dengan firasat buruk.
"Surat pengunduran diri saya dari bimbel. Dan permohonan agar Bapak menghapus semua data saya sebagai pengajar di mana pun," suara Nara datar, tanpa emosi, yang justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
Danu membelalak. "Kenapa, Nara? Kamu mencintai pekerjaan itu! Kamu bilang itu jati dirimu!"
"Jati diri itu sudah mati, Pak Danu," Nara menatap Danu dengan mata yang kosong. "Seorang guru adalah teladan. Bagaimana saya bisa menjadi teladan jika seluruh dunia melihat saya sebagai wanita yang menjual diri demi uang? Bagaimana saya bisa menjelaskan 'probabilitas' pada murid saya, jika probabilitas saya untuk dihina lebih besar daripada dihormati?"
Nara tersenyum pahit, setetes air mata jatuh di pipinya yang tirus. "Biarkan saya menjadi pajangan di rumah ini sesuai keinginan Bapak sejak awal. Biarkan saya menjadi bayangan. Setidaknya di sini, tidak ada anak-anak yang akan ternoda karena mengenal saya."
"Nara, dengarkan aku—" Danu mencoba meraih tangan Nara, namun Nara menariknya dengan cepat.
"Jangan sentuh saya! Setiap kali Bapak menyentuh saya, saya teringat alasan kenapa semua ini terjadi. Saya membenci Bapak, tapi saya lebih membenci diri saya sendiri karena tidak bisa pergi dari sini."
Nara berbalik dan kembali masuk ke kamarnya, mengunci pintu dengan bunyi klik yang mematikan harapan Danu.
Danu terduduk di kursinya, meremas rambutnya frustrasi. Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak bisa menyembuhkan luka batin. Ia harus melakukan sesuatu yang menyentuh akar kehidupan Nara.
Malam itu, Danu mengendarai mobilnya sendiri menuju ruko bimbel yang kini sudah disegel polisi untuk penyelidikan. Ia melihat coretan-coretan di tembok yang belum sempat dibersihkan. Danu turun, mengambil ember berisi air dan sikat. Di tengah kegelapan malam, seorang CEO triliuner menyikat tembok ruko yang kusam dengan tangannya sendiri.
"Maafkan aku, Nara... Maafkan aku," gumamnya di tengah deru napas yang sesak.
Keesokan harinya, Danu mendatangi rumah orang tua Nara. Ia bersimpuh di depan Pak Rahardi dan Bu Amina. Ia tidak menceritakan kebenaran tentang Vanya, tapi ia menceritakan betapa Nara sedang merasa terpuruk.
"Ibu, Bapak... Nara butuh kalian. Tapi lebih dari itu, dia butuh alasan untuk percaya bahwa dia masih berharga," ucap Danu dengan tulus.
Bu Amina mengusap bahu Danu. "Nara itu seperti melati, Danu. Dia kuat di tengah hujan, tapi dia akan layu jika akarnya merasa tidak lagi diinginkan oleh tanahnya."
Dua hari kemudian, Danu meminta pelayan untuk membawa Nara ke taman belakang mansion dengan alasan Tuan Surya tiba-tiba sesak napas. Dengan panik dan insting perawatnya yang masih ada, Nara berlari menuju taman.
Namun, di sana ia tidak menemukan Tuan Surya yang sedang sakit.
Taman belakang itu telah disulap menjadi sebuah "Kelas Terbuka". Ada papan tulis putih besar, kursi-kursi kayu yang ditata rapi, dan aroma spidol tulis yang samar. Dan yang membuat jantung Nara berhenti berdetak adalah sosok-sosok yang duduk di kursi itu.
Dimas, Siti, dan delapan murid lainnya dari bimbel lama Nara. Mereka mengenakan seragam sekolah, duduk dengan rapi, memegang buku catatan mereka.
Nara terpaku di ambang pintu kaca. "Apa... apa ini?"
Danu muncul dari balik papan tulis. Ia memegang sebuah kotak berisi spidol baru.
"Mereka merindukan gurunya, Nara," ucap Danu lembut. "Mereka menolak diajar oleh siapa pun selain Ibu Nara. Dimas bahkan mogok makan selama dua hari karena dia pikir Ibu Nara pergi karena dia tidak mengerjakan PR."
Dimas berdiri, matanya berkaca-kaca. "Bu Nara... kami tidak percaya apa yang dikatakan orang-orang jahat itu. Tolong jangan tinggalkan kami."
Nara menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya pecah seketika. Ia melihat murid-muridnya berdiri satu per satu, membawa poster kecil buatan tangan bertuliskan: “Ibu Nara, Pahlawan Kami.”
Danu melangkah mendekati Nara, memberikan spidol itu ke tangan Nara yang gemetar.
"Aku sudah membeli ruko itu, Nara. Aku akan merenovasinya menjadi yayasan pendidikan atas namamu. Kamu tidak akan bekerja untuk siapa pun lagi. Kamu adalah pemiliknya. Tapi sebelum itu... mereka sudah menunggu penjelasan tentang bab terakhir yang belum selesai," Danu tersenyum, sebuah senyum yang kali ini benar-benar tulus tanpa maksud terselubung.
Nara menatap spidol di tangannya, lalu menatap murid-muridnya, dan terakhir menatap Danu. Di mata Danu, ia tidak lagi melihat predator. Ia melihat seorang pria yang rela merendahkan diri, mencari murid-muridnya, dan membawa dunia luar masuk ke dalam "penjaranya" hanya untuk menyelamatkan jiwanya.
Nara menghapus air matanya. Ia melangkah maju menuju papan tulis. Tangannya yang tadinya gemetar, kini memegang spidol dengan mantap.
"Baiklah... buka buku kalian halaman 150," ucap Nara, suaranya kembali memiliki kekuatan. "Hari ini kita akan belajar kembali, selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah sesulit apa pun... asalkan kita tidak berhenti mencari solusinya."
Sorak-sorai kecil terdengar dari murid-murid itu.
Setelah kelas usai dan murid-murid pulang diantar supir mansion, Nara berdiri di tepi kolam, menatap matahari terbenam. Danu mendekatinya, membawa jas yang biasa ia sampirkan ke bahu Nara.
"Terima kasih, Mas Danu," ucap Nara pelan. Ini pertama kalinya ia memanggil Danu dengan sebutan "Mas" tanpa ada tekanan dari orang tua atau tamu.
Danu tertegun, hatinya bergetar mendengar panggilan itu. "Aku hanya ingin melihatmu hidup lagi, Nara."
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa saja membiarkanku depresi dan mencari istri lain yang lebih cantik dan terhormat," tanya Nara, menoleh ke arah Danu.
Danu menatap langit yang berwarna jingga. "Karena tanpamu, rumah ini kembali menjadi kuburan. Dan aku... aku tidak ingin kembali menjadi mayat hidup yang hanya tahu cara mencari uang. Kamu adalah satu-satunya orang yang berani menunjukkan padaku bahwa aku punya hati, meskipun hati itu sudah sangat kotor."
Danu berlutut di depan Nara, di atas rumput taman yang basah. "Nara... lupakan kontrak itu. Aku tidak ingin kamu menjadi istri kontrakku lagi. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Bukan sebagai CEO dan guru, tapi sebagai Danu yang ingin belajar bagaimana caranya mencintai dengan benar dari seorang wanita sehebat kamu."
Nara terdiam, angin sore memainkan ujung kerudungnya. Ia tahu jalannya masih panjang, luka itu belum sembuh total, tapi sore ini, ia merasa sayapnya yang sempat patah mulai tumbuh kembali.
"Bangunlah, Mas," ucap Nara lembut sambil mengulurkan tangannya.
Danu meraih tangan Nara, mencium punggung tangannya dengan penuh hormat. Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai berbintang, sebuah pernikahan yang dimulai dari tragedi, perlahan-lahan mulai menemukan naskah cintanya yang sesungguhnya.