"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
..
...
Langit Jakarta pagi itu tertutup kabut polusi yang tebal, seolah menyembunyikan rahasia busuk yang mulai merayap keluar dari selokan kota. Di dalam kamar VVIP rumah sakit, Kalea duduk di tepi tempat tidur. Ia sudah menanggalkan gaun rumah sakitnya dan berganti dengan setelan blazer satin berwarna krem pemberian Liam. Meski tubuhnya masih terasa lemas, matanya memancarkan ketegasan yang baru. Ia lelah menjadi bidak yang hanya diam menunggu digerakkan.
Liam masuk ke ruangan dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sedikit tegang. Ia langsung menghampiri Kalea, mencengkeram jemari gadis itu dan mencium punggung tangannya dengan intensitas yang menyesakkan.
"Kita berangkat sekarang. Penthouse sudah siap. Aku tidak ingin kau berada di tempat terbuka seperti ini lebih lama lagi," ucap Liam, suaranya rendah namun penuh perintah.
Kalea menarik tangannya perlahan. "Kau takut, Liam? Apa yang membuat seorang Liam Jionel gelisah sepagi ini? Apakah Adipati Adiwinata benar-benar sekuat itu sampai kau harus menyembunyikan aku seperti buronan?"
Liam terdiam, matanya menatap tajam ke luar jendela. Ia tidak bisa mengatakan pada Kalea bahwa semalam ia menerima kiriman sebuah amplop cokelat tanpa nama di meja kerjanya. Di dalamnya bukan berisi tuntutan hukum, melainkan selembar foto lama ibunya Kalea, Elena, yang sedang tersenyum di sebuah taman rahasia—taman yang hanya diketahui oleh satu orang pria di masa lalu. Dan pria itu bukan Adipati Adiwinata.
"Jangan banyak tanya, Kalea. Ikuti saja perintahku," balas Liam kasar. Ia menarik pinggang Kalea, membawanya keluar dari kamar dengan pengawalan ketat dua belas pria berjas hitam yang membentuk barikade di sepanjang lorong.
Di lobi rumah sakit, suasana mendadak kacau. Sekelompok wartawan yang entah bagaimana bisa menembus keamanan ketat Jionel Group sudah berkerumun di pintu keluar. Kilatan lampu kamera mulai menghujani mereka seperti peluru.
"Nona Kalea! Apakah benar Anda adalah putri rahasia keluarga Adiwinata?"
"Tuan Liam, apakah ini bentuk merger bisnis melalui pernikahan paksa?"
"Bagaimana tanggapan Anda soal tuduhan penculikan yang dilayangkan Tuan Adipati?"
Liam tidak menjawab. Ia melindungi kepala Kalea dengan jasnya, merapatkannya ke dadanya yang bidang seolah ingin menelan gadis itu ke dalam tubuhnya agar tak tersentuh dunia luar. Namun, di tengah kericuhan itu, sebuah suara parau namun menggelegar memecah kebisingan.
"LEPASKAN PUTRIKU, JIONEL!"
Langkah Liam terhenti. Kerumunan wartawan mendadak sunyi, memberikan jalan bagi seorang pria yang tampak sangat kontras dengan kemewahan lobi itu. Pria itu mengenakan jaket kulit usang yang warnanya sudah memudar, celana jins belel, dan sepatu bot yang penuh lumpur. Wajahnya dipenuhi janggut tipis yang memutih, namun matanya... mata itu adalah replika sempurna dari mata cokelat milik Kalea.
Kalea membeku di bawah dekapan Liam. Ia perlahan mendongak, menatap pria asing itu dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Ada getaran aneh di nadinya, sebuah tarikan batin yang tidak pernah ia rasakan saat berhadapan dengan Adipati Adiwinata.
"Siapa kau?" desis Liam, tangannya meraba saku jas, siap mencabut senjata jika pria itu berani mendekat.
Pria itu melangkah maju dengan pincang, mengabaikan moncong senjata para pengawal yang kini tertuju padanya. "Namaku Surya. Dan aku adalah pria yang dicintai Elena sebelum kau dan keluarga Adiwinata menghancurkan hidup kami."
Kalea melepaskan diri dari dekapan Liam dengan sentakan kuat. Ia melangkah maju, menatap pria bernama Surya itu dengan bibir gemetar. "Ayah...? Tapi... ibu bilang ayahku adalah Adipati..."
Surya tersenyum pahit, air mata menggenang di matanya yang lelah. "Adipati mencuri ibumu dariku dengan kekuasaannya, Kalea. Dia memaksa Elena menikah dengannya untuk menutupi skandal keluarganya, lalu membuangnya saat dia sudah tidak dibutuhkan. Tapi kau... kau bukan darah Adiwinata yang kotor itu. Kau adalah darahku. Darah yang terbentuk dari cinta, bukan transaksi."
Liam tertawa sinis, suaranya menggema di lobi yang sunyi. "Cerita yang sangat menyentuh, Pak Tua. Tapi di dunia ini, fakta ditentukan oleh dokumen, bukan drama jalanan. Bawa dia pergi!"
"Tunggu!" teriak Kalea, menahan tangan pengawal yang hendak menyeret Surya. Ia menatap Surya dengan tatapan menuntut. "Jika kau ayahku, kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membiarkan kami membusuk di rusun sementara kau menghilang?"
Surya menatap Liam dengan kebencian yang mendalam. "Tanyakan pada keluarga Jionel, Kalea! Kakek pria di sampingmu itu yang menjebloskanku ke penjara selama dua puluh tahun atas tuduhan palsu, hanya karena aku tahu rahasia gelap perusahaan mereka di masa lalu! Mereka ingin memisahkan aku dari Elena agar Adipati bisa memilikinya!"
Dunia Kalea seolah berputar. Ia menoleh ke arah Liam, menatap pria itu seolah melihat orang asing yang mengerikan. "Liam... apa ini benar? Kakekmu... keluargamu yang melakukan ini pada ayahku?"
Liam tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya berkilat dengan kegelapan yang pekat. Ia tahu sejarah kelam keluarganya, tapi ia tidak menyangka bahwa "proyek amal" yang ia beli adalah putri dari pria yang pernah dihancurkan keluarganya sendiri.
"Kalea, jangan dengarkan dia. Dia hanya orang gila yang dikirim musuh bisnisku!" Liam mencoba meraih tangan Kalea, namun Kalea mundur selangkah.
"Jangan sentuh aku!" teriak Kalea, suaranya pecah. "Semua yang ada di sekitarku adalah kebohongan! Adipati bohong, kau bohong... bahkan namaku sendiri terasa seperti bohong!"
Kalea berbalik, hendak lari menuju Surya, namun Liam bergerak lebih cepat. Ia menangkap pinggang Kalea dan mengangkatnya secara paksa. "Bawa pria itu ke gudang! Dan Kalea, kau ikut denganku sekarang!"
"LEPASKAN! AYAH! AYAAAH!" jerit Kalea meronta-ronta di bahu Liam saat pria itu membawanya masuk ke dalam lift privat.
Di dalam lift yang bergerak naik dengan cepat, Liam mengurung Kalea di sudut dinding marmer. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Kalea, menatapnya dengan obsesi yang sudah di luar batas kewajaran.
"Dengarkan aku, Kalea," bisik Liam, napasnya memburu. "Aku tidak peduli siapa ayahmu. Aku tidak peduli apa yang dilakukan kakekku di masa lalu. Kau sudah menjadi milikku. Kau dibayar dengan satu miliar untuk sisa hidupmu. Tidak ada pria lain yang bisa membawamu pergi, bahkan ayah kandungmu sekalipun!"
Kalea meludahi wajah tampan Liam. "Kau iblis, Liam. Kau mencintai bayangan ibuku, tapi kau mengurungku dengan darah keluargamu yang berlumuran dosa! Aku membencimu!"
Liam mengusap ludah di pipinya dengan perlahan, lalu menyeringai mengerikan. "Bagus. Bencilah aku sebanyak yang kau mau. Karena kebencianmu adalah satu-satunya hal yang nyata di antara kita. Dan aku akan memastikan kau tetap membenciku di dalam penthouse itu selamanya."
Lift berdenting terbuka di lantai paling atas. Liam menyeret Kalea keluar, melewati lorong yang dijaga ketat menuju sebuah pintu baja dengan kode keamanan biometrik. Ini bukan lagi rumah, ini adalah penjara paling mewah di dunia.
Kalea didorong masuk ke dalam ruang tamu yang serba putih dan dingin. Di sana, dari jendela besar, ia bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang seolah berada di bawah kakinya. Namun bagi Kalea, ia merasa sedang berada di puncak menara isolasi.
"Kau akan tinggal di sini," ucap Liam sambil mengunci pintu secara otomatis dari ponselnya. "Semua kebutuhanmu akan dipenuhi. Tapi jangan harap kau bisa melihat dunia luar, atau pria tua itu lagi, sampai aku yakin kau sudah patuh."
Kalea merosot di lantai, menatap cincin berlian di jarinya yang kini terasa seperti bara api yang membakar kulitnya. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat gila. "Satu miliar... kau benar-benar mendapatkan barang yang sepadan, Liam. Kau mendapatkan sebuah raga tanpa jiwa. Selamat."
Liam tidak menjawab. Ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kalea dalam kesunyian yang mencekam. Di balik pintu, Liam menyandarkan kepalanya, tangannya gemetar. Ia tahu ia telah melewati batas. Ia tahu ia telah menjadi monster yang sama dengan kakeknya. Namun, rasa takut kehilangan Kalea—satu-satunya hal yang membuatnya merasa memiliki "nyawa" setelah kematian Andini—membuatnya tidak punya pilihan lain.
Sementara itu, di lantai bawah, Surya dipaksa masuk ke dalam mobil van hitam oleh anak buah Liam. Namun, sebelum pintu tertutup, Surya sempat melemparkan sebuah benda kecil ke arah salah satu wartawan yang berdiri paling dekat. Sebuah flashdisk merah.
"Sebarkan..." bisik Surya sebelum sebuah pukulan mendarat di tengkuknya.
Perang besar baru saja dimulai. Liam Jionel mengira ia telah mengunci dunianya, namun ia tidak tahu bahwa kunci itu baru saja dilemparkan ke hadapan publik. Rahasia Jionel, skandal Adiwinata, dan asal-usul Kalea akan meledak dalam hitungan jam, menghancurkan tahta emas yang selama ini Liam banggakan.
Di dalam penthouse, Kalea berjalan menuju dapur, mengambil sebilah pisau buah yang tajam. Ia menatap pantulan dirinya di pisau itu. "Jika aku tidak bisa keluar dari sini sebagai manusia," bisiknya pada kegelapan, "maka aku akan keluar sebagai hantu yang akan menghantuimu selamanya, Liam Jionel."
Kalea mendekatkan mata pisau itu ke jarinya, bukan untuk mengakhiri hidupnya, tapi untuk melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan bagi Liam. Dengan satu gerakan cepat dan penuh amarah, ia menyayat pangkal jari manisnya, membiarkan darah segar mengalir, lalu menarik paksa cincin berlian satu miliar itu hingga terlepas.
Ia melemparkan cincin berlumuran darah itu ke tengah ruangan. "Ambil hargamu, Liam. Karena aku... sudah tidak ternilai lagi."
Darah menetes di lantai marmer putih yang bersih, menciptakan jejak merah yang kontras. Kalea berdiri tegak, membalut jarinya dengan sobekan kain gorden sutra mahal. Ia sudah siap. Jika dunia ingin menghancurkannya, maka ia akan memastikan dunia juga ikut hancur bersamanya.