NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Lama yang Berdenyut

Kantor mulai sepi saat jam menunjukkan pukul enam sore. Cahaya oranye dari matahari terbenam menyusup melalui jendela kaca besar, menciptakan bayangan panjang di atas meja kerja Nara. Keheningan yang menyergap justru membuat detak jantung Nara terasa lebih nyaring. Ucapan Rio tentang "cincin kontrak" masih terngiang, beradu dengan memori tentang sketsa di laci Arga.

Pintu ruangan Nara terbuka tanpa ketukan. Arga berdiri di sana, masih dengan kemeja kantor yang rapi, namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan.

"Ayo pulang," ajak Arga singkat. "Ibu sudah mengirim pesan tiga kali bertanya kita sudah sampai di mana."

Nara mengangguk, membereskan tasnya dalam diam. Saat ia berdiri, Arga memperhatikan gerakan tangannya—lebih tepatnya, memperhatikan cincin yang kini melingkar manis di jari manisnya.

"Kamu tidak melepaskannya," gumam Arga saat mereka berjalan menuju lift.

"Aku memegang janjiku, Arga," jawab Nara pelan.

Namun, suasana tenang itu pecah saat mereka sampai di lobi bawah. Sesosok pria berdiri di dekat meja resepsionis, tampak sedang beradu argumen dengan petugas keamanan. Sosok yang sangat dikenal Nara. Sosok yang kehadirannya selalu berhasil membuat udara di sekitar Nara mendadak hilang.

Rio—bukan Rio asistennya, melainkan Rio Pratama, pria dari masa lalu Nara.

Nara mematung. Langkahnya terhenti seketika. Arga, yang merasakan perubahan drastis pada aura di sampingnya, ikut berhenti dan menatap tajam ke arah pria asing itu.

"Nara?" Arga memanggil, namun Nara tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi.

Pria itu menoleh dan mata mereka bertemu. "Nara! Akhirnya kamu keluar. Aku sudah coba telepon kamu berkali-kali—" Kalimat pria itu terputus saat ia menyadari keberadaan Arga yang berdiri sangat dekat di samping Nara, dan lebih penting lagi, saat ia melihat tangan Arga yang secara refleks berpindah ke pundak Nara.

"Siapa dia, Nara?" suara Arga terdengar dingin, lebih tajam dari biasanya. Ada nada protektif yang tak tertahankan di sana.

"Dia..." Nara menelan ludah, suaranya bergetar. "Dia masa lalu yang seharusnya tidak ada di sini."

Rio Pratama melangkah mendekat, mengabaikan tatapan membunuh dari Arga. Matanya jatuh pada cincin yang berkilau di jari Nara. Tawa hambar keluar dari bibirnya. "Jadi benar gosip itu? Kamu menikah dengan CEO kaku ini hanya karena uang? Atau karena kamu ingin balas dendam padaku?"

Luka lama di hati Nara yang selama ini ia balut rapat-rapat mendadak berdenyut hebat. Kenangan tentang pengkhianatan dan kata-kata kasar pria itu di masa lalu kembali menyeruak, membuat dadanya sesak.

Arga merasakan tubuh Nara gemetar di bawah tangannya. Tanpa peringatan, Arga menarik Nara ke belakang tubuhnya, menghalangi pandangan Rio Pratama. Ia berdiri tegak, memancarkan otoritas yang membuat suasana lobi mendadak mencekam.

"Saya tidak tahu siapa Anda, dan saya tidak peduli," ucap Arga dengan suara rendah yang mengancam. "Tapi jika Anda berani mengucapkan satu kata lagi yang menghina istri saya, saya pastikan Anda tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di gedung mana pun di kota ini lagi."

"Istri?" Rio Pratama mencibir. "Nara, kamu yakin mau menghabiskan hidupmu dengan robot seperti dia? Dia tidak tahu apa-apa tentang kamu."

"Dia tahu lebih banyak daripada yang pernah kamu berikan padanya," sahut Arga cepat. Ia menggandeng tangan Nara dengan erat—sangat erat—lalu menariknya menuju mobil tanpa memberikan kesempatan bagi pria itu untuk membalas.

Di dalam mobil, keheningan terasa sangat mencekik. Arga tidak langsung menyalakan mesin. Ia mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Nara hanya bisa menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu di atas cincin barunya.

Luka lama itu kembali terbuka, berdenyut menyakitkan. Namun, di tengah rasa sakit itu, Nara menyadari bahwa tangan Arga yang kini perlahan meraih jemarinya bukan lagi sekadar bagian dari kontrak. Itu adalah pegangan seorang pria yang siap melindungi dunianya yang hancur, bahkan jika ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.

---

Arga tidak segera menjalankan mobilnya. Ia membiarkan mesin tetap mati, sementara suara isak tangis Nara yang tertahan menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kabin mewah itu. Arga menatap lurus ke depan, namun rahangnya masih mengeras. Kemarahan yang ia rasakan tadi bukan hanya karena ada orang asing yang membuat keributan di gedungnya, melainkan karena ia benci melihat Nara hancur di depan matanya sendiri.

Perlahan, Arga melepaskan cengkeramannya pada setir. Ia merogoh saku jasnya, mengambil sapu tangan kain berwarna biru gelap, lalu mengulurkannya pada Nara tanpa berkata-kata.

Nara menerimanya dengan tangan gemetar. "Maaf," bisiknya di sela tangis. "Maaf kamu harus melihat itu. Dia... dia pria yang membuatku berhenti percaya pada banyak hal sebelum aku bertemu kamu."

Arga menoleh. Ditatapnya Nara yang kini terlihat begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok desainer tangguh yang biasanya mendebat setiap sudut ruangannya. "Jangan minta maaf untuk kesalahan orang lain, Nara."

"Dia benar soal satu hal," Nara menyeka air matanya, menatap cincin di jarinya dengan pandangan kosong. "Dunia luar akan selalu melihat ini sebagai transaksi. Dan saat dia datang tadi, aku merasa seperti ditarik kembali ke masa di mana aku tidak punya harga diri sama sekali."

Arga terdiam sejenak. Ia melepaskan jasnya, lalu menyampirkannya ke bahu Nara seolah ingin membungkus wanita itu dari dinginnya kenangan masa lalu. "Luka yang berdenyut itu bukan tanda kelemahan, Nara. Itu tanda bahwa kamu sudah bertahan sejauh ini."

Arga akhirnya menyalakan mesin mobil, namun ia tidak mengarahkan kemudi menuju jalan pulang ke rumah. Ia memutar arah, menuju jalan layang yang membawa mereka menjauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

"Kita tidak pulang sekarang?" tanya Nara pelan, suaranya masih serak.

"Ibu adalah orang paling peka yang saya kenal," sahut Arga sambil fokus pada jalanan. "Kalau kita pulang dengan mata sembab seperti itu, beliau akan melakukan interogasi yang tidak akan sanggup kita jawab malam ini. Kita butuh waktu. Kamu butuh waktu."

Mereka sampai di sebuah area parkir yang menghadap ke arah cakrawala kota yang penuh lampu. Arga mematikan lampu depan mobil, membiarkan mereka tenggelam dalam temaram.

"Pria tadi," Arga memulai, suaranya kini lebih tenang namun dalam. "Dia tidak mengenal Nara yang saya kenal. Dia hanya mengenal Nara di masa lalunya. Sedangkan saya... saya mengenal Nara yang berani menantang saya demi sebuah konsep gazebo yang 'tidak efisien'."

Nara menoleh, sedikit terkejut mendengar Arga mencoba menghiburnya.

"Jadi," lanjut Arga, ia memutar tubuhnya menghadap Nara, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Nara. "Jangan biarkan orang dari masa lalu merusak apa yang sedang kita bangun sekarang, meskipun ini awalnya hanya sebuah kesepakatan. Di mata saya, kamu bukan sekadar vendor, dan kamu jelas bukan wanita yang bisa dibeli dengan uang."

Nara merasakan denyut lukanya perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari tatapan Arga. Di tempat yang sepi itu, di bawah kerlip lampu kota, rahasia di laci kantor dan cincin di jari manisnya seolah melebur menjadi satu kekuatan baru.

Arga mengulurkan tangannya, ibu jarinya menghapus sisa air mata di pipi Nara dengan gerakan yang sangat perlahan, hampir seperti takut akan merusak sesuatu yang berharga. "Belajar memanggil nama saya tadi pagi bukan untuk hal-hal seperti ini, Nara. Panggillah saya saat kamu merasa duniamu mulai goyah. Saya akan ada di sana."

Nara menelan ludah, hatinya bergetar hebat. "Terima kasih... Arga."

Malam itu, di dalam mobil yang sunyi, luka lama itu mungkin masih ada, namun untuk pertama kalinya, Nara tidak merasakannya sendirian. Arga, si robot kaku yang selalu bicara soal angka, baru saja membuktikan bahwa dalam variabel hidupnya yang penuh kendali, Nara adalah satu-satunya pengecualian yang siap ia lindungi dengan segala cara.

---

Nara memejamkan mata sesaat, membiarkan sentuhan ibu jari Arga di pipinya menjadi jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam pusaran trauma. Kehangatan itu terasa nyata, kontras dengan dinginnya perlakuan Rio Pratama di lobi tadi. Selama ini, Nara menganggap Arga sebagai sosok yang hanya peduli pada struktur dan logika, namun malam ini, Arga menunjukkan struktur yang berbeda: struktur pelindung yang kokoh.

"Aku merasa bodoh," bisik Nara, suaranya kini lebih stabil meski masih menyisakan getaran. "Hanya dengan melihat wajahnya, semua pertahanan yang aku bangun selama bertahun-tahun rasanya runtuh begitu saja."

"Pertahanan tidak runtuh hanya karena kamu merasa sakit," Arga menyahut, tangannya kini beralih menggenggam jemari Nara yang masih memakai cincin pemberiannya. "Pertahanan itu sedang diuji. Dan malam ini, kamu membuktikan bahwa kamu tidak lagi sendirian untuk menjaganya."

Arga menarik napas panjang, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. "Pria itu... dia menyebut soal uang. Dia menyebut soal robot. Dia mencoba menyerang bagian yang menurutnya adalah kelemahan kita. Tapi dia tidak tahu bahwa di balik dinding kantor dan pintu rumah, ada hal-hal yang tidak bisa dia ukur dengan logikanya yang dangkal."

Nara menoleh, memperhatikan profil samping wajah Arga yang tegas. "Apa yang dia tidak tahu, Arga?"

Arga terdiam cukup lama. Ia melepaskan genggaman tangannya, namun hanya untuk mengambil botol air mineral dari *console box* dan membukakannya untuk Nara. "Dia tidak tahu bahwa robot ini pun bisa merasakan amarah yang luar biasa saat melihat wanitanya dihina."

Kata 'wanitanya' meluncur begitu saja dari bibir Arga, menciptakan keheningan yang sarat akan makna di dalam mobil. Nara meminum air itu perlahan, mencoba meredakan gejolak di dadanya. Ia menyadari bahwa malam ini, peran mereka telah bergeser. Ini bukan lagi soal kontrak di atas kertas, bukan lagi soal memuaskan keinginan Widya. Ini adalah tentang dua orang yang terluka, yang mencoba saling menyembuhkan dengan cara yang paling tidak terduga.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arga, nada suaranya kembali ke baritonnya yang tenang.

Nara mengangguk kecil. "Sudah. Terima kasih sudah membawaku ke sini. Kalau kita langsung pulang tadi, aku pasti tidak sanggup menatap mata Ibu."

"Kita akan pulang sekarang," Arga menyalakan mesin mobil. Lampu dashboard kembali menyala, menyinari cincin di jari Nara yang kini tampak semakin berkilau. "Tapi ingat, Nara. Pakai jas saya ini saat masuk ke rumah. Jakarta sedang dingin, dan itu akan menjadi alasan yang bagus kalau Ibu bertanya kenapa matamu sedikit merah. Katakan saja kamu sedikit tidak enak badan karena AC kantor."

Nara menarik jas Arga lebih rapat ke tubuhnya. Aroma parfum Arga yang maskulin dan menenangkan menyelimutinya, memberinya rasa aman yang baru. "Kamu ternyata cukup ahli dalam menyusun skenario bohong putih ya?"

Arga memutar setir, mulai membawa mobil mereka kembali ke jalan utama. "Saya hanya ahli dalam melindungi apa yang menurut saya berharga untuk dilindungi."

Mobil pun melaju membelah malam menuju rumah mereka. Di satu atap yang mereka bagi, luka lama itu mungkin masih meninggalkan bekas, namun denyutnya tak lagi mematikan. Arga telah membuktikan bahwa di balik rahasia di laci kantor dan sikap kakunya, ada sebuah hati yang siap menjadi tameng bagi Nara, bahkan dari hantu masa lalu yang paling menakutkan sekalipun.

---

Mobil itu perlahan memasuki gerbang rumah, memecah kesunyian malam yang kian larut. Nara masih terbungkus dalam jas besar milik Arga, menghirup aroma kayu cendana yang menempel di serat kainnya sebagai penawar sisa sesak di dadanya. Arga mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Ia menatap ke arah jendela ruang tamu di mana lampu masih menyala terang—pertanda Widya masih menunggu mereka.

"Siap?" tanya Arga, suaranya kembali ke nada rendah yang mantap.

Nara menarik napas panjang, mencoba mengatur raut wajahnya agar tidak terlihat hancur. "Siap. Ingat, aku hanya 'sedang tidak enak badan', Arga."

"Serahkan sisanya padaku," jawab Arga.

Begitu pintu rumah terbuka, Widya langsung berdiri dari sofa dengan wajah cemas. "Ya ampun, jam berapa ini? Ibu sudah hampir telepon polisi! Kalian dari mana saja?"

Arga melangkah maju, tangannya secara alami melingkar di bahu Nara yang terbungkus jasnya. "Maaf, Bu. Tadi di kantor ada sedikit kendala teknis, dan udara di lobi sedang tidak bagus. Nara mendadak pusing dan mual, jadi saya membawanya berkeliling sebentar mencari udara segar sebelum pulang."

Widya langsung menghampiri Nara, menyentuh keningnya dengan telapak tangan yang hangat. "Duh, wajah kamu memang pucat sekali, Sayang. Matamu juga merah. Ini pasti karena terlalu lelah mengurusi desain dan debu di lobi itu."

"Nara nggak apa-apa kok, Bu. Cuma butuh istirahat," ujar Nara, berusaha memberikan senyum kecil yang terlihat meyakinkan.

"Nggak apa-apa bagaimana? Lihat ini, sampai pakai jas Arga begini, pasti kamu kedinginan hebat," Widya menoleh pada Arga dengan tatapan memerintah. "Arga, bawa Nara ke atas. Ibu akan buatkan teh jahe hangat. Tante Sarah sudah tidur, jadi biar Ibu saja yang urus."

Arga mengangguk patuh. Ia menuntun Nara menaiki tangga dengan perlahan, seolah-olah Nara adalah porselen yang bisa retak kapan saja. Di dalam kamar, suasana hening kembali menyelimuti mereka. Arga membantu Nara duduk di tepi ranjang yang kelopak mawarnya sudah dibersihkan pagi tadi, menyisakan keharuman yang samar.

"Kamu mau mandi sekarang atau tunggu teh dari Ibu?" tanya Arga sambil melepas dasinya.

"Mandi sebentar saja, biar kepalaku lebih enteng," sahut Nara.

Namun, saat Nara berdiri hendak menuju kamar mandi, pintu kamar diketuk pelan. Widya masuk membawa nampan berisi teh jahe dan sebuah botol minyak kayu putih.

"Minum dulu ini, Nara. Setelah itu Arga, kamu tolong oleskan minyak ini ke punggung dan leher istri kamu. Biasanya kalau masuk angin, dioles begini langsung plong," ujar Widya sambil meletakkan nampan di nakas.

Nara dan Arga saling berpandangan. Situasi ini tidak ada dalam rencana mereka.

"Ibu, Arga bisa melakukannya sendiri nanti. Ibu istirahat saja, sudah malam," Arga mencoba memberi pengertian.

"Ibu baru akan tenang kalau sudah lihat Nara minum teh ini. Ayo, diminum," desak Widya.

Nara meminum teh jahe itu di bawah pengawasan ketat mertuanya. Rasa hangat jahe mulai menjalar di tenggorokannya, sedikit memberikan ketenangan. Namun, denyut luka di hatinya tadi sore seolah berganti menjadi denyut canggung saat Widya menyerahkan botol minyak kayu putih itu tepat ke tangan Arga.

"Ingat Arga, oles yang rata. Pijat sedikit supaya sarafnya rileks. Ibu keluar dulu ya, jangan lupa kunci pintu," Widya mengedipkan mata sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar.

Keheningan di kamar itu kini terasa berbeda. Botol kecil di tangan Arga terasa seperti benda asing yang sangat berat. Luka lama Nara mungkin sudah mulai mereda, namun malam ini, di bawah satu atap yang sama, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa sandiwara ini menuntut keintiman yang jauh lebih nyata daripada sekadar panggil nama atau memakai cincin.

Arga menatap botol itu, lalu menatap Nara yang masih memakai jasnya. "Jadi... kamu mau saya yang melakukannya, atau kamu mau mencoba sendiri?"

Nara menelan ludah, menatap mata Arga yang tidak menampakkan keraguan. Di dalam kamar yang terkunci ini, dua dunia mereka kembali bersinggungan, memaksa mereka untuk saling menyentuh lebih dari sekadar akting di depan orang tua.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!