Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Ting nong.
Belum juga Jenny sampai di ruang tamu, bel rumah sudah kembali berbunyi.
“Biar bibi lihat siapa yang datang, Non!” beo bi Sari, mendahului Jenny dengan tergesa.
Sementara Jaya terpaku di tempatnya, netranya tertuju pada 2 daun pintu yang tertutup rapat. Dengan tatapan yang sulit di artikan.
‘Apa mungkin itu Alan? Putra kandung ku dengan Alena? Apa sudah waktunya aku bertemu dengannya?’ pikir Jaya.
Jenny semakin di buat gak habis pikir, setelah mengetahui siapa 2 wanita muda yang di undang makan malam papanya ke rumah.
“Kalian di sini? Jangan bilang kalian yang akan menjadi ibu tiri ku?” cerocos Jenny bak petasan banting, gak bisa lagi menutupi kecurigaannya pada Lia dan Serli.
Lia dan Serli, keduanya kompak beranjak dari duduknya. Kedua tangannya mengibas, menyangkal tuduhan istri dari bos tempat mereka bekerja.
“Eh, bu- bukan begitu Nona! Kami gak bermaksud mendaftar jadi calon ibu tiri Nona! Sumpah!” sangkal Lia dengan gelagapan.
“Benar itu Nona! Meski bos besar menawarkan kedudukan di kantor, kehidupan mewah, tapi saya beneran gak minat buat jadi pendamping bos besar!” cerocos Serli dengan wajah meringis.
Jenny mengalihkan pandangannya pada sang ayah, “Lantas? Apa alasan papa mengundang mereka untuk makan malam? Pasti ada alasannya kan, pah?”
Jaya menggaruk kepalanya frustasi, “Makanya dengarkan penjelasan papa dulu, Jen! Kamu suka menuduh orang sembarangan, itu persis seperti ibu mu!”
“Gimana gak mau menuduh, Jen baru kali ini melihat papa mengundang wanita makan malam ke rumah!” sangkal Jenny.
“Sudah lah! Lebih baik kalian duduk dulu!” titah Jaya, dengan gerakan tangannya, mempersilahkan Serli dan Lia untuk duduk kembali.
Jaya mendaratkan bobot tubuhnya di sofa tunggal, sementara Jenny di sofa panjang lain dengan tatapan menyelidik sang ayah. Berhadapan dengan Serli dan Lia, yang kini harap harap cemas.
“Memang ada maksud papa mengundang mereka berdua ke sini! Dan itu ada hubungannya dengan masalah yang sedang kamu hadapi sayang!” jelas Jaya, seakan menjawab pertanyaan yang menari nari dalam benak Jenny.
“Om Rendra sudah mengatakan semuanya pada papa, Jen! Dan papa gak akan diam saja melihat kamu berjuang sendiri melawan Joseph.” imbuh Jaya.
Jaya melirik Serli dan Lia bergantian, “Saya juga tidak akan melibatkan kalian! Terlalu berbahaya untuk saya membiarkan kalian terlibat.”
“Papa gak bisa gitu dong! Kalo Serli dan Lia gak bantuin Jen buat dapat bukti perselingkuhan mas Jo, dari mana Jen bisa mendapatkan buktinya? Pikir panjang kenapa pah, sebelum mengambil keputusan tuh!” cecar Jenny penuh emosi.
Jaya terkekeh, merasa dirinya diremehkan anak yang selama ini sudah ia besarkan bak putri kandung.
“Justru karena papa berpikir panjang, Jen! Tidak seperti mu yang berpikir simpel! Papa punya orang yang bisa di andalkan. Untuk mencari bukti perselingkuhan suami mu dengan gundiknya. Papa yakin, kamu juga belum tau kabar terbaru mas Jo mu itu!”
Jenny kembali di buat sport jantung, melihat bi Sari kembali masuk ke dalam rumah dengan seorang pemuda.
“Ka- kamu? Ngapain kamu di sini? Dari mana kamu tahu rumah orang tua saya? Jangan bilang kamu terus mengikuti saya sampai rumah?” cecar Jenny, menghampiri Alan dengan tatapan curiga.
Alan menggeleng, “Gimana saya mau membuntuti mbak cantik! Kan mbak cantik melihat sendiri, tadi sore saya pulang lebih dulu dari resto dengan papa.”
Jenny mengalihkan pandangannya pada Jaya, dengan sorot mata tajam, “Jangan bilang, papa yang mengundang bocah satu ini ke rumah?”
“Kenalin om, saya Alan pradipta kusuma. Calon pendamping putri om. Dan jika di beri kesempatan, mbak cantik akan menjadi pelabuhan pertama dan terakhir saya.
Papa saya, Rayan Kusuma. Sementara wanita yang sudah melahirkan saya, Alena Sulastri.” terang Alan dengan tegas, usai membungkuk hormat di depan Jaya.
Jenny berdecak kesal, melangkah kembali ke sofa dengan malas, “Astaga, perkenalan macam apa itu?”
Sementara Jaya menelan salivanya sulit, dengan tangan terkepal, ‘Ya Tuhan, putra kandung ku sendiri memanggil ku dengan sebutan om? Aku papa mu, Alan! Pria yang sudah menyumbangkan bibit unggulnya di rahim wanita yang kamu sebut ibu.’
Lia menyikut lengan Serli, netranya menatap kagum Alan, “Wow, ini baru laki laki gentle! Umur boleh muda. Tapi sikapnya tegas oy! Masih ada stok pria model gini gak ya?”
“Tumben kita sepemikiran! Tapi namanya aku gak asing loh itu! Kusuma, seperti pernah dengar. Tapi di mana ya?” timpal Serli.
“Jadi kamu menyukai putri om, Alan?” tanya Jaya memastikan dengan nada santai.
“Suka bangat om! Putri om ini seperti magnet, memiliki daya tarik tersendiri. Membuat saya gak bisa berpaling tanpa mau tau statusnya, om!
Apa pun kekurang putri om, saya bisa menerimanya!” jelas alan, menatap dalam Jenny, tanpa ada kebohongan yang terlihat di wajahnya.
Jaya tersenyum lebar, ‘Persis seperti aku dulu saat muda. Menerima Jena apa pun keadaan nya. Hingga aku beruntung, bisa mendampingi nya hingga tutup usianya.’
Berbeda dengan Jenny, wanita yang mendapat pengakuan cinta tulus dari pria yang baru ia kenal. Bukannya senang, Jenny justru meradang. Merasa perkataan Alan hanya lah bualan semata anak muda.
“Astagaaa, bocah tengil! Jaga bicara mu! Aku ini lebih pantas jadi kaka mu! Bukan calon pendamping mu!” sentak Jenny dengan mata melotot.
Grap.
Tanpa ragu, Jenny menggenggam tangan Alan. Hendak menyeretnya ke luar dari rumah.
“Kehadiran mu gak di harapkan di rumah ini! Pergi kamu dari rumah ini! Masih tau pintu keluarnya kan? Atau mau saya panggil pak satpam untuk mengusir mu dari sini?”
“Tapi mbak! Aku serius ini! Aku mana berani berbohong, mbak!” beo Alan meyakinkan, menahan diri untuk tetap pada pijakannya.
Jaya beranjak dari duduk, “Kamu gak bisa mengusirnya dari sini, Jen! Ini rumah papa, bukan rumah mu!”
Jenny membola, ia menghampiri Jaya. Berusaha meyakinkan sang ayah.
“Papa membelanya? Bocah seperti dia ini pasti cuma ngebual pah! Semua yang ia katakan bul5it! Jangan percaya sama dia, pah!” Jenny mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Alan.
“Papa melihat kesungguhan di matanya, Jen! Berhubung makan malam sudah siap! Lebih baik kita makan malam dulu. Serli, Lia, Alan, ikuti saya!” jelas Jaya sebelum berlaku dari ruang tamu.
“Papa!” rengek Jenny.
“Kamu bisa kembali ke kamar, jika gak sudi lagi menganggap pria tua ini papa mu, Jen!” beo Jaya dengan tegas. Membuat Jenny memaksa ikut ke ruang makan.
‘Apa itu artinya om Jaya merestui ku untuk mengejar mbak cantik ya? Beruntungnya aku, dapat dukungan dari 2 pria terhebat.” pikir Alan, dengan senyum lebar, melangkah tanpa beban mengikuti Jaya dan yang lain.
Semuanya sudah duduk di meja makan, dengan bi Sari, bi Yati dan 2 pelayan lain yang ikut melayani mereka semua.
“Ayo ayo di makan! Jangan sungkan untuk nambah, pilih lauk yang kalian sukai! Anggap ini rumah kalian sendiri!” cerocos Jaya, melihat Serli dan Lia tampak ragu.
Jenny melirik Jaya dan Alan bergantian, ‘Apa sih yang membuat papa percaya sama ini anak? Dasar bocah tengil, bisa kali lah kamu tuh menjilat papa ku!
Sama mas Jo aja papa gak seperti ini loh! Ada aja alasan untuk menolak makan bersama!’ jerit batin Jenny.
“Baru kali ini rumah ini kembali ramai. Kenapa gak dari dulu aja Jen kamu kembali ke rumah ini!” beo Jaya tanpa saringan, dengan tatapan meledek sang anak.
“Berapa usia mu sekarang, Alan?” tanya Jaya dengan santai.
Bersambung…