novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Keesokan harinya, suasana di hotel tempat Lyra menginap benar-benar berubah. Begitu ia turun ke lobi, semua orang menoleh ke arahnya, membisikkan namanya sambil memegang koran pagi yang menampilkan foto dirinya sedang dirangkul protektif oleh Pharma.
"Gila... gue beneran jadi selebriti dadakan gara-gara si pirang itu," gumam Lyra sambil menutupi wajahnya dengan tas, berusaha lari menuju taksi yang sudah dipesan.
Namun, belum sempat ia sampai ke pintu keluar, sebuah mobil sport putih yang sudah sangat ia kenali berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan Pharma yang memakai kacamata hitam, terlihat sangat tampan sekaligus menyebalkan.
"Masuk," perintah Pharma singkat.
"Lho, bukannya jadwal kita baru nanti malam?" tanya Lyra bingung, tapi tetap masuk ke kursi penumpang karena tidak tahan jadi pusat perhatian di lobi.
Pharma tidak menjawab. Ia malah melajukan mobilnya menuju area perbelanjaan paling elit di London, Bond Street. Ia berhenti di depan sebuah butik mewah yang pintunya bahkan harus dibuka oleh pengawal berseragam.
"Turun. Kita harus mencari gaun untukmu," ucap Pharma sambil mematikan mesin.
"Eh? Gue bisa beli sendiri kali, Sir! Gue punya tabungan!" protes Lyra, harga dirinya sedikit tersentil.
Pharma menoleh, menurunkan sedikit kacamata hitamnya hingga mata birunya yang tajam menatap Lyra lekat-lekat. "Ini bukan soal uang, Lyra. Tapi soal reputasi. Kamu asisten bedah saya, dan malam ini kita akan bertemu keluarga kerajaan. Saya tidak mau kamu datang pakai gaun yang kamu beli di toko oleh-oleh bandara."
> DOKTER SYALANN!! Batin Lyra mengamuk. Mulutnya bener-bener perlu dioperasi ya! Pedes banget!
Di dalam butik, Pharma beneran caper maksimal. Bukannya membiarkan pelayan butik yang memilihkan baju, ia malah sibuk berkeliling rak, memegang bahan kain, dan mencocokkan warna dengan warna kulit Lyra.
"Coba yang ini," Pharma menyodorkan sebuah gaun emerald green yang sangat elegan dengan potongan punggung terbuka.
Lyra keluar dari ruang ganti beberapa menit kemudian. Begitu ia muncul, Pharma yang sedang menyesap kopi di sofa butik mendadak terdiam. Matanya menatap Lyra dari bawah ke atas tanpa berkedip.
"Gimana? Kancingnya ada yang miring nggak?" tanya Lyra sedikit mengejek, mencoba memecah kecanggungan.
Pharma berdiri, berjalan mendekati Lyra hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk membetulkan baju, tapi untuk menyelipkan sehelai rambut Lyra ke belakang telinga.
"Lumayan," ucap Pharma pelan, suaranya mendadak berubah menjadi lembut yang bikin kaki Lyra lemas. "Setidaknya sekarang kamu terlihat seperti dokter yang punya selera, bukan dokter yang baru kabur dari gudang penculik."
"Pharma! Bisa nggak sih muji tanpa ngehina?!" seru Lyra sambil memukul lengan Pharma pelan.
Pharma tertawa kecil, suara tawa yang sekarang terdengar sangat candu di telinga Lyra. "Ayo. Kita masih punya waktu untuk makan siang sebelum 'pertempuran' yang sebenarnya dimulai nanti malam di kediaman Sterling."Malam itu, kediaman Lord Sterling terlihat seperti istana di negeri dongeng. Lampu gantung kristal raksasa memantulkan cahaya ke seluruh aula dansa, dan musik orkestra mengalun lembut. Begitu mobil sport putih Pharma berhenti di depan lobi, semua mata langsung tertuju pada mereka.
Pharma turun lebih dulu, lalu berjalan memutar dengan gaya gentleman yang dibuat-buat alias caper tingkat dewa untuk membukakan pintu bagi Lyra. Ia mengulurkan tangannya, menunggu Lyra menyambutnya.
"Jangan gemetaran, Dokter Lyra. Pegang tangan saya seolah kamu sedang memegang pisau bedah tadi pagi," bisik Pharma sambil tersenyum miring.
Lyra menarik napas panjang, lalu turun dengan anggun. Gaun emerald green itu menjuntai sempurna, membuat Lyra terlihat sangat kontras dengan Pharma yang memakai tuxedo hitam legam. Begitu tangan mereka bersentuhan, Lyra merasa ada aliran listrik yang bikin dia makin dag-dig-dug.
"Awas ya kalau lo lepasin tangan gue di tengah kerumunan ini!" ancam Lyra pelan sambil tetap memasang senyum profesional ke arah tamu-tamu bangsawan.
"Saya tidak akan melepaskan tangan saya dari milik saya sendiri, Lyra," balas Pharma santai, yang sukses membuat wajah Lyra kembali merah padam.
Dansa yang "Rusuh"
Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Lord Sterling yang sudah tampak sehat. Setelah itu, musik berubah menjadi irama waltz yang romantis. Pharma, tanpa meminta izin, langsung menarik pinggang Lyra menuju tengah lantai dansa.
"Eh! Pharma! Gue nggak bisa dansa!" bisik Lyra panik, tangannya kaku di bahu Pharma.
"Ikuti saja langkah saya. Anggap ini seperti simulasi bedah yang kemarin," Pharma merapatkan tubuhnya, tangan kanannya menekan punggung Lyra dengan mantap sementara tangan kirinya menggenggam jemari Lyra erat-erat.
Mereka mulai berputar. Pharma bergerak dengan sangat lihai, tapi Lyra beberapa kali hampir menginjak sepatu mahal Pharma.
"Aduh! Maaf! Tuh kan, gue bilang juga apa!" Lyra meringis.
Pharma justru terkekeh. Bukannya menjauh, ia malah makin mendekatkan wajahnya ke telinga Lyra. "Sengaja ya? Biar saya makin erat meluk kamu supaya kamu nggak jatuh?"
"Dih! Pede banget! Lo yang narik-narik gue!" balas Lyra ketus, tapi hatinya tidak bisa bohong kalau dia merasa sangat aman di pelukan pria pirang ini.
Di tengah dansa, Pharma tiba-tiba berhenti berputar. Ia hanya berdiri diam, memeluk pinggang Lyra di tengah lantai dansa yang ramai, mengabaikan pasangan lain yang ada di sekitar mereka. Mata birunya menatap Lyra dengan sangat intens di bawah lampu kristal.
"Kenapa berhenti?" tanya Lyra bingung.
"Saya cuma mau memastikan," Pharma mengulurkan tangannya, jarinya menyentuh kalung perak di leher Lyra. "Ternyata benar. Kamu jauh lebih indah daripada laporan medis manapun yang pernah saya baca."
> YA AMPUN! Lyra merasa otaknya mendadak blank. Ini orang beneran raja gombal atau emang lagi kesambet apa?!
"Pharma... lo... lo lagi sakit ya? Perlu gue cek suhu badan?" Lyra mencoba melucu untuk menutupi rasa saltingnya yang sudah di level maksimal.
Pharma malah tersenyum tipis, jenis senyum yang sangat tulus. "Saya sehat, Lyra. Sangat sehat karena hari ini saya berhasil menyelamatkan pasien besar... dan mendapatkan asisten bedah yang tidak akan pernah saya biarkan pulang ke Indonesia secepat itu."
Momen di Balkon
Setelah dansa yang menguras emosi itu, mereka melipir ke balkon luar yang sepi untuk mencari udara segar. Pemandangan kota London di malam hari terlihat sangat cantik dari sana.
Pharma melepas jas tuxedo-nya dan menyampirkannya ke bahu Lyra yang terbuka. "Udara malam London tidak ramah untuk orang Bandung."
"Makasih," gumam Lyra pelan. Ia menatap ke arah langit, lalu menoleh ke arah Pharma yang kini berdiri di sampingnya dengan hanya memakai kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kerah. "Sir... makasih ya buat semuanya. Meskipun Anda menyebalkan, tapi hari ini luar biasa."
Pharma menatap ke depan, ke arah lampu-lampu kota. "Jangan panggil 'Sir' kalau kita sedang tidak di rumah sakit, Lyra."
"Terus panggil apa? Bos Caper?"
Pharma menoleh, menatap Lyra dengan tatapan yang bikin jantung Lyra mau copot (lagi). Ia memegang kedua bahu Lyra dan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya.
"Panggil Pharma. Hanya Pharma," ucapnya pelan. "Dan sebagai gantinya, saya akan memanggilmu 'My Best Assistant'... atau mungkin sesuatu yang lebih dari itu."
Lyra terdiam. Suasana mendadak jadi sangat romantis dan serius. Pharma perlahan mendekatkan wajahnya, membuat Lyra refleks memejamkan mata...Wajah Pharma semakin mendekat, hingga hembusan napasnya yang hangat terasa di kulit wajah Lyra. Aroma maskulin yang mewah dan suasana sunyi di balkon itu benar-benar mengunci pergerakan Lyra. Pharma memiringkan kepalanya sedikit, menatap bibir Lyra dengan tatapan yang dalam, perlahan ia memejamkan mata, siap untuk memberikan kecupan pertama di malam yang indah itu.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan hanya tersisa jarak satu milimeter Lyra tiba-tiba tersadar dari sihir romantis itu.
PLAK!
Bukan tamparan keras, tapi Lyra dengan cepat menempelkan telapak tangannya tepat di mulut Pharma, menahan wajah pria itu agar tidak maju lebih jauh.
"No! Berhenti di situ, Bos Caper!" seru Lyra sambil mendorong dada Pharma dengan tangan satunya.
Pharma tersentak, matanya langsung terbuka lebar. Ia mengerjap bingung, masih dalam posisi membungkuk dengan mulut yang tertutup telapak tangan Lyra. Suasana romantis yang tadi dibangun setinggi langit langsung runtuh seketika.
"Lyra?" gumam Pharma tertahan di balik telapak tangan Lyra. Ia perlahan menjauhkan wajahnya, menatap Lyra dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu... menolak saya?"
"Iya lah! Enak aja!" Lyra buru-buru merapikan jas tuxedo Pharma yang masih tersampir di bahunya, sambil melangkah mundur satu langkah. "Kita ini rekan kerja, Sir! Belum juga seminggu gue di sini, masa udah main sosor aja? Mana ini di balkon rumah orang lagi! Kalau ada CCTV gimana? Reputasi gue sebagai dokter berprestasi bisa hancur!"
Pharma berdiri tegak, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut. Ekspresi kagetnya perlahan berubah menjadi seringai tipis yang kembali menyebalkan. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, mencoba menutupi rasa malunya karena baru saja ditolak mentah-mentah.
"Hanya memastikan apakah refleksmu masih bagus setelah operasi besar tadi," kilat Pharma, mencoba kembali ke mode angkuh meskipun telinganya terlihat sedikit memerah. "Ternyata pertahananmu cukup kuat, Dokter Lyra."
"Halah, ngeles aja kayak supir angkot!" balas Lyra sambil berkacak pinggang. "Tadi itu murni niat terselubung kan? Ngaku nggak?!"
Pharma melangkah maju lagi, kali ini tidak untuk mencium, tapi ia sengaja menunduk agar sejajar dengan tinggi Lyra, menatapnya dengan pandangan jahil yang sangat intens.
"Kalau iya kenapa? Memangnya kamu tidak mau mencium CMO paling tampan di London?" tanya Pharma dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi.
"Dih! Pede tingkat dewa!" Lyra memutar bola matanya, tapi jantungnya tetap saja berdegup kencang. "Gue ke sini buat belajar bedah, bukan buat jadi koleksi mantan lo! Lagian, gue belum maafin soal lo yang ngerjain gue bangun jam 5 pagi tadi!"
Pharma terkekeh rendah, suara tawanya memecah keheningan malam. "Baiklah. Penolakan diterima. Tapi jangan harap saya akan menyerah secepat itu, Dokter Lyra Raven. Di meja operasi saya tidak pernah menyerah sebelum jantung pasien berdetak normal kembali... dan saya rasa, jantungmu saat ini sedang tidak normal detaknya."
"PHARMA! Stop atau gue pulang jalan kaki!" teriak Lyra yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajah merah padamnya.
Pharma hanya tersenyum menang, lalu memberikan lengannya untuk digandeng. "Ayo masuk. Pesta hampir selesai. Saya tidak mau asisten saya masuk angin karena terlalu lama menahan malu di balkon."