"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 17
"Pak uang kita udah mulai menipis nih, pak. "
Di ruang tamu keluarga mereka yang bahkan belum separuhnya selesai di bangun, bu Rukmini berkeluh kesah pada suaminya, emas yang serenteng berderet di kiri- kanannya itu bergoyang seiring gerakan tangannya yang gelisah.
Pak Baskoro duduk setelah menaruh gelas bekas minumnya di atas meja kayu yang masih dibungkus plastik. Ia kemudian menyalakan AC yang ada di ruangan itu. Ya, sekarang ruang tamu mereka bahkan sudah memiliki pendingin. Dulu sebuah kipas angin pun rasanya mewah, tapi semenjak ber-mantukan keturunan biru, semuanya berubah. Mereka ingin menunjukkan eksistensi sebagai orang kaya baru atau orang-orang sering menyebutnya OKB.
"Emang tinggal berapa, bu? " tanya pak Baskoro sambil tangannya mengibas- ngibaskan kerah baju nya, keringat masih menempel di lehernya. ia habis dari luar tadi, baru selesai mencuci mobil baru mereka-- mobil yang bahkan belum lunas separuh nya tapi sudah dipamerkan ke tetangga.
"500 juta," jawab bu Rukmini cepat. "Enggak cukup nih buat biaya bangun rumah tiga lantai kita, pak. "
"Lah tinggal segitu? " pak Baskoro mendelik "perasaan kamu boros banget bu. " ia melengos malas.
Kalimat itu seperti menyulut api dan Rukmini yang dibilang begitu, tentu tak terima. Ia sontak menegakkan badan, dan matanya yang sudah belo dari sananya melotot tajam, bibitnya maju ke depan, napasnya memburu.
"EEeeeh, enteng banget bapa kalo ngomong, " bentaknya. "Emangnya beli bahan- bahan buat bangun rumah gak mahal? belum bayar tukangnya, terus beli mobil sama handphonenya bayu keluaran terbaru tuh, duitnya habis memang buat siapa lagi? ya buat kita- kita juga."
Ia mengoceh panjang lebar, lidahnya tajam seperti silet, bibirnya miring ke kanan lalu ke kiri mengikuti emosi. Wajahnya merah, urat di pelipisnya terlihat jelas. Betul-betul gambaran ibu tiri dalam dongeng--emosional, materialistis, dan selalu merasa paling benar.
“Lagian ya, Pak,” lanjutnya tanpa memberi jeda, “di zaman sekarang duit dua miliar itu nggak ada apa-apanya! Sekali belanja ini itu, habis!”
Pak Baskoro hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah hafal betul pola istrinya. Jika dilawan, pertengkaran tak akan selesai sampai larut malam. Jika didiamkan, Bu Rukmini akan tetap menang, setidaknya di kepalanya sendiri.
“Terus maunya gimana?” tanya Pak Baskoro lelah.
Bu Rukmini menyilangkan tangan di dada. “Minta ke Indira.”
Pak Baskoro terdiam, sejurus kemudian wajahnya langsung berubah segar, seperti tumbuhan yang baru di siram. "Bener juga. " lalu wajannya berubah. "Tapi gimana caranya bu? "
“Ya ampun pak, ya langsung minta aja,” jawab Bu Rukmini seolah itu hal paling wajar di dunia. “Indira itu kan istrinya Seno. Suaminya kaya raya. Masa iya nggak bisa bantu orang tua sendiri? Wong dulu juga Indira hidup dari kita.”
Pak Baskoro mengusap wajahnya. “Iya sih, tapi kalau dipikir- pikir lagi Seno kan orang sibuk, kemarin aja kita kan udah minta, dia malah ngomong mau cerai sama Seno. "
Bu Rukmini melengos judes. "Anak mu itu. Udah dikasih takdir enak, malah mau dilepas. "
Pak Baskoro hanya bisa terdiam, membuat bu Rukmini malah gemas sendiri.
“Ah, Bapak ini!” potong Bu Rukmini ketus. “Indira gak mungkin kabur dari Seno, kita kan udah gertak dia kemarin, pasti gak akan berkutik. Lagian karena dia udah nikah sama orang kaya makanya bisa bantu! Aku yakin Seno pasti ngasih. Wong Indira aja penurut. Kamu tuh kalo sama anak perempuan kebanyakan mikir.”
Nada suaranya merendahkan. Seolah Indira hanyalah aset cadangan yang sewaktu-waktu bisa diminta.
Pak Baskoro kembali menghela napas,ocehan istrinya terdengar panas ditelinga nya, kesal tapi ia juga tidak punya tenaga untuk berdebat. Sejak dulu, dalam rumah itu, suara Bu Rukmini selalu paling keras.
Belum sempat ia menjawab, suara pintu terbuka dari arah depan.
“Mah, Pak.”
Bayu masuk dengan santai. Kaos mahal menempel di tubuhnya, jam di pergelangan tangannya berkilau. Wajahnya tampak segar, terlalu segar untuk ukuran seseorang yang katanya sedang “fokus cari masa depan”. Tahun ini Bayu menginjak usia 20 tahun, tapi masih menganggur.
“Kenapa?” tanya Bu Rukmini langsung berubah nada. Suaranya mendadak lembut.
Bayu duduk, menyilangkan kaki. “Aku butuh uang.”
Pak Baskoro langsung menoleh. “Buat apa lagi?”
“Dua puluh juta aja pak,” kata Bayu ringan. “Mau ikut trading. Temen ngajakin. Katanya peluangnya gede.”
Alis Pak Baskoro terangkat. “Trading?” Ia menatap Bayu lekat-lekat. “Kamu jangan bohong. Jangan-jangan buat mabuk-mabukan lagi.”
Bukan tanpa alasan pak Baskoro bicara seperti itu, karena itu memang tabiat anak bungsu nya itu sejak dulu bahkan dari dia SMA, pergaulan Bayu memang liar dan bebas, tapi herannya ia tak pernah mendapatkan hukuman, hanya nasihat- nasihat pak Baskoro saja yang dianggapnya angin lalu.
Wajah Bayu sedikit berubah, tapi ia cepat menutupinya dengan senyum meyakinkan.
“Enggak, Pak. Demi Allah. Ini serius. Sekarang zamannya investasi. Kalo berhasil, malah bisa nambah duit kita.”
Bu Rukmini langsung tertarik. “Tuh kan, Pak. Anak sekarang pinter. Nggak kayak kita dulu.”
“Tapi Bayu--” Pak Baskoro belum selesai bicara.
“Ah, Bapak curigaan mulu,” potong Bu Rukmini. “Bayu itu anak laki-laki. Masa iya mau macem-macem? Lagian kalo untung kan buat keluarga juga.”
Dalam keluarga itu, memang begitulah polanya. Anak laki-laki adalah raja. Keinginannya harus dituruti. Kesalahannya selalu dimaafkan. Sementara anak perempuan… ya, tahu diri saja.
Pak Baskoro terdiam. Ia menatap wajah Bayu yang kini terlihat penuh harap, lalu istrinya yang menatap tajam penuh desakan.
Akhirnya ia berdiri.
“Ya sudah,” katanya pelan. “Bapak ambilin.”
Ia melangkah ke kamar, membuka lemari besi kecil. Di dalamnya, uang mahar Indira tersimpan rapi,sengaja setengahnya diambil tunai dan setengah nya masih di rekening. Tangannya sempat berhenti di udara, seolah ragu. Namun bayangan pertengkaran panjang dengan Bu Rukmini membuatnya kembali bergerak.
Dua puluh juta rupiah berpindah tangan.
Bayu langsung tersenyum lebar. “Makasih, Pak! Makasih, Mah!”
Belum sempat uang itu masuk ke sakunya, ponsel Bayu berdering.
“Iya, iya… bentar lagi. Di mana?” Bayu menjauh sedikit, tapi suaranya masih terdengar jelas. “Di club? Oke.”
Kata itu(club)terdengar jelas di telinga Pak Baskoro yang membuat matanya langsung membelalak.
“BAYU!” bentaknya.
Bayu langsung panik. “Eh, Pak--anu, aku--"
“Kamu mau ke club lagi?!” suara Pak Baskoro meninggi. “Bapak udah bilang, jangan mabuk-mabukan lagi!”
Bayu mundur setapak. “Pak, ini cuma ketemu temen--”
“Jangan bohong!” teriak Pak Baskoro. “Bapak capek nutupin kamu! Dulu tiap kamu mabuk siapa yang jemput? Indira! Sekarang Indira udah nikah! Nggak ada lagi yang mau ngurusin kamu!”
Bayu menelan ludah. Tanpa menjawab, ia berbalik dan berlari keluar.
“Bayu! Jangan ke clubbing!” Pak Baskoro berteriak dari dalam rumah. “Kalo kamu kenapa-kenapa, jangan harap ada yang jemput!”
Suara mesin motor menjauh dan ruang tamu kembali sunyi.
Bu Rukmini mendengus. “Udahlah, Pak. Anak laki-laki mah gitu. Nanti juga pulang sendiri.”
Pak Baskoro duduk kembali, lemas. Dadanya terasa sesak.
"Anak kurang ajar, kalau dia mabuk seperti yang udah- udah, siapa yang bakal ngejemput coba?! " memukul meja dengan keras.
"Paling Indira, " bu Rukmini menyahut santai lalu melengos pergi.
****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah