Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—18
"Kenapa kamu bisa tau aku ada di sana, Bumantara?" Arumi menatap Bumantara yang sedang menyetir kan mobil. Padahal tadi ia ingin pulang sendiri dengan menaiki taksi, karena saat ke rumah sakit ia tak membawa motor.
"Filling, hanya feeling sayang." Arumi berdecak mendengar jawaban itu, yang menurut nya tak masuk akal, lalu membuang pandangan menatap samping pintu kaca mobil, melihat mobil dan motor yang bergantian menyelip maju.
Bumantara terkekeh, saat melihat wajah menggemaskan itu, lalu dengan lembut meremas paha dalam Arumi. "Mau beli sesuatu hm," ajaknya.
Sebenar nya Arumi sedikit heran dengan keadaan mereka berdua ini — bisa dibilang Bumantara bukanlah siapa-siapa nya, tapi kenapa ia suka saat Bumantara bicara lembut bahkan memanggilnya dengan sebutan 'sayang' rasa aneh di hati nya menjalar sampai ke jantung, membuatnya berdetak yang berlebihan, bahkan bisa saja sekarang pipi nya merona karena suara lembut dan perhatian Bumantara.
Lalu Arumi menggeleng lembut, berkata, "aku ingin pulang aja, Buma."
Bumantara menatap Arumi yang masih menatap keluar, menghela napas, sembari mengambil ponselnya saat berdering. Bumantara mengangkat nya, meletakkan benda pipih itu di telinga langsung mendengarkan seruan dari kakak perempuan nya.
"Ini benar, Bumantara? Kamu dapat info ini benaran kan, Buma?" pertanyaan itu berulang-ulang kali nya Zelie lakukan, dan jawaban nya tetap sama dari nya, dan meski harus membuat suara Zelie berubah sedih, ia tetap akan bilang begitu ada nya.
"Aku sudah menemukan itu. Lalu tinggal Mbak sendiri yang memutuskan nya, bagaimana kelanjutan itu," ucap Bumantara di akhir kata, sebelum mematikan panggilan nya.
Arumi yang sedari tadi mencoba menguping pembicaraan itu, namun yang terdengar hanya ucapan Bumantara, rasa penasaran tiba-tiba muncul, tapi untuk apa ia ikut campur, itu bukan urusannya.
Arumi menghembuskan napas nya pelan, memejam kan mata, rasa lelah untuk hari ini baru bisa ia rasakan — ia merindukan kasur di kontrakan nya, lalu tidur seperti orang mati, sampai tidak tau keadaan orang di luar lagi, itu yang ia ingin kan sekarang.
Tapi, apakah bisa, saat ini saja ia di antarkan Bumantara, remaja yang selalu membuat jantung nya bekerja tak nyaman.
Bumantara sekali-kali melirik gadis itu, bisa ia lihat jika Arumi sedang memejam kan matanya, dan akhirnya ia tak ingin menganggu nya — karena mungkin saja gadis cantik itu sedang ingin istirahat, apa lagi malam itu mereka tidur nya hampir tengah malam, dapat kemungkinan Arumi menemukan rasa kantuk nya.
Mobil yang di kendarai Bumantara, mulai memasuki gang tempat kontrakan Arumi tinggal, sore hari seperti ini banyak kontrakan yang belum terlalu ramai, dan hanya Brio yang terlihat di teras kontrakan nya, duduk sembari berkipas kardus.
"Arumi," panggil Bumantara, sembari mengusap pipi Arumi, lembut.
Arumi tersentak, terbangun dari tidur nya dengan wajah yang ternyata sangat dekat dengan wajah tampan Bumantara.
"Mau aku gendong, hm?" Bumantara sudah meletakkan tangan nya dibawah lutut Arumi, seakan-akan sudah siap hendak menggendongnya.
Arumi menggeleng gaduh, ia tak mau diliat sama penghuni kontrakan, itu jelas akan membuat ia malu.
"Aku bisa jalan sendiri... enggak usah gendong," tolak Arumi cepat, seraya mendorong dada Bumantara yang masih terlalu dekat nya.
"Badan ku yang besar ini jadi enggak guna, saat kamu menolak nya dengan tegas seperti itu. Padahal aku sering olahraga setiap pagi-pagi, sampai pergi gym, dan itu semua agar bentuk tubuh ku menjadi kesukaan mu."
Bumantara berdecak, merengut, sembari melihat badannya. Arumi yang melihat itu, mengernyitkan dahinya, geli, melihat tingkah aneh Bumantara yang seperti itu. Apa lagi dengan tubuh yang besar dan wajah nya yang terlihat tegas dari segala aspek, seperti bentuk rahangnya.
"Ihhh... Apaan sih," kesal Arumi, mendorong dada Bumantara kembali, supaya bisa menjauh darinya.
Bumantara menghela napas, sembari mengusap wajah dan rambutnya, gaya itu terlihat dramatis sekali, seakan-akan ia ditolak lagi dan membuat hatinya sakit. Ekspresi itu semakin membuat Arumi kesal, sehingga dengan berani mencubit pinggang Bumantara.
"Enggak usah ekspresi seperti itu, enggak lucu ih."
"Lalu kamu mau aku seperti apa, sayang? Seperti ini hm?" Bumantara dengan berani mengecup bibir Arumi yang ia maju kan, tersenyum, saat wajah Arumi berubah masam, bahkan menatap dirinya dengan melotot.
Bumantara terkekeh, gemas, membuat tangan nya gatal, lalu mencubit pipi Arumi yang memerah.
"Kamu cantik sekali, sayang," bisik Bumantara lembut, sambil menangkup wajah Arumi, ia ingin mencium bibir lembut itu lagi — melumat nya hingga membengkak.
Saat Bumantara memajukan wajahnya, Arumi dengan cepat menghindar dengan memaling kan wajahnya, membuat bibir Bumantara hanya menempel di pipi Arumi.
Dan Bumantara yang tak ingin rugi, dengan cepat membawa wajah cantik itu menghadapinya, mencumbunya, melumat bibir yang dibalut lipstik itu, sehingga membuat pewarna di bibir lembut itu berantakan.
Setelah napas yang tersengal-sengal barulah Bumantara melepas lumatannya, ia menyatukan kening mereka, menatap manik hitam itu yang sayu.
"Ini manis... aku suka hm," bisik Bumantara sambil mengusap bibir Arumi yang belepotan lipstik, bahkan bibir itu terlihat membengkak.
Arumi memejamkan matanya, meresapi rasa yang aneh di dada nya, rasa yang berdesir, debaran yang juga membuat kerja jantung nya dua kali lipat — karena rasa seperti ini tak pernah ia rasakan.
Ketukan di pintu menyadarkan Arumi yang baru saja menikmati sensasi yang nyaman, ia mendorong dada Bumantara dengan pelan, memaling kan wajah nya yang pasti sudah memerah karena malu.
Bumantara menurunkan kaca mobilnya, menatap Brio yang baru saja mengetuk pintu mobilnya tadi. "Ada apa?"
Bumantara menatap dengan datar, suaranya bahkan terdengar berat. pria dengan mata sipit itu salah tingkah, seraya menggaruk kepala nya saat melihat tatapan Bumantara yang datar, ia seperti salah waktu dalam menyapa.
"Ahhh... hanya ingin menyapa, soalnya enggak keluar-keluar dari mobil. Saya takut kenapa-kenapa, jadi saya datangi deh kesini, mau lihat dari kaca."
Brio menunjukkan kaca mobil. "Tapi... gelap, jadi saya ketuk deh... hehe," ucapan di selingi tawa canggung itu, membuat Arumi meringis, kasian saat melihat wajah tetangga kontrakan nya yang ketakutan.
"Maaf yah, Mas...." Brio menaikan dua jari telunjuk dan jari tengah nya.
Hingga akhirnya, Arumi memutuskan menyentuh lutut Bumantara supaya tidak menatap Brio seperti itu — karena tatapan itu seperti menakuti Brio yang hanya sedang menyapa.
"Udah, jangan menatapi nya seperti itu. Kamu menakuti nya, Buma," tegur Arumi, saat Bumantara mengalih kan pandangan nya, bahkan tatapan datar itu tadi sudah berubah menjadi lembut sepenuhnya.
"Maaf, Brio. Pria ini memang agak aneh," kata Arumi, tersenyum, sambil menunjukkan wajah Bumantara.
Bumantara menghela napas nya, "Jangan tersenyum seperti itu, Arumi. Apa lagi kepada pria lain, aku cemburu hmm," ucapnya lembut, seraya mengecup bibir Arumi.
Sehingga kembali membuat pipi itu merona. "Udah ihhh... malu."
Brio mengusap dada nya, akhirnya ia bisa bernapas lega, saat kedua pasangan itu tak lagi memperhatikan nya, ia pun perlahan mundur teratur dari kedua manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
"Menyeram kan. Anak sekolahan yang sungguh menyeram kan," gumamnya, bergidik ngeri, lalu menjauh dari mobil itu dengan cepat.
—
—
Bersambung...