Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Terminal keberangkatan Bandara Internasional Incheon adalah sebuah katedral modern dari baja dan kaca, memantulkan cahaya senja yang berubah menjadi juta-juta titik lampu kuning dan putih. Suara ribuan langkah kaki, deret troli bagasi, dan pengumuman dalam berbagai bahasa bergema di bawah langit-langit yang menjulang tinggi. Lisa berjalan cepat, sepatu bootsnya berdecit tegas di atas lantai granit yang mengilap seperti es. Ia menyeret koper kabin beroda kecil yang mengeluarkan suara gemeretak ritmis. Di balik kacamata hitamnya, matanya terus berpindah, melirik ke samping setiap beberapa langkah.
𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘶𝘯𝘢𝘯.
“Lisa! Tunggu!” Suara Sam terdengar di telinga kanannya, sedikit terengah tapi penuh kepanikan. Lisa melirik. Di sana, Sam melayang dengan gerakan canggung, tubuh semi-transparannya sesekali “tersobek” saat seorang pelancong berbadan besar melintas tepat menembus dada nya. “Aku tidak punya boarding pass! Bagaimana ini? Apa aku harus antre di imigrasi? Bagaimana kalau mereka punya sensor yang bisa mendeteksi… aku? Aku bisa ditahan di ruang interogasi bayangan!”
Lisa mendengus pelan. Ia mengangkat ponselnya ke telinga, berpura-pura sedang menjawab panggilan melalui headset nirkabel yang menggantung di lehernya. “Kau tidak memiliki massa, Sam. Kau tidak perlu paspor dan visa. Kau hanya perlu berjalan lurus melewati dinding, seperti biasa. Berhentilah bertingkah seperti turis pertama kali naik pesawat.”
“Tapi ini berbeda, tahu!” Bantah Sam, sambil menghindari seorang anak kecil yang berlari—anak itu melewatinya tanpa sadar, menyebabkan Sam bergetar sebentar seperti gambar yang terganggu sinyal. “Ini mesin terbang! Kita akan meluncur di langit! Bagaimana dengan tekanan kabin? Atau medan elektromagnetik? Atau… atau bagaimana kalau kecepatannya terlalu tinggi dan aku terlempar keluar dari ekor pesawat?”
“Diamlah.” desis Lisa melalui gritted teeth, sambil mengantre di belakang garis keamanan. “Masuk saja ke dalam. Ikuti aku.”
Kecemasan Sam tampaknya tidak juga mereda. Bahkan, memuncak saat mereka akhirnya memasuki kabin pesawat Airbus A330 yang akan membawa mereka ke Kuala Lumpur—penerbangan transit sebelum ke Johor Bahru. Penerbangan malam itu penuh sesak. Kabin ekonomi dipadati oleh berbagai wajah: keluarga, pebisnis yang lelah, backpacker. Udara di dalamnya hangat, beraroma disinfektan, makanan yang dihangatkan, dan parfum murah. Lampu kabin redup menciptakan suasana temaram.
Lisa menemukan nomor kursinya—43A, kursi jendela. Saat ia mendekat, jantungnya sedikit tenggelam. Di kursi 43B, sebelahnya, sudah duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja kotak-kotak. Pria itu sedang asyik dengan tabletnya, menduduki kursi tengah dengan nyaman, lengannya hampir memenuhi sandaran tangan.
Sam, yang mengikuti Lisa dari belakang, berhenti mendadak di lorong sempit. Matanya membelalak memandangi konfigurasi kursi yang sesak. “Oh, tidak...” Gumamnya, suara penuh horor. “Lisa, kursinya penuh. Benar-benar penuh. Di mana aku harus duduk? Di rak bagasi? Di toilet? Atau… aku harus menggantung di langit-langit seperti kelelawar selama enam jam?”
𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, batin Lisa. Ia dengan cepat memasukkan koper kecilnya ke dalam kompartemen di atas, lalu duduk di kursi jendela. Ia memasang sabuk pengaman. “Jangan lebay, deh. Carilah sudut. Berdirilah di dekat dapur kabin. Apa pun. Jangan berdiri di lorong, nanti kau terhuyung-huyung saat turbulensi.”
“Hmmm...” Bisik Sam, matanya liar memindai kabin. Pramugari mulai memeriksa sabuk pengaman, lorong dipenuhi orang yang masih berusaha menata barang. Sam tampak semakin gusar, seperti hewan yang terjebak. Lisa bisa merasakan energi gelisahnya memancar, menambah ketegangan di pundaknya sendiri.
Kemudian, tanpa peringatan sama sekali, Sam bergerak.
Dia tidak berjalan ke depan atau ke belakang. Dia malah berputar dan… duduk.
Tepat di pangkuan Lisa.
Tidak, bukan di pangkuan. Lebih tepatnya, dia memposisikan diri dalam posisi setengah duduk-setengah melayang, menyamping, seolah pangkuan Lisa itu adalah kursi malas pribadi. Sensasi penurunan suhu yang mendadak langsung menyergap Lisa, seperti sebotol es kering diletakkan di atas pahanya. Dingin itu menusuk melalui kain celana jeansnya, merambat ke kulit. Refleksnya, Lisa melompat sedikit di kursinya, punggungnya menegak bagaikan besi.
“Apa yang kau lakukan?!” Desisnya, suara tercekik. Pipinya langsung memanas, membara dari leher hingga ke ujung telinga. Rasanya seperti demam yang datang tiba-tiba.
“Ini satu-satunya tempat yang logis.” Jawab Sam, suaranya berusaha santai meski posturnya agak kaku. Dia menyandarkan punggungnya ke arah Lisa, dan yang lebih membuat Lisa ingin menjerit, dia meletakkan kepalanya di bahu Lisa. Dia bahkan memejamkan mata, seolah sedang mempersiapkan diri untuk tidur. “Tenang saja. Anggap aku ini bantal perjalanan.”
𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘨𝘭𝘦𝘵𝘴𝘦𝘳! Lisa terpaku. Lengannya tergantung di udara. Secara naluriah, untuk menyeimbangkan sesuatu yang tidak bisa dia sentuh tapi dia rasakan, tangannya melingkar ke depan, seolah sedang memeluk tas kecil di pangkuannya. Pada kenyataannya, lengannya itu melingkari pinggang Sam yang tak kasat mata. Posisinya sangat intim, sangat tidak pantas, dan sangat, sangat konyol.
𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮.
Seorang pramugari ramah dengan sanggul rapi berhenti di samping mereka. Senyumnya professional, tetapi matanya berkerenyit sedikit saat melihat Lisa. “Ada yang bisa saya bantu, Nona? Anda terlihat tidak nyaman dengan posisi duduk Anda?” Pandangannya jatuh pada lengan Lisa yang melingkar di udara, memeluk kekosongan.
Lisa memaksakan senyum. Otot-otot wajahnya terasa seperti beton. “Oh, tidak. Tidak sama sekali. Saya… hanya sangat sayang pada tas saya ini.” Ia menepuk-nepuk udara di pangkuannya, yang kebetulan adalah area punggung Sam. “Barang-barang di dalamnya… sangat rapuh, mudah pecah.” Ucapannya terdengar kacau bahkan di telinganya sendiri.
Pramugari itu mengangguk lambat, senyumnya tetap terpajang meski matanya menunjukkan kebingungan yang dalam. “Saya mengerti. Silakan tekan tombol panggil jika membutuhkan sesuatu.” Dia pergi, melirik sekali lagi ke arah Lisa dengan pandangan yang akan diingat Lisa sampai hari kiamat.
Bencana belum berakhir. Pria di kursi sebelah, yang sejak tadi sibuk dengan tabletnya, kini menoleh. Dia menyaksikan adegan Lisa “memeluk angin” dengan penuh perasaan. Alisnya naik hampir sampai ke garis rambutnya yang menipis. Dia menggeser duduknya, menjauh beberapa sentimeter, lalu kembali fokus pada tabletnya—tetapi Lisa bisa melihat dari sudut matanya, pria itu sesekali melirik penuh curiga.
“Ini adalah siksaan tingkat baru.” Batin Lisa, memejamkan matanya rapat-rapat. Dingin di pangkuannya mulai beradaptasi, berubah dari menusuk menjadi seperti kantong gel dingin yang terus-menerus. Sensasi aneh itu, ditambah dengan beban psikologis dari posisi mereka, membuatnya kaku bagai patung. Dia tidak bisa bergerak. Tidak bisa menggeser kaki. Harus tetap dalam posisi ini selama berjam-jam.
“Jangan berani-berani menceritakan kejadian ini pada siapa pun di Hotel Emerald.” Ancam Lisa, suaranya nyaris tanpa suara, hanya gerakan bibir. “Ini tidak pernah terjadi. Kau mengerti?”
Sam, yang kepalanya masih bersandar di bahunya, mengeluarkan suara seperti helaan napas ringan. “Rahasia kita, Detektif. Tapi aku harus akui, ini cukup nyaman.” Dia bahkan menggeser posisi sedikit, membuat Lisa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara protes.
Pesawat mulai bergerak, meluncur pelan menuju landasan pacu. Mesin menderu, getaran mengalir melalui rangka kursi. Lisa menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu bandara berpacu kemudian berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Saat roda pesawat meninggalkan tanah, ada sensasi melayang di perutnya. Di pangkuannya, Sam tampak menjadi sedikit lebih padat, atau mungkin itu hanya sugesti. Energi dinginnya berdenyut pelan, selaras dengan dengung konstan mesin pesawat.
Penerbangan pun berlanjut. Kegiatan di kabin berjalan normal: makanan dibagikan, film diputar, lampu diredupkan. Lisa tetap dalam posisinya yang aneh. Lengan kanannya mulai pegal karena melingkari “pinggang” Sam. Kaki kirinya mulai kesemutan. Tapi anehnya, di balik segala kekonyolan dan ketidaknyamanan itu, ada sebuah keheningan aneh yang turun di antara mereka. Sebuah gencatan senjata yang tidak diucapkan.
Dalam diam, dengan hanya suara mesin sebagai latar, Lisa berpikir. Tentang kasus ini. Tentang Siti Aminah, yang arwahnya begitu kuat hingga bisa menyampaikan pesan dari seberang. Tentang Johor Bahru yang menunggu, dengan panasnya dan rahasianya. Dan tentang makhluk di pangkuannya ini—seorang remaja yang mati terlalu cepat, yang kini terikat padanya oleh sebuah janji dan sebuah misteri yang lebih besar dari mereka berdua.
“Sam...” Bisiknya, hampir tak terdengar.
“Hmm?”
“Apa yang benar-benar kau rasakan? Saat… korban itu berbicara padamu?”
Sam diam sebentar. Dingin di pangkuan Lisa berfluktuasi. “Sakit.” Jawabnya akhirnya. “Dan marah. Tapi lebih dari itu… ada ketakutan yang membeku. Ketakutan bahwa kebenaran akan terkubur bersamanya. Dia memberiku petunjuk itu seperti… melempar tali dari jurang. Dia menggenggam ujungnya, menunggu seseorang menariknya ke atas.”
Lisa menelan ludah. Tanggung jawab di pundaknya terasa sepuluh kali lebih berat. “Kita akan menariknya...” Gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, saat kabin gelap dan sebagian besar penumpang tertidur, Lisa sendiri tertidur karena kelelahan. Kepalanya sedikit miring, menyentuh bagian atas kepala Sam yang dingin. Dalam tidurnya, tanpa sadar, lengan yang melingkar itu sedikit mengencang.
Sam, yang tidak pernah tidur, membuka matanya. Dia melihat wajah Lisa yang lelah, bayangan hitam di bawah mata yang bahkan cahaya temaram kabin tidak bisa sembunyikan. Untuk sesaat, ekspresi nakal dan cemasnya menghilang, digantikan oleh sesuatu yang hampir seperti… penyesalan. Dan mungkin, sedikit rasa syukur.
Pesawat terus meluncur melalui kegelapan, membawa mereka melintasi batas negara dan laut, menuju sebuah kebenaran yang terkubur di bawah lantai kayu.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ