Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Aula utama mansion Marquess telah dibuka sejak sore.
Langit-langitnya menjulang tinggi, dipenuhi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan ke lantai marmer mengilap di bawahnya. Pilar-pilar besar berdiri kokoh di sisi ruangan, masing-masing dibalut kain tipis berwarna gading dan rangkaian bunga segar yang aromanya lembut namun menyengat,tanda kemewahan yang tidak berusaha disembunyikan.
Segalanya tampak disiapkan dengan sempurna. Bukan sekadar untuk sebuah pesta, melainkan untuk memamerkan kekuasaan dan kehormatan keluarga Marquess pada dunia luar.
Elenna berdiri di ambang pintu, ragu untuk melangkah masuk.
Gaun biru pucat yang dikenakannya terasa berat di tubuhnya, bukan karena kainnya, melainkan karena maknanya. Ia merasa seperti sedang meminjam hidup orang lain. Hidup yang terlalu rapi, terlalu terang, dan jelas bukan miliknya.
“Nona Elenna.”
Seorang pelayan memanggilnya pelan, memberi isyarat agar ia segera masuk. Wajah pelayan itu netral, profesional, tanpa emosi.
“Marquess memanggil Anda untuk makan bersama.”
Bukan sebuah undangan, tetapi panggilan.
Elenna mengangguk kecil dan melangkah ke dalam aula. Meja makan telah disusun panjang, jauh lebih panjang dari yang dibutuhkan untuk keluarga kecil. Peralatan makan berkilau rapi, piring porselen bermotif halus tersusun sempurna, dan lilin-lilin tinggi menyala stabil tanpa setitik pun lilin yang menetes sembarangan.
Di ujung meja, Marquess duduk dengan postur tegap. Wajahnya tenang, berwibawa. Di sisi kanannya duduk Lilith, anggun dalam gaun cerahnya. Di sisi lainnya, Alberto, rapi dan tenang seperti biasa.
Lilith tertawa pelan saat berbicara dengan Marquess. Tawanya ringan, terlatih, namun terdengar hangat. Marquess menanggapinya dengan nada rendah yang jarang Elenna dengar, lembut, dan penuh perhatian. Alberto sesekali menyela, menambahkan komentar singkat yang membuat Lilith tersenyum lebih lebar.
Elenna duduk di kursi yang telah disediakan, tetapi tetap merasa sedikit terpisah dari mereka.
Tidak ada yang menyapanya saat ia duduk.
Makan malam dimulai dengan doa singkat.
Kepala-kepala tertunduk sejenak, lalu suara kursi digeser pelan. Tak lama kemudian, dentingan pisau dan garpu kembali mengisi ruangan, beradu dengan piring porselen dalam irama yang teratur. Percakapan pun mengalir, tentang tamu undangan, tentang keluarga bangsawan lain, tentang betapa pentingnya malam debutante bagi nama besar Marquess.
Elenna mendengarkan dengan seksama.
Atau lebih tepatnya, ia ada di sana, tetapi tidak benar-benar diikutsertakan.
Ia menyuapkan makanan ke mulutnya perlahan, hampir tanpa rasa. Setiap kali ia mengangkat pandangan, yang ia lihat hanyalah keharmonisan yang terasa asing. Tubuh Lilith yang condong sedikit ke arah Alberto saat berbicara. Cara Marquess menatap Lilith dengan kebanggaan yang tidak ia sembunyikan, tatapan yang tidak pernah diarahkan kepadanya.
Tak satu pun dari mereka melirik Elenna, seolah kursi yang Ia duduki kosong.
Di tengah makan, Marquess akhirnya berbicara kepadanya.
“Lukamu… bagaimana keadaannya sekarang?”
Nada suaranya datar, tidak kasar, tetapi juga tidak hangat. Seperti pertanyaan yang diajukan karena sudah seharusnya diajukan, bukan karena benar-benar ingin tahu.
Elenna terkejut sesaat, lalu segera mengangguk.
“Sudah lebih baik, Ayah.”
Marquess mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah cukup.
“Itu bagus. Kau harus menjaga kesehatanmu.”
Kalimat itu terdengar benar. Bahkan, sepintas, seperti perhatian.
Namun, tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada tatapan susulan. Pembicaraan pun kembali beralih pada Lilith dan persiapan pestanya, seolah Elenna tidak pernah berbicara.
Basa-basi selesai.
Dadanya terasa sesak. Ada rasa nyeri yang menjalar pelan, bukan seperti luka yang berdarah, melainkan seperti sesuatu yang diremas dari dalam. Ia ingin mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya formalitas. Bahwa ia tidak seharusnya berharap lebih. Namun, harapan sering kali muncul tanpa izin.
Ia menunduk, menelan semuanya, makanan, perasaan, dan kenyataan bahwa tempat itu bukan miliknya. Di tengah makan, Lilith akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat. Senyum Lilith tetap terpasang, sopan, anggun, manis, dan sempurna di mata siapa pun yang melihatnya. Namun, ada sesuatu di balik matanya yang dingin, suatu kebencian yang dapat dirasakan Elenna.
“Elenna,” panggilnya lembut.
Seluruh meja terdiam sejenak.
“Kau sudah cukup pulih, bukan?”
Elenna mengangguk. “Ya, Kak.”
Kata itu keluar begitu saja, meski lidahnya terasa kaku saat mengucapkannya.
Bukan karena ia ingin memanggil Lilith demikian, melainkan karena ia diingatkan berkali-kali. Karena Lilith pernah mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan di suatu sore, ‘Di depan Ayah dan Alberto, panggil aku kakak. Kita harus terlihat dekat.’
Lilith tersenyum tipis, seolah puas mendengar panggilan itu.
“Bagus,” katanya. “Karena malam ini sangat penting bagi keluarga kita.”
Keluarga kita.
“Kau akan hadir di pesta debutante,” lanjut Lilith. “Banyak tamu terhormat, dan banyak pula mata yang memperhatikan.”
Elenna mengangguk lagi. Jemarinya mencengkeram sendok lebih erat, sampai ruas-ruasnya memucat.
“Aku hanya ingin mengingatkan,” Lilith mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya tetap lembut, “kau harus menjaga sikap.”
Kalimat itu sederhana. Namun maknanya jelas.
“Berbicara seperlunya, bersikap sopan, dan tidak menarik perhatian yang tidak perlu,” lanjutnya.
“Jangan gugup… kau hadir untuk melengkapi suasana, bukan untuk menjadi pusatnya.”
Alberto akhirnya mengangkat pandangan dari piringnya. Ia tersenyum kecil ke arah Lilith.
“Kau memang selalu penuh perhatian,” ujarnya ringan. “Tak heran semua orang menyukaimu.”
Lilith tertawa pelan, merendah dengan anggun. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
Marquess ikut tersenyum. Ia mengangkat gelasnya sedikit, lalu berkata setengah bercanda,
“Tentu saja. Lilith kan anak perempuanku.”
Nada suaranya hangat, tersirat kebanggaan diwajah Marquess.
Tidak ada tambahan kata.
Tidak ada dan Elenna juga bagian dari keluarga ini. Seolah kalimat itu sudah lengkap tanpa dirinya. Elenna merasakan sesuatu runtuh pelan di dalam dadanya.
“Baik, Kak,” ujarnya akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. “Aku mengerti.”
Lilith tersenyum kembali, seolah pembicaraan itu hanyalah nasihat penuh kasih.
“Aku tahu kau gadis yang baik,” katanya. “Aku yakin kau mengerti.”
Percakapan pun berlanjut.
Tentang gaun Lilith. Tentang tamu kehormatan. Tentang betapa beruntungnya keluarga Marquess. Elenna kembali menjadi bayangan.
Dan di antara cahaya lilin, suara tawa, dan pujian yang tidak pernah ditujukan padanya, Ia menyadari satu hal dengan sangat jelas;
Ia ada di meja itu. Namun, Ia tidak pernah benar-benar diakui sebagai bagian dari mereka.
Saat makan malam usai, ia berdiri bersamaan dengan yang lain, menunduk hormat, lalu melangkah pergi tanpa diminta.
Di lorong luar aula, dua pelayan yang sedang membereskan baki saling bertukar pandang saat melihatnya lewat.
“Kasihan,” bisik salah satunya pelan, cukup jelas untuk terdengar.
“Sudah didandani, tapi tetap saja... terlihat menyedihkan"
Pelayan lainnya terkekeh kecil. “Ya. Gaun bagus pun tidak mengubah apa-apa.”
Elenna tidak menoleh.
Langkahnya semakin cepat. Gaun yang tadi terasa berat kini terasa menyesakkan. Napasnya pendek, dadanya berdenyut. Begitu sampai di kamarnya, ia menutup pintu dan menguncinya dengan tangan gemetar.
Ia bersandar di pintu.
Lalu perlahan, tubuhnya melorot ke lantai.
Elenna menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak yang berusaha keluar. Air mata mengalir tanpa suara, membasahi punggung tangannya, tidak ada teriakan, tidak ada ratapan.
Hanya tangisan dalam diam.
Di balik pintu tertutup itu, ia akhirnya mengerti, kehadirannya di pesta nanti bukan karena ia diinginkan, melainkan karena ia harus ada. Sebagai simbol. Sebagai formalitas. Sebagai sesuatu yang bisa diatur.
Jika diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan, maka ia akan diam.
Malam debutante akan datang.
Dan Elenna akan hadir, bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai bayangan yang belajar berjalan di antara cahaya, tanpa pernah benar-benar disentuh olehnya.