Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 - Tempat yang Tidak Pernah Dipilih
<>
---Tempat yang Tidak Pernah Dipilih---
Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang. Bukan karena berani, melainkan karena tahu menoleh tidak akan mengubah apa pun. Jalan yang ia pijak mulai berubah perlahan. Batu yang semula rata kini dipenuhi retakan halus seperti garis garis pada peta tua. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya bukan karena tubuhnya melemah tetapi karena tempat ini menuntut kesadaran penuh.
Udara menjadi lebih dingin. Bukan dingin yang menusuk kulit melainkan dingin yang meresap ke pikiran. Bangunan di sekitar mulai kehilangan detail. Jendela menjadi buram. Pintu tidak lagi memiliki gagang. Segalanya tampak seperti ingatan yang dilihat terlalu lama hingga kehilangan bentuk aslinya.
Ia berhenti.
Di hadapannya berdiri sebuah gerbang batu besar. Tidak ada simbol. Tidak ada ukiran. Tidak ada penjaga. Gerbang itu seperti tidak ingin dikenali. Namun justru karena itulah ia tahu. Tempat ini tidak diciptakan untuk dilihat. Tempat ini ada untuk dilalui oleh mereka yang pernah ragu.
Ia menghela napas lalu mendorong gerbang itu.
Tidak ada suara. Tidak ada perlawanan. Gerbang terbuka begitu saja seolah sejak awal menunggunya.
Di baliknya bukan ruangan seperti yang ia bayangkan. Tidak ada aula. Tidak ada lorong. Yang ada hanyalah hamparan luas seperti dataran tanpa ujung dengan langit kelabu yang tidak menunjukkan waktu. Tanahnya keras seperti logam tua dan di kejauhan berdiri pilar pilar tinggi yang masing masing memancarkan cahaya samar.
Ia melangkah masuk.
Begitu kakinya menyentuh tanah itu sebuah sensasi asing menjalar. Bukan sakit. Bukan takut. Melainkan rasa dikenali. Seolah tempat ini tahu siapa dirinya jauh sebelum ia tiba.
Sebuah suara muncul bukan dari satu arah melainkan dari segala arah sekaligus.
“Kau akhirnya datang.”
Ia tidak menjawab. Ia tahu suara ini bukan milik bayangan sebelumnya. Ini lebih tua. Lebih tenang. Lebih tidak peduli.
“Tempat ini menyimpan apa yang kau tinggalkan” lanjut suara itu. “Bukan kesalahan. Bukan dosa. Melainkan pilihan yang tidak pernah kau ambil.”
Di salah satu pilar cahaya mulai menguat. Di dalamnya muncul bayangan sebuah adegan. Ia melihat dirinya sendiri lebih muda berdiri di sebuah ruangan kecil. Di hadapannya ada pintu terbuka dan seseorang menunggunya di balik pintu itu.
Ia mengingat momen itu.
Hari ketika ia memilih pergi daripada tinggal. Hari ketika ia memilih diam daripada berbicara. Hari ketika semuanya masih bisa berubah.
Ia menatap adegan itu tanpa berkedip.
“Setiap orang punya satu atau dua” kata suara itu. “Kau punya lebih banyak dari kebanyakan.”
Cahaya di pilar pertama meredup dan pilar lain menyala. Adegan berganti. Kali ini ia melihat dirinya menolak tawaran. Wajah seseorang tampak kecewa namun berusaha tersenyum. Ia ingat bagaimana ia meyakinkan dirinya bahwa keputusan itu logis. Aman. Rasional.
“Apakah semua ini nyata” tanyanya akhirnya.
“Nyata adalah kata yang lemah” jawab suara itu. “Ini adalah konsekuensi.”
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Ia tidak terkejut. Ia sudah tahu bayangan itu akan menyusul.
Sosok itu berdiri beberapa langkah darinya menatap pilar pilar cahaya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tidak ada kebencian di wajahnya. Tidak ada amarah. Yang ada hanyalah kelelahan panjang.
“Ini rumahku” kata sosok itu pelan. “Dan seharusnya juga rumahmu.”
“Kau bukan aku” balasnya.
Sosok itu menoleh. “Tidak. Aku adalah kau yang kau tolak.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menuduh. Justru sebaliknya seperti fakta yang tidak lagi perlu dibela.
“Kau hidup di dunia pilihan yang kau ambil” lanjut sosok itu. “Aku hidup di sisa sisanya.”
Ia mengepalkan tangan. “Dan sekarang apa. Kau ingin menggantikanku.”
Sosok itu menggeleng. “Aku ingin diakui.”
Langit di atas mereka bergetar perlahan. Pilar pilar cahaya mulai beresonansi satu sama lain menciptakan dengung rendah yang terasa di dada.
“Jika tempat ini runtuh” kata suara lama itu kembali terdengar. “Maka batas antara pilihan dan penyesalan akan hilang.”
Ia mengerti sekarang. Ini bukan soal dirinya saja. Jika ia menghancurkan tempat ini maka dunia akan kehilangan struktur keputusan. Semua yang tidak dipilih akan menuntut ruang. Realitas akan terpecah bukan karena perang tetapi karena kebingungan eksistensial.
“Apa yang terjadi jika aku pergi tanpa melakukan apa pun” tanyanya.
“Tempat ini akan terus membusuk” jawab suara itu. “Dan bayangan bayangan akan terus mencari jalan keluar.”
Sosok di depannya melangkah mendekat. “Atau kau bisa membagi beban itu.”
“Membagi bagaimana.”
“Dengan mengizinkanku hidup” jawab sosok itu. “Bukan menggantikanmu. Tidak mengambil alih. Tetapi berdampingan.”
Ia tertawa kecil tanpa humor. “Kedengarannya mustahil.”
“Semua yang kau lakukan sejauh ini juga begitu” balas sosok itu.
Pilar terdekat tiba tiba retak. Cahaya di dalamnya berkedip. Salah satu adegan pecah menjadi serpihan cahaya yang melayang ke udara lalu lenyap.
Waktu mereka tidak banyak.
Ia menutup mata sejenak. Mengingat semua yang telah ia jalani. Semua keputusan yang ia pegang erat. Semua harga yang ia bayar.
Jika ia menolak sekali lagi maka tempat ini akan runtuh perlahan. Jika ia menerima maka dunia yang ia kenal tidak akan pernah sama.
Ia membuka mata.
“Jika aku melakukan ini” katanya pelan. “Tidak ada jalan kembali.”
Sosok itu tersenyum untuk pertama kalinya. Senyum yang sangat manusiawi.
“Tidak pernah ada.”
Langit mulai runtuh dari satu titik. Retakan cahaya menjalar cepat. Pilar pilar satu per satu mulai roboh.
Ia melangkah maju dan mengulurkan tangan.
Dan pada saat jari mereka hampir bersentuhan dunia di sekeliling mereka berhenti bergerak.
Suara lama itu berbicara untuk terakhir kalinya.
“Keputusan ini akan menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.”
Sentuhan itu terjadi.
Dan jauh di dunia nyata seseorang tiba tiba terbangun dengan ingatan yang bukan miliknya sendiri.
<>
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥