Sean Joris adalah Presdir muda tampan yang terlanjur kaya dan sangat sibuk, karena di desak menikah, maka dibuatlah “Kontes Menjadi Istri Presdir”.
Samuel atau biasa dipanggil Sam adalah teman juga asisten pribadinya Sean.
Nah apa yang terjadi jika dalam kontes, Sean meminta Samuel untuk bertukar tempat menggantikannya menjadi presdir dan Sean menjadi asistennya?
Lorena Ayala adalah salah satu peserta kontes yang kehilangan dompetnya dan terpaksa menumpang di rumah kontrakannya Sean, sang Presdir yang asli.
Apakah Sean akan menemukan cinta sejatinya lewat kontes itu?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-18 Lorena tebar pesona
Lorena dan Sean sangat terkejut saat melihat Pak Roby dengan Sam datang.
“Ehm!” Sam berdehem, melihat mereka berdua-dua di kamar, dia menoleh pada Sean lalu pada Lorena, tersenyum penuh arti.
Melihat Sam tersenyum seperti itu, Sean merasa kesal, apa maksud senyum Sam itu? Sedangkan wajah Lorena memerah menahan rasa malu, karena dia dalam keadaan jelek, belum mandi dan memakai baju tidur, benar-benar kondisi yang sangat tidak menarik, apalagi untuk dilihat seorang Presdir. Sangat memalukan.
“Pak Sam!” panggil Lorena, menatap pria yang disangkanya Presdir itu.
“Pagi!” sapa Sam, membuat Sean tidak suka, Sam dianggapnya terlalu lebay.
“Saya permisi dulu Pak Sam,” ucap Lorena, menahan rasa malu yang amat sangat, wajahnya benar-benar memerah.
“Silahkan!” jawab Sam sambil mengangguk dengan wibawanya, membuat Sean semakin sebal saja melihat acting temannya itu.
Lorena meraih semua baju yang tadi ditumpuk diatas kasur, karena kebanyakan dan gugup, dia kewalahan membawanya . Saat berjalan melewati Sam, sesuatu terjatuh ke lantai, membuat semua orang terkejut melihatnya. Begitu juga dengan Lorena terkejut menatap yang terjatuh itu, apalagi Sean, Sam dan Pak Roby. Celana dalamnya Sean berjatuhan ke lantai.
Wajah Sean langsung merah menahan malu, Pak Roby menahan tawa, sedangkan Sam kebingungan.
“Ma maaf,” ucap Lorena lalu berjongkok dan mencubit satu satu celana dalam itu ditumpuk kembali ke atas pakaian yang ada ditangan kirinya.
Sam hampir tertawa melihat cara Lorena memengang celana dalam itu, tapi ditahannya.
“Biar saya bantu,” ucap Pak Roby, cepat cepat menghampiri Lodena dan bejongkok mengambil semua celana-celana itu.
Lorenapun berdiri, menoleh pada Sam, lalu mengangguk dan tersenyum, haaaa dia malu sekali. Buru-buru dia keluar kamar itu menuju kamarnya diikuti Pak Roby.
“Kau lihat sendiri kan? Cara dia memegang celana dalamku saja seperti itu apalagi kalau..” ucap Sean terhenti.
“Kalau apa?” tanya Sam, sudah menahan tawanya saja dari tadi.
“Kau fikir apa? Otakmu mesum!” bentak Sean, karena melihat Sam malah cengar cengir.
“Mesum apa? Aku kan cuma bertanya,” elak Sam.
“Maksudku kalau mencucinya,” jawab Sean dengan kesal. Tiba-tiba Sam tertawa keras.
“Jadi itu semua celana-celana dalammu?” tanya Sam tidak percaya, sambil menatap Sean.
“Iya, dia meminjamnya untuk belajar mencuci,” jawab Sean. Lagi-lagi Sam tertawa.
“Kenapa kau terus saja tertawa?” bentak Sean, dia benar-benar kesal pada Sam yang malah menggodanya.
“Kau meminjamkan celana dalammu? Berarti dia tahu ukuranmu hahahaha..“ ucap Sam lagi-lagi tertawa.
“Sudah jangan tertawa terus!” gerutu Sean.
“Kenapa kau meminjamkan celana dalammu padanya? Hahaha…”Sam malah terus tertawa, membuat Sean semakin kesal dan melempar bantalnya ke arah Sam yang segera menangkapnya.
“Gadis itu sangat lucu ya,” ucap Sam, kembali melempar bantal ke tempat tidur.
“Lucu apanya? Dia membuatku kesal terus. Dia membuka les private biola di rumah, sangat berisik, aku tidak bisa istirahat,” keluh Sean.
“Tapi kata Pak Roby dia merawatmu semalam, sudah ada tanda-tanda istri yang baik,” kata Sam.
“Aah tidak, tidak, istri yang baik apanya, dia selalu membuat keonaran dirumah ini, bisa kau bayangakan hidupku akan menderita jika menikah dengannya,” jawab Sean. Sam lagi-lagi tertawa.
“Aku heran kenapa penilaianmu begitu? Kalau menurutku justru dia sangat manis, di pekerja keras dan tidak manja,” kata Sam malah memuji, membuat Sean tidak suka.
“Ya sudah, kau saja yang menikah dengannya! Lagipula dia juga terus memuja mujamu, kepedeaan mau jadi istri Presdir Samuel,” kata Sean.
“Benarkah begitu? Jadi dia menyukaiku?” tanya Sam, dengan wajah berseri-seri
Sean terdiam, kenapa hatinya merasa berontak saat dia mengatakannya? Seperti tidak rela kalau Lorena menikah dengan Sam.
“Kau tau apa yang sering dikatakannya, jika dia memenangkan kontes ini?” tanya Sean.
“Apa itu?” tanya Sam, sambil duduk di kursi.
“Dia akan memecatku!” jawab Sean. Lagi-lagi Sam tertawa.
“Terus saja kau tertawa!” maki Sean.
“Tentu saja aku tertawa, dia sangat lucu,” jawab Sam.
Sean akhirnya diam atau Sam akan terus menertawakannya.
“Aku tidak bisa membayangkan jika dia tahu kalau kau Presdrinya, apa yang akan dia lakukan?” kata Sam.
“Aku yakin dia akan pulang kampung. Aku tidak sabar menanti-nantikan saat itu, melihatnya kecewa dan pulang kampung,” ujar Sean sambil tersenyum. Akhirnya Sam diam. Tidak ada guna juga berdebat dengan Sean. Dia tidak bisa memaksa-maksa Sean jika memang Sean tidak menyukai Lorena. Yang akan menjalani pernikahan nantinya kan Sean sendiri.
“Bagaimana keadaanmu? Kau lebih baik?” tanya Sam.
“Ya, semalam panasku sangat tinggi dan aku pingsan, hampir jatuh ke tangga kalau wanita itu tidak menangkapku,”jawab Sean.
“Kau memang terlalu capek. Beristirahatlah beberapa hari. Berarti kontes kita hentikan dulu sementara sampai kau sembuh,” kata Sam.
Sean hanya mengangguk.
Terdengar suara ketukan dipintu. Sean dan Sam menoleh kearah pintu. Mereka tampak tidak berkedip melihat siapa yang datang. Lorena sudah mandi dan berdandan cantik, bahkan menurut Sean dandannya berlebihan, dia terlalu cantik kalau hanya untuk tinggal di rumah saja, fikirnya.
“Pak Sam!” panggil Lorena.
“Ya, ada apa?” tanya Sam terkejut, karena dia terpesona dengan kecantikan wanita itu.
“Pak Roby sudah menyiapkan makan siang, kalau kau sudah lapar, kau bisa ke meja makan,
aku akan menemanimu,” kata Lorena.
Mendengar kata-kata Lorena, sontak saja ada perasaan tidak jelas timbul dalam hatinya, entah kenapa bisa begitu? Pokoknya dia tidak suka Lorena dekat-dekat dengan Sam. Sok ramah mengajak makan siang segala di rumahnya.
Pantas saja wanita itu berdandan secantik mungkin, ceritanya mau tebar pesona pada Sam? Fikir Sean. Dia benar-benar tidak suka dengan semua ini.
“Boleh, kebetulan aku sudah lapar,” jawab Sam, sambil tersenyum, menatap Lorena.
“Baiklah, aku akan beritahu Pak Roby,” jawab Lorena yang juga tersenyum pada Sam, lalu pergi dari pintu kamar itu. Sean semakin tidak menyukai balas membalas senyum kedua orang itu.
Sam menoleh pada Sean.
“Sean, bagaimana kau bisa tidak tertarik dengan wanita secantik itu di rumahmu?” tanya Sam.
“Wajahnya saja yang cantik, dia seperti penyihir,” jawab Sean.
“Kau terlalu mengatainya! Sudah ah, aku mau makan dengan Lorena,” kata Sam sambil bangun dari duduknya.
Sean terdiam, dia melihat Sam keluar dari kamarnya. Tiba-tiba muncul dalam bayangannya, Sam dan Lorena makan berdua sambil mengobrol tertawa-tawa, bahkan Sam merayu Lorena memujinya cantik dan Lorena tersipu-sipu. Aah tidak tidak! Itu tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh berdua-dua. Bagaimana kalau Sam benar-benar suka pada Lorena?
Sean bangun dari tempat tidurnya, menyibakkan selimutnya turun dari sana, tapi ternyata udara sangat tidak bersahabat, dia merasa dingin menggigil padahal suhu tubuhnya tinggi. Dia benar-benar panas dingin. Akhirnya Sean turun dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Berjalan perlahan menuju ruangan makan.
“Silahkan Pak Sam!” ucap Lorena, dia menarikkan sebuah kursi buat Sam.
“Terimakasih,” jawab Sam. Dia senang diperlakukan istimewa oleh Lorena.
“Kau juga makan,” kata sam.
“Iya,” jawab Lorena sambil tersenyum , lagi-lagi Sam tidak berkedip melihat senyumnya. Wanita ini benar-benar cantik, tapi kenapa Sean seperti tidak menyukainya?
Ya kalau Sean tidak suka, apa salahnya dia mendekatinya? Dia juga tidak punya pasangan saat ini, fikir Sam.
“Kau yang memasak?” tanya Sam.
“Tidak, aku tidak pandai memasak. Tapi aku berjanji nanti kalau aku memenangkan kontes ini aku akan belajar memasak,” jawab Lorena.
Sam tersenyum dan mengangguk, membuat Lorena senang, ternyata berbicara dengan Presdir lebih menyenangkan dari pada dengan asistennya. Tidak terasa dia mencibir dan terkejut saat melihat sosok yang dicibirnya masuk ke ruang makan dengan selimut menutupi tubuhnya.
Sam yang melihat Sean datang, spontan langsung berdiri dan membantunya duduk. Tentu saja karena walaubagaimanapun dia bawahannya Sean. Tapi tidak dengan penilaian Lorena, dia melihat Sam adalah seorang Presdir yang rendah hati dan tidak sombong, dia semakin menyukainya.
“Kenapa kau kesini? Kalau kau lapar, nanti palayan akan mengantarkan makanan ke kamarmu,” kata Sam, sambil membantu Sean duduk.
“Brother, kau ini sedang sakit, sebaiknya kau beristirahat saja,” ucap Lorena dengan lembut tapi matanya mendelik tajam pada Sean, dia sudah menebak pria yang suka iri itu sengaja mengganggunya berdua dengan Sam.
“Dasar Pria sirikan,” umpatnya dalam hati.
“Bapak mau makan juga?” tanya Pak Roby.
“Tidak, aku hanya bosan saja di dalam kamar terus,” jawab Sean. Padahal bangun dari tempat tidur seperti ini membuat kepalanya sangat pusing.
Akhirnya Sam kembali duduk, setelah membantu Sean duduk.
“Coba kau makan buah saja, supaya badanmu lebih segar,” kata Sam, lalu menoleh pada Pak Roby.
Pak Roby langsung mengerti dan dia memanggil pelayan untuk mengupaskan apel buat Sean.
Lorena menatap Sam dan tersenyum. Presidr ini sangat perhatian pada bawahannya apalagi pada istrinya? Dia pasti akan sangat dimanjanya jika sudah menikah dengan Sam, fikir Lorena.
Sean yang melihat binar-binar di mata Lorena saat menatap Sam, entah kenapa rasa tidak suka itu semakin bertumpuk. Lagi-lagi kenapa dia tidak suka Lorena kagum pada Sam?
“Ayo Pak Sam, dilanjutkan lagi makannya, nanti keburu dingin,” ucap Lorena, matanya melirik pada Sean, dia sudah membaca kalau pria itu berniat menggganggunya.
“Ya,” jawab Sam mengangguk, diapun kembali makan.
Sean semakin tidak suka saja melihat kedua orang itu seperti saling menyukai. Dia sangat sebal.
***************
Jangan lupa like dan komen
sehat selalu, ditunggu cerita cerita berikutnya 🙏