NovelToon NovelToon
My Magic Room

My Magic Room

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irish_kookie

Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lumen Opalis

Sore itu juga sepulang kerja, Adrian menjemput Jemima dengan mobil mewahnya yang berwarna hitam.

Ashley dan Kai hanya terpana melihat roda besi milik Adrian. "Wuaah, nenekmu orang kaya, Jem."

Kai mengangguk setuju. "Luar biasa kaya, ckckck."

"Tapi, kenapa nenekmu tidak mengajakmu untuk tinggal bersamanya?" tanya Ashley.

Jemima mengangkat kedua bahunya dengan malas. Lalu, dia menegakkan tubuhnya saat Adrian datang menghampiri mereka.

"Nona Shadow, bagaimana kabarmu?" tanya Adrian sambil menjabat tangan Jemima dengan formal.

Jemima membalas jabatan tangan itu dengan canggung. "Saya baik, Tuan Lopez. Ah, perkenalkan ini teman-temanku. Ini Kai dan ini Ashley. Merek-, ...."

"Kita berangkat sekarang?" tanya Adrian.

Jemima menoleh ke arah teman-temannya. Baik Kai dan Ashley mengangguk bersamaan, mempersilakan Jemima untuk segera pergi.

Gadis itu pun menurut dan sebelum dia masuk ke dalam mobil, dia sempat berbisik, "Nanti akan aku ceritakan. Tunggu aku, ya."

Tak lama, Jemima sudah duduk manis di belakang Adrian (walaupun pada awalnya, Jemima bersikeras untuk duduk di depan).

"Nona, sepertinya malam ini Anda terpaksa harus menginap di rumah Nyonya Wood," kata Adrian sambil melihat ke arah Jemima dari kaca spion.

Jemima melihat ke luar kaca jendela mobil. Benar saja, matahari sudah mulai tenggelam di ujung barat. "Apa itu tidak merepotkan?"

Adrian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona. Saya rasa, Nyonya Wood akan senang kalau Anda ada di rumahnya."

Dengan ragu, Jemima mengangguk kecil. Belum pernah dia bertemu dengan nenek Catherine seumur hidupnya.

Ada rasa sungkan, rasa bersalah, takut, dan asing menyelimuti Jemima petang itu.

Perjalanan mereka berlangsung hening. Jemima menatap keluar jendela, memperhatikan kota yang perlahan berubah.

Bangunan modern berganti gerbang besi tinggi, pepohonan tua berjajar rapi, dan jalanan seolah sengaja dibuat sunyi.

Saat mobil berhenti, Jemima menahan napas. Rumah itu tidak sekadar besar atau megah, tapi mempunyai efek wibawa bagi siapapun yang melihatnya.

Bangunan batu berwarna krem berdiri anggun, dengan pilar-pilar tinggi dan jendela-jendela besar berbingkai kayu tua.

“Kita sudah sampai, Nona. Ini kediaman Nyonya Wood, nenek buyut Anda,” ujar Adrian pelan.

Kata nenek buyut terdengar aneh di telinga Jemima. Entah ke mana nenek sebelum nenek buyut ini.

Dengan takut dan langkah hati-hati, Jemima membuka pintu kayu itu dan begitu pintu terbuka, aroma kayu tua, teh hangat, dan sesuatu yang samar, seperti hujan yang tertinggal di batu menyambutnya.

Catherine Wood duduk di kursi dekat jendela besar.

Rambutnya putih seluruhnya, disanggul sederhana. Wajahnya penuh garis usia, tapi matanya jernih dan tajam, seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak hal dan tidak takut pada apa pun.

“Kau akhirnya datang, Jemi,” ucap Catherine, suaranya lembut namun tegas.

Jemima tercekat. “Anda tau nama saya?”

Catherine tersenyum kecil. “Tentu saja. Kau cucuku, Jemi. Ah, malam ini kita akan mengobrol sampai tengah malam, hehehe."

Lalu, wanita tua itu memberi isyarat agar Jemima mendekat. “Mari, ikut aku.”

Mereka melewati lorong panjang hingga berhenti di sebuah pintu kayu gelap. Saat Catherine membukanya, Jemima langsung mundur satu langkah.

Ruangan itu memiliki dinding yang melengkung dan berwarna ungu cerah bercampur putih.

Rak-rak estetik dengan bentuk unik berisi cangkir-cangkir kecil yang entah bagaimana tidak asing di mata Jemima.

Ada dua buah jendela besar di kamar itu dan keduanya menghadap pemandangan luar kamar yang seolah kosong (karena jendela itu tinggi, jadi hanya tampak langit saat pagi).

Jemima mengerutkan keningnya. Dia merasa pernah ada di ruangan ini, tapi ini baru pertama kalinya dia ke rumah nenek Catherine.

Jantung Jemima seakan berhenti berdetak, saat dia melihat dua cermin oval dan bulat berdiri berdampingan di sisi ranjang.

"Cermin itu, ...!" ucap Jemima tanpa bisa menahan kata-kata yang sedari tadi berebutan ingin keluar dari mulutnya.

“Ini seperti, ...." Jemima terdiam. Tenggorokannya kering.

“Kamar ajaib?" kata Catherine tenang. Dia mempersilakan cucunya untuk masuk dan duduk di sebuah sofa panjang berwarna ungu.

Sekali lagi, matanya terbelalak. Berkali-kali dia selalu terbangun di sofa itu saat dia berpindah tempat.

Akhirnya Jemima duduk di sofa ungu itu tanpa bisa merasa santai.

Catherine tersenyum melihat ketakutan dan kebingungan di wajah cucunya. "Aneh, ya? Aneh bagaimana kamarku bisa seperti kamar ajaib."

Jemima menatap sekeliling, jantungnya berdegup liar. "Ya, bagaimana bisa begitu? Apa sebenarnya kalung itu, Nyonya?"

"Aku nenekmu, Jemi. Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Nenek!" kata Catherine pura-pura kesal.

Jemima menundukkan kepalanya. "Maaf, Nek. Baru kali ini aku bertemu dengan keluarga yang lain selain ayahku."

Catherine duduk perlahan di sisi Jemima. Dia menepuk paha cucunya dengan lembut. “Sudah lama aku ingin bertemu denganmu dan aku menunggu kau bertanya tentang kalung itu dan akhirnya, kau datang setelah aku menunggu cukup lama."

"Kalung opal yang kuberikan bernama Lumen Opalis. Kalung itu bukan kalung biasa." Catherine mengangkat tangan, seolah mengingat masa yang jauh.

“Ratusan tahun lalu, leluhur kita percaya bahwa opal bukan sekadar batu. Opal adalah batu ingatan. Ia menyerap emosi terdalam pemiliknya rasa sakit, harapan, cinta yang tidak terucap.” Catherine memulai ceritanya.

“Kalung itu diciptakan oleh seorang perempuan. Dia kehilangan segalanya, rumah, keluarga, bahkan namanya. Dalam keputusasaan, dia memohon satu hal pada semesta, tempat untuk bertahan hidup," lanjut Catherine dengan pandangan mata menatap kejauhan.

"Ruang ajaib itu!" pikir Jemima.

“Permohonannya dijawab,” kata Catherine lagi. “Kalung itu menjadi pintu. Ruang di dalamnya tumbuh mengikuti jiwa pemiliknya. Semakin terluka seseorang, semakin luas ruang yang dia butuhkan.”

Jemima teringat bagaimana ruang itu terasa hangat dan menerima.

“Namun,” Catherine menatapnya dalam-dalam, “Kalung itu tidak pernah diciptakan sendirian.”

Jemima mengerutkan keningnya. "Jadi, ada dua kalung opal?"

Catherine mengangguk kecil. “Setiap Lumen Opalis memiliki pasangan. Ada dua jiwa, satu batu, dan satu tempat kosong. Kedua kalung itu akan saling mencari dan menarik jika berjauhan."

Jemima menelan ludah. “Dan, apa yang terjadi jika kalung-kalung itu bertemu?”

Catherine tersenyum samar. “Jika kedua kalung bertemu, maka pemiliknya akan terikat oleh takdir yang tidak memaksa dan mereka akan berusaha untuk saling bertahan bersama selamanya.”

Kata selamanya membuat dada Jemima sesak. Dia menunduk. “Tapi, di mana kalung yang lain?"

"Ada pada temanku. Tapi, aku juga tidak tau apakah temanku masih hidup atau tidak dan apakah kalung itu sudah dia wariskan, aku tidak tau," jawab Catherine pelan.

Mendengar kata warisan, Jemima menunduk. Kedua matanya berair. "Nenek, kedatanganku ke sini untuk meminta maaf. Kalung Nenek sudah dijual oleh ayahku."

Jemima pun menceritakan kejadiannya tanpa dikurangi atau dilebihkan. Setelah selesai cerita, dia mengusap air matanya. "Maaf, Nek."

Catherine terkekeh pelan. “Tidak ada Lumen opalis yang bisa dijual atau dicuri, Jemi."

Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di meja.

Kalung opal Jemima. Masih utuh, berkilau lembut, dan terlihat baru.

“Kalung ini tidak bisa dicuri dan tidak bisa dimiliki oleh orang yang tidak dipilihnya,” kata Catherine. “Kalau pun berpindah tangan, dia akan selalu kembali.”

Jemima meraih kalung itu dengan tangan gemetar. Begitu menyentuhnya, kehangatan yang familiar menjalar ke dadanya.

“Kenapa Nenek memberikannya kepadaku?” bisik Jemima.

Catherine menatapnya lama. “Karena kau tidak menyerah meski dunia berkali-kali mematahkanmu.”

Hening menyelimuti ruangan. Di balik keheningan itu, Jemima merasakan sesuatu berubah. Seperti potongan puzzle yang perlahan menemukan tempatnya.

Dan entah kenapa, wajah Kai terlintas di benaknya, bersamaan dengan kalung lain yang belum pernah dia lihat, tapi terasa begitu dekat.

"Nek, sepertinya aku tau di mana pasangan Lumen Opalis ini," kata Jemima tiba-tiba.

***

1
Andira Rahmawati
hadir thorr..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!