NovelToon NovelToon
Selingkuhan CEO

Selingkuhan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Aliansi Pernikahan / Persaingan Mafia
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Ziarah ke Masa Lalu yang Dingin

Perjalanan: Menuju Cilacap

Keesokan harinya, Ares mengaktifkan mode operasi minimalis untuk perjalanan ini. Mereka bepergian dengan helikopter pribadi ke kota terdekat, diikuti dengan konvoi dua mobil hitam yang dijaga ketat oleh Rook dan dua pengawal tambahan. Natalie duduk di samping Ares, menatap pemandangan yang melintas tanpa benar-benar melihatnya.

Ares memperhatikan Natalie. Ia melihat bahwa perisai emosional yang biasanya melindungi Natalie telah retak. Ia tidak mencoba bicara; ia hanya menawarkan kehadiran yang tenang dan kuat.

"Kau tidak perlu bicara padanya," bisik Ares, sambil menggenggam tangan Natalie. "Kau hanya perlu melihatnya. Mendengarkan. Keputusan ada di tanganmu. Ingat, kau adalah wanita yang menjatuhkan konglomerat, Natalie. Kau tidak perlu takut pada hantu masa lalu."

"Saya tahu itu," jawab Natalie, suaranya pelan. "Tapi dia bukan konglomerat, Ares. Dia adalah alasan mengapa saya harus menjadi seperti ini. Dan saya perlu tahu alasannya."

Rumah Sakit Kota: Ruang Anggrek

Tiba di rumah sakit kota Cilacap terasa aneh. Ini adalah fasilitas yang tua dan sederhana, jauh dari kemewahan yang biasa mengelilingi mereka. Kontras antara pakaian mahal Ares dan lingkungan rumah sakit yang usang itu sangat mencolok.

Rook dan pengawal berdiri menjaga koridor, menciptakan aura ketegangan di antara para pengunjung rumah sakit yang bingung.

Ares dan Natalie berjalan ke Ruang Anggrek. Ares meremas tangan Natalie sekali lagi sebelum mereka masuk.

Di dalam ruangan, bau antiseptik dan kesedihan terasa menusuk. Hanya ada tirai tipis yang memisahkan ranjang Rima dari ruangan lain.

Seorang wanita tua dengan wajah lelah, Laras, berdiri di samping ranjang. Dia mengenali Natalie dari foto lama, meskipun penampilan Natalie sekarang jauh lebih glamour dan berkuasa.

"Natalie?" tanya Laras, matanya berbinar lega. "Kau datang. Ya Tuhan, terima kasih."

Laras melihat Ares. Matanya melebar karena melihat pria bersetelan mahal di samping Natalie.

"Dia... dia pacarku," kata Natalie singkat, tanpa menjelaskan gelar Ares.

Laras mengangguk, terlalu takut untuk bertanya. "Dia di sini."

Natalie berjalan menuju ranjang. Napasnya tercekat.

Di sana, terbaring Rima. Dia tampak sangat tua dan lemah, dengan garis-garis kerutan yang dalam di wajahnya, jauh lebih tua dari usia seharusnya. Setengah sisi tubuhnya lumpuh, dan matanya terbuka, menatap langit-langit.

Natalie berdiri di samping ranjang. Setelah bertahun-tahun, ia akhirnya berhadapan dengan wanita yang menghantuinya. Ia merasakan gejolak emosi: kemarahan yang dingin dan kesedihan yang tak terhindarkan.

Rima memutar matanya dengan susah payah dan akhirnya fokus pada Natalie. Butuh waktu lama, tetapi mata Rima menunjukkan pengenalan.

"N-N-Na..." Rima berusaha berbicara, suaranya serak dan terdistorsi oleh stroke.

Natalie tidak merespons, membiarkan keheningan yang panjang itu.

"Dia tahu kau ada di sini, Natalie. Dia ingin bicara," bisik Laras.

Rima berjuang lagi, air mata mengalir dari mata kirinya. Tangan kanannya, yang tidak lumpuh, berusaha meraih.

Natalie tidak bergerak.

"Mengapa?" Natalie akhirnya berbicara, suaranya datar dan tajam, tanpa emosi. "Mengapa kau meninggalkanku? Katakan padaku, Rima. Sekarang, di saat-saat terakhirmu. Mengapa kau tinggalkan anakmu sendiri?"

Rima berjuang, air matanya kini membasahi bantal. Laras mencoba membantu Rima untuk mengungkapkan kata-kata.

"Dia... dia bilang... 'Mereka... a-a-akan... me-me-membunuhku'," Laras menerjemahkan dengan susah payah, setelah Rima menunjuk ke luar dan kemudian ke dirinya sendiri.

"Siapa? Siapa yang akan membunuhmu?" tanya Natalie, mencondongkan tubuh lebih dekat.

Rima menggerakkan tangannya yang tidak lumpuh dengan panik, membuat gerakan menulis di udara.

"Dia butuh pena. Dia ingin menulis," kata Laras.

Natalie mengambil pena dan buku catatan kecil dari saku jas Ares dan memberikannya kepada Rima. Tangan Rima gemetar, tetapi dengan susah payah, ia mulai menulis, setiap huruf adalah perjuangan yang menyakitkan.

Akhirnya, Rima selesai. Tulisan itu berantakan dan sulit dibaca, tetapi Natalie bisa menguraikannya.

"BUKU MERAH. AKU DIANCAM. PERGI, UNTUK MELINDUNGIMU."

Natalie tersentak mundur, terhuyung-huyung. Buku Merah?

Ares segera maju, membaca tulisan itu dengan cepat. Mata Ares melebar, dan raut wajahnya menjadi tegang dan serius. Itu adalah ekspresi yang hanya muncul ketika nyawa dan kerajaannya terancam.

"Buku Merah," gumam Ares. "Itu tidak mungkin."

Natalie menatap ibunya dengan keterkejutan yang baru. Ibunya tidak meninggalkannya karena keegoisan atau karena dia pecandu. Dia meninggalkannya karena dia berada di tengah-tengah permainan kekuasaan Ares, dan dia mencoba melindungi Natalie.

"Dia terlibat dalam urusan masa laluku, Natalie," kata Ares, nadanya dingin dan penuh perhitungan. "Buku Merah itu adalah legenda di masa lalu. Itu yang menjadi sasaran para pesaingku sejak dulu."

Natalie menatap Rima, air matanya tumpah lagi, tetapi kali ini karena rasa sakit yang berbeda—rasa sakit karena pengorbanan yang salah dipahami. Ibunya adalah bagian dari dunia gelap Ares sejak awal.

"Aku harus pergi, Natalie," kata Ares kepada Natalie, suaranya kembali menjadi komandan. "Rook akan tinggal. Kita punya musuh yang lebih besar dari yang kita duga. Mereka mengejarku sejak lama."

Ares mencium dahi Natalie dengan cepat. "Aku akan mengurus ini. Kau di sini. Kau aman."

Ares dan Rook bergegas keluar. Natalie ditinggalkan sendirian di samping ranjang ibunya, dengan rahasia yang baru terungkap: Ibunya adalah pengorbanan pertama dalam perang yang kini ia menangkan.

Natalie meraih tangan ibunya, yang dingin dan rapuh. "Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau tidak datang kembali?"

Rima hanya bisa melihat Natalie, air mata mengalir.

Natalie kini menyadari: ia tidak dibuang. Ia disembunyikan. Dan wanita yang ia benci seumur hidupnya adalah pahlawan yang melindungi dia dari takdir yang kini ia peluk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!