NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak cinta di Bali

Setelah beberapa saat, Senja membuka matanya dan menatap Langit dengan tatapan penuh kepercayaan. Ia mengangguk pelan, memberikan izin bagi Langit untuk melanjutkan.

Malam itu, di tengah keheningan Bali, Langit dan Senja akhirnya benar-benar menyatu seutuhnya, mengukir sejarah baru dalam pernikahan rahasia mereka yang kini menjadi nyata dalam balutan cinta yang dalam.

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden vila, memantulkan kilau keemasan di atas tempat tidur yang masih berantakan.

Langit terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan bertumpu pada sikunya, menatap wajah tidur Senja yang tampak begitu tenang dan damai dalam pelukannya.

Rambut Senja yang biasanya tersembunyi di balik hijab kini tersebar di atas bantal. Langit tersenyum tipis, teringat kembali perjuangan mereka semalam.

Rasa bangga dan haru menyelimuti hatinya; gadis di depannya ini sekarang benar-benar miliknya seutuhnya.

Perlahan, kelopak mata Senja bergerak. Begitu matanya terbuka dan langsung bertabrakan dengan tatapan intens Langit, Senja refleks menarik selimut hingga menutupi dagunya.

"Pagi, Nyonya Sterling," goda Langit dengan suara serak khas bangun tidur.

Senja hanya bergumam malu, "Pagi..."

Saat Senja mencoba bergerak untuk duduk, ia sedikit meringis karena rasa kaku yang masih terasa di tubuhnya.

Selimutnya sedikit melorot, menampakkan bahu dan leher jenjangnya. Mata Senja membelalak saat melihat pantulan dirinya di cermin besar di depan tempat tidur.

Di sana, di leher dan tulang selangkanya, terdapat beberapa jejak merah yang cukup kontras dengan kulit putihnya—jauh lebih nyata daripada yang ada di sungai tempo hari.

"Mas Langit! Kamu... kamu lihat ini?" seru Senja panik sambil menutupi lehernya dengan tangan.

"Gimana kalau Mami atau Mbak Zizi lihat nanti?"

Langit malah tertawa renyah, ia menarik Senja kembali ke dalam dekapannya dan mengecup pucuk kepalanya.

"Itu tanda kepemilikan, Ja. Biar semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya. Lagipula, kan bisa ditutup kerudung."

"Tapi ini banyak banget, Langit!" protes Senja, meski ia tidak bisa menahan senyum di wajahnya yang memerah.

"Ya habisnya kamu menggemaskan sekali semalam," bisik Langit jahil, membuat Senja menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

Baru saja mereka ingin menikmati momen damai itu lebih lama, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang gaduh dan suara teriakan melengking dari arah ruang tamu vila.

"LANGIIIIT! SENJA! MANA PENGANTIN BARU KITA?! KELUAR NGGAK?!!

William (Liam), sang CEO yang kaku, tampak sedang menggendong anak bungsunya yang masih balita, sementara istrinya, Victoria (Vicky) yang anggun, sedang sibuk merapikan mainan anak sulung mereka di sofa.

Di sudut lain, Elizabeth (Zizi) yang savage tampak sedang berdebat seru tentang lokasi foto dengan suaminya, Adrian (Ian), yang hanya menanggapi dengan tawa santai sambil memangku anak mereka.

Begitu Langit dan Senja keluar dari kamar, perhatian seluruh keluarga besar langsung teralihkan.

"Wah, pengantin baru kita sudah bangun!" seru Ian sambil melambai jahil. "Gimana Lang? Bali lebih asik daripada pesantren kan?"

Langit menyeringai lebar, merangkul pundak Senja dengan bangga. "Jauh lebih asik, Bang! Apalagi nggak ada jam malam."

Senja yang mengenakan gamis elegan dengan lilitan hijab ekstra rapat menyalami Vicky dan Zizi dengan sopan. "Pagi Kak Vicky, Mbak Zizi..."

Vicky tersenyum lembut, membelai pipi Senja. "Pagi, Senja. Kamu cantik sekali pagi ini, auranya beda ya, Jeng?" ucap Vicky melirik ke arah Zizi.

Zizi yang sedang menggendong anaknya langsung mendekat, matanya yang jeli memindai leher Senja yang tertutup rapat.

"Senja, kamu nggak gerah pakai kerudung serapat itu? Anak-anak aja sudah pada pakai baju renang lho. Sini Mbak longgarkan sedikit biar kamu bisa napas," goda Zizi sambil tangannya bergerak gesit.

"Eh, jangan Mbak! Nanti... nanti masuk angin," sahut Senja panik, memegangi kerudungnya erat-erat.

Anak-anak Liam dan Zizi mulai berlarian di sekitar mereka, membuat suasana semakin ramai. Salah satu keponakan Langit menarik-narik ujung gamis Senja. "Tante Senja, ayo main air! Om Langit, ayo ke laut!"

Pak Alistair keluar dari teras belakang dengan setelan santai namun tetap berwibawa.

"Sudah, jangan digoda terus adiknya. Ayo kita semua ke pelabuhan. Kapalnya sudah siap. Kita sarapan di atas kapal saja supaya anak-anak bisa langsung berenang di laut."

Mami Retno muncul dari dapur sambil membawa tas perlengkapan bayi keponakan Langit. "Ayo cepat! Langit, kamu bawa tas perlengkapan anak-anaknya Mbak Zizi ya, hitung-hitung latihan jadi Papa!"

Langit melongo melihat tumpukan tas bayi yang diberikan padanya. "Lho, kok jadi aku, Mi? Aku kan lagi bulan madu!" "Nggak ada protes! Ayo berangkat!" titah Mami Retno telak.

Mereka semua pun bergerak menuju mobil-mobil yang sudah menunggu. Langit terpaksa menenteng tas perlengkapan keponakannya di satu tangan, sementara tangan satunya tetap posesif menggandeng erat tangan Senja.

Di tengah keriuhan keponakan yang rewel dan kakak-kakak yang hobi menyindir, Langit berbisik di telinga Senja. "Sabar ya, Sayang. Nanti di kapal kita cari tempat sembunyi yang nggak bisa ditemuin mereka."

Senja tertawa kecil, merasa hangat melihat betapa akrab dan serunya keluarga besar suaminya, meski ia harus terus waspada agar "jejak" di lehernya tidak terlihat oleh mata tajam Zizi.

Yacht mewah bernama "Sterling Sea" itu melaju membelah ombak biru Samudra Hindia. Di dek bawah, suasana sangat ramai; Ian dan Liam sedang membantu anak-anak mereka memakai pelampung, sementara Vicky dan Mami Retno asyik menata camilan.

Zizi sendiri sibuk mengambil foto aesthetic dengan latar belakang laut.

Melihat celah, Langit menarik pelan tangan Senja. "Sstt, ikut saya," bisiknya. Mereka mengendap-endap menaiki tangga menuju dek atas yang lebih sepi dan privat.

Begitu sampai di atas, angin laut yang kencang langsung menerpa wajah mereka. Pemandangannya luar biasa—gradasi air laut dari biru muda ke biru tua membentang sejauh mata memandang.

segera menarik Senja ke sudut sofa yang terlindung dari pandangan orang di bawah.

"Akhirnya bebas," desah Langit lega. Ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Senja, menatap wajah istrinya dari bawah.

"Keponakan-keponakan saya itu lucu, tapi energinya kayak baterai yang nggak habis-habis. Pusing juga."

Senja terkekeh, jemarinya masuk ke sela-sela rambut Langit, mengusapnya dengan sayang.

"Namanya juga anak-anak, Langit. Nanti kalau kita punya sendiri juga bakal begitu, kan?"

Mendengar kata "punya sendiri", mata Langit seketika berbinar. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tegak menghadap Senja.

"Oh, jadi Nyonya Sterling sudah siap punya miniature Langit?" godanya dengan senyum nakal yang membuat pipi Senja kembali merona.

Langit merapat, melingkarkan lengannya di pinggang Senja dan menariknya hingga tak ada jarak. Di tengah deru angin, ia mencium aroma parfum Senja yang menenangkan.

"Makasih ya, Ja. Semalam itu... momen paling bahagia dalam hidup saya. Saya janji akan jaga kamu terus."

Senja menyandarkan kepalanya di bahu Langit. "Aku juga bahagia, Langit. Meskipun awalnya aku takut banget sama kamu yang berantakan."

"Sekarang masih takut?" tanya Langit sambil mengecup pipi Senja.

"Nggak takut, cuma gemas," jawab Senja jujur.

Langit baru saja hendak mencium bibir Senja saat tiba-tiba kepala Zizi muncul dari balik tangga dengan kacamata hitam yang sudah turun ke ujung hidungnya.

"EHEM! Dicariin Papa sama Mama buat foto keluarga, malah mojok di sini!" seru Zizi tanpa dosa. "Waduh, Langit... itu tangan lo di pinggang Senja nggak mau lepas apa? Kayak perangko!"

Langit mendengus kesal, sementara Senja buru-buru membetulkan posisi duduknya dan merapikan hijabnya yang sedikit berantakan karena angin. "Mbak Zizi bisa nggak sih munculnya nggak pas momen krusial?" keluh Langit.

"Nggak bisa! Tugas kakak adalah mengawasi adiknya yang lagi high karena jatuh cinta," jawab Zizi savage sambil tertawa puas.

"Ayo turun! Anak-anak Bang Liam sudah pada nyebur, mereka nyariin 'Om Langit' buat jadi pelampung hidup."

Langit pasrah. Ia berdiri, menarik Senja ikut bangun, dan membisikkan sesuatu di telinganya.

"Nanti malam, saya kunci pintu kamar rapat-rapat. Nggak akan ada yang bisa ganggu."

Senja hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi gemas suaminya, sambil berjalan turun menuju keriuhan keluarga besar Surya Agung yang penuh kasih sayang itu.

Malam terakhir di Bali ditutup dengan pesta barbeque santai di area outdoor villa. Aroma daging panggang dan jagung bakar menyeruak di antara wangi bunga kamboja yang jatuh di pinggir kolam renang.

Pak Alistair tampak lebih santai dengan kaos polo, sesekali tertawa mendengar cerita Ian yang sedang berusaha membakar daging namun malah kepanasan.

Mami Retno dan Vicky sibuk menata meja panjang dengan berbagai macam sambal dan salad. Sementara itu, anak-anak Liam dan Zizi sudah kelelahan dan tertidur di sofa daybed setelah seharian bermain air.

"Senja, sini Sayang, duduk dekat Mami," panggil Mami Retno.

"Gimana? Betah kan di Bali? Apa mau Mami bilang ke Abah biar kalian di sini seminggu lagi?" Senja tersenyum sopan sambil membantu menata piring.

"Wah, nanti sekolahnya bolos kebanyakan, Mi. Kasihan Abah di pesantren kalau Senja kelamaan pergi."

Zizi yang baru saja muncul dengan gaya stylish-nya menyahut, "Halah, bilang aja Senja kangen suasana tenang di pesantren biar bisa berduaan terus sama Langit tanpa gangguan kita, ya kan Ja?"

Senja hanya bisa tersipu malu. Langit kemudian datang membawa sepiring besar daging yang baru matang dan duduk tepat di samping Senja.

Tanpa ragu, di depan orang tua dan kakak-kakaknya, Langit mengambil satu potong daging, memotongnya kecil-kecil, lalu menyuapkannya ke mulut Senja.

"Ayo makan yang banyak, Istriku. Biar besok kuat perjalanan pulang ke Jawa Timur," ucap Langit dengan nada manis namun ada kilatan jahil di matanya.

"Uhuy! Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma kontrak!" goda Ian yang langsung disambut tawa oleh seluruh anggota keluarga.

Di sela-sela tawa itu, Pak Alistair mengetuk gelasnya dengan sendok, meminta perhatian.

"Besok pagi kita sudah harus kembali. Langit, Senja, Papa harap liburan singkat ini bisa jadi bekal kalian untuk lebih kompak lagi.

Ingat, pernikahan itu bukan cuma tentang senang-senang, tapi tentang saling menjaga."

Langit menatap Papanya dengan serius, lalu beralih menatap Senja. Ia menggenggam tangan Senja di bawah meja, meremasnya lembut.

"Siap, Pa. Langit akan jaga Senja."

Malam semakin larut. Setelah acara makan-makan selesai, satu per satu anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing. Langit dan Senja berjalan pelan menuju kamar mereka di lantai atas.

Begitu pintu tertutup dan terkunci, Langit langsung menyandarkan tubuhnya di pintu, menatap Senja yang sedang melepas jarum pentul di hijabnya.

Langit mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Senja dari belakang, menghirup aroma leher Senja yang kini sudah tidak terhalang kain.

"Malam terakhir di Bali, Ja. Besok kita sudah harus balik jadi 'santri' lagi. Nggak bisa bebas peluk-peluk begini di depan umum."

Senja berbalik di dalam pelukan Langit, menatap suaminya dengan penuh cinta. "Di mana pun kita, yang penting hatinya tetap sama, kan?"

Langit tersenyum lebar, ia mengangkat tubuh Senja dan membawanya menuju tempat tidur yang menghadap langsung ke arah laut yang gelap namun tenang.

"Benar. Tapi karena ini malam terakhir di sini... saya nggak akan biarkan kamu tidur cepat, Nyonya Sterling."

Malam itu, di bawah saksi bisu bintang-bintang Bali, mereka kembali merajut keintiman yang lebih dalam, seolah ingin menyimpan seluruh rasa itu rapat-rapat sebelum kembali ke dinding-dinding pesantren yang penuh aturan.

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!