laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Pintu Terbuka
Di rumah, Zaskia terdiam. Tangannya berhenti di dalam tas, seolah berharap sentuhan berikutnya akan menemukan sesuatu yang tadi hilang. Ia membongkar isinya sekali lagi—lebih pelan, lebih hati-hati.
Napasnya berubah, tak lagi seimbang. Ada rasa sesak yang muncul tanpa suara. Ia memejamkan mata sebentar, duduk dengan tas di pangkuannya.
Tak ada amarah, tak ada tangis. Hanya perasaan bersalah yang diam di dada.
Zaskia mengambil secarik kertas dari dalam tas. Ia membuka dan membaca kembali isi perjanjian persyaratan dari Alistair Intel Agency. Di sana tertulis jelas: biaya agensi dibayarkan setelah kasus selesai. Total pembayaran sebesar tiga puluh lima juta rupiah jika penanganan kurang dari satu bulan. Selebihnya bisa bertambah, tergantung tingkat kesulitan kasus. Namun jika tidak berhasil, pihak agensi tidak akan meminta uang sepeser pun.
Dengan cek uang di tangan, Zaskia sebenarnya tengah mencari ruko kecil untuk membuka toko kue. Rencana itu belum juga tersentuh, tapi uangnya sudah lebih dulu hilang.
Ia terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh ke satu titik, lalu bergeser lagi, seolah tak menemukan tempat untuk berhenti. Bibirnya terbuka sedikit, namun kembali menutup. Ada banyak hal di kepalanya, tapi tak satu pun tahu harus diserahkan ke siapa.
Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?
Tabungan hasil menjual kue di pabrik Pak Irwan dulu pun sudah menipis.
Ia ingin menangis, tapi ditahannya. Tangisan tak akan menyelesaikan apa pun.
Zaskia menarik napas, memaksa otaknya berpikir lebih keras.
“Apa aku cari kerja saja...”
Ia segera meraih ponsel, membuka internet, dan mulai mencari lowongan pekerjaan. Lima belas menit jemarinya menggulir layar tanpa henti. Hingga akhirnya, wajahnya sedikit bersinar saat menemukan sebuah akun yang mencari pastry chef di toko kue. Syaratnya sederhana—lulusan SMA sederajat boleh melamar, asal benar-benar mumpuni.
Kesempatan itu terasa seperti celah kecil yang terbuka.
Tanpa menunda, Zaskia menghubungi nomor yang tertera di pamflet.
Tak lama, panggilan tersambung.
“Hallo, Kak. Dengan Risa, CS toko Farah Bakery. Ada yang bisa saya bantu?”
“Hallo juga, Kak. Saya Zaskia. Apa benar pihak toko sedang membutuhkan pastry chef?”
“Iya, betul, Kak.”
“Saya ingin melamar kerja. Apakah lowongannya masih tersedia?”
“Masih, Kak Zaskia. Besok jam tujuh pagi Kakak bisa langsung datang ke toko untuk interview. Saya kirimkan lokasi dan file dokumen lewat pesan. Nanti diisi dan dikirim ke email kami, ya.”
“Baik, Kak. Terima kasih.”
Setelah panggilan berakhir, Zaskia langsung mempersiapkan semua yang diperlukan untuk besok. Matanya berbinar samar, senyum tipis muncul tanpa diminta. Beban di dadanya terasa sedikit berkurang.
Malam itu, ia tidur dengan lebih tenang.
......................
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, Zaskia memasuki sebuah toko kue yang terbilang besar. Bangunannya dua lantai, berdiri di tepi jalan utama. Etalasenya lebar, dipenuhi cake berlapis rapi di balik kaca bening. Aroma mentega dan gula panggang menguar bahkan sebelum pintu dibuka.
Di dalam, ruang produksi terpisah dari area penjualan. Oven berjejer, meja stainless mengilap, dan beberapa karyawan bergerak dengan ritme teratur—masing-masing tahu tugasnya. Tidak ada suara gaduh, hanya bunyi loyang dan timer yang sesekali berbunyi.
Saat Zaskia melangkah lebih dalam, seseorang menyebut namanya.
“Lho, Mbak Zaskia, ya?”
Ia menoleh. Sedikit tertegun.
“Iya...” Matanya melebar sesaat. “Mas Arka, kan? Anaknya Bu Farah.”
Arka mengangguk, senyumnya merekah.
“Akhirnya kita bertemu. Mama sempat bilang ingin mencari alamat Mbak Zaskia. Katanya kangen.”
Zaskia terenyuh.
“Iya, kah?”
“Iya. Boleh minta alamatnya? Saya sudah janji sama Mama.”
Zaskia menyebutkan alamatnya. Arka mengangguk, lalu bertanya,
“Mbak Zaskia ke sini mau beli kue?”
Zaskia menggeleng.
“Saya mau melamar kerja, Mas. Semalam saya sudah menghubungi CS.”
“Kebetulan saya pemilik toko ini, Mbak. ”
Ucapan itu membuat alis Zaskia terangkat tanpa sadar.
“Hah?” Suaranya nyaris tak terdengar. “Maaf, Mas...eh, Pak. Saya tidak tahu.”
Arka terkekeh pelan.
“Santai saja. Jangan terlalu formal.”
“Tidak sopan kalau begitu, Pak.”
“Ya sudah, senyamannya Mbak Zaskia saja.”
Setelah itu, Arka mengajaknya duduk di meja kecil di sudut ruangan.
“Saya cek CV-nya dulu, ya Mbak Zaskia.”
Zaskia mengangguk, menunggu dengan tenang.
“Pengalamannya cukup banyak,” ujar Arka setelah beberapa saat. “Sebenarnya saya bisa langsung menerima. Tapi sesuai prosedur, tetap ada tes praktik.”
“Tentu, Pak. Saya siap.”
Dapur masih sepi ketika Zaskia mengenakan celemek. Di atas meja hanya tersedia tepung, mentega dingin, ragi, dan satu catatan singkat.
“Buat croissant. Satu adonan, ya Mbak.” kata Arka.
Zaskia mengangguk.
Ia mulai bekerja—menimbang bahan dengan tenang, menguleni tanpa tergesa. Saat adonan diistirahatkan, ia membersihkan meja, mencuci tangan, lalu menyiapkan mentega untuk proses laminasi. Waktu berjalan pelan, tapi tangannya tahu harus ke mana.
Arka berdiri di sudut dapur, memperhatikan.
Bukan hanya hasil akhir yang ia nilai, melainkan cara Zaskia bekerja—ketelitian, kebersihan, dan ketenangannya.
Ketika croissant keluar dari oven, aromanya memenuhi ruangan. Lapisannya terbuka rapi, warnanya matang merata.
Zaskia mempersilakan Arka mencicipi.
Arka mengambil satu potong kecil, memasukkannya ke mulut. Rahangnya bergerak perlahan, matanya melembut. Ia mengunyah pelan, membiarkan rasa mentega dan manisnya menyatu di lidah.
Setelah menelan, jempolnya terangkat.
“Ini enak. Benar-benar enak.”
Zaskia menatap kue di hadapannya. Senyum kecil bertahan di sudut bibirnya.
Ini berhasil, gumamnya dalam hati.
“Good job, Mbak Zaskia,” kata Arka. “Saya tidak perlu banyak pertimbangan.”
Mata Zaskia langsung berbinar. Semuanya terasa terlalu cepat, nyaris tak sempat ia cerna. Di balik lelah dan cemas yang baru saja ia lewati, rasa syukur itu datang begitu saja—seolah Tuhan benar-benar memberi pertolongan lewat Arka, seseorang yang baru sekali ia temui.
“Mbak Zaskia diterima. Besok sudah bisa mulai bekerja di sini.”
Arka mengulurkan tangan. Zaskia tersenyum, lalu mengatupkan tangannya sendiri.
“Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja sebaik mungkin.”
Arka menarik kembali tangannya, paham.
“Sama-sama, Mbak Zaskia.”
Zaskia pun pamit pada Arka. Sebuah senyum sempat beradu sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari toko.
Ia berhenti sejenak di depan pintu kaca. Lalu lintas pagi mulai ramai, orang-orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing. Zaskia menarik napas panjang, seolah baru sekarang benar-benar memberi ruang pada dirinya sendiri untuk merasa lega.
Langkahnya terasa lebih ringan saat menyusuri trotoar. Bukan karena semua masalahnya selesai, tapi setidaknya satu pintu telah terbuka. Ia tahu, pekerjaan ini bukan jawaban instan atas semua yang sedang ia hadapi. Namun bagi Zaskia, ini cukup—cukup untuk bertahan, cukup untuk kembali berdiri.
Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun hal-hal kecil. Jam bangun pagi. Rute perjalanan ke toko. Ritme kerja yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hari-harinya. Tidak ada bayangan besar, tidak ada mimpi berlebihan. Hanya keinginan sederhana untuk bekerja dengan baik dan menjaga kepercayaan yang baru saja ia terima.
Soal uang untuk agensi, ia belum tahu jawabannya.
Namun untuk saat ini, Zaskia memilih fokus pada apa yang ada di depannya.