Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Perhatian kecil yang manis 2
Hari itu Risa gak punya pilihan selain pulang cepat. Sesampainya di rumah ia langsung minum obat yang diresepkan oleh dokter.
Setelah meminum 4 macam obat tersebut, ia jadi merasa sangat mengantuk. Tentu saja tidur adalah pilihan terbaik. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan baru pukul 09:00 pagi. Yah, gak apa-apalah, masih jam segini, nanti siang juga bangun, pikir Risa. Maka ia pun segera mengganti baju dan langsung tertidur, sangat pulas, mungkin karena efek obat.
Risa tertidur cukup lama hingga akhirnya ia terbangun dan melihat keadaan sekitar yang masih sunyi. Makanya dia pikir mungkin masih di bawah jam 12:00 siang. Tapi nyanyian di perutnya seperti menunjukkan hal lain.
"Aduh kok, perut gue kayanya keroncongan banget sih?" Ujarnya dalam hati yang ngerasain rasa laper kayak orang gak makan tiga hari.
Tak lama ia mendengar seperti ada seseorang yang memasak di dapur diiringi oleh aroma wangi yang bikin dia makin merasa lapar.
"Siapa yang masak? Emak gue kali ya?? Tumben dia gak bangunin gue dulu...."
Risa akhirnya turun dari tempat tidur dan beranjak keluar menuju arah dapur untuk memastikan siapa yang sedang memasak di dalam sana.
Tapi dia kaget pas gak sengaja melihat ke arah jam, yang ternyata sudah menunjukkan hampir jam 2 siang.
"Buset hampir jam 2 toh? Pantesan cacing-cacing di perut gue pada konser! Eh, tapi siapa yang masak sih? Soalnya emak gue itu kagak jago-jago amat masak, tapi ini masakannya wangi bener...."
Risa melanjutkan langkah kakinya untuk mengecek dapur.
"Ma? Mama kapan dateng? Kok, gak bangunin Risa, jadi bisa Risa bantuin masak 'kan?"
Namun Risa hanya mematung setelah ia melihat siapa orang yang sedang berada di dapur dan memasak.
"Gua bukan emak lu!" Ucap sosok itu yang tak lain dan tak bukan ternyata Rio.
"Ih, apaan sih lu? Ngomong yang sopan dikit! Gue guru lu, tau!" Risa ngomel gak sadar diri.
"Kenapa gak boleh? Lu udah jadi istri gue 'kan," balas Rio cuek.
Saat itu Rio gak sadar wajah Risa memerah. Campuran antara kesel sama salah-tingkah sendiri. Maklum, dia lagi fokus masak, gak mau dong, makanannya jadi gosong.
"Ih sialan! Mana, bener lagi! Asem juga ni anak! Kalau gak ingat dia udah nolongin gue tadi pagi, udah gua timpuk sapu kepalanya!" Risa cuma bisa komat-kamit dalam hati sambil menahan tangannya sendiri biar gak beneran mengambil sapu atau benda keras terdekat buat dia jadiin pelampiasan.
"Udah, duduk sana!" Ucap Rio yang memberi perintah seenaknya ke Risa.
"Kenapa gue harus duduk? Gue gak mau ikutin perintah lu!" Risa gak seneng, masih emosi.
"Terserah, tapi paling gak, makan siang dulu, ini udah jam 2 siang! Lu mau sakit lagi?" Akhirnya Rio baru berbalik dari aktifitasnya memasak. Ia menatap tajam ke arah Risa.
"Bisa serem juga dia...." Risa kaget melihat tatapan maut dari Rio dan langsung duduk secara reflek.
Gak lama setelah Risa duduk, Rio meletakkan satu piring besar (porsi empat orang) berisi brokoli, ayam, dan ada campuran bahan lain yang kayaknya ditumis bareng sampai kecokelatan.
Dari segi warna, tekstur, apalagi aroma udah menggoda banget sih itu. Risa nyaris ngiler kalau aja dia lagi gak jaga gengsi di depan Rio.
"Gua enggak tahu makanan orang kaya, jadi bikin pakai bahan yang ada aja," ucap Rio menjelaskan saat ia melihat Risa cuma diam dan melihat si makanan.
"Seadanya???? Kayak gini dia bilang seadanya? Bukannya ini masakan yang sering ada di hotel resto bintang 5????" Ujar Risa membatin gemas.
"Obat lu mana?" Tanya Rio setelah selesai menata meja makan.
"Di kamar..., kenapa?" Tanya Risa yang masih memandang masakan yang udah jadi itu. Dia Uda kepengen makan, laper, tapi gak enak dong kalau makan duluan. Kesannya kayak gak tau diri banget 'kan.
"Lu makan aja duluan, itu juga udah gua bikinin omelet." Rio gak banyak bicara lagi dan langsung berjalan ke kamar untuk mengambil obat.
Karena disuruh makan ya udah toh, lagian perutnya udah bunyi dari tadi, jadi Risa memutuskan untuk makan duluan. Pertama-tama, dia nyicipi tumisan brokoli sama daging itu, karena Risa emang paling penasaran dilihat sama bentukannya yang estetik.
Hap!
Begitu masuk mulut Risa langsung gebrak-gebrak meja yang bikin Rio kaget dan buru-buru keluar.
"Kenapa lu? Ada apaan?" Pemuda itu terheran-heran sekarang melihat Risa yang sekarang sedang menundukkan kepalanya di atas meja.
"Sumpah, ini enak banget...."" Akhirnya Risa mau gak mau harus mengakui kenikmatan rasa dari masakan Rio.
"Yeh, gua kirain..., lagian itu biasa aja perasaan, gua sering makan," jawab Rio dengan santainya.
"Anjir, kayaknya dia enggak sadar masakannya itu seenak apa..., mungkin saling seringnya makan masakannya sendiri jadi dia gak anggap itu 'wah'...."
"Nih, obatnya, habis makan langsung diminum." Rio meletakkan obat-obatan itu di samping piring makan Risa.
"Takut banget ya, kalau gue gak minum obat?" Sindir Risa heran. Minum obat aja kayak harus dipaksa banget dan bener-bener diperhatiin.
"Iya lah, lu itu suka bandel kata emak lu!" Balas Rio yang emang gak yakin Risa bakal minum obat itu sampai habis sesuai anjuran dokter. Risa itu kayak tipikal orang yang kalau udah mendingan dikit, obatnya langsung ditinggal gitu aja.
"Cih, sok tau! Ntar gue minum itu semuanya habis makan!" Balas Risa rasa sewot.
Rio akhirnya duduk di seberang Risa dan ikutan makan dengan khidmat. Cuma entah kenapa cowok itu malah gak nyentuh tumis brokoli sama daging ayamnya sendiri yang bikin Risa mengernyitkan dahi.
"Kenapa lu gak makan tumisan lu sendiri?" Tanya Risa sedikit aneh dan malah mikir yang enggak-enggak.
"Jangan-jangan makanan yang itu ada bubuk racun atau obat tertentu yang bisa bikin gue pingsan, terus dia bisa macem-macem????" Batin Risa parno sendiri.
"Buat lu," jawab pemuda itu singkat.
"Hah?" Risa bengong. Dia masih gak bisa memproses maksud dari ucapan Rio barusan.
"Lu kira gue kekurangan uang jadi lu mikir gue gak bisa beli makanan kayak gini?" Risa salah-paham duluan.
Rio terdiam, dia menatap Risa dengan ekspresi bingung.
"Ngomong apaan sih lu?" Ujarnya yang seriusan enggak paham kenapa Risa mendadak galak. "Itu buat lu semua, porsi makan lu harusnya lebih dari biasanya, daripada lu beli sendiri...," ucapnya lagi menjelaskan.
"Seriusan itu maksudnya? Astaga, gue jadi gak enak...." Risa setengah menunduk, merasa malu sendiri karena udah nuduh.
"Ya makanya bilang!" Ujarnya ketus. Gengsi dia kalau harus minta maaf.
"Ya udah, gua bilang 'kan barusan." Rio memutar kedua bola matanya. Heran. Kemudian ia berdiri dari tempat duduk dan meletakkan piring itu di cucian piring.
"Udah, gue aja yang cuci nanti," ucap Risa buru-buru saat dilihat pemuda itu hendak menyalakan keran.
"Oh, emangnya bisa?" Tanya Rio setengah ngeledek.
"Sialan!" Geram Risa dalam hati. "Lu kira gue sepayah itu dalam urusan rumah tangga?" Risa mendengus kasar.
"Bukan gua, tapi emak lu yang bilang!" Kata Rio yang kemudian teringat kembali semua ucapan mertuanya yang aduhai bawel, terlebih kalau udah ngomongin anaknya sendiri. Dari a sampai z yang dibahas cuma aib anaknya doang.
"Hih, udah sana, nanti biar gue yang kerjain!" Hati Risa dongkol dan langsung ngusir Rio dari wastafel.
"Nanti malem gua tinggal ya, soalnya gua harus kerja. Ini gua mau pulang dulu ke rumah, gua kerja berangkat dari sana. Kalau ada apa-apa telepon aja," ucap Rio sambil menatap Risa agak serius. Dia kayaknya mau mastiin kalau perempuan itu gak keberatan ditinggal kerja.
"Gue gak bakal larang lu kerja. Udah sana pergi," jawab Risa dengan cepat.
"Kalau lu takut..., panggil aja temen lu itu buat nginep, soalnya gua bakal pulang jam 4 pagi."
"Iya, bawel! Lu kayak emak gue lama-lama!"
"Ya elah cewek, diperhatiin malah gak suka. Sabodo lah."
Akhirnya tanpa banyak bicara lagi Rio langsung pergi keluar meninggalkan dapur, Dia mengambil beberapa keperluannya dulu baru setelah itu keluar apartemen.
Bagaimana kelanjutan pernikahan mereka setelah ini? Apakah sudah bisa merasa saling akrab?
.
.
.
BERSAMBUNG....