Gadis, sejak kecil hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan di rumah keluarga angkatnya yang kaya. Dia dianggap sebagai anak pembawa sial dan diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu. Puncaknya, ia dijebak dan difitnah atas pencurian uang yang tidak pernah ia lakukan oleh Elena dan ibu angkatnya, Nyonya Isabella. Gadis tak hanya kehilangan nama baiknya, tetapi juga dicampakkan ke penjara dalam keadaan hancur, menyaksikan masa depannya direnggut paksa.
Bertahun-tahun berlalu, Gadis menghilang dari Jakarta, ditempa oleh kerasnya kehidupan dan didukung oleh sosok misterius yang melihat potensi di dalam dirinya. Ia kembali dengan identitas baru—Alena.. Sosok yang pintar dan sukses.. Alena kembali untuk membalas perbuatan keluarga angkatnya yang pernah menyakitinya. Tapi siapa sangka misinya itu mulai goyah ketika seseorang yang mencintainya ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius-74, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA YANG TERPERANGKAP
Ketika dia tiba di hotel, Ferdo melihat nyonya Isabella berdiri di depan pintu kamar Elena, dengan wajahnya yang marah dan tegas. Dia mendekat dengan langkah yang lambat, siap menghadapi kemarahan ibunya.
“Ferdo!” panggil nyonya Isabella dengan suara yang marah. “Aku tidak percaya kamu bisa berperilaku seperti itu! Elena menangis semalaman, dia sakit hati! Apa yang kamu lakukan diluar sana?”
Ferdo menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arah ibunya. “Ma, maaf. Tapi saya tidak bisa melakukan itu dengan Elena. Di hatiku, masih ada orang lain.”
Nyonya Isabella terkejut, matanya membesar. “Siapa? Jangan katakan kamu masih mencintai Gadis!”
Ferdo mengangkat kepalanya, matanya memancarkan keberanian. “Ya, Ma. aku masih mencintai Gadis. Dan aku tahu dia tidak bersalah. Dia dituduh karena fitnah, dan aku akan membuktikan kebenarannya.”
Nyonya Isabella marah, menampar pipi Ferdo dengan keras.
PLAK
“Berani sekali kamu bicara seperti itu! Gadis itu wanita jahat yang hanya ingin merusak keluarga kita! Dia adalah penipu dan pencuri! Dan kamu tidak boleh lagi menyebut namanya!”
Ferdo menutupi pipinya yang terasa sakit, tapi matanya tidak menunjukkan rasa takut.
"Ma, aku tahu apa yang aku lihat. Gadis adalah wanita yang baik, dan dia tidak akan pernah melakukan hal-hal yang Mama tuduhkan padanya. Aku akan membuktikan itu, walau itu aku harus melawanmu.”
Tanpa menjawab lagi, Ferdo berjalan melewati mamanya dan masuk ke kamar Elena. Dia melihat Elena duduk di ranjang, dengan wajahnya yang memerah dan mata yang bengkak karena menangis. Dia mendekati Ferdo dengan langkah lambat.
“Elena,” ujar Ferdo. “Maaf. Saya tidak berniat menyakitimu.”
Elena mengangkat kepalanya, matanya memancarkan kemarahan dan kesedihan. “Mengapa, Ferdo? Mengapa kamu melakukan ini padaku? Apa yang salah denganku?”
Ferdo duduk di tepi ranjang, melihat ke arah Elena. “Tidak ada yang salah denganmu, Elena. Kamu adalah wanita yang cantik dan baik hati. Tapi di hatiku, masih ada orang lain. Aku mencintainya, dan aku tak bisa menutupi perasaan itu.”
Elena menangis lagi, "Siapa dia? Apakah dia Gadis?”
Ferdo mengangguk, tanpa melihat ke arahnya. “Ya.”
Elena mengangkat kepalanya, matanya membesar. “Ferdo, Gadis itu penjahat! Dia terkurung di penjara karena mencuri uang dari keluarga kamu! Kamu tidak boleh mencintai dia!”
“Dia tidak bersalah, Elena,” ujar Ferdo dengan suara agak tinggi. “Dia dituduh karena fitnah. Dan aku akan membuktikan kebenarannya.”
Elena melihat Ferdo dengan mata yang penuh keheranan. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Bagaimana bisa suaminya yang baru saja menikahinya, lalu mengatakan bahwa dia masih mencintai mantan istrinya yang terkurung di penjara?
“Ferdo, apa yang mau kamu lakukan?” tanya Elena.
"Aku akan mencari bukti kebenaran tentang Gadis. Aku akan membuktikan bahwa dia tidak bersalah, dan aku akan membebaskannya dari penjara. Bahkan jika itu aku harus meninggalkanmu, Elena. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa hidup dengan membohongi hatiku sendiri.”
Elena menangis terisak-isak, merasakan rasa sakit hati yang tak tertahankan. Dia mencintai Ferdo dengan tulus, dan dia berharap bisa membuatnya bahagia. Tapi dia tahu bahwa dia tidak bisa bersaing dengan Gadis, dengan kenangan indah yang mereka miliki bersama.
“Ferdo,” ujarnya dengan suara lembut. “Jika itu yang membuatmu bahagia, maka lakukanlah. Aku tidak akan menghalangimu. Tapi aku harap kamu tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu.”
Ferdo menyentuh tangan Elena dengan lembut, merasa bersalah.. “Terima kasih, Elena. Kamu adalah wanita yang baik, dan kamu berhak mendapatkan pria yang mencintaimu sepenuh hati. Aku minta maaf karena tidak bisa menjadi pria itu untukmu.”
Setelah itu, Ferdo berdiri dan keluar dari kamar. Dia berjalan ke lift dan turun ke lobi hotel.
Di sana, dia melihat nyonya Isabella yang masih berdiri dengan wajahnya yang marah. Tapi Ferdo tidak peduli lagi. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia harus melindungi Gadis, membuktikan kebenaran, dan mendapatkan kebahagiaan yang dia pantas miliki.
Setelah Ferdo keluar dari kamar Elena dan menuju lift, nyonya Isabella segera menyusulnya. Dia menangkap Ferdo tepat ketika pintu lift mau tertutup, memasukkan dirinya dengan langkah cepat.
“Ferdo! Kamu tidak boleh pergi ke sana lagi!” teriaknya, matanya memancarkan kemarahan yang menyala. “Aku telah memberitahumu, Gadis itu hanya akan merusakmu!”
Ferdo mengangkat bahu, wajahnya tak bereaksi apa-apa. “Ma, aku sudah memutuskan. Aku harus membuktikan dia tidak bersalah.”
“Buktikan apa?! Dia sudah terpidana!” nyonya Isabella menggenggam lengan Ferdo dengan kuat, membuatnya merasakan sakit. “Kamu pulang sekarang ke kamar Elena. Dia sudah memaafkanmu.”
“Tidak, Ma.. aku tidak bisa!" bantah Ferdo.
“Jangan membantah saya!” seru Nyonya Isabella, marah.
Saat lift tiba di lantai kamar, nyonya Isabella menarik Ferdo keluar dan membuka pintu kamar yang masih terbuka. Elena berdiri di depan meja, memegang gelas putih yang diisi cairan kuning muda. Dia tersenyum dengan cara yang mencurigakan, menuju Ferdo dengan langkah lambat.
“Ferdo, sayang,” ujar Elena dengan suaranya yang lembut, menawarkan gelas itu. “Maafkan aku kalau tadi marah. Minum ini ya, biar kita bisa mulai lagi dengan baik.”
Ferdo memandang gelas, lalu ke wajah Elena dan nyonya Isabella yang saling bertukar pandangan.
Dia merasa cemas, tapi kelelahan dan tekanan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia mengambil gelas dan meneguk semuanya dalam satu tegukan. Cairannya manis dan sedikit pahit, menyebar di tenggorokannya.
“Baik, sekarang kamu istirahat sebentar,” kata nyonya Isabella dengan senyum puas, mendorong Ferdo ke arah ranjang. “Elena akan merawatmu.”
Tanpa bisa menolaknya, Ferdo merasa kepalanya mulai pusing dan tubuhnya menjadi lemas. Suhu badannya meningkat, dan ada rasa panas yang tidak bisa ditahankan yang muncul dari dalam. Dia melihat Elena yang mulai melepas pakaiannya, wajahnya memerah dan mata memancarkan hasrat.
“Ferdo, sayangku,” panggil Elena, mendekat dan memeluknya. “Sekarang, kita bisa benar-benar menjadi suami istri.”
Ferdo mencoba melarikan diri, tapi tubuhnya tidak mau bergerak pergi. Obat perangsang yang ada di minuman itu bekerja dengan cepat, membuatnya hilang kendali.
Dia hanya bisa mengikuti aliran, merasakan sentuhan Elena di tubuhnya. Di sudut kamar, nyonya Isabella berdiri sambil menyaksikan, sedangkan Elena dengan lincah memegang ponselnya yang menyala, agar semua adegan hot yang akan segera terjadi, terekam di ponselnya.
Selama satu jam ranjang pengantin berderik menahan beban dua insan yang sedang melampiaskan birahi membara.. Semua terekam jelas gimana buasnya permainan Ferdo akibat pengaruh obat.. Elena kewalahan tapi dia menikmatinya..
Setelah permainan birahi selesai..
Ferdo tergeletak di ranjang, tubuhnya lemas dan kepalanya berdenyut sakit. Cahaya matahari siang menyinari wajahnya yang pucat. Dia membuka mata perlahan, dan ingatan tentang apa yang terjadi tadi menyergapnya seperti badai.
“Tidak… tidak mungkin…” bisiknya, menutupi wajah dengan kedua tangan. Rasa malu dan penyesalan membanjiri dirinya. Dia melihat Elena yang tidur terlentang di sampingnya, tersenyum puas.
Elena membuka mata, melihat Ferdo yang sedang cemas. Dia mendekat dan mencium pipinya. “Bagaimana rasanya, sayang? Kamu akhirnya milikku sepenuhnya.”
Ferdo cepat-cepat mundur, ia merasa jijik. “Jangan sentuh aku! Apa yang kamu lakukan padaku?!”
“Kamu butuh kehangatanku, Ferdo,” jawab Elena dengan santai. “Sekarang kamu tahu, aku bisa memberi apa yang kamu butuhkan. Bukan Gadis yang terkurung disana.”
Ferdo berdiri dengan tergesa-gesa, mencari pakaiannya. “Saya harus pergi. Ada urusan di kantor.”
Elena tersenyum lebih lebar, menyadari bahwa itu hanya alasan Ferdo. “Baiklah, sayang. Pulang cepat ya. Bukankah kamu cuti?... Masa hari pernikahan masih kerja?" gurau Elena.
Tanpa menjawab, Ferdo memakai pakaiannya dan keluar dari kamar. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift, hatinya penuh amarah. Dia tidak bisa percaya dirinya sendiri.
Bagaimana bisa dia melakukan hal itu padahal hatinya masih untuk Gadis?
Sementara itu, di kamar, Elena mengambil ponselnya dan menekan tombol untuk melihat rekaman video tadi.
Layar menampilkan adegan hubungan intimnya dengan Ferdo yang sangat vulgar.
"Hahaha... Tunggu aku, Gadis! Sebentar lagi kau akan menangis darah melihat aku dan Ferdo sudah berhubungan intim."