NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN MELAWAN PENJAGA ORBIS

Patung raksasa itu menggeram.

Suaranya bergema di seluruh Kota Orbis yang sunyi, membuat tanah bergetar di bawah kaki mereka.

Cahaya biru menyala dari kedua matanya.

Aldrich berdiri di depannya dengan senyum penuh kemenangan.

"Kalian sudah terlalu jauh," katanya, suaranya penuh kepuasan. "Sekarang kalian akan merasakan kekuatan sejati Orbis."

Arka, Kiara, Ezra, Eldrin, dan Dr. Helena berdiri berhadapan dengan makhluk itu.

Sebuah konstruksi raksasa yang terbuat dari batu dan logam, dengan ukiran-ukiran kuno di seluruh tubuhnya.

Dan itu bergerak.

SERANGAN PERTAMA

Tanpa peringatan, patung itu mengangkat lengannya dan menghantam tanah dengan keras.

BOOOM!

Gelombang kejut dari pukulan itu menghancurkan reruntuhan di sekitar mereka.

Ezra dan Kiara melompat menghindar, sementara Arka berguling ke samping.

Dr. Helena hampir tertimpa puing, tapi Eldrin menariknya tepat waktu.

"Kita tidak bisa melawannya secara langsung!" teriak Dr. Helena. "Itu bukan makhluk biasa itu teknologi Orbis yang masih aktif!"

Kiara menghunus belatinya. "Jadi, bagaimana cara menghancurkannya?"

Eldrin menatap patung itu dengan tajam.

"Mereka tidak bisa dihancurkan dengan senjata biasa. Kita harus menargetkan inti energinya."

Arka melihat cahaya biru yang bersinar di dada patung itu.

"Itu intinya?" tanyanya.

Eldrin mengangguk. "Tapi kita harus menemukan cara untuk mendekatinya tanpa mati dulu."

KEKUATAN ORBIS

Aldrich mengangkat tangannya, dan patung itu mulai menyerang lagi.

Tangan raksasa itu bergerak cepat, mencoba menghancurkan mereka satu per satu.

Ezra menembak ke arah kepala patung itu, tapi pelurunya hanya memantul.

"Ini sia-sia!" teriaknya.

Kiara berlari dengan kecepatan tinggi, melompat ke atas reruntuhan dan mencoba menusuk kaki patung itu dengan belatinya.

Tapi besi Orbis terlalu kuat.

Serangannya tidak meninggalkan goresan sedikit pun.

Patung itu berbalik, mengayunkan lengannya ke arah Kiara.

Arka bereaksi cepat, melemparkan pecahan logam Orbis yang ia temukan sebelumnya.

Saat pecahan itu menyentuh tubuh patung.

ZZZZZT!

Energi biru yang menyelimuti patung itu tampak bergetar sesaat, seperti ada gangguan.

Eldrin melihatnya dan tersenyum.

"Itu dia!" katanya. "Logam Orbis bisa menetralisir energi mereka!"

Arka menyadari sesuatu.

Jika pecahan kecil saja bisa melemahkan energi patung itu…

Bagaimana jika mereka menggunakan lebih banyak?

RUNTUHNYA PENJAGA ORBIS

"Ezra, Kiara! Kita butuh lebih banyak pecahan logam Orbis!" teriak Arka.

Kiara segera berlari ke reruntuhan, mencari pecahan serupa.

Ezra menembak ke arah dinding yang terlihat rapuh, membuat beberapa kepingan logam jatuh.

Mereka mengumpulkannya dengan cepat.

Sementara itu, patung itu mengeluarkan serangan energi dari dadanya.

BOOOOM!

Gelombang biru menyapu ke arah mereka.

Arka dan yang lain melompat ke samping, menghindari ledakan besar.

Dr. Helena hampir tertabrak, tapi Eldrin menariknya ke tempat aman.

"Cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" teriak Eldrin.

Kiara mengumpulkan pecahan logam dan berlari ke arah Arka.

"Ini dia!"

Arka meraih pecahan itu dan menatap patung raksasa yang mulai bersiap menyerang lagi.

Lalu, ia mengambil ancang-ancang—

Dan melemparkan pecahan logam itu langsung ke inti energi di dadanya.

ZZZZZT!

Cahaya biru itu bergetar keras.

Patung itu terhenti.

Tiba-tiba, suara retakan terdengar.

Ezra melihat kesempatan itu dan segera menembak ke arah retakan tersebut.

Kiara mengikuti, melempar belatinya dengan kekuatan penuh.

CRACK!

Bagian dada patung itu mulai pecah—

Dan dalam sekejap, ledakan biru meledak dari dalam tubuhnya.

BOOOOOOM!

Patung itu runtuh, pecah berkeping-keping.

Aldrich menatap kehancuran itu dengan wajah tak percaya.

"Tidak… tidak mungkin!"

Arka menatapnya dengan mata tajam. "Kami tidak akan membiarkanmu mendapatkan kekuatan Orbis."

Aldrich mengepalkan tinjunya.

"Kalian pikir kalian sudah menang? Ini baru permulaan."

Lalu, dia menghilang dalam kilatan cahaya biru.

MENARA YANG TERBUKA

Saat debu mulai mereda, mereka melihat sesuatu yang baru.

Di belakang tempat patung itu berdiri, sebuah pintu raksasa mulai terbuka.

Kiara menatapnya. "Itu… jalan ke dalam menara?"

Eldrin mengangguk. "Ya. Dan di dalamnya… ada inti sejati Orbis."

Ezra memasukkan kembali pistolnya ke sarung. "Kalau begitu, kita harus bergerak sebelum Aldrich kembali dengan bala bantuan."

Arka menghela napas panjang, lalu menatap yang lain.

"Ini mungkin pertarungan terakhir kita."

Dr. Helena menatap mereka satu per satu. "Dan jika kita gagal… dunia luar akan berada dalam bahaya."

Sunyi sejenak.

Lalu, Kiara tersenyum tipis.

"Kalau begitu, mari kita pastikan kita menang."

Mereka pun melangkah maju, memasuki Menara Orbis.

MEMASUKI MENARA ORBIS

Udara di dalam menara terasa berbeda. Sejuk, tapi penuh tekanan tak kasatmata.

Dinding-dindingnya terbuat dari logam aneh yang berpendar dengan cahaya biru samar. Simbol-simbol kuno terpahat di setiap sisi, membentuk pola yang terus berubah, seolah hidup.

Langkah kaki mereka menggema di lorong luas yang melingkar ke atas.

"Ini… teknologi yang sudah jauh lebih maju dari peradaban mana pun," gumam Dr. Helena, matanya berbinar-binar saat menyentuh salah satu dinding. "Bahkan kita pun belum bisa menciptakan sesuatu seperti ini."

Eldrin berjalan paling depan, pandangannya waspada.

"Kita harus tetap waspada. Aldrich pasti sudah ada di dalam."

Arka merasakan detak jantungnya semakin cepat.

Mereka hampir mencapai tujuan akhir mereka.

Namun di saat itu.

Lorong tiba-tiba bergetar.

JEBAKAN MENARA

Dinding di sekitar mereka berubah bentuk.

Bagian lantai yang mereka injak mulai bergeser dan berputar, seperti sebuah mekanisme yang baru diaktifkan.

"PERHATIAN!" teriak Ezra.

Terlambat.

Tanah di bawah mereka terbuka.

Arka, Kiara, dan Ezra jatuh ke dalam kegelapan.

Dr. Helena mencoba meraih mereka, tapi Eldrin menariknya mundur sebelum ia ikut jatuh.

RUANGAN GELAP DI DASAR MENARA

Arka menghantam lantai keras, mengerang kesakitan.

Ezra dan Kiara jatuh tidak jauh darinya.

Ruangan tempat mereka terjatuh gelap gulita, hanya diterangi kilatan biru dari dinding yang berkedip-kedip.

"Sial! Apa yang baru saja terjadi?!" Ezra bangkit dengan susah payah.

Kiara melihat ke atas. "Lantai di atas kita menutup kembali. Sepertinya kita baru saja dipisahkan dari Eldrin dan Dr. Helena."

Arka menatap sekeliling.

Di ruangan itu, ada sesuatu yang lain.

Sebuah artefak besar berdiri di tengah ruangan, melayang di udara.

Bentuknya seperti bola kristal raksasa, dengan energi biru yang terus berputar di dalamnya.

"Ini… bagian dari inti Orbis?" gumam Arka.

Kiara mendekat. "Apa yang harus kita lakukan? Hancurkan?"

Ezra menggeleng. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita menghancurkannya begitu saja."

Arka merasakan sesuatu.

Dari artefak itu, ada semacam gema suara.

Bisikan.

Seperti panggilan dari sesuatu… atau seseorang.

"Aku rasa ini bukan sekadar energi… ini seperti penyimpanan informasi."

Kiara menyipitkan mata. "Maksudmu, seperti komputer?"

Arka mengangguk. "Mungkin di sini ada jawaban tentang Orbis… dan bagaimana menghentikan Aldrich."

Tapi sebelum mereka bisa mendekat lebih jauh.

Suara langkah kaki terdengar di kegelapan.

Dan dari bayangan, muncul dua sosok berjubah hitam.

Anggota Ordo Lux Veritatis.

PERTARUNGAN DI BAYANGAN

"Tampaknya kalian tersesat," kata salah satu dari mereka, suaranya penuh ejekan.

Yang satu lagi mengangkat tangannya. Cahaya biru berkumpul di telapak tangannya, membentuk tombak energi.

"Sayang sekali perjalanan kalian harus berakhir di sini."

Ezra segera menarik pistolnya dan menembak.

Tapi tembakannya meleset.

Salah satu musuh menggerakkan tangannya, menyerap peluru itu dengan kekuatan energi mereka.

Kiara menggeram. "Mereka lebih kuat dari yang kita temui di luar."

Arka menggenggam pecahan logam Orbis yang ia bawa.

Jika logam ini bisa menyerap energi mereka… maka itu adalah kunci kemenangan mereka.

"Kita harus bertarung cerdas," katanya.

Ezra melemparkan pisau ke arah salah satu musuh.

Tapi lawan itu menangkapnya di udara dan menghancurkannya dengan satu tangan.

Mereka terlalu cepat.

Kiara berlari ke depan, mencoba menyerang dengan belatinya.

Namun sebelum ia bisa mengenai sasarannya, musuh itu sudah menghilang dan muncul di belakangnya.

BRUGH!

Kiara terpental setelah terkena pukulan energi.

Arka langsung bereaksi.

Ia melempar pecahan logam Orbis ke arah lawan.

Saat logam itu menyentuh kulit mereka.

ZZZZZZT!

Salah satu anggota Ordo Lux Veritatis menjerit kesakitan, energi biru di sekelilingnya melemah.

Itu berhasil!

Arka menatap Ezra dan Kiara. "Gunakan logam Orbis! Itu satu-satunya cara!"

Ezra mengambil pecahan yang tersisa dan melemparkannya ke lawan lainnya.

Kiara menendang satu pecahan logam langsung ke dada musuh.

ZZZZZT!

Dalam sekejap, kekuatan mereka menghilang.

Kiara melompat dengan cepat dan menusukkan belatinya, tepat ke leher salah satu musuh.

Darah hitam mengalir.

Ezra menembak lawan yang satu lagi tepat di kepala.

Mereka jatuh.

Akhirnya… mereka menang.

Arka menghela napas, lalu berbalik ke artefak di tengah ruangan.

"Sekarang, mari kita lihat apa yang disembunyikan Orbis selama ini."

PESAN TERAKHIR ORBIS

Arka meletakkan tangannya di permukaan bola kristal itu.

Tiba-tiba.

Cahaya biru menyelimuti ruangan.

Gambar-gambar muncul di udara, seperti rekaman holografik dari masa lalu.

Mereka melihat penduduk Orbis, makhluk seperti manusia, tapi dengan cahaya biru yang bersinar di tubuh mereka.

Lalu, mereka melihat perang besar.

Ordo Lux Veritatis menyerang Orbis, menghancurkan kota dengan kekuatan yang mengerikan.

Salah satu dari penduduk Orbis, seorang pria dengan jubah putih, berbicara dalam bahasa asing—tapi entah bagaimana, Arka bisa mengerti.

"Jika kau melihat pesan ini, maka Orbis telah jatuh."

"Kekuatan inti Orbis tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Jika mereka menemukannya, dunia ini akan berakhir."

"Hanya satu cara untuk menghentikan mereka…"

Gambar berubah, menampilkan sebuah ruangan rahasia di puncak menara.

Di dalamnya, ada sebuah altar dengan kristal biru terbesar yang pernah mereka lihat.

Pesan itu berlanjut.

"Hancurkan inti ini. Jika tidak, mereka akan menggunakannya untuk menguasai segalanya."

Cahaya menghilang.

Arka menatap Kiara dan Ezra.

"Kita harus mencapai puncak menara. Sekarang."

Mereka berlari menuju tangga yang mengarah ke atas.

Sementara itu, di puncak menara.

Aldrich sudah menunggu mereka.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!