NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pembantu
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bacaan Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Ada Apa dengan Raska?

Berdiri lunglai pada tepi jendela kamarnya, Sarah kini sibuk menerawang pada kenangan masa lalu. Tanpa sadar dari bibir pucat itu, terucap kalimat pahit, "Kepingan masa lalu itu sungguh nikmat untuk dikenang, namun setelahnya dengan kejam berubah usang, menghilang, dan akhirnya meninggalkan luka gersang."

Besok adalah waktu dimana dirinya akan memulai drama yang telah ia rencanakan bersama Rania berdasarkan catatan tiga belas kenangan yang ada pada buku diary lusuhnya.

Bukan sekedar daftar, melainkan kenangan indah yang sebenarnya sangat ingin dirinya lupakan. Sayangnya, kenangan-kenangan itu lah yang sepertinya bisa mendorong atau men-stimulasi ingatan Bagas Aryanaka.

Mau tak mau, Sarah harus mengulang itu semua. Namun, kali ini jelas lebih tertata dan terencana. Ia tinggal menunggu barang kiriman Rania untuk mendukung rencana besok.

"Semoga semua berjalan lancar. Kuatkan aku ya Tuhan," mohon Sarah dalam bait doa yang ia sampaikan dalam heningnya malam

...****************...

KANTOR KEJAKSAAN

Lorong lantai tiga kantor kejaksaan Jakarta Selatan tampak sepi. Wajar saja, karena saat ini detak waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB—satu jam sebelum jadwal masuk seperti biasanya.

Tetapi, tak lama terdengar derap langkah tegas yang disusul oleh langkah-langkah kaki yang terburu-buru. Ternyata disana, Bagas Aryanaka sang Jaksa ternama ibu kota, hari ini datang lebih cepat. Para sekretaris dan asisten pribadinya pun setia mengikuti dibelakang.

Entah apa yang merasuki pria berambut hitam legam itu, karena biasanya ia memilih untuk berangkat lebih santai. Hari ini bahkan baru saja Raska menguap bangun, ia sudah menerima telfon sang bos untuk segera bersiap ke kantor.

"Raska, meeting majukan saja jam delapan lima belas."

Sampai di depan ruangan, Raska langsung mendapatkan perintah mengejutkan dari Bagas. Tadinya rapat akan diadakan pukul 9 pagi. Tetapi ini malah di majukan lebih pagi lagi.

"Maaf pak, sepertinya terlalu pagi untuk rapat. Takutnya para staff yang lain masih membutuhkan persiapan karena biasanya kita selalu mulai pukul sembilan."

Mendengar tutur kata Raska, Bagas yang tadinya hendak membuka pintu ruangannya itu—memicingkan mata, kemudian berbalik, menatap sengit kepada asisten pribadinya disana.

"Ada apa dengan kamu Raska? Sepertinya saya kurang tegas ya, jadi kamu terlalu berani seperti ini."

Perkataan sang atasan memang terkesan tenang, namun seakan ada amarah disana karena perintahnya tidak langsung dituruti. Bagas memang pribadi yang terkenal dominan dan tidak ingin dibantah.

Raska kian panik sendiri. Dengan tergagap dan tangan gemetar ia pun mencoba meluruskan.

"Bu-bukan begitu p-pa-pakk, saya ha-n, saya hanya—

"Cukup Raska. Saya tidak ada waktu mendengar banyak alasan dari kamu. Laksanakan saja perintah saya tadi."

Belum selesai Raksa menjelaskan, Bagas dengan tegas memotong ucapan Raska dan memilih langsung masuk ke ruangannya, berniat untuk segera memeriksa dokumen kasus yang telah bertumpuk di meja.

Raska pun hanya bisa menghela napas. suasana hati sang taun sepertinya sedang buruk, sehingga para bawahannya lah yang terkenal dampaknya. Termasuk dirinya yang kini mau tidak mau harus segera mengatur jadwal meeting yang berubah mendadak.

"Nasib kacung emang, sabarkanlah hati hamba ya tuhan," gumam Raska pasrah.

...****************...

Tidak terasa kini waktu telah menunjukkan pukul 08.15 WIB. Ruang rapat lantai tiga perlahan terisi. Beberapa jaksa muda tampak masih membawa gelas kopi, sebagian lain sibuk membuka map dan laptop. Suasana cenderung tegang—bukan karena kasus, melainkan karena rapat ini dimajukan secara mendadak oleh Bagas Aryanaka sang jaksa penuntut umum senior mereka.

Bagas masuk terakhir. Langkahnya mantap, wajahnya dingin tanpa senyum. Semua yang ada di ruangan refleks berdiri.

"Silahkan duduk," ucapnya singkat kepada semua yang hadir disana.

Ruang rapat lantai tiga seketika hening setelah proyektor menyala. Logo perusahaan DIHARJA GROUP terpampang di layar.

Bagas Aryanaka duduk di ujung meja. Wajahnya tenang, sikapnya formal—seperti biasa.

"Kita mulai," ujarnya singkat.

Dina Pramesti, jaksa penyidik senior, membuka map di tangannya. "Perkara ini berkaitan dengan dugaan pelanggaran pertambangan oleh salah satu anak usaha Diharja Group, Pak."

Arif menimpali sambil menunjuk layar, "PT. Diharja Mineral Energi. Berdasarkan hasil penelusuran tim, diduga melakukan kegiatan penambangan di luar titik izin operasi yang tercantum dalam IUP."

"Sejak kapan?" tanya Bagas, datar.

"Kurang lebih delapan belas bulan terakhir," jawab Arif. "Produksi berjalan kontinu."

Pak Bima ikut bicara, "Yang jadi perhatian kami, Pak, adalah ketidaksesuaian antara laporan produksi dan data distribusi. Volume pengiriman jauh lebih besar dari yang dilaporkan."

Bagas menyandarkan punggung ke kursi. "Estimasi kerugian?"

"Sekitar dua puluh miliar rupiah sementara, Pak," jawab Dina. "Masih bisa bertambah setelah audit lingkungan."

Beberapa orang di ruangan itu mengangguk pelan.

Bagas melirik layar sekali lagi. "Usut kembali, segera kita harus dapatkan surat izin pemeriksaan terbuka," tukas Bagas tegas.

Raska yang sejak tadi mencatat merasa ada beban berat. Yang ia tahu Diharja Grup adalah perusahaan milik calon mertua bos-nya, dan Suratih—ibu dari Bagas Aryanaka saja sudah mewanti-wanti untuk tidak mengambil kasus tersebut. Tapi mengapa pada akhirnya Bagas tetap kekeh seperti ini?

“Ehem, mohon izin menyampaikan pendapat pak, apa tidak sebaiknya kasus ini kita serahkan kepada tim yang lain? Mengingat keluarga Diharja, ehemm—masih ada hubungan erat dengan Bapak. Takutnya masyarakat menaruh rasa skeptis atas profesionalitas tim kita."

Raska mencoba menyela, mengutarakan pendapatnya—sekaligus menjalankan amanat nyonya Suratih Aryanaka untuk menghentikan langkah Bagas terkait kasus yang menimpa keluarga calon mertuanya.

Hening.

Bagas menatap datar Raska, matanya memicing tajam. Tangannya yang satu senantiasa mengelus dagu, sedangkan satunya lagi menopang kepala dengan santai.

"Masyarakat, atau kamu yang merasa skeptis, Raska Pramudya?"

Masih dalam posisi yang sama, kini Bagas terduduk tegak penuh wibawa. Sedangkan diseberang sana Raska tidak kuasa menjawab—hanya mampu meneguk ludah gugup.

"I don't care walau ada pihak terkait kasus merupakan saudara atau kenalan saya. profesionalitas selalu saya junjung tinggi. CAMKAN ITU SEMUA!"

Setelah berseru cukup keras, Bagas berdiri—mengibaskan jas biru yang ia pakai, lalu berjalan angkuh menuju pintu keluar.

Semua orang disana hanya bisa terkesiap. Apalagi Raska yang kini terdiam gundah—merasa bahwa hari ini bukan hari baiknya.

"Sial, malah bangunin macan ngamuk," Raska membatin lesu.

Setelah rapat usai, Raska kini berjalan gontai bersiap menghadapi amukan Bagas yang sepertinya telah sangat merasa marah kepada dirinya.

Beberapa langkah lagi menuju ruangan Bagas, Raksa terus menghela napas, mencoba untuk mempersiapkan mentalnya nanti. Namun, belum sampai di depan pintu, ternyata ia didahului oleh seseorang yang cukup ia kenal.

Raska memicingkan mata, seketika mengingat akan sesuatu, ia pun tersentak dan merasa panik luar biasa. Ia tidak boleh membiarkan orang dengan setelan serba hitam disana sampai bertemu dengan Bagas.

Berlari kencang, Raska langsung saja mencekal pundak pria berwajah sangar yang hendak mengetuk pintu ruangan Bagas itu.

"Soleh! Sini," ajak Raska menarik pria bernama Soleh itu menjauh dari sana.

Pria bernama Soleh itu menatap datar Raska yang terlihat panik dan menatapnya resah. Ia hanya diam, mendengarkan Raska berbicara secara terburu-buru.

"Waduh Soleh. Kamu mau ngapain? Kamu mending jangan kesana sekarang. Pak bos lagi gak bagus mood-nya."

"Tapi saya harus antar hasil penyelidikan si pembantu baru," sanggah Soleh dengan tenang.

Raska menggaruk kening, "Halah udah percaya aja sama saya Soleh. Kamu mau di tebas sama pak bos hah? Kalo nggak, gini aja deh, biar berkasnya saya simpan dulu. Saya kasih besok-besok waktu pak bos udah bagus lagi mood-nya."

Soleh mengernyit bingung. Ia ingin percaya, namun di satu sisi, ia telah diperintahkan Bagas Aryanaka untuk segera mendapatkan informasi detail tentang pembantu baru kediaman Aryanaka yang bernama Thalia.

Masih sibuk berpikir, Raska tiba-tiba merebut paksa berkas di tangan Soleh—orang suruhan andalan Bagas Aryanaka. "Udah ya Soleh. Tugasmu kan yang penting selesai. Ini sekarang jadi urusan saya. Tenang aja, lagian pak Bagas tuh gak terlalu inget hal-hal remeh kayak gini. Sekarang mending kamu pulang aja, istirahat deh apa nongkrong gitu."

Setelah berkas berpindah tangan, Raska langsung saja menyuruh Soleh pergi. Walau masih dalam keraguan, namun akhirnya Soleh menurut juga.

Ia meninggalkan kantor dengan perasaan gamang dan berharap semoga Raska bisa ia percaya, tanpa tahu bahwa harapannya hanya akan terpupus sia-sia, karena Raska adalah orang yang benar-benar tidak bisa dipercaya.

"Syukur aman, aman. Kalo sampe berkas ini nyampe ke pak Bagas. Bisa habis aku sama Bu Suratih."

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!