Mahen selalu membenci Tante Feronica, bibinya yang menghilang 10 tahun silam. Ayahnya selalu mengatakan bahwa Tante Feronica adalah orang jahat yang telah membuatnya mendekam dipenjara selama 12 tahun.
Namun, ketika Mahen mencoba mencari petunjuk atas apa yang terjadi 10 tahun lalu, dia tidak menyangka bahwa dia akan menemukan sebuah ruang rahasia di kamar Tante Feronica. Di dalam ruang itu, Mahen menemukan petunjuk-petunjuk yang membuatnya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dia percayai.
Mahen mulai menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu dan mengapa ayahnya dipenjara. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Mahen harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak seperti yang dia pikirkan.
Tante Feronica, yang selama ini dia anggap sebagai orang jahat, ternyata memiliki alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dilakukannya. apakah Mahen akan bisa menemukan kebenaran dan memperbaiki kesalahan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan duwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OCA DEMAM
Naomi terbangun saat merasakan badannya pegal. ia melihat sekeliling, semua teman-temannya masih tidur.
Naomi mengambil hp dari dalam tasnya untuk melihat jam.
03.25
"hampir setengah empat pagi" gumam Naomi.
Naomi bangkit, berjalan ke arah pintu utama lorong dan mengamatinya sekali lagi.
"nggak mungkin pintu ini nggak ada kuncinya. ruang rahasia ini ada di dalem rumah dan isinya barang-barang yang sering di pake. pasti tante Fero sering keluar masuk ruangan ini" gumam Naomi lagi. ia berjalan mengelilingi lorong itu.
tatapan Naomi tertuju pada penyangga lilin yang sudah usang. tangan Naomi terulur menyentuh penyangga lilin itu. namun, baru saja di sentuh sedikit, penyangga lilin itu berputar seperti hendak jatuh.
Naomi panik dan menengadahkan tangannya di bawah penyangga itu agar tidak jatuh.
namun ternyata penyangga lilin itu hanya berputar membuat kening Naomi berkerut. Naomi mencoba memutarnya lagi,
tiba-tiba terdengar suara mirip gerbang yang bergeser. Naomi menoleh dan tersenyum senang, akhirnya pintu lorong itu terbuka.
Naomi berlari menuju teman-temannya dan membangunkan mereka.
"hen, bangun, Herdi, Idan, bangunnn, Adis bangun dis, Ethan" Naomi mengguncang tubuh teman-temannya agar segera bangun.
hoaaam...
Mahen menguap, "kenapa nao?" tanya-nya. "pintunya udah bisa di buka" jawab Naomi membuat Mahen terkejut.
yang lain ikut bangun, Naomi masih membangunkan Oca.
"ca, Oca bangun" Oca tak kunjung bangun.
Naomi menyentuh kening Oca, "Oca demam" serunya panik saat merasakan kening Oca yang terasa panas.
"hah? Oca demam?" Ethan ikut panik dan heboh seperti Mak-mak rempong.
"cepetan pada keluar, jangan ada yang ketinggalan" suruh Naomi pada yang lain.
Naomi sendiri bersiap mengangkat tubuh Oca. "gue aja" tawar Mahen saat melihat Naomi hendak menggendong Oca.
"lo buruan ajak yang lain keluar, barang bukti tadi jangan sampe ada yang jatuh ketinggalan. tenang aja, gue kuat kok" tolak Naomi. Mahen pun menurut, ia memilih keluar terakhir untuk memastikan teman-temannya tidak ada yang ketinggalan.
Naomi menggendong Oca ala bridal style hal itu membuat yang lain melongo.
saat baru berjalan beberapa langkah, Oca terbangun, "nao" panggil Oca lirih.
"pegangan" ucap Naomi dan Oca pun menurut, ia mengalungkan tangannya pada leher jenjang Naomi.
Naomi bergegas melangkah keluar bersama yang lain. Mahen berjalan di belakang Naomi.
"akhirnya bisa keluar jugaaa" ucap Ethan penuh syukur dan bahagia.
"gue pikir kita bakal kejebak di dalem sama ampe berhari-hari" ucap Adis.
setelah mereka semua berada di luar, pintu lorong itu kembali bergeser dan menutup dengan sendirinya.
"rumah ini terang, siapa yang hidupin lampu?" celetuk Ethan.
"lah dari awal kita dateng lampunya emang hidup konyolll" semprot Adis.
"emang iya?" tanya Ethan plonga-plongo.
"emang lo nggak liat?" tanya Aidan. "kaga" jawab Ethan.
"makanya jangan bucin mulu ama Kunti bogel" Herdi ikut menyahut.
"dih? siapa yang bucin ama tuh Kunti? perasaan malah ribut mulu dah" sangkal Ethan tak terima.
"itu kan bucin versi kalian berdua" ucap Herdi lagi sambil cengengesan meledek Ethan.
Ethan yang kesal pun menampol kepala Herdi pelan.
"udah-udah, ini kita langsung pulang?" tanya Mahen pada yang lain.
"Adis, lo naik motor bertiga sama gue dulu ya, anterin Oca ke rumah sakit" pinta Naomi.
"oh.. oke siap" jawab Adis menyanggupi.
"gue ikut kalian" celetuk Mahen.
"eh ikut juga dong" pinta Ethan.
"yang lain langsung pulang aja, orang tua kalian pasti nyariin. nanti siang gue kirimin kabar terbaru Oca." ucap Mahen memberi arahan pada yang lain.
"beneran ini nggak apa-apa kalau kita pulang duluan?" tanya Herdi merasa tak enak.
"nggak papa her, kalian bisa jenguk Oca nanti siang atau sorean" jawab Naomi.
"yaudah kalau gitu, ayok pulang" ajak Ethan.
Naomi berboncengan dengan Oca dan juga Adis, untunglah jalanan masih sepi. Adis bertugas memegangi badan Oca yang lemas.
Mahen mengikuti mereka dari belakang.
..
setelah beberapa saat perjalanan akhirnya Mahen, Naomi, Adis, dan Oca sampai juga di rumah sakit.
Oca langsung di tangani oleh dokter, Mahen, Naomi dan Adis menunggu di depan ruangan Oca.
dokter mengatakan demam Oca di sebabkan karena lelah yang berlebihan, dingin, serta kurangnya minum air putih dan makan.
saat ini mereka sedang duduk di samping brankar Oca.
"duh, gara-gara gue Oca jadi demam" gumam Mahen merasa bersalah.
"bukan salah lo hen. keadaan tadi kan emang sulit" jawab Adis.
"daya tahan tubuh Oca emang nggak sekuat kita. gue juga udah larang dia ikut tadi pagi, tapi dia tetep minta ikut" Naomi ikut menyahut.
tiba-tiba terdengar dering telepon di hp Adis.
"siapa dis?" tanya Mahen. "mamih" jawab Adis lalu beranjak keluar dari ruangan.
Naomi juga baru ingat, dia belum memberi kabar pada orang rumah.
Naomi bergegas membuka hpnya untuk menelepon orang tuanya.
"naomiii" teriak mamah Naomi di seberang sana. "kamu ini kemana sih? dari tadi nomor kamu nggak aktif, nomor Oca juga nggak aktif"
"eng.. maaf mah, Naomi lagi ada misi, tadi pagi Oca minta ikut. tadi di tempat Naomi emang nggak ada signal sama sekali jadi nomor Naomi sama Oca nggak aktif. sekarang Naomi lagi ada di rumah sakit, Oca mendadak demam. Naomi pulang nanti agak siangan" jelas Naomi pada mamahnya.
"astagaaa Naomi!! di rumah sakit mana?" tanya mamah Naomi.
"rumah sakit Citra Husada mah, mamah nggak usah nyusul sekarang, nanti aja kalau aku udah pulang" ucap Naomi.
"yaudah yaudahh. kamu jangan lupa makan ya, jaga Oca baik-baik" ucap mamah Naomi dan telepon pun di tutup.
"orang tua lo udah tau kalau lo sering nyelidikin kasus beginian?" tanya Mahen.
"tau. mereka juga ngedukung gue kok, terutama papah" jelas Naomi.
"biasanya lo dapet bayaran nggak sih?" tanya Mahen lagi.
"dapet. apalagi kalau kasusnya besar, tapi kalau yang ini kan kita temen. jadi nggak usah mikirin itu" jawab Naomi.
"cieee ada yang ngobrol beduooo nihhh" tiba-tiba Adis masuk ke dalam ruangan Oca dengan membawa sekantong plastik penuh makanan.
"nih makan dulu lo pada" ucap Adis sambil mengeluarkan makanan yang di bawanya dari plastik.
"bukannya tadi lo pamit angkat telepon? balik-balik udah bawa makanan aja lo. beli dimana?" tanya Naomi sambil membuka sebungkus roti.
"iya tadi angkat telepon terus ke minimarket depan" terang Adis.
"mamih marah nggak?" tanya Mahen pada Adis.
Naomi menaikkan sebelah alisnya mendengar panggilan Mahen pada mamih Adis.
"enggak kok, kan ada lo" jawab Adis.
"ini ceritanya udah pada resmi jadi calon mantu kah?" celetuk Naomi. membuat Mahen dan Adis saling pandang.
"hih? siapeee?" tanya Adis.
"tuh, Mahen manggil nyokap lo mamih" ucap Naomi seraya menirukan gaya bicara Mahen saat menyebut "mamih".
"ohhh.. hahah.. kaga ih. gue sama Mahen emang udah akrab dari kecil, dia manggil nyokap gue ya mamih, sama kaya gue. gue manggil nyokap dia juga kadang mamah sama aja Kaya dia" jelas Adis yang di iyakan oleh Mahen.
bibir Naomi membentuk huruf O mendengar penjelasan Adis. ia pikir Adis dan Mahen adalah sepasang kekasih.
lanjut....