Ruang Rahasia Di Kamar Tante Feronica
"Mahen!" seru seorang gadis sambil berlari kecil menghampiri pria yang sedang berjalan menuju parkiran kampus. pria yang dipanggil Mahen pun menoleh, "kenapa?" jawabnya pada gadis yang memanggilnya barusan.
"nebeng hehe..." jawab gadis itu sambil tersenyum nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. "sorry dis gue nggak bisa. Lo bareng Aidan aja ya" jawab Mahen. "yah... Lo mau kemana emangnya?" tanya gadis itu lagi. "mau jenguk bokap gue" jawab Mahen sambil menaiki motornya.
tepat pada saat itu, ketiga teman Mahen datang menghampiri. "Aidan, Adis bareng Lo ya. gue mau jenguk bokap" ucap Mahen kepada salah satu temannya yang ia panggil Aidan. temannya pun menunjukkan jempolnya sebagai jawaban.
"tuh dis, sorry ya gue nggak bisa nganterin Lo" ucap Mahen kepada gadis di sampingnya yang ternyata bernama Adis. "oke deh, tiati Lo" jawab Adis sambil menepuk pundak Mahen. Mahen mengangguk dan bergegas melajukan motornya.
setelah Mahen pergi, ketiga temannya pun ikut bergegas melajukan motor masing-masing dengan salah satunya membonceng Adis.
**
"pah..." sapa Mahen saat seorang pria berusia 45 tahunan menghampirinya dengan mengenakan seragam tahanan. pria yang Mahen panggil papah itu pun duduk di kursi yang ada di seberang meja, berhadapan dengan Mahen.
"Mahen..." panggil papah Mahen sambil tersenyum. "pah, Mahen bawa makanan buat papah" jawab Mahen sambil mengeluarkan isi dari plastik yang ada di meja. "makasih Mahen" ucap sang papah.
mereka pun mulai makan nasi Padang yang di beli Mahen tadi di perjalanan. "Mahen, apa kamu sudah menemukan Tante Fero?" pertanyaan papahnya membuat Mahen menghentikan suapannya.
"pah, apa nggak sebaiknya kita lupain masa lalu? kita bisa mengikhlaskan yang sudah terjadi. lagian Tante Fero pun nggak pernah muncul lagi. biarkan Tante Fero dihukum oleh rasa bersalah." jawab Mahen hati-hati.
Brak...
"apa maksud kamu Mahen?!! kamu ikhlas papah kamu mendekam di jeruji besi dua belas tahun lamanya?! dimana otak kamu Mahen?!" papah Mahen sangat emosi mendengar jawaban Mahen. Mahen pun terlonjak kaget akibat suara gebrakan meja yang di lakukan papahnya.
"pah, aku bingung harus cari Tante Fero kemana. aku juga nggak punya petunjuk yang jelas tentang kejadian waktu itu" jawab Mahen lesu.
"papah udah ceritakan semuanya ke kamu Mahen, Tante Fero mau merampas harta kakek kamu tapi gagal karena papah bisa melawan Tante kamu itu. tapi Tante kamu justru menjebloskan papah ke penjara, dia membalikkan fakta yang sesungguhnya dan melimpahkan kesalahan itu pada papah." ucap papah Mahen menggebu-gebu.
Mahen terdiam, rasa marah yang sempat ia redamkan agar bisa mengikhlaskan masalalu kembali memuncak. Mahen berusaha mengontrol emosinya, "pah, sebentar lagi papah keluar. papah nggak bersalah, kita nggak bersalah pah, buat apa kita dendam? dua tahun lagi papah keluar dan kita bisa melanjutkan hidup yang nyaman, damai tanpa bayang-bayang masalalu. biar hukum alam yang membalas kejahatan Tante Fero yang sekarang entah dimana keberadaannya" Mahen masih berusaha membuat dendam kesumat papahnya mereda dan hilang.
mendengar perkataan Mahen, papahnya kembali tersulut emosi, "papah nggak mau tahu ya Mahen, kamu harus sudah membalaskan dendam papah sebelum papah keluar dari penjara ini!" tekan papah Mahen.
"pak Julian, waktu anda sudah habis." belum sempat Mahen menjawab ucapan papahnya, penjaga sudah lebih dulu mengatakan jika waktu berbicara Mahen dan papahnya sudah habis.
papah Mahen yang bernama Julian pun kembali ke ruangan tempatnya di tahan.
setelah papahnya masuk, Mahen pun memutuskan untuk pergi dan segera pulang ke rumah.
**
Mahen memasuki rumah yang selalu sepi, rumah sederhana yang hanya di huni berdua bersama sang mamah.
Mahen menghempaskan tubuhnya di atas kasur, matanya memandang langit-langit kamar. pertemuannya dengan sang papah benar-benar menguras energinya. tanpa terasa Mahen tertidur dengan masih mengenakan sepatu.
Mahen terbangun dengan keringat yang membasahi keningnya. ia buru-buru membuka tas dan mengambil hpnya. jam menunjukkan pukul 17.02, hampir satu jam lamanya ia tertidur.
tok tok tok...
suara ketukan pintu membuat Mahen terlonjak kaget. "Mahen kamu sudah pulang?" ternyata yang mengetuk pintu adalah mamanya, Felicia. "udah mah" jawab Mahen dari dalam. "siap-siap kita kerumah nenek" perintah mamanya.
Mahen tidak menjawab ucapan mamahnya. ia justru turun dari ranjang dan berjongkok membuka laci nakas yang paling bawah, mengeluarkan selembar foto wanita berusia sekitar 25 tahunan.
"dimana Tante Fero sekarang? apa Tante udah nggak ada di dunia ini lagi?" gumam Mahen terbayang senyum manis Tante Fero dan lambaian tangannya yang lembut di dalam mimpinya barusan. ya, Mahen memimpikan Tante Fero.
setelah puas memandangi wajah tantenya meskipun hanya sebuah foto, Mahen bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi kerumah kakek dan neneknya seperti perintah mamanya tadi.
"Mahen! udah siap belum? ayo berangkat" teriak mamanya saat Mahen sedang menyisir rambutnya. "iya mah sebentar" jawab Mahen lalu bergegas keluar kamar.
..
"ngapain si ma kesana terus?" tanya Mahen pada mamanya sambil terus mengemudikan mobilnya. "kan mereka orang tua mama, dan lagian jaraknya nggak terlalu jauh jadi kita harus sering-sering jenguk orang tua dong, selagi mereka masih ada" jawab mama Felicia.
Mahen terdiam hingga akhirnya mereka berhenti di depan rumah berlantai dua yang bercat abu-abu. halamannya yang luas dan penuh pohon buah serta bunga memberi kesan asri pada rumah itu. Mahen memarkirkan mobilnya di halaman yang luas itu lalu masuk kedalam rumah mengikuti mamahnya.
di ruang keluarga Mahen dan mamahnya di sambut senyuman hangat dari dua lansia yang sedang duduk bersama sambil menonton televisi yang ada di hadapannya.
"mereka keliatan baik-baik aja padahal salah satu anak mereka entah dimana keberadaannya. kalau Tante Fero orang yang baik seharusnya mereka sedih dan pasti sibuk nyari Tante Fero dong. berarti bener kata papah kalau tante Fero itu orang jahat, makanya keluarganya nggak peduli" ucap Mahen dalam hati saat melihat nenek dan kakeknya yang tampak selalu bahagia.
"mahen, kenapa berdiri di situ? ayo duduk sini" ucap nenek Mahen sambil melambaikan tangan menyuruh Mahen untuk duduk. Mahen tersenyum dan menghampiri nenek, kakek serta mamahnya.
"ah... cucuku sudah besar, sudah tampan kaya kakek" ucap kakek sambil menepuk-nepuk pundak Mahen. Mahen yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum tipis. pikiran Mahen masih tertuju pada misi balas dendam yang diminta papahnya.
seusai makan malam keluarga, Mahen duduk di balkon sambil sesekali menyesap rokok yang terselip di tangannya. Mahen bukan perokok aktif, ia hanya merokok saat pikirannya sedang kacau saja.
saat sedang hanyut dalam lamunannya, Mahen di kejutkan oleh sebuah tepukan di pundaknya
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments