Sebuah cerita hidup perjuangan Nadia, Seorang wanita berusia 18 tahun yang rela mengikat dirinya dengan menikahi laki-laki kaya raya demi keluarganya di panti asuhan sejahtera. Dia menikah tanpa dicintai dan diinginkan.
Merasa menjadi orang ketiga, apakah Nadia mampu bertahan di sangkar indah yang dibuat suaminya ataukah berhasil melepaskan diri dan memulai kehidupan yang dia inginkan dari awal lagi ?
Kisah hidup Nadia akan kita mulai sebentar lagi, dibumbui dengan cerita manis, mengharukan dan penuh air mata yang membuat hati sesak. Karena satu persatu rahasia dan orang masa lalu kembali menghantui kehidupan mereka. Mampukah mereka bertahan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athira Ardillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Kekerasan dalam Rumah Tangga
Tubuhnya lemas, bagaimana tidak, ini salah satu mobil kesayangannya, di desain khusus sesuai permintaanya. Namun menjadi hancur karena menuruti ucapan konyol istrinya. Ahh Nadia...
"Kauuu, ini karena menuruti ucapanmu Gacil,,,,,," ucap Ibra sambil menjewer telinga Nadia.
"Aahh om, om selalu menyiksaku, ini bisa jadi kekerasan dalam rumah tangga om, Ahhhh sakit om,,," rintih Nadia sambil memgangi telinga yang baru saja di lepaskan oleh Ibra.
"Nadia bakal tuntut om karena kekerasan dalam rumah tangga." ketus Nadia.
"Turunkan dia di sini Sakti, anak ini hanya membuatku pusing saja," ucap Ibra sambil memijit kepalanya yang tak pusing.
"Baik tuan," ucap Sakti lalu menghentikan mobilnya di jalanan yang masih sepi karena melewati gang yang di tunjukkan Nadia tadi.
Nadia hanya diam tidak percaya dia akan benar-benar diturunkan. "Om..." panggil Nadia dengan nada melas, gadis itu sungguh tadi hanya bercanda, dia tidak membayangkan akan semakin membuat suaminya marah.
"Silahkan nona," ucap Sakti yang sudah berada di luar dan membuka pintu mobil di sisi Nadia duduk.
"Om, Nadia kan nggak beneran ngajuin tuntutan kekerasan dalam rumah tangga, om bohong juga kan nggak mungkin om nurunin Nadia disini kan," ucap Nadia dengan menarik-narik lengan Ibra.
"TURUN SEKARANG !!!" bentak Ibra yang membuat Nadia terlonjak kaget.
Nadia menarik tangannya yang berada di lengan Ibra dan mengambil tas buluk miliknya, tanpa berkata-kata lagi ia keluar dari mobil, hatinya sangat sakit mendengar bentakan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Silahkan langsung menuju ke alamat ini nona, rumah ini sudah menjadi milik anda setelah anda memilihnya," ucap Sakti sambil menyerahkan sebuah foto rumah yang ia pilih tadi pagi, di belakang foto itu sudah terdapat alamat lengkap rumahnya.
"Cepat Sakti," Ucap Ibra masih dengan emosi.
"Pergilah pak," ucap Nadia cepat, ia tidak ingin membuat suaminya itu semakin emosi.
Sakti segera masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobil itu, mobil yang sudah benar-benar tidak berbentuk itu tetap berjalan hingga hilang dari pandangan Nadia.
"Ahhh, om Ibra selalu marah-marah, lagi pula aku hanya bercanda bagaimana mungkin aku bisa menuntutnya, sudah pasti aku yang akan kalah jika aku benar-benar menuntutnya, Ahhhh dasar om om tua ngeselinnnn," kesal Nadia yang terus mengomel sambil berjalan.
"Aishhh aku harus naik apa untuk bisa segera sampai rumah, alamat ini sangat jauh," gerutunya lagi.
***
Mobil Ibra
"Apa anda tidak keterlaluan dengan nona muda tuan ? tempat ini dengan rumah yang di pilih nona lumayan jauh, mungkin nona benar-benar hanya ingin bercanda," jelas Sakti kepada Ibra dengan hati-hati.
"Tidak ada bercanda, itu tidak ada dalam kamus hidupku," jawab Ibra ketus
"Lalu apa yang tuan lakukan dengan nona muda tadi jika tidak bercanda, hadehhh punya bos gini amat," batin Sakti dalam hati.
"Lagi pula tuanmu itu aku atau dia, kau suka sekali perhatian dengan nya" ucap Ibra singkat dengan mata masih menatap jendela.
"Tentu saja tuan muda adalah tuanku, itu tidak perlu di ragukan lagi," jawab Sakti berusaha menjawab seserius mungkin.
"Cepatlah, segera carikan mobil yang baru untukku, aku tidak ingin kredibilitasku sebagai CEO diragukan karena aku datang dengan mobil kacau seperti ini," ucap Ibra lagi.
***
14.00 WIB
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, namun Nadia tidak kunjung sampai rumah. Ibra yang awalnya di paksa oleh Sakti untuk melihat keadaan Nadia terlebih dahulu sebelum pulang ke hotel kini malah lebih khawatir karena gadis kecilnya menghilang.
"Kemana dia, seharusnya dia sudah pulang dari tadi, keluyuran kemana bocah nakal itu ?" kesal Ibra.
Sakti masih berkutat dengan handphone yang ia pegang, ia sibuk menyuruh anak buahnya untuk menyisir area hutan tempat ia meninggalkan Nadia dan semua jalan yang bisa di lewati untuk bisa sampai di rumah ini. Sakti memang orang yang setia kepada tuannya namun sejak awal ia melihat Nadia ia sudah menganggap Nadia seperti adiknya sendiri.
Nadia sangat ramah, manis, pecicilan dan murah senyum, gadis itu juga amat cerdas dan ceria sangat cocok dengan tuannya yang dingin dan tidak pernah peduli dengan apapun.
"Anda akan menyesal jika nona benar-benar tidak kembali tuan muda, hanya satu hari ada bersamanya anda bisa sedikit tersenyum dan bersikap seperti bukan anda," batin Ibra dengan menatap lekat tuannya yang kini terlihat sedikit khawatir.
"Kau kemana Gacil ?" lirihnya sedikit merasa bersalah.
"Saya akan antarkan anda ke hotel terlebih dulu tuan muda," ucap Sakti.
"Lalu Gacil ?" tanya Ibra.
"Saya yang akan mencarinya, sebaiknya anda istirahat." ucap Sakti.
"Dia tidak memiliki tempat kembali, dia pasti datang, kita tunggu sebentar," ucap Ibra lagi.
"Melihat dari kebribadian nona muda, menurut saya dia tidak akan kembali tuan," jelas Sakti.
"Maksud mu dia akan kembali ke panti kumuhnya itu ?" cibir Ibra.
"Nona muda sangat mandiri tuan, untuk tinggal di dunia luar seorang diri bukan masalah besar baginya, nona muda tidak seremeh yang kita kira," ucap Sakti sedikit kesal.
"Dia selalu terlihat aneh memang, caranya memandang hidup sangat berbede dari orang lain,"
"Silahkan tuan muda," ucap Sakti.
***
Nadia berjalan namun bukan jalan dengan arah yang sudah di tunjukkan oleh Sakti sebelumnya ia berjalan tanpa tujuan, berkali-kali ia berhenti karena lelah dan beristirahat, namun tetap tidak bisa mencari tempat tujuannya untuk bermalam.
Sepatu yang ia kenakan sudah hampir rusak dan terbuka, itu sepatu bekas pemberian donatur panti yang diberikan kepadanya, beberapa jari-jari kakinya sedikit terasa perih, mucul bercak-bercak darah di ujung kaos kaki yang pakai Nadia.
"Aku harus mencari tempat untuk tinggal malam ini, aku sangat malas bertemu om tidak berperasaan itu," ucap Nadia.
"Bukankah ada masjid besar di sekitar sini, tapi arah mana ya, kok lupa gini sih ishhh, dasar Nadia tulalit," gerutunya.
"Oke deh cari dulu, semoga aja ada pengajian jadi bisa dapat makanan," ucapnya sambil tersenyum riang membayangkan makanan.
Gadis itu masih terus berjalan, kepalanya celingak-celinguk mencari masjid kecil yang ingin ia tuju, dengan kaki tertatih-tatih ia berjalan mencari masjid itu, bagaimana tidak kaki itu sudah terluka tadi malam di tambah perjalanan sejauh ini yang membuat jari-jari kakinya terluka. Hebatnya iya tidak pernah menyerah, hanya umpatan-umpatan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Nadia,,," ucap seseorang memanggil gadis kecil itu.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.